Arsip Bulanan: Agustus 2009

Lagu Anak-anak MP3

Cover Kaset ChichaJika mau mengakui, sudah satu dasawarsa terakhir blantika musik Indonesia mengalami kemajuan cukup pesat dan mampu bicara bukan saja ditingkat regional tetapi juga di tingkat Internasional.  Lihatlah betapa Anggun C Sasmi berduet dengan Julio Iglesias, dan banyak lagi seniman kita berdiri sejajar dengan musisi tingkat dunia.

Tetapi dibalik itu, secara jujur pula harus diakui hanya sedikit -kalau tak boleh dikatakan kosong sama sekali- lagu anak-anak terdengar.  Akibatnya anak-anak kita terpaksa harus menyanyikan lagu yang secara normatif bukan konsumsi mereka. Read the rest of this entry

Michael Frank

MichaelFranks

Nama Michael Franks sempat meledak di akhir tahun 70-an hingga awal tahun 80-an. Jazzer kulit putih ini, memperkenalkan satu tipe vokal unik di blantika jazz dunia. Gaya vokal yang tanpa vibrasi itu, hingga kini menjadi kekhasan Michael dan tak dapat ditiru musisi manapun.

Michael lahir 18 September 1944 di La Jolla, sebuah kota yang terletak di negara bagian California. Bakat musik Michael sudah mulai terlihat sejak ia masih sangat muda. Untungnya, kedua orang tua Michael mengerti dan mendukung bakat musik yang tertanam dalam diri anaknya itu. Mereka membelikan Michael sebuah gitar yang kemudian dikenal sebagai salah satu instrumen yang dikuasai Michael selain Mandolin dan Banjo. Read the rest of this entry

Terang Bulan, Mamula Moon atau Negaraku?

Rudi Van Dalm, COVER PH TERANG BULAN

Rudi Van Dalm, COVER PH TERANG BULAN

Dulu sekali, ketika saya masih di SD, guru kesenian saya memperkenalkan beberapa Lagu Kebangsaan dari beberapa Negara.  Ada beberapa yang masih saya ingat kendati saya tak bisa melafalkannya.  Mulai dari Mesir, Italia, Philiphina, India, Malaysia dan (tentu saja) Inggris dan Amarika Serikat.  Pada saat menceritakan Lagu Kebangsaan Malaysia, guru saya sempat ragu apakah judul  Lagu Kebangsaan Malaysia itu Benderaku atau Negaraku.  Beliau mengaku tidak tahu pasti tapi dengan penuh keyakinan beliau mengatakan bahwa lagu itu persis sama dengan lagu Terang Bulan.  Kemudian  masih saya ingat beliau menyanyikan lagu Terang Bulan itu. Merdu, menurut saya.  Nada-nadanya sangat indah ditelinga saya, sangat cocok dengan syairnya.

Beberapa malam kemudian, di  Pendopo Kawedanan saya menonton pentas musik keroncong, yang salah satu penyanyinya adalah guru saya tersebut.  Dua lagu yang beliau nyanyikan.  Satu lagu Mengapa Kau Menangis, dan satunya lagi Terang Bulan.  Sejak itu, saya sering menyenandungkan lagu Terang Bulan dan menjadi hafal karena dirumah saya sering digunakan latihan keroncong dan lagu itu hampir selalu mengalun.

Terang bulan terang di kali

Buaya timbul disangkalah mati

Jangan percaya mulutlah lelaki

Berani sumpah ‘tapi takut mati

Jangan percaya mulutlah lelaki

Berani sumpah ‘tapi takut mati

Sekarang, setelah sekian puluh tahun lagu itu tiba-tiba muncul lagi dalam sebuah berita hangat tentang Rawon, Reog, Batik, Kuda Lumping, Pendet, Angklung dan Wayang Kulit.

Saya tak mau ikut pusing dengan perdebatan papan atas itu.  Satu keyakinan saya, jika rawon Malaysia dan Rawon Solo pojokan Sargede disajikan, saya pastikan bahwa yang dari Sargedelah yang The Real Rawon. Biar dia mau klaim apa lagi, tengkleng, sambel tumpang, rujak cingur, ketoprak, gudheg? Ora urus!

Ketika orang disuguhi  Reog Ponorogo dengan iringan kempul, kendang terumpet dan bonang yang bisa mengawinkan nada antara slendro dan pelog sekaligus dengan sangat indah dan unik itu?  Reog kita dilengkapi dengan bujang ganong, penthul dn atraksi yang nyaris hanya ada di Ponorogo dan Jawa Tengah Bagian Timur.  Itulah The Real Reog, reog yang punya jiwa.

Wayang Kulit? Masya Allah.  Wayang kulit yang kita miliki yang sebagian kecil ada di blog ini adalah sebuah orkentrasi jiwa, rasa, budi dan raga dalam sebuah pertunjukan yang bukan saja menjadi tontonan tetapi juga tuntunan.  Wayang bukan hasil seni semata.  Dia bukan kado, bukan lagu tapi mantera.  Maaka, ketika gambar Werkudara tampil di Promosi Pariwisata Malaysia, saya tak pernah bisa membayangkan apakah gelung, dodod, pupuk, kelat bahu, dan asesoris lain memiliki makna seperti yang diceritakan KI Narto Sabdo??? Jujur, saya ragu apakah ada dalang mereka yang mampu secara filosofis menjelaskannya?

Nah, biarkanlah para diplomat dan seniman-seniman kita menjelaskan kepada Malaysia sembari dengan “tanpa ngasorake” memenangkan pertarungan dan perdebatan ini, ada baiknya ada simak beberapa buah lagu untuk mengurangi rasa penasaran anda.

Satu hal yang bisa saya tangkap ketika puluhan tahun saya mendendangkan lagu ini yaitu, bahwa lagu ini terasa lebih cocok dan berjiwa jika syairnya Terang Bulan, sebagimana  lagu Tak Gendong Mbah Surip yang lebih punya jiwa jika diisi syair Tak Gendong.  Masak lagunya Tak Gendong terus syairnya masalah Perjuangan dan Tegaknya Simbol Kenegaraan??? Tidak Lucu, kan???

Entah siapa yang  nyontek, tak lagi penting.  Yang kita tahu bahwa Lagu Kebangsaan Malaysia itu dulu syairnya berisi masalah buaya hidup disangka mati, berisi masalah mulut lelaki yang bisanya janji dan sumpah tapi takut mati.  Sudah tahu Lagu Kebangsaannya “dipelesetkan” kayak gitu oleh Rudi Van Dalm kok tidak apa-apa, ya?  Jangan-jangan……. janga-jangan….. Malaysia memang Nyontek???

Aaah…, sudahlah, ini kan cuma lagu.  Apalagi yang memakai sudah puas dengan itu, kenapa tidak?

Sekarang kita nikmati saja lagunya!

TERTAWALAH SELAGI TERTAWA MASIH GRATIS……….

Note:  Ada ambahan satu judul Seri Mahesa Jenar bagi penggemar Ketoprak dan agar cepat-cepat di download sebelum Kethoprak diklaim oleh negara lain.  He….he….he….

Junaedi CS – Junaedi Dadi Juru Kunci

Dari aspek cerita, mungkin tak terlalu istimewa.  Basiyo dan Srimulat pernah mengangkat cerita ini.  Kancil-kancilan orang yang terdesak kesulitan ekonomi, menggunakan cara jenaka untuk mendapatkan keuntungan.

Masih bersama Buang dan Jambul,  Djunaidi berusaha untuk memberikan warna baru dalam memancing tawa.  Kendati tidak “seheboh” Dalang Internasional dan Ular-ular Temanten

Sekali lagi, barangkali anda akan sedikit kecewa dengan kualitas suara yang dihasilkan.  Saya berusaha untuk merekam sebaik mungkin akan tetapi karena keterbatasan kemampuan saya di bidang ripping audio, hasilnya tetap saja tak memenuhi harapan anda.

Sebagai obat kangen, kami persilahkan anda untuk mengunduh file Junaidi Dadi Juru Kunci.

Link Download  Junaedi CS – Junaidi Juru Kunci

Dagelan Banyumasan

Peang Penjol. Awak ApesSaya bukan orang Banyumas atau daerah sekitarnya yang berbicara dengan logat “ngapak-ngapak” dan “blekutuk-blekutuk” tetapi banyak teman saya yang berasal dari sana,  (bahkan dari “sana” pula seorang wanita hebat, berkepribadian, lembut dan penuh kharisma pernah singgah dihati saya yang mebuat saya benar-benar  “ngapak-ngapak” dan “dan “blekutuk-blekutuk” jiwa raga).  MerekalaPeang Penjol, Guyon dadi lakonh yang memperkenalkan saya pada beberapa karya besar seni Banyumasan, diantaranya Dagelan.  Saya merasa bahwa dialog, plot maupun tema yang diangkat begitu sederhana, lugas dan terasa sangat akrab.

Begitu tertariknya saya pada Dagelan Banyumasan, maka dalam setiap kesempatan saya berusaha mencari materi yang disamping saya nikmati, juga Peang Penjol, Iguh Pertikelsaya upload untuk anda.

Beberapa judul berhasil saya ketemukan untuk anda download dan nikmati, yaitu

  1. Curanmor (Zip)
  2. Peyang Penjol 1
  3. Peyang Penjol 2
  4. Peyang Penjol 3
  5. Pendeng Gepeng, nDara Seperak A
  6. Pendeng Gepeng, nDara Seperak B
  7. Peang Penjol, Ciri Wanci
  8. Peang Penjol, Nunggal Karep
  9. Peang Penjol, Pinter Keblinger
  10. Peang Penjol, Guyon Dadi Lakon
  11. Peang Penjol, Awak Apes
  12. Peang Penjol, Iguh Pertikel

Juga perlu saya kutipkan artikel dari http://koran.kompas.com/read/xml/2009/04/16/14431976/revitalisasi.dagelan.banyumas yang ditulis oleh Tegus Triaton sebagai referensi anda sembari mendengarkan Guyonan Segar ala Banyumas.

Revitalisasi “Dagelan” Banyumas

Oleh Teguh Trianton

Dagelan merupakan salah satu akar tradisi yang menjadi bagian dari karakter atau watak wong Banyumas. Tradisi ini melengkapi karakter lain, seperti cablaka (transparan), apa adanya, egaliter, dan glogok sor atau suka mengumbar ukara (ucapan). Dagelan sesungguhnya merupakan salah satu bentuk sastra lisan tertua di Banyumas, di samping Dalang Jemblung. Keberadaan seni Dagelan setali tiga uang dengan seni Dalang Jemblung. Keduanya nyaris punah tergerus modernisasi.

Dagelan berasal dari kata ndagel yang artinya melucu, sehingga Dagelan diartikan sebagai lelucon atau tingkah yang mengundang dan mengandung tawa. Dagelan biasanya menjadi salah satu fragmen yang ditunggu penonton dalam pentas Pakeliran Gragag Banyumasan. Dagelan juga bisa dipentaskan secara terpisah “dari pertunjukan wayang” dalam bentuk tunggal seperti seni Ludruk di Jawa Timur atau Lenong di Betawi.

Seni Dagelan pernah mengalami masa keemasan pada sekitar tahun 1990. Saat itu di Banyumas terdapat satu grup Dagelan yang cukup melegenda. Grup lawak ini bernama Peang-Penjol dan Suliyah. Dalam banyolan atau lawakannya tokoh Peang-Penjol dan Suliyah ini sebenarnya tengah memainkan karakter wong Banyumas asli. Karakter yang juga melekat pada tokoh Bawor sebagai ikon masyarakat Banyumas yang biasa muncul dalam seni Pakeliran Banyumasan.

Baik Peang-Penjol dan Suliyah maupun Bawor sebenarnya merupakan metafora, sublimasi dari kondisi masyarakat Banyumas. Humor-humor segar mengalir tanpa beban dari tokoh-tokoh tersebut. Dengan bahasa- dialek-Banyumas-ngapak-yang kental, isu-isu kontemporer kala itu menjadi bahan lawakan.

Berbagai isu sosial yang terjadi saat itu diramu dan ditanggapi secara cablaka dalam perspektif wong Banyumas. Yang timbul kemudian adalah bukan sekadar kelucuan, tetapi di dalamnya terkandung wacana kritis, pendidikan moral, dan nilai-nilai kearifan lokal.

Religiositas

Dus, apa yang dipertontonkan sebenarnya tak sekadar guyon yang hanya mengundang tawa, melainkan pendidikan budi pekerti yang disampaikan secara segar. Dagelan sebenarnya adalah seni mengkritik, mengingatkan, mendidik, menerjemahkan, atau mengejawantahkan perilaku pemimpin dan masyarakat yang dipimpin.

Nah, di sinilah letak religiositas yang menjiwai dagelan. Meski terkesan vulgar, tanpa tedeng aling-aling dan cenderung kasar, tetapi lakon-lakon yang diperankan dalam seni Dagelan sesungguhnya bermuatan nilai-nilai religious.

Religiositas ini diadaptasi dari kata religiosity dalam The World Book Dictionary, yang berarti religious feeling or sentiment atau perasaan keagamaan. Perasaan keagamaan meliputi segala perasaan batin yang berhubungan dengan Tuhan, seperti perasaan takut berbuat dosa, perasaan kejujuran, dan sebagainya.

Dengan demikian, bentuk-bentuk kritik yang disublimasikan dalam dagelan sebenarnya merupakan religiositas. Sindiran-sindiran atau humor satir yang dituturkan dalam dagelan merupakan elan religiositas. Lantaran pada hakikatnya dagelan mengajarkan moral sambil menghibur, mengkritik tanpa menyakiti, mendidik dengan senyuman.

Namun, pada puncaknya, dagelan sesungguhnya merupakan bentuk katarsis. Dagelan tanpa disadari tengah mengajak penonton menertawakan dirinya sendiri.

Dalam kehidupan sehari-hari wong Banyumas kontemporer, seni tradisi ndagel ini sudah luntur. Dagelan telah kehilangan gereget dan rohnya. Seni Dagelan telah kehabisan momen untuk tampil. Faktor penyebabnya ada dua. Pertama hadirnya humor-humor populer yang menyerbu ke ruang-ruang pribadi keluarga melalui pesawat televisi. Kedua, semakin mengecilnya frekuensi dan ruang publik untuk pementasan seni hiburan rakyat.

Untuk faktor pertama ini sangat jelas hubungannya dengan industri hiburan (entertainment) dan kepemilikan modal. Yang memiliki kekuatan untuk meminimalkan adalah penguasa (pemerintah) melalui Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).

Atau kekuatan (pemilik modal) lain yang seimbang yang beriktikad baik memberikan pendidikan melalui tayangan edutainment. Atau dengan membuat tayangan yang sepadan, tetapi lebih menonjolkan moralitas ketimbang sekadar kelucuan yang slapstik.

Nah, minimnya tayangan hiburan yang mengandung unsur pedidikan ini menjadi alasan betapa pentingnya revitalisasi seni tradisional seperti dagelan di Banyumas.

Revitalisasi

Untuk mengatasi faktor kedua, dapat dimulai oleh lembaga pemerintahan dan swasta. Misalnya dengan mengundang grup dagelan sebagai pengisi acara hiburan dalam momen perayaan ulang tahun lembaga, pisah-sambut pejabat, silaturahmi, atau momen lain yang memungkinkan digelarnya hiburan.

Artinya, lembaga-lembaga tersebut harus rela dicap sedikit jadul dengan menyuguhkan seni tradisi ini. Lembaga juga harus rela menahan sedikit hasrat untuk menampilkan hiburan lain yang lebih modern, seperti panggung karaoke, organ tunggal, dan band. Atau mengolaborasikan dua jenis hiburan tersebut dalam satu panggung.

Jika lembaga-lembaga resmi itu telah memberikan contoh bagaimana menghidupkan kembali seni tradisi yang nyaris punah, maka pada gilirannya masyarakat juga akan termotivasi untuk melakukan hal yang sama. Masyarakat akan berpikir untuk menggelar pertunjukan dagelan pada acara hajatan daripada mengundang pemain organ tunggal.

Dengan pola semacam ini revitalisasi seni tradisional dagelan dapat berjalan dan dengan sendirinya nilai-nilai atau pesan moral (religiositas) yang terkandung di dalamnya dapat disampaikan. Sehingga, masyarakat tidak hanya mendapat hiburan segar, melainkan juga mendapat pendidikan moral.

Teguh Trianton Peminat Seni, Staf Edukatif SMK Widya Manggala Purbalingga

Anom Suroto, Asmarabumi

  • Jenis : Wayang Kulit
  • Lakon: Asmarabumi.
  • Dalang : Ki H Anom Suroto, Ki Warseno Sleng, Ki Pamungkas Bayu Aji
  • Format : MP3 128 kbps, 44100mhz, 5 file

ASMARABUMI

semar

Pada saat yang bersamaan, Negara Astina, Amarta dan Pancawati mengalami musibah dan prahara.  Dimana-mana terjadi kelaparan, bencana alam dan kerusuhan.  Kesulitan dari berbagai negara besar ini akan tersatasi apabila dapat memboyong “jimat bisa ngucap, pusaka bisa kandha” yaitu Ki Lurah Semar.

Prabu Rama dari Plangkawati mengutus Anoman ke Karangkadempel untuk memboyong Semar.  Pada saat yang sama databng pula utusan dari Astina yaitu Patih Sengkuni berikut para Kurawa untuk maksud yang sama.  terjadi perselisihan antara Anoman dan Kurawa hingga pertempuran tak dapat dielakkan.

Raden Gatutkaca yang datang kemudian dengan membawa titah dari Prabu Puntadewa untuk memboyong Ki Lurah Semar, diminta untuk melerai pertempuran antara Anoman dan Kurawa untuk sekaligus diminta menghadap guna mendapatkan penyelesaian dari Semar yaitu Ki Lurah Semar bersedia diboyong oleh siapapun dengan syarat bisa mendapatkan Sekar Pudhak Tunjungbiru.

Siapakah yang berhasil mendapatkan Sekar Pudhak Tunjungbiru dan apakah sebenarnya Sekar Pudhak Tunjungbiru tersebut? Ikuti ceritanya dalam Lakon wayang berikut dan dapat anda download dalam link dibawah ini:

  1. Anom Suroto, Asmarabumi 1
  2. Anom Suroto, Asmarabumi 2
  3. Anom Suroto, Asmarabumi 3
  4. Anom Suroto, Asmarabumi 4
  5. Anom Suroto, Asmarabumi 5

Anom Suroto, Pendhawa Maneges

PANDHAWA MANEGES

Begawan Goradahana

Dalam pasewakan agung negara Astina, Prabu Duryudana merasa prihatin mendengar bahwa Negara Amarta sedang kosong karena Para Pendhawa pergi meninggalkan negara, tanpa diketahui keberadaannya.

Resi Bisma, Pendita Durna dan Adipati Karna menyetujui niat Prabu Duryudana untuk ikut menjaga keamanan Negara Amarta.  Kecuali Patih Sengkuni yang dengan tegas tidak menyetujui niat Duryudana untuk rukun dan berdamai dengan Pandawa.  Justru kekosongan Negara Amarta harus dimanfaatkan oleh Duryudana untuk menyerang dan menduduki negara Amarta.

Pada saat yang bersamaan datang seorang Pendeta Raksasa bernama Begawan Goradahana.  Setelah mendengarkan kebimbangan Prabu Duryudanan, Goradahana lebih condong dengan usulan Patih Sengkuni untuk menguasai Negara Amarta.  Keyakinan Goradahana ini didasari dengan pusaka yang dimiliki oleh Goradahana yaitu Kalpika Gaib yang memiliki kemampuan untuk mengetahui keberadaan orang lain dan bila digunakan untuk berperang, yang terkena bisa berubah menjadi arca.

Duryudana semakin mantap dengan kesanggupan Goradahana dan sepenuhnya menyerahkan kepada Goradahana untuk menyerang Pendawa.

Siapakah sebenarnya Begawan Goradahan dan apakah kesanggupannya mengalahkan Pendawa berhasil.  Kami persilahkan untuk mengikuti cerita yang dengan menarik diceritakan oleh Ki H. Anom Suroto.

Berikut ini adalah file Lakon Wayang Kulit dalam format MP3 dengan dalang Ki H Anom Suroto dengan cerita Pendhawa Maneges

  1. Anom Suroto, Pandhawa Maneges 1
  2. Anom Suroto, Pandhawa Maneges 2
  3. Anom Suroto, Pandhawa Maneges 3
  4. Anom Suroto, Pandhawa Maneges 4
  5. Anom Suroto, Pandhawa Maneges 5
  6. Anom Suroto, Pandhawa Maneges 6
  7. Anom Suroto, Pandhawa Maneges 7
  8. Anom Suroto, Pandhawa Maneges 8(tamat)

Pamungkas Bayu Aji, Kresna Boyong (MP3)

Berikut ini saya peresembahkan file MP3 Wayang Kulit dengan Cerita Kresna Boyong oleh Ki Muhammad Pamungkas Bayu Aji.  Lakon ini merupakan rekaman dari pagelaran Mas Bayu dalam dengan dukungan pelawak Kirun Cs.

Bagi yang berkenan download Lakon Kresna Boyong oleh Ki Pamungkas Bayu Aji kami persilahkan di link berikut ini

  1. Pamungkas Bayu Aji, Kresna Boyong 1
  2. Pamungkas Bayu Aji, Kresna Boyong 2
  3. Pamungkas Bayu Aji, Kresna Boyong 3
  4. Pamungkas Bayu Aji, Kresna Boyong 4
  5. Pamungkas Bayu Aji, Kresna Boyong 5
  6. Pamungkas Bayu Aji, Kresna Boyong 6


KI H. Anom Suroto, Wahyu Purbakayun

Inipun sebenarnya merupakan file wayang kulit dalam format MP3 yang sebenarnya pernah saya upload.  Lagi-lagi masalah broken link dan online storage di 4shared yang memaksa saya harus mengupload ulang file ini.

Hal ini saya pandang perlu karena ada beberapa rekan yang menanyakan dan menginformasikan kepada saya tentang lakon Wahyu Purbakayun oleh Ki H Anom Suroto yang tidak dapat diakses.  Permohonan maaf perlu saya sampaikan atas ketidak nyamanan ini.

Berikut ini lakon Wayang Kulit dalam Format MP3 dengan Cerita Wahyu Purbakayun dengan dalang Ki H Anom Suroto.

  1. Anom Suroto, Wahyu Purbakayun 01
  2. Anom Suroto, Wahyu Purbakayun 02
  3. Anom Suroto, Wahyu Purbakayun 03
  4. Anom Suroto, Wahyu Purbakayun 04
  5. Anom Suroto, Wahyu Purbakayun 05
  6. Anom Suroto, Wahyu Purbakayun 06
  7. Anom Suroto, Wahyu Purbakayun 07
  8. Anom Suroto, Wahyu Purbakayun 08
  9. Anom Suroto, Wahyu Purbakayun 09
  10. Anom Suroto, Wahyu Purbakayun 10
  11. Anom Suroto, Wahyu Purbakayun 11
  12. Anom Suroto, Wahyu Purbakayun 12

(Terima kasih anda telah mampir di blog ini. Jika sudah berhasil download file kami, mohon tinggalkan komentar untuk perbaikan selanjutnya)

Ki H. Anom Suroto, Wahyu Jatiwasesa

Kendati beberapa waktu yang lalu saya pernah mengupload Lakon Wahyu Jatiwasesa dengan Dalang Ki H Anom Suroto akan tetapi karena terjadi broken link sehingga tidak dapat diakses, maka saya merasa merasa perlu untuk mengupload kembali barangkali diantara anda para sutresna wayang kulit belum sempat mendownload file tersebut.  Perlu pula saya sampaikan permohonan maaf, karena saya belum juga sempat melengkapi kekurangan 2 file karena master kasetnya belum saya ketemukan.  Semoga hal ini tidak menjadikan kekecewan anda.

Selamat Menikmati.

  1. Anom Suroto, Wahyu Jatiwasesa 1a
  2. Anom Suroto, Wahyu Jatiwasesa 1b
  3. Anom Suroto, Wahyu Jatiwasesa 2a
  4. Anom Suroto, Wahyu Jatiwasesa 2b
  5. Anom Suroto, Wahyu Jatiwasesa 3a
  6. Anom Suroto, Wahyu Jatiwasesa 3b
  7. Anom Suroto, Wahyu Jatiwasesa 4a
  8. Anom Suroto, Wahyu Jatiwasesa 4b
  9. Anom Suroto, Wahyu Jatiwasesa 5a
  10. Anom Suroto, Wahyu Jatiwasesa 5b
  11. Anom Suroto, Wahyu Jatiwasesa 6a
  12. Anom Suroto, Wahyu Jatiwasesa 6b
  13. Anom Suroto, Wahyu Jatiwasesa 7a
  14. Anom Suroto, Wahyu Jatiwasesa 7b
  15. Anom Suroto, Wahyu Jatiwasesa 8a
  16. Anom Suroto, Wahyu Jatiwasesa 8b(tamat)

(Terima kasih anda telah mampir di blog ini. Jika sudah berhasil download file kami, mohon tinggalkan komentar untuk perbaikan selanjutnya)