Kethoprak Mataram Seri Sudira, GOGOK WASIAT
Entah kenapa, saya jadi agak kurang bersemangat akhir-akhir ini. Mungkin bertambahnya usia menjadikan otak saya yang berbahan kurang baik menjadi cepat bebal. Tetapi, ponakan saya Dian Pramana masih menyisakan beberapa materi yang belum sempat saya unggah. Kali ini saya ingin melanjutkan kisah Sutrisna – Waryanti yang merupakan sekuel dari cerita Manggalayuda Sudira. Copy paste dari mas Dian Pratama tanpa editing samasekali:
GOGOK WASIAT
Oleh : Dian Pratama
Dengan pernikahan antara Sutrisna dan Waryanti, manggala Sudira merasa senang karenabertambahlah kekuatan Tanjung Anom. Belum saja percakapan tentang bertambahnya kekuatan itu selesai, datanglah Waryanti menghadap mertuanya untuk memohon diri pulang, kembali ke kadhipaten Hargapura karena akan dibunuh oleh suaminya, buntut dari meninggalnya adipati Wisraya dan kedua saudara Waryanti Widarba dan Widagda.
Sudira berusaha mencegah, tetapi Waryanti nekad lari. Baru saja Waryanti Keluar dari pesanggrahan, datanglah Sutrisna dengan keris terhunus mencari Waryanti, Sudira marah terhadap Sutrisna, sampai-sampai Sutrisna akan dibunuh, untung dapat dicegah oleh Danawilapa, namun karena kesalahannya Sutrisna dijatuhi hukuman dipenjara.
Selanjutnya Sudira melanjutkan kewajibannya yaitu menakhlukan kadipaten Cakarbumi. Dalam peperangan awal untuk menakhlukan Cakarbumi Tosidana dan Candrana terdesak danterpaksa mundur untuk memberikan laporan kepada manggalayuda Sudira bahwa musuh yangbernama ajar Candala mempunyai pusaka andalan “Gogok wasiat” yang dapat mengeluarkanapi besar sekali.
Atas saran Danawilapa Sutrisna dikeluarkan dari penjara dan diperintahkan untuk melawan musuh. Adipati Tapakkuda dan patih Gendrayuda menemui ajalnya melawan Sutrisna, akan tetapi Sutrisna terjebak masuk kedalam lautan api yang dikeluarkanoleh pusaka Gogok wasiat kepunyaan ajar Candala. Peristiwa ini menjadikan keprihatinankeluarga manggalayuda Sudira serta pangeran sepuh Danawilapa. Sudira bermaksud akanmemimpin langsung prajurit Tanjung Anom, namun Danawilapa mempunyai pendapat lain.
Selanjutnya bagaimanakan nasib Sutrisna yang terjebak dalam lautan api, berhasilkahditolong, dan siapakah yang akan menolong, silahkan mengikuti kisah berikut
- Gogok Wasiat 1a
- Gogok Wasiat 1b
- Gogok Wasiat 1c
- Gogok Wasiat 1d
- Gogok Wasiat 2a
- Gogok Wasiat 2b
- Gogok Wasiat 2c
- Gogok Wasiat 2d
Ki H Manteb Soedharsono – GADA INTEN
Beberapa hari lalu, saya berkesempatan bertemu dengan tokoh-tokoh muda hebat berdedikasi tinggi dalam sebuah perhelatan yang terbilang “wingit” di Monumen Jaten Karanganyar. Acara yang bertajuk Wisata Budaya itu dihadiri oleh pemerhati, pelaku dan pecinta wayang seluruh Indonesia dari berbagai kalangan dan profesi., yang tergabung dalam PSMS (Pecinta Sejati Manteb Soedharsono”oye”).
Dalam perbincangan singkat saya dengan Mas Nanang HP , Mas Gamblang dan beberapa rekan lain, terbukalah mata saya tentang apa yang disebut dengan “sanggit”. Dan berbicara sanggit, masing-masing dalang memilikinya, tetapi menghubungkan sanggit dengan “pakem” sehingga ada benang merahnya, tidak banyak daalang yang mampu melakukannya. Menurut mereka, Pak Manteb adalah satu dari yang sedikit itu. Postingan kali ini saya peresembahkan khusus untuk insan berdedikasi tinggi, PSMS teriring salam hormat dan salut untuk mereka.
Menyimak pekeliran Ki H Manteb Sudharsono, selalu saja ada yang baru. Kendati merupakan lakon carangan, tetapi selelu ada benang merah dengan pakemnya. Ini menjadikan “sanggit” Pak Manteb tersasa realistis. Disamping itu, dialog yang dikembangkan terdengar “masuk akal” dan menarik unumtuk diikuti. Dan yang tidak kalah penting adalah pengambilan judul yang merangsang rasa penasaran kita, seperti halnya yang saya posting saat ini, Gada Inten.
Diawali dari pendhapa agung Negara Astina, tidak seperti biasanya Prabu Duryudana yang pesimis bakal bisa menang di Perang Baratayudha. Kali ini Duryudana dengan sangat realistis melihat kenyataan bahwa Kurawa Bisa memenangkan Baratayudha. Bukan saja karena materi prajurit yang lebih lengkap, tetapi Jugga Dukungan Prabu Manikmaninten, Raja muda kerajaan Parangrukmiyang dengan sukarela akan membantu Kurawa.
Duryudana sengaja menggelar Sidang khusus dengan dihadiri banyak tokoh ini, karena beberapa waktu lalu dia menerima surat dari Amarta, bahwa Prabu Puntadewa akan mengirimkan dutu yang khusus membahas kembalinya Negara Astina kepada Pandawa.
Yang menjadi masalah Bagi Prabu Duryudana bukanlah bagaimana menjawab dan menghadapi pertanyaan Duta Pandhawa ini, tetapi tokoh yang akan mewakili Pendhawa. Raja Astina pantas bergeming karena kali ini duta Pandhawa adalah Bambang Wisanggeni, putera Arjuna dengan Dewi Dresanala yang kita sem8ua sudah tahu bagaimana karakternya.
Wisanggeni adalah satu dari sedikit Ksatria amarta yang mempersetankan unggah-ungguh. Dia berpembawaan lugas, jujur, dan tanp0a basabasi, disamping –tentu saja- memiliki kesaktian yang luar biasa. Itu artinya Cuma ada dua pilihan bagi Duryudana, menyerahkan astina atau ambil resiko melawan Wisanggeni. Itulah sebabnya, maka kehadiran Prabu Manikmaninten sungguh merupakan harapan baru bagi Duryudana.
Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana Pak Mateb mengembangkan cerita yang hampir buntu ini? Ya saya sebut buntu karena, dengan Wisanggeni diberikan ‘purbawasesa” untuk menyelesaikan gugatan Amarta atas bumi Astina, sama saja dengan merebut Astina dari Prabu Duryudana. Apa susahnya bagi Wisanggeni? Tetapi berhasilkah dia? Jawabnya pasti ; Tidak. Tetapi bagaimana mungkin? Itulah yang dinamakan “sanggit”
Nah untuk melihat “sanggit” pak Manteb dalam menempatkan tokoh sekelas Wisanggeni tidak berhasil menjadi duta pamungkas bagi Pendhawa, inilah jawabnya, Gada Inten.
- Ki H Manteb Soedarsono- Gada Inten 1a
- Ki H Manteb Soedarsono- Gada Inten 1b
- Ki H Manteb Soedarsono- Gada Inten 2a
- Ki H Manteb Soedarsono- Gada Inten 2b
- Ki H Manteb Soedarsono- Gada Inten 3a
- Ki H Manteb Soedarsono- Gada Inten 3b
- Ki H Manteb Soedarsono- Gada Inten 4a
- Ki H Manteb Soedarsono- Gada Inten 4b
- Ki H Manteb Soedarsono- Gada Inten 5a
- Ki H Manteb Soedarsono- Gada Inten 5b
- Ki H Manteb Soedarsono- Gada Inten 6a
- Ki H Manteb Soedarsono- Gada Inten 6b
SEMALAM BERSAMA PSMS
Mungkin sama seperti yang lain, ketika mendengar nama PSMS yang terlintas dibenak kita adalah Nama Klub Sepak Bola dari Sumatera Utara, Medan. Tapi Bukan itu. Kita tidak sedang berbicara tentang bola yang wadahnya kian hari kain carut marut dan “njelehi” itu. Tetapi kita sedang membicarakan kesenian, khususnya wayang. Bersama PSMS pula saya berkesempatan mengenal kesenian dalam perspektif yang lebih luas, lebih gampang dan lebih akrab.
PSMS yang saya maksud adalah kependekan Penggemar Sejati Manteb Sudharsono “OYE”. Sebuah paguyuban “informal” yang menyatukan para penggemar Pak Manteb. Pada ulang tahun mereka ke 2 Sabtu malam kemaren, digelar acara yang bertajuk Wisata Budaya yang puncaknya diselenggarakan di Monumen Jaten, Karanganyar yang dihadiri oleh berbagai kalangan. Ada Mas Wahyudiono, Mas Edy Sujo, Mas Nanang HP, KI Gamblang Carito, Mas Sigid Ariyanto, Mas Putut, Mas Sri Kuncoro, Ki Boedi Pasopati, Mas Cahyo Kuntadi dan masih banyak lagi.
Terdorong keinginan saya untuk mengikuti acara tersebut dari awal, selepas Isya’ saya berangkat dari rumah. Saya perkirakan jam 20.00 WIB saya bisa terlebih dahulu bersilaturahmi dengan orang-orang berdedikasi tinggi ini. Kenyataannya, saya kecele. Ketika saya sampai di Monumen Jaten, acara sudah dimulai. Ini luar biasa, karena biasanya acara kesenian selalu molor. Kekaguman saya kepada mereka semakin tak bisa saya sembunyikan.
Dimulai dengan Pagelaran Wayang Kampung Sebelah oleh Ki Jlitheng Suparman. Saya tak hendak mengulas kehebatan seniman yang satu ini. Setelah menyaksikan beberapa kali pementasannya, Mas Jlitheng seakan tidak pernah kekeringan ide. Ada saja yang bisa dimasakknya sehingga menjadi hidangan yang menghibur, mendidik sekaligus membuka cakrawala baru tentang wayang. Ditangannya wayang ibarat singkong yang bisa dimasak apapun dan hidangkan kapapun, dinikmati siapapun. Tetapi tetap saja tidak kehilangan “ruh” pagelaran. Ricik-ricik Banyumasan, misalnya, digarap dengan sangat detil oleh Mas Jlitheng diawal pagelaran membuat penonton lupa, pahwa yang tengah dinikmati adalah bunyi-bunyial alat musik modern.
Jam 22.00 WIB Giliran Ki Gambalng Carito menyemarakkan hajatan malam itu. Sebelumnya saya telah diperkenalkan oleh Mas Wahyudiono dengan lelaki ganteng ini. Kesan pertama saya, lelaki ini demikian lugas khas “majapahit”, egaliter, berwawasan luas dan memiliki aura sebagai seniman sejati. Tidak salah dugaan saya. Mas Gamblang menampilkan demonstarsi melukis yang memang dipersembahkan untuk PSMS.
Diiringi gendhing reog ponorogo, mas Gamblang mencoretkan kuas diatas kanvas putih 75 cm X 100 cm. Warna biru dia sapukan di dua bagian, tengah bawah dalam bentuk garis dan lingkaran di pojok kiri atas. Ada yang aneh dalam amatan saya dimana lingkaran itu dibuat dari kanan ke kiri tidak sebagaimana biasa kita membuat lingkaran. Sayangnya, saya sampai lupa menanyakan (padahal ingin sekali), apakah beliau selalu begitu dalam mebuat lingkaran. Lalu seperti kesetanan dia coretkan kuas kluwar – kluwer tidak karuan. Sayangnya penonton yang demikian antusias makin mendekat dan mendesak saya sedemikian rupa sampai saya tidak tahu lagi apa yang Mas Gamblang kerjakan. Empat belas menit kemudian lukisan selesai.
Saya berkesampatan melihat lukisan itu dari jarak yang sangat dekat beberapa saat setelah lukisan itu selesai. Saya mencari dimana gambar lingkaran warna biru yang tadi saya lihat dicoretkan pria tampan ini? Saya hanya melihat sedikit warna biru dari lukisan Mas Gamblang. Bagaimana mungkin kuas pertama dicoretkan lalu ditumpuk tumpuk gebitu saja?? Saya sempat menanyakan beberapa hal kepada Mas Gamblang tentang lukisan itu selepas tengah malam sembari menyaksikan “sabet” mas Nanang HP. Dialog singkat saya tentang Lukisan yang dipersembahkan Mas Gamblang kepada PSMS akan saya ceritakan dilain waktu.
Setelah Ki Gamblang Ca
rito ditampilkan wayang pakeliran padat oleh KI Suparno. Ketika menyaksikan pementasan ini saya melihat kesan mewah dan glamour. Betapa tidak. Ditengah simpingan wayang dengan prada emas yang gumebyar, gamelan dan wira pradangga dari Sanggar Bima dengan kekuatan penuh, tata lampu dan dutunjang busana yang dipakai Mas Parno sedemikian indahnya. Ketika Mas parno memainkan wayang, terlihat beliau ngagem gelang ditangan kanan, keclap-keclap…. Wuihhh!!!
Kendati bukan dalang profesional, Ki Suparno Sukses menggelar Wiratha Parwa. Ceritanya runtut, dialognya padat dan jelas dengan “ending” yang sangat menyentuh. Yang saya sempat kagum adalah kemampuan Ki Suwarno dalam hal sabetan. Benar-benar khas Pak Manteb. Salut untuk Ki Suparno!
Pukul 23.30 WIB acara terus berlangsung dan penonton belum beranjak dari tempatnya. Betul-betul mereka ini pecinta wayang sejati. Kali ini penyerahan Buku tulisan Mas Edy Sujo Kepada Pak Manteb Soedarsono. Saya tidak tahu detilnya tetapi sedikit yang saya peroleh dari Mas Wahyudiono dan paparan singkat pembawa acara, buku ini berisi Catatan 40 pementasan Ki Manteb Sudarsono. Ditulis dalam 2 bulan oleh Mas Edy Sujo. Benar-benar prestasi yang tidak main-main. Jika mau jujur, jarang seniman kita yang mau menyempatkan diri membuat catatan pementasannya. Oleh karena itu sebuah langkah maju telah diambil oleh Mas Edy Sujo yang berhasil “mendokumentasikan” pagelaran pak Manteb.
Yang tidak kalah menarik adalah sambutan KI H Manteb Soedharsono. Dalam pidato kebudayaan yang singkat itu, Pak Manteb berhasil memotret perkembangan kesenian di Indonesia. Dengan bahasa yang halus dalam “sanggit” khas kejawen menurut saya pidato itu cukup tajam untuk menusuk berbagai kalangan. Mulai dari pengambil kebijakan sampai para pelaku seni itu sendiri. Tak kurang beliau menyampaikan keprihatinannya tentang rencana pemerintah untuk menerapkan Kurikulum 2013 yang menghilangkan Mulok (muatan lokal) Bahasa Jawa sampai kenyataan bahwa kesenian kita yang rawan di klaim oleh negara lain. Diakhir sambutannya, Pak Manteb mempersilahkan kepada generasi muda siapapun juga yang ingin berdiskusi tentang Budaya pada umumnya, dan wayang pada khususnya. Apapun, bahkan yang ingin bertanya Siapakah Isteri Patih Sengkuni….
Bungsu dari acara malam itu adalah Pagelaran Wayang yang dengan nyaris sempurna dibawakan oleh dalang muda berbakat Ki Nanang HP. Saya lupa lakonnya, tetapi dalam amatan saya itu adalah Banjaran Karna.
Ditangan Nanang HP, Sosok Adipati Karna yang tergambar dalam Serat Tripama benar benar bisa dimaknai. Karna tampil sebagai manusia utuh dengan kulit, daging, nafsu, cinta dan rasa. Selama ini saya sulit sekali membaca deskripsi tentang Adipati Karna. Bagaimana mungkin Serat Tripama mencantumkan Adipati Karna sebagai manusia hebat sebanding dengan Kumbakarna dan Patih Suwanda.
Beberapa saat setelah pentas saya sempat bertanya kepada Mas Nanang. Sebenarnya, Prabu Salya itu sayang apa tidak, sih sama Adipati Karna? Lelaki berwajah imut ini dengan sangat tegas menjawab, sayang. Ya, memang benar adanya. Dimata saya Prabu Salya sangat sayang kepada menantunya. Tetapi fikiran bebal saya tidak mampu menterjemahkan dialog Pendapa Astina antara Salya dengan Karna dalam Lakon Kresna Duta oleh hampir semua dalang. Tetapi satu kalimat Prabu Salya kepada Adipati karno yang malam itu digelar Mas Nanang, berhasil membuka mata, hati dan akal sehat saya: “….. Yoh, aku gelem dadi kusirmu, ning aku emoh mbok prentah!”
Sayangnya, keakraban dan kebersamaan itu harus terputus ketika matahari malu-malu menampakkan wajahnya. Kami harus realistis menerima kenyataan bahwa kita tidak sedang di alam wayang. Kita dialam realitas dan kita harus kembali menjalani realitas dan rutinitas masing-masing. Bersama Mas Wahyu saya sowang-sowangan dengan manusia-manusia hebat penuh dedikasi, anggota PSMS.
Dalam perjalanan pulang selepas mengantar Mas Wahyudiono ke Bandara enam jam setelah itu, saya masih berfikir keras, bagaimana mungkin sebuah kumpulan orang, – sebutlah crowd- tanpa struktur bisa bertemu dalam suasana akrab, egaliter, tidak ekskusif dan saling memahami. Jawaban saya cuma satu, wayang! Ya, karena mereka melihat wayang dalam kacamata yang sama.
Selamat Untuk PSMS
Jazz –Sandhy Sondoro
Saya tidak berani menyamakan suara penyanyi ini mirip dengan siapa, tetapi jika tidak melihat namanya barangkali orang akan mengira bahwa penyanyi ini bukan dari Indonesia. Ditelinga saya suara penyanyi yang satu ini punya corak American-African, semacam Al Jerrau, Bonne James atau entah siapa yang lain.
Selain Benny Likumahuwa dan Abdul And The Coffee Theory, Sandhy Sandoro adalah penyanyi Indonsia yang sering menghiasi telinga saya. Bagi saya, racikan musik saudata sepupu Ira Maya Sopha ini sangat bagus dimana komposisi tiap instrumen saling melengkapi, didukung dengan vocal yang memang “ngejazz” .
Pada tahun 2007, Shandy mencoba mengikuti Stefan Raabs song contest dan berhasil meraih posisi ke-5. Pada bulan April 2008, Shandy akhirnya mengeluarkan album indie yang berisikan lagu-lagu hasil ciptaanya yang berjudul “Why Dont We”. Single pertamanya yang berjudul “Shine” merupakan hasil kolaborasi dengan DJ Ibiza dan Dublex Inc yang masuk dalam chart hits di radio-radio di Eropa. Atas jasanya mengharumkan nama Indonesia, pada Agustus 2008, KBRI Jerman memberinya anugerah Satya Lencana Karya Satya.
Pada tahun 2009, atas dorongan Brandon Stone seorang produser musik, Shandy mengikuti kontes New Wave. Kontes yang mirip dengan Idol ini merupakan salah satu event pencari bakat musik yang penting dan menarik jutaan pemirsa dan media internasional.
Shandy menjadi pemenang dari kontes ini bersama dengan seorang penyanyi Ukraina. Di kontes ini, Shandy membawakan beberapa lagu diantaranya When a man loves a woman dan sebuah lagu karangannya sendiri yang berjudul “End of the Rainbow”. Shandy mendapat nilai 10 dan standing ovation ketika menyanyikan lagu-lagu ini. Bahkan juri memuji keberaniannya karena dia membawakan lagu ciptaannya sendiri. Nama Shandy menjadi lebih kuat dan terkenal di dunia internasional setelah memenangkan kontes ini.
Walaupun sudah terkenal, Shandy masih tetap humble dan apa adanya. Wawancara dengan Metro TV bulan Desember kemarin memperlihatkan bagaimana humble dan sederhananya seorang Shandy Sandoro.
Di Indonesia sendiri, Shandy telah merilis singe “Malam Biru (Kasihku)” dan “End Of The Rainbow” yang tergabung dalam sebuah CD kompilasi. Shandy direncakan akan bekerjasama dengan Glenn Fredly pada album berikutnya.
Nah, bagi anda yang ingin lebih dekat mengenal Sandhy Sondoro berikut ini beberapa lagu yang tergabung dalam Album Why Don’t We
- Bunga Mimpi
- Selamanya
- Why Don’t We
- Superstar
- End Of The Rainbow
- You And I
- In The Name Of Piece
- Down On The Streets
- I Don’t Know Where
- An Unordinary Lovely Friend
- People (Shall We Live for Money)
- Last Dance
- That’s The Way
- Don’t Let It Bring You Down
Ki H Anom Soeroto – Prabu Sumilih
Bagi penggemar wayang, tidak sulit untuk menebak siapa sebenarnya Prabu Sumilih. Ia adalah dasanama (alias) dari Raden Gatutkaca. Nama itu diperoleh dari para dewa ketika Gatutkaca berhasil meneteramkan Kayangan Jonggingsaloka dari Amukan Putut Supalawa dan Putut Pidaksaka.
KI H Anom Soeroto mengawali kisah ini dari Pendapa Agung Keraton Hastina. Seperti kebanyakan lakon carangan, adegan “kedhaton” diwarnai dengan kegundahan hati Prabu Duryudana demi mendengar kabar bahwa Prabu Puntadewa telah mengangkat Raden Gatutkaca menjadi Senapati Amarta. Ini berarti ancaman bagi Hastina. Bukan saja lantaran kesaktian Satriya Pringgondani yang membuat Duryudana patah arang, tetapi dengan pengangkatan senapati memberi isyarat kesiapan Pendhawa menyongsong Perang Baratayudha.
Keputus asaan Duryudana terobati ketika tanpa disangka hadir Prabu Nagabagindha, Raja Puserbumi. Dengan sukarela dia memasang badan membala Duryudana. Kegembiraan Duryudana bukan tanpa alasan karena dibelakang Prabu Nagabagindha ternyata ada Begawan Dewapratala, seorang resi yang sakti mandraguna yang setiap saat mendampingi Nagabagindha.
Segera setelah mendapatkan persetujuan Duryudana, Prabu Nagabagindha menyerang Amarta. Terbukti memang, Nagabagindha dan Begawan Dewapratala dengan sangat mudah menaklukkan Amarta. Disaat genting semacam ini, jutru sang senapati, Raden Gatutkaca tidak beradadi tempat. Sejak pengangkatannya menjadi senapati, putera Dewi Arimbi ini tiba-tiba lenyap bagai ditelan bumi. Beruntung dalam peyerbuan Prabu Nagabagindha, Abimanyu berhasil meloloskan diri. Dihatinya punya satu keyakinan bahwa hanya Raden Gatutkaca yang mampu menandingi kesaktian Nagabagindha. Maka Abimanyu bertekad untuk mencari Raden Gatutkaca.
Pertanyaan selanjutnya adalah siapa sebenarnya Prabu Nagabagindha dan Begawan Dewapratala? Bagaimana pula Gatutkaca kemudian mendapatkan Gelar Prabu Sumilih? Siapakah Putut Supalawa dan Putut Pidaksaka dan apa keterlibatan Anoman dalam cerita ini?
Baiklah, untuk memenuhi permintaan beberpa rekan berikut ini saya unggah Lakon Prabu Sumilih yang dengan sangat teliti di bawakan oleh KIi H Anom Soerto. Selamat menikmati
KI Narto Sabdho – Banjaran Bisma
Ada seorang rekan bernama Heru Achwan. Secara pribadi saya belum mengenal beliau tetapi dari komitmennya, saya bisa menduga, beliau termasuk orang mengagumi Ki Narto Sabdho. Bahkan dia menggagas sebuah pertemuan para penggemar Ki Nartosabdho. Dia memulainya dari Mas Widjanarko, kemudian gethok tular ke Mas Edy Listanto, yang kemudian mendapat restu dari Mas Pranowo Budi. Gayung bersambut, ketika gagasan ini dikeploki sama Mas Malix CJDW, Joko Bocah Angon, Sriwahyuni Fajareka dsb. Saya melihat, Mas Heru ini seperti Bisma, rela berkorban untuk kepentingan orang lain. Khususnya, yang paling menarik bagi saya adalah komitmen Mas Heru Ichwan yang mempersilahkan villanya di Kali Urang dengan 22 kamar dan bakmi angkringan, untuk menggelar hajatan ini. Postingaan kali ini, saya persembahkan untuk Mas Heru Achwan.
Terlepas dari permasalahan benar salah, pemicu Perang Bharatayuda adalah nama yang menjadi tokoh sentral dari lakon. Dinamakan Perang Bharatayudha, karena pelaku utama perang ini adalah darah (keturunan) bharata. Keputusan Dewabrata untuk wadad (tidak menikah seumur hidup) dan tidak mau memegang tampuk pemerintahan Hastina, pada akhirnya terbukti berbuntut panjang. Andaikata Putera Sentanu ini mau sedikit “durhaka” dengan tidak bersumpah wadad, boleh jadi dia akan memiliki keturunan yang nantinya akan menjadi penguasa Hastina. Tapi itulah takdir. Tak bisa manusia menghindarinya.
Tentu saja saya tak hendak bercerita tentang Raden Dewabrata (yang kelak bernama Resi Bhisma), karena dengan mendengarkan lakon ini, Ki Nartosabdo akan memberikan penjelasan seribu kali lebih lengkap , lebih akurat dan lebih menghibur daripada (misalnya) seratus lembar sinopsis yang yang saya tulis. Saya hanya ingin mengungjapkan pendapat pribadi, sembari menunggu file ini saya unggah.
Baiklah, ini pendapat saya. Kecantikan Dewi Gangga ternyata telah membuat Prabu Santanu hanyut dalam suasana cinta yang menggelora. Disamping itu, perjanjian untuk tidak menegur, apalagi memarahi sang isteri atas apapun yang diperbuatnya, membuat Raja Hastina ini tak bisa berbuat banyak mseki yang dilakukan isterinya sudah diluar batas nalar manusia.
Betapa tidak. Sang permaisuri yang cantik jelita ini selalu membuang anaknya ke Sungai Gangga setiap kali habis dilahirkan. Demikian berulang-ulang sampai delapan kali. Untuk kali kesembilan, kesabaran Prabu Santanu tak lagi bisa ditahan. Dia menegur dan memarahi isterinya itu. Akibatnya, sang isteri kembali ke kahyangan dan Santanu harus sendirian merawat bayi yang ditinggalkan Dewi Gangga. Setelah kepergian Gangga, Sentanu menikah lagi dengan Dewi Durgandini. Dari sinilah Ki Nartosabdo mengurai lakon Banjaran (Balada) Bisma.
Yang tadi saya katakan Bisma sebagai pemicu Perang Bharatayudha adalah ketika Sentanu mengemukakan keinginannya untuk menikah dengan Durgandini kepada sang naka, Dewabrata. Pendapat Dewabrata dipandang Prabu Sentanu sangat penting, karena Durgandini mensyaratkan, anak yang lahir dari rahimnyalah yang kelak menjadi Raja Hastina jika Sentanu ingin mempersuntingnya. Diluar dugaan, Raden Dewabrata ternyata bersedia untuk tidak menduduki tahta astina, dan mempersilahkan kepada adiknya (maksud
nya Anak Durgandini) untuk menjadi pengganti Sentanu. Tak cukup dengan itu, Durgandini masih belum percaya pada komitmen Dewabrata. Dia beralasan, Dewabrata bisa saja menerima keputusan ini, tapi bagaimana dengan anak-anak Dewabrata kelak??? Dewabrata juga tak mau kalah, untuk meyakinkan bahwa anak Durgandini kelak akan tenteram menjadi rajja Hastina, maka dia bersumpah untuk Wadad (tidak menikah seumur Hidup). Entahlah, ini penghormatan, loyalitas atau tolol…..
Dari perkawinannya dengan Santanu, Durgandini memiliki dua orang putera yaitu Raden Wicitra dan Wicitrawirya. Sayangnya kedua anak ini meninggal sebelum memiliki keturunan. Itu Artinya, tahta Astina kosong karena Bisama sudah terlanjur wadad dan tidak bersedia menduduki tahta Astina. Beruntung Durgandini memiliki sorang anak lagi hasil perkawinannya dengan Palasara, sebelum dia menikah dengan Santanu. Atas saran Dewabrata pula Durgandini memanggil Abiyasa (Nama Anaknya itu) untuk menduduki Tahta Astina.
Ah….. Sudahlah!!!!! Dengarkan Balada (Banjaran) Bisma alias Dewabrata yang dengan nyaris sempurna dibawakan oleh maestro dalang Ki Nartosabdho.
Sedikit catatan, file No 1, tidak lengkap, padahal disitulah dialog terbangun mengawali rangkaian panjang ksatria yang mengakhiri hidupnya di Padang Kurukhsentra, setelah empat hari terkapar dengan tubuh penuh tancapan senjata…….
Kethoprak Mataram Seri Sudira, Sutrisna – Waryanti
Ponakan saya ini mengatakan, suatu saat akan mampir kurumah saya. Tetapi setelah sekian lama menunggu, tidak juga ada kabarnya. Hal inilah yang membuat saya measa kangen. Ini Bukan tanpa alasan, karena dialah yang menlengkapi Seri Sudira di Blog ini. Disamping itu, keinginan saya untuk mendapatkan punjungan yang lain, mendorong saya untuk menyapanya kembali. Ini sapaan saya untuknya….
Seri Sudira, Sutrisna – Waryanti
oleh : Dian Pratama
Menurut Laporan pangeran Danawilapa kepada manggalayuda Sudira bahwa, Sapartibraja dengan kedua ajarnya telah melarikan diri meninggalkan medan laga, kesemuanya ini berkat bantuan Tarkini yang juga telah menolong Sutrisna dari bahaya maut. Untuk mempersatukan dan menambah kekuatan Tanjunganom, seyogyanya Sudira mengijinkan Sutrisna memperisteri Tarkini, Sudira setuju. Dengan demikian berarti Sonyapringga telah berhasil dikuasai sepenuhnya.
Namun di sebelah barat Sonyapringga masih ada benteng-benteng yang harus dipersatukan, termasuk kadipaten Hargapura yang perlu mendapat pengawasan langsung. Guna mengukur kekuatan lawan maka Tosidana dan Candrana ditugaskan untuk menyelidiki. Dalam perang melawan prajurit Tanjunganom, senopati Hargapura yang bernama Widarba dan Widagda merasa kewalahan menghadapi sepak terjang Tosidada yang dapat ambles bumi dan Candrana dapat terbang, oleh karena itu mereka segera kembali masuk benteng dan menutupnya. Hal ini dilaporkan kepada Adipati Wisraya ayah kedua senapati tersebut.
Atas perintah bethari Listyaningrat ibu angkatnya, Waryanti puteri Adipati Wisraya dari Kayangan turun ke bumi menuju kadhipaten Hargapura. Waryanti segera diangkat menjadi senopati dan memimpin penyerangan melawan prajurit Tanjung Anom. Prajurit Tanjung Anom dapat dipukul mundur dan tercertai berai termasuk Tosidana dan Candrana. Di kancah medan laga Waryanti senantiasa sesumbar menantang Sutrisna tetapi setelah berhasil berhadapan langsung dengan Sutrisna justru Waryanti tidak mau menyerang bahkan memohon agar Sutrisna sudi mempersuntingnya, tetapi Sutrisna tidak menanggapi ajakan Waryanti.
Karena kalah sakti, Sutrisna beberapa kali mengalami keadaan yang mengancam jiwanya, walau demikian Waryanti senantiasa bersedia menolong karena janji Sutrisna yang bersedia untuk mempersuntingnya. Tetapi janji Sutrisna yang disertai ucapan sumpah itu hingga beberapakali selalu tidak ditepati namun, karena selalu disudutkan dalam bahaya, akhirnya Sutrisna menyanggupi mempersunting Waryanti asalkan Hargapura menyerah, Waryanti sanggup dan berusaha meredam kemarahan ayahnya, sayang hal ini mengakibatkan tewasnya adipati Wisraya dan kedua saudara Waryanti terkena pusaka mereka sendiri.
Ketika sedang memadu kasih di taman, dari penuturan Waryanti sendiri Sutrisna tahu bahwa adipati Wisraya dan kedua putranya telah meninggal, Sutrisna mengira kematian ayah dan kedua saudaranya itu karena perbuatan Waryanti, maka marahlah Sutrisna dan berakibat Waryanti lari meninggalkan Sutrisna. Berakhirkah cerita ini? Tentu saja belum, ikutilah terus kelanjutan cerita ini.
Jazz – Berkenalan dengan FATTBURGER
Sungguh, nama ini benar-benar asing ditelinga saya. Bukan karena band nya, tetapi lebih karena keterbatasan referensi saya tentang musik. Seperti telah berulangkali saya katakan, “oknum” yang bertanggung jawab atas perkenalan saya dengan jazz adalah Mas Wahyu sehingga apapun yang dia katakan tentang Jazz selalu saya turuti tanpa reserve. “niku link mas brian ok banget . nyuwun tulung padosaken fattburger , niku kados shakatak . suwun .” begitulan isi pesan yang saya terima dari Sang Gatutkaca.
Rindhik Asu digitik, segera saya coba cari fattburger. Ternyata tidak gampang!!! Bagaimana sih orang ini bisa ngerti kelompok music yang google saja tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan. Maksudnya, link yang saya temukan tidak ada yang cuma-cuma. Tetapi ternyata teknologi memberikan hampir semua yang kita mau. Akhirnya, dengan berbagai cara saya bsa mendapatkan fattburger. Tidak Salah, semua lagunya terasa nyaman ditelinga.
Tentang Fattburger, saya mengutip dari Wikipedia Fattburger adalah grup jazz, dikategorikan dalam funk jazz-, jazz kontemporer, atau subgenre jazz fusion. Berdiri di San Diego pada awal 1980-an terdiri dari Gentry Hollis, saxophone, Carl Evans Jr pada keyboar, bass dipercayakan kepada Mark Hunter, dengan drummer Kevin Koch, lalu ada Steve Laury pada gitar dan Tommy Aros pada perkusi.
Setelah album pertama mereka, Gentry Hollis meninggalkan band untuk memulai karir solonya (tapi kembali sebagai anggota paruh waktu di tahun 1990-an) dan setelah rilis Come & Get It, Steve Laury juga meninggalkan untuk memulai karir solo. Akibatnya, album berikutnya, ” On A Roll,” adalah rekaman pertama Fattburger . Gitaris Evan Marks bergabung sebagai anggota tetap pada tahun 1995. Setelah album terbaru mereka, Work to Do (2004), Gentry Hollis meninggal pada 5 September 2006 dan Carl Evans Jr meninggal pada 10 April 2008. Kemudian, Fattburger berkumpul kembali untuk bermain live di klub jazz Anthology pada tanggal 26 Juni 2009, menampilkan Allan Phillips sebagai keyboardist baru. Sampai sekarang band masih aktif masih tur.
CD Fattburger yang paling sukses secara komersial adalah ‘Sizzlin dan TGIFattburger, meskipun representasi terbaik dari kontemporer gaya mereka jazz-funk mungkin lima album sebelumnya On a Roll, Good News, Living in Paradise, Come and Get It, dan Time Will Tell.
Halahhh!!!! Tidak pantaslah, saya bicara musik. Tugas saya cuma mempersiapkan telinga dan berbagi dengan anda. Dan berikut ini beberapa lagu dari fatburger yang berhasil saya dapatkan,
- Fattburger – do that again
- Fattburger – oye como va
- Fattburger – Anythings Possible
- Fattburger – creepin’
- Fattburger – In Your Eyes
- Fattburger – groovin’ (on a sunday afternoon)
- Fattburger – show me the honey
- Fattburger – Soothing
- Fattburger – spice
- Fattburger – valencia
- Fattburger – 100 Ways
- Fattburger – Down Time
- Fattburger – I’m Just Sayin’
- Fattburger – work to do
- Fattburger – You’re the First, the Last, My Everything
- Fattburger – Blue Ridge Sunset
- Fattburger – sizzlin’
- Fattburger – The Lizard
- Fattburger – 59th Street
- Fattburger – ‘Almost An Angel’
- Fattburger – Any Two Can Play
- Fattburger – evil ways
- Fattburger – Fattburger
- Fattburger – Feel Like Making Love
- Fattburger – Flirtin’
- Fattburger – Golden Girl
- Fattburger – good news
- Fattburger – Groove Y2K
- Fattburger – Imagine That
- Fattburger – Night After Night
- Fattburger – One More Time
- Fattburger – Rachel
- Fattburger – Rittenhouse Square
- Fattburger – Same ole love
- Fattburger – South Coast Samba
- Fattburger – The Banana Bread Song
- Fattburger – the doctor
- Fattburger – trail of tears
- Fattburger – Who Put The Meat In My Bed
- Fattburger – You’re all i need
- Fattburger – you’ve got mail!
“mohon maaf link downloadnya belum terpasang mengingat file tidak mungkin untuk dikompres sehingga ukurannya cukup besar dan m
Jazz – Brian Simpson
Awalnya cuma terdorong oleh rasa kangen saya pada Mas Wahyu, lelaki gagah yang “andhap asor” itu, saya membuka file pemberiannya. Perahatian saya tertuju pada lagu yang berjudul Bali dalam folder Brian Simpson. Lalu saya putar lagu itu, dan saya nikmati semampu saya. Ada nuansa bali tipis sekali disana yang menjadikan saya bertanya apa Bali yang dimaksud Brian itu adalah Bali Indonesia??? Ah, sudahlah! Itu tak penting untuk saya telusuri. Secara acak saya memutar lagu-lagu lain yang ada disitu. Entah kenapa kuping kampung saya bisa saja menikmati dengan nyaman dan tuntas.
Penasaran saya mencoba melihat seperti apakah tampang orang yang bisa membuat racikan music sedemikian enaknya? Saya melihat kemiripan Mas Wahyu dengan wajah ini, tenan! Tidak puas dengan apa yang telah diberikan Mas Wahyu, saya mencoba browsing lagi dan akhirnya menemukan link yang menyediakan lagu-lagu mister Brian ini. Meski filenya besar, saya cukup bisa memaklumi karena racikan musiknya memang menuntut suara detil pada tiap instrumennya.
Coba simak salah Memory Of You dalam album Above The Clouds yang Cuma semenit durasinya itu. Suara pianonya terasa begitu jelas dan sederhana. Entah kenapa saya menyukai lagu itu. Kemudian Summer End dalam album South Beach, dengan sangat jelas bisa kita dengarkan kekuatan percusinya yang ditabuh pada tempo lambat tapi ajeg. Ah, saya jadi makin gak pantas saja mengulas musik, sebuah dunia yang hanya bisa saya nikmati dengan telinga. Pingin sebenarnya saya mengetahui sedikit tentang musisi ini, tapi otak bebal saya tidak berhasil menemukan referensi apapun. Tapi buat apa juga, sih??? Yang penting, dengarkan saja!
Nah, bagi anda yang ingin bersama saya menikmati karya Brian Simpson, sumangga mister…..
KI H Anom Soeroto – Setyaki Lahir
Sekali lagi, pertunjukan wayang bukan semata pertunjukan hitam-putih, pendhawa-kurawa, kebaikan-kejahatan semata. Tetapi lebih pada semangat untuk memberikan “wewarah” atas potret kehidupan manusia pada umumnya. Demikian juga lakon Setyaki Lahir ini. Raden Setyaki yang kita kenal mestinya memiliki hak atas tahta Lesanpura dan Swalabumi (dalam lakon Ini swalabumi dan lesanpura adalah dua tempat yang berbeda). Tetapi kenyataannya, Setyaki lebih memilih menjadi Senapati Negara Dwarawati yang dijalaninya sampai akhir hayat. Dalam lakon Parikesit lahir, kita ketahui Setyaki tewas masih pada kapasitanya sebagai Senapati. Padahal, dia adalah putra Prabu Setyajid yang pada masa uzurnya bisa mewariskan kerjaan kepadanya. Tapi itulah wayang. Ada keteladanan yang bisa kita petik hampir disetiap lakonnya. Baiklah kita kembali ke Lakon Setyaki Lahir yang kali ini saya posting setelah cukup lama vakum………
Awalnya (menurut Ki Narto Sabdo), Lesanpura adalah sebuah kadipaten dibawah Mandura ketika pemerintahan dibawah Prabu Basudewa. Tetapi belakangan setelah lakon Kangsa Adu Jago, Raden Ugrasena diberikan kewenangan untuk bertahta menjadi Raja di Lesanpura dengan Gelar Prabu Setyajit. Dengan kedudukan sebagai raja, artinya Lesanpura sepeninggal Setyajid nantinya tidak kembali ke teritorial Mandura tetapi langsung diserahkan kepada keturunannya. Dari sinilah cerita ini dimulai.
Permintaan Dewi Warsini, permaisuri Prabu Setyajid pada kehamilan kedua ini benar-benar aneh. Tidak seperti kehamilan pertamanya, yang nantinya melahirkan Dewi Setyaboma. Memasuki tujuh bulan kehamilan, waktunya Dewi Warsini untuk memenuhi adat siraman di Telaga Madirda. Dewi Warsini bersedia memenuhi adat siraman dengan syarat dia naik Macan Putih (Sardula Seta). Jelas ini bukan permintaan yang mudah. Tak kurang Prabu Setyajid menghadirkan Prabu Baladewa bersama Raden Narayana dan Prabu Puntadewa bersama Raden Bratasena, dengan harapan bisa memecahkan permasalahan ini. Membiarkan Dewi Warsini melewati 7 bulan kehamilan tanpa siraman di telaga Madirda adalah tindakan tidak bijaksana. Tetapi mendapatkan macan putih dalam waktu dekat ini, juga tidak gampang.
Atas saran Raden Narayana, disepakati untuk memasang grogol (perangkap) di Hutan Winangsraya. Karena menurutnya, dihutan inilah diperkirakan banyak diketemukan binatang buruan, termasuk diantaranya Macan Putih. Hari itu juga dimulailah operasi penangkapan Macan Putih di Hutan Winangsraya yang dipimpin oleh Prabu Baladewa disertai Raden Narayana dan Raden Bratasena.
Jauh diseberang hutan Winagsraya, berdiri sebuah kerajaan besar yang bernama Kerajaan Suwalabumi. dengan raja yang bertahta bernama Prabu Setyasa. Raja sakti lagi kaya raya dan memiliki armada perang yang hebat. Sayangnya, sang prabu belum memiliki permaisuri. Bukan karena kurang kaya, kurang tampan atau kurang sakti. Keengganan Prabu Setyasa mencari pasangan karena sebenarnya hatinya sudah tertambat pada Dewi Warsini, Istri Prabu Setyajid.
Terdorong oleh rasa cintanya yang menggebu (bahkan cenderung ngawur) Prabu Setyasa berniat menculik Dewi Warsini. Untuk itulah dia memerintahkan Singamulangjaya, macan putih piaraannya untuk melakukan tugas ini. Kendati Cuma seekor binatang, Singamulangjaya adalah rajanya macan dan memiliki kesaktian luar biasa. Prabu Setyasa optimis, ditangan Singamulangjaya keinginannya pasti berhasil. Dipihak lain, Singamulangjaya bersedia melakukan tugas ini kendati pada awalnya mendapt firasat yang kurang baik.
Bagaimana kisah selanjutnya? Firasat apa yang diterima Singamulangjaya? Macan putih inikah yang nantinya masuk dalam perangkap yang dibuat oleh Prabu Baladewa di hutan Minangsraya? Bagaimana pada dewasanya Raden Setyaki bisa “nyatriya” di Swalabumi? Selengkapnya kami persilahkan untuk menikmati lakon yang dibawakan oleh Ki H Anom Suroto…….



