Arsip Bulanan: November 2009

Wahyudiono, Wahyu

Bagi yang menggemari teater, barangkali pernah menyaksikan pementasan Menunggu Godot yang merupakan “naskah wajib” untuk ditonton oleh para pecinta teater. WS Rendra menterjemahkan naskah ini dari sumber aslinya “ Wait Time For Godot” karya Samuel Barclay Beckett  (1906 – 1089) yang kemudian dipentaskan oleh Bengkel Beater secara cemerlang.

Menyaksikan pentas Menunggu Godot sungguh merupakan upaya untuk mengapresiasi seni dan karakter manusia kemudian menterjemahkannnya  dalam imaginasi masing-masing, hamper tanpa batas.  Godot adalah sosok hebat yang dibicarakan oleh semua pemain sepanjang pementasan.   Semua tokoh dalam cerita ini menyebut nama Godot lebih dari sepuluh kali.  Godot adalah pribadi istimewa dalam kapasitasnuya sebagai manusia.  Ia adalah pahlawan dan tokoh sentral dalam pementasan.

Ketika hampir mencapai puncak dan “si Godot” diceritakan hampir datang (Semua pemain melihat kearah yang sama dengan sangat bahagia sekaligus gelisah), tiba-tiba saja yang muncul adalah orang lain.  Begitu seterusnya sampai pementasan selesai penonton tidak pernah melihat sosok Godot yang istimewa itu.

Begitulah, ketika kegelisahan saya hampir mencapai puncak pada tanggal 23 November, dimana Mas Wahyudiono Wahyu mengabarkan akan berada tak lebih dari setengah jam perjalanan dari rumah saya, tiba-tiba seperti menunggu Godot, sosok hebat itu tak pernah saya jumpai.  Bukan berarti dia ingkar janji, tetapi lebih karena kesalahan saya yang dalam beberapa minggu terakhir mengharapkan kedatangannnya.

Sejauh ini, dia saya kenal sebagai sosok yang flamboyant kendati berpenampilan garang.  Duduk di taman dengan senyum wajar, mata lurus kedepan, tegak tidak dipaksakan membuatnya menjadi sosok yang layak dinantikan.  Dia telah mengantar saya untuk melihat Jazz sebagai musik yang enteng, didengarkan tanpa mengernyitkan kening.  Selama ini, jazz saya kenal sebagai musik yang membutuhkan pemahaman khusus untuk mendengarkannya, tapi begitu dia memeilihkan beberapa lagu Shakatak tiba-tiba saja jazz terasa seperti nasi pecel.  Enak, gampang, murah dan cocok untuk semua suasana.  Nampaknya secara tak sengaja dia telah mengajarkan pada saya bagaimana menikmati musik dengan cara benar dan sederhana.

Wahyudiono.  Ya, Saya hampir  menganggap lelaki ini eksentrik, ketika memilihkan untuk saya beberapa lagu keroncong dari Bram Titaley (Bram Aceh). Keroncongpun tiba-tiba  terasa ringan dan “fresh”.  Entah bagaimana konsep musik menurut dia, yang pasti semua yang diperkenalkannya kepada saya terasa sangat berselera, kendati dengan kemasan sederhana.

Tetapi diatas semuanya, Ludruk dan Wayang Kulit ternyata mendapat tempat yang istimewa di gendang telinganya.  Kartolo dan Nartosabdho adalah dua nama yang selalu ada.  Sempurnalah sudah perannnya sebagai Godot.

Begitulah saya mengenal lelaki ini sebagai Godot.  Kendati tak relevan benar (karena sebagian besar karena kesalahan saya) tetapi kegagalan moment bertemu dengannnya di Solo tanggal 23 November 2009 yang lalu sungguh membuat saya kecewa.  Pada waktu montor maburnya, tumedhak di kota Solo dan saya punya tak kurang dari 12 jam untuk menemuinya dan setelah tokoh ini glibat-glibet di hati saya sebagai sosok yang aneh, flamboyant, rendah hati dan gentle maka di moment terakhir saya harus kecewa karena ternyata saya Menunggu Godot.

Untuk Mas Wahyudiono, Saya tidak tahu bagaimana harus berterima kasih dan meminta maaf kepada anda karena diluar kehendak saya, saya harus mengecewakan anda.  Pada saatnya nanti, saya pastikan untuk tidak lagi menjadikan anda Godot.

Oh ya, barangkali anda berkenan menikmati bosas (katanya masih nak ndulur dengan jazz) dengan tema dan akar yang lain, barangkali ini bis a anda pertimbangkan.

  1. Wong Cilik
  2. Bocah Ndesa
  3. Bengawan Solo
  4. Caping Gunung
  5. Cinta Tak Terpisahkan
  6. Kudu Misuh
  7. Gambang Semarang
  8. Getuk
  9. Ikhlas
  10. Isih Tresna
  11. Janjimu
  12. Kasmaran
  13. Kena Godha
  14. Ketaman Asmara
  15. Kuncung
  16. Kusumaning Ati
  17. Layang Kangen
  18. Lingsir Wengi
  19. Lingsa Tresna
  20. Mawar Biru
  21. Nagih Janji
  22. Nandhang Branta
  23. Pupus Tresna
  24. Sewu Kutha
  25. Stasiun Balapan
  26. Tangise Ati
  27. Tanjung Mas Ninggal Janji
  28. Tanjung Perak
  29. Terminal Tirtanadi
  30. Walang kekek
  31. Wengi Sepi

Dalang Poer, Kudu Misuh

Saat pertama saya mendengar lagu ini, saya tak melihat ada sesuatu yang istimewa.  Sari aspek musikalisasi terlihat sangat-sangat standard.  Lagu ini nampak jelas tanpa konsep aransement yang khusus.  Ia hanya dimainkan dengan electone.  Dari segi syair, lagu inipun tak ada yang istimewa.  Dia hanya bercerita tentang kehidupan rata-rata kelas bawah orang Indonesia.  Kesulitan ekonomi, mencari pekerjaan,  putus asa lalu menyalahkan keadaan dan mengumpat.

Dari syair yang ditulis untuk mengangkat temapun juga tak ada yang expert.  Pilhan kata-katanya sangat umum, terlalu gampang dan terkesan serampangan.  Tapi  kenapa lagu ini menarik?

Bagi saya adalah Keberanian dalang pur mengemas sesuatu yang biasa.  Lagu biasa, tema biasa, musik biasa.  Tak ada yang istimewa.  Semua mengalir lancar, tanpa beban.  Ibarat oertandingan sepakbola antara TIMNAS melawan Barcelona.  Menang ya syukur, umpama kalah memang sudah pada tempatnya.

coba ta gagasen lelakonku iki /ra ana senenge susah sing tak temoni / ngolah ngalih gaweyan kabeh ra nate ngundhuh/ dina-dina isine mung kudu misuh, embuh!

nyoba nggarap sawah tinggalane wong tuwaku/ gumunku saben tandur rega rabuke dhuwur/ bareng tiba panen, rega gabahe mudhun/ kabeh modhal utangan ora bisa kesaur, ajur!

sawah tak dol murah, aku nyicil angkudes/ lagi nyopir seminggu rega bensine ngenthes/ tarif tak undhakke penupang ngrundel ae/ kerep telat oli, rusak ring sak metale, oh.. kere!

montor ngangkrag neng mbengkel, ra bisa ogel-ogel/  rasane uripku mung kari thengel-thengel/ nyepi nyang kuburan golek tembusan togel/ nomer ngeblong terus, aku tambah dhedhel dhuwel, oh… gathel!

kabeh daln wis buntu, aku nekad mbandar dadu/ durung ana sing udhu/ keamanan wis njaluk sangu/ ana oknum tentara, ana oknum pulisi/ buka’an wing-wingi wis kerep tak amplopi/ bareng prei ra nyangoni aku diseret nyang mbui, di ganjar telung sasi/ misuh sak jroning ati…. diancuk!!!!

Begitulah, ditelinga saya lagu ini terasa nikmat.

Dalang Poer, Kudu Misuh

Ketoprak Mataram, HAMENGKUBUWANA I

HB1Bumi Sukawati yang di berikan oleh Susuhunan Pakubuwana II kepada Pangeran Mangkubumi sebanyak 2000 karya dianggap oleh sebagian para pangeran dan tumengung  terlalu luas yang apabila dibiarkan akan menimbulkan rasa iri yang pada gilirannnya bisa menjatuhkan wibawa Susuhunan Pakubuwana II.  Hal ini dikemukakan oleh Patih Pringgalaya ketika pasowanan agung Kasunanan Surakarta.

pangeran mangkubumiSayangnya, Pakubuwana II termakan oleh hasutan Patih Pringalaya tersebut dan memutuskan untuk mengurangi Tanah Hak milik Mangkubumi sebanyak 1000 karya dan sekaligus diberikan kepada patih Pringgalaya.

Pada saat yang sama datang Residen Hongdorf atas nama Gubernur Hindia Belanda di Batavia untuk membicarakan balas jasa yang harus diberikan oleh Susuhunan Pakubuwana II kepada Kompeni ketika membantu Geger Pacinan beberapa saat sebelumnya.  Adapun syarat yang dimajukan oleh Hongedorf antara lain:

  1. Pekalongan sampai Jepara harus disewakan kepada Kompeni
  2. Susuhunan Pakubuwana II mengijinkan Bengawan Solo digunakan oleh Belanda untuk memasukkan kapal dagang mereka.
  3. Penggantian tahta Kasunanan harus mendapat persetujuan Gubernur JenLambang_Pakubuwanaderal Belanda.
  4. Untuk menjaga keselamatan Pakubuwana II, Kumpeni bermaksud membangun beteng pertahanan di sekitar keraton Kasunanan.

Sekali lagi, Pakubuwana II termakan hasutan Patih Pringgalaya dan menandatangani perjanjian yang dibuat oleh Hongedorf tersebut.  Kemudian hari ternyata kesalahan ini berdampak pada sejarah panjang Kasunanan Surakarta Hadiningrat.  Tentu saja Mangkubumi menolak keputusan yang dibuat secara sepihak oleh Susuhunan Pakubuwana II dan akan mempertahankan Bumi Sukawati, bukan saja dari Pakubuwana II tetapi juga dari Kumpeni Belanda.

LambangHBKetika mangkubumi secara terang-terangan bermaksud meninggalkan keraton, Susuhunan Pakubuwana II justru memberikan restu dan menyerahkan 2 buah tombak untuk dipilih oleh Mangkubumi sebagai senjata dalam melawan Belanda.  Mangkubumi memilih tombak ditangan kiri Pakubuwana II yang ternyata itulah Tombak Kyai Plered.  Seperti kita ketahui, siapapun yang mampu menerima Kyai Plered, dialah yang mampu menerima “wahyu ratu”

Kisah panjang ini terangkai dengan sangat indah dan runtut oleh Keluarga Ketoprak Mataram Kodam VII Diponegoro pimpinan Bagong Kussudiharjo dengan dukungan pemain yang tak diragukan lagi kemampuan dan penjiwaannnya:

  1. Sunan Pakubuwana II :    Marjiyo
  2. Patih Pringgalaya:    Mujiman AP
  3. Tumenggung Martakusuma :    Darmaji
  4. Tumenggung Sindunegara :    Sukiryanto
  5. Tumenggung Martalegawa  :    Ngadena
  6. Kunthing :    Miyanto
  7. Pangeran Mangkubumi:    Widayat
  8. Mas Ayu Tejawati   :    A. Poniyah
  9. Rara Ayu Asmarawati  :    Marsidah, BSc
  10. Kyai Dipasanta :    IG Wahana
  11. Tumenggung Jaya Kartika Dhelo :    Pujaleksana
  12. Suwandi Suryanegara :    Anjarwani
  13. Ki Jadrana  :    Cokrodiharjo
  14. Mertakusuma :    Lamido
  15. Rangga Wirasentika :    Kasimin
  16. Emban :    Siti Hasiyah
  17. Nyi Paridan Martapura  :    Sumilah
  18. Paridan Martapura :    Mugiharjo
  19. Residen Hongedorf:    Rukiman Nuryapangarsa

Download MP3 Ketoprak Mataram Sapta Mandala Kodam VII Diponegoro

  1. Hamengkubuwana I_01_1
  2. Hamengkubuwana I_01_2
  3. Hamengkubuwana I_01_3
  4. Hamengkubuwana I_02_1
  5. Hamengkubuwana I_02_2
  6. Hamengkubuwana I_02_3
  7. Hamengkubuwana I_03_1
  8. Hamengkubuwana I_03_2
  9. Hamengkubuwana I_03_3
  10. Hamengkubuwana I_04_1
  11. Hamengkubuwana I_04_2
  12. Hamengkubuwana I_04_3

Klik disini, MUNGKIN ANDA ORANGNYA

Ki H Anom Suroto, Wahyu Tohjali

batara-guruBeberapa hari terakhir, perhatian publik tersita pada kasus “rebut benar” antara KPK dengan Polisi dan Kejaksaan.  Masing-masing mengusung bukti dan argumentasi yang kesemuanya tampak benar, tampak realistis dan anehnya tampak masuk akal. Mata saya yang awam, fikiran saya yang bebal serta nalar saya yang pendek benar-benar dibuat bingung yang bermuara pada ketidak mampuan saya untuk menganalisis kebenaran.  Akibatnya, saya mulai ragu dengan sesuatu yang bernama “kebenaran”, kendati saya sangat yakin bahwa kebenaran itu ada, kebenaran itu nyata dan sungguh suatu keniscayaan.  Tetapi sekali lagi, berhadapan dengan para akademisi, politisi dan praktisi yang memiliki kemampuan dan daya linuwih untuk “membuat kebenaran”, menjadikan kebenaran menjadi samar-samar dan sulit saya mengerti maknanya.

DewasraniBy The Way, Jauh sebelum Arjuna dilahirkan, para dewa sudah nggadhang-nggadhang pada saatnya nanti akan mendapatkan Wahyu Tohjali. Secara harfiah Tohjali berasal dari kata “toh” dan “jali”. Toh berarti pertaruhan atau jaminan, sedangkan jali merupakan akar kata dari “jalu” yang artinya anak.  Sehingga Tohjali dapat diartikan sebagai “jaminan untuk anak”.  Wahyu Tohjali adalah wahyu untuk menjamin kehidupan anak yanng diharapkan bisa menjadi generasi yang Qura’ta’ayuun.  Bahkan ketika Bethari Durga menghadap Bethara Guru, untuk meminta Wahyu Tohjali bagi Dewa Srani, anak lelakinya (yang konon merupakan akan hasil affairnya dengan Bethara Guru).  Bahkan demi mendapatkan Wahyu Tohjali, Bethari Durga sempat “ngundhamana” benthara Guru sebagai ayah yang tidak bertanggung jawab.

Batari DurgaKarena bujukan Bethari Durga, Bethara Guru berjanji untuk memberikan Wahyu Tohjali kepada Dewa Srani.  Hal ini tentu saja membuat para dewa, terutama bethara Narada  terhenyak mengingat sejak awal dan sesuai dengan suratan, Wahyu Tohjali diperuntukkan Bagi Arjuna.  Maka dengan kekuasaannya Bethara Guru mengerahkan semua potensi di Kahyangan Jonggring Saloka untuk memuluskan rencana merekayasa agar Wahyu Tohjali jatuh pada Dewa Srani.  Bethara Brama, Bethara Indra dan Bethara Bayu dilibatkan baik secara langsung ataupun tidak langsung dalam konspirasi tingkat tinggi untuk “mengebiri” dan mencari kesalahan Arjuna.  Tak hanya itu, Bethara Kala dan Bethari Durga pun dilibatkan dalam skenario besar dengan pembagian tugas yang terperinci.

Sebuah pertanyaan muncul, siapa yang sebenarnya yang memiliki kewenangan untuk menyerahkan Wahyu Tohjali?  Secara tegas, Bethara Guru mengatakan bahwa purbawasesa tentang Wahyu Tohjali sepenunya berada di tangan Sang Hyang Wenang.  Itu artinya, Bethara Guru merusaha untuk merekayasa agar secara hukum tindakan bathara guru menyerahkan Wahyu Tohjali kepada Dewa Srani dapat dibenarkan.

Langkah awal dan yang tampak didepan mata adalah melenyapkan Arjuna.  Maka Bathara Guru memerintahkan kepada Dewa Srani untuk membunuh Arjuna yang sedang bertapa di Gungung Harjuna.  Bethari Durga jelas tidak bisa menerima saran ini, karena jika bertempur secara terbuka Arjuna terlalu sakti untuk dikalahkan oleh Dewa Srani.  Akan tetapi ternyata Bethara Guru memberikan bantuan kepada Dewa  Srani baik secara fisik, teknis maupun finansial.  Sayangnya langkah ini tidak bisa dilaksanaan dengan mulus, mengingat Arjuna memiliki dukungan publik yang sangat besar dan trak record Arjuna selama ini dipandang sangat baik.  Arjuna telah memiliki banyak jasa dalam mengungkap dan menyelesaikan berbagai masalah di Kahyangan Jonggring Saloka.

Dan sungguh, pada akhirnya Arjunalah yang mendapatkan Wahyu Tohjali.  Dialah ksatria yang mampu menitiskan Raja Besar kelak dikemudian hari.  Akan tetapi pesan moral manakah yang bisa kita ambil dari Lakon Wahyu Tohjali ini?

Dewa –sekalipun memiliki kekuasaan yang sangat besar- pada hakikatnya hanyalah pemegang amanat dari Sang Hyang Wenang.  Jabatan “dewa” yang disandang Bethara Guru dan para mafiosonya adalah amanat yang harus dijalankan dengan penuh rasa tanggung jawab.  Dia hanyalah pelaksana kedaulatan dan kepercayaan dari Sang Hyang Wenang yang merupakan representasi dari kekuasaan hakiki, rakyat!  Membohongi rakyat dan menyalah gunakan kewenangan karena dirinya dewa, pada hakikatnya telah mengkhianati amanat dari Sang Hyang wenang.

KPK, Polisi, DPR, Jaksa dan lain sebagainya pada dasarnya adalah pemegang amanat dari Sang Hyang Wenang.  Entah siapa yang anda representasikan sebagai KPK, Polisi, Kejaksaan dan DPR itu tidak lagi penting.  Yang lebih penting adalah ada Arjuna yang telah menjadi korban konspirasi besar di Jongging Saloka untuk Wahyu Tohjali.  Tetapi bagaimanapun pada akhirnya kebenaran akan bicara meski tak bermulut.  Kebenaran akan melihat meski tak bermata.  Kebenaran akan mendengar meski tak bertelinga.  Karena kebenaran tetaplah kebenaran.  Ia adalah sebuaah keniscayaan.

Lupakan semua, biarkan mereka berebut benar, karena bukan mereka yang bisa mengatur Wahyu Tohjali, tetapi Wahyu Tohjalilah yang akan melekat pada kastria yang benar-benar berwatak bawa leksana. Maka lebih baik dengarkan saja  Lakon Wayang dalam Format MP3 dengan cerita Wahyu Tohjali oleh dalang KI H Anom Suroto.  Siapa tahu Wahyu Tohjali justru akan turun kepada anda, karena dimata Tuhan kita sama-sama memiliki hak untuk itu.

Download Wayang Kulit MP3 Wahyu Tohjali

  1. Wahyu Tohjali_01
  2. Wahyu Tohjali_02
  3. Wahyu Tohjali_03
  4. Wahyu Tohjali_04
  5. Wahyu Tohjali_05
  6. Wahyu Tohjali_06
  7. Wahyu Tohjali_07
  8. Wahyu Tohjali_08
  9. Wahyu Tohjali_09
  10. Wahyu Tohjali_10
  11. Wahyu Tohjali_11
  12. Wahyu Tohjali_12
  13. Wahyu Tohjali_13
  14. Wahyu Tohjali_14
  15. Wahyu Tohjali_15
  16. Wahyu Tohjali_16 (tamat)

Ki Narto Sabdho, Banjaran Arjuna 2

  • Wayang Kulit : Sumbangan Mas Suhandoko (Denpasar)
  • Lakon               : Banjaran Arjuna 2
  • Dalang              : Ki Narto Sabdho
  • File                     : MP3, 32kbps /44100 Khz/ 16 file a 16 mb

Raden ArjunaSuhandoko (Denpasar)Beberapa waktu yang lalu, Mas Suhandoko (Denpasar) menginformasikan pada saya bahwa beliau telah mengirimkan 3 keping CD yang terdiri dari 1 Lakon Wayang, 1 Cerita Lawak Jadul Warkop, dan beberapa judul ludruk  Kartolo CS yang terdorong oleh keinginannnya untuk berbagi, meminta kepada saya untuk memposting  di blog ini dengan harapan bisa dinikmati oleh lebih banyak para sutresna budaya.  Semua materi dalam CD tersebut sungguh sangat menarik sehingga saya sempat kesulitan, mana yang mesti saya posting lebih dahulu.  Dengan berbagai pertimbangan akhirnya saya putuskan untuk terlebih dahulu memposting KI Narto Sabdo dengan Lakon Banjaran Arjuna 2.

Berbeda dengan Lakon Banjaran yang di bawakan oleh Ki Nartosabdo yang biasanya selesai dengan sekali “tancep kayon”, lakon Banjaran Arjuna terdiri atas 2 seri masing-masing Banjaran Arjuna I dan Banjaran Arjuna 2.  Bajaran Arjuna I menceritakan kisah Arjuna sejak lahir sampai menjelang pernikahannnya dengan Dewi Brata Jaya.  Sedang Banjaran Arjuna II dimulai dari Arjuna menikahi  Dewi Brata Jaya sampai dengan Baratayudha.

Dewi Brata JayaMengulas cerita yang dibawakan Dalang Legendaris semacam KI Nartosabdo seakan menggelar sekian banyak kebaikan yang dirangkai secara runtut sejak talu sampai perang brubuh.  Hampir tak bisa deketemukan kelemahannnya.  Oleh karenanya pada postingan kali ini saya tak hendak mengulas materi pewayangan serta aspek-aspek teknis yang lain tetapi lebih menekankan pada cerita.

Cerita ini dimulai dengan kegelisahan Para pandawa ketika menanti kedatangan Dewi Kunti dari Negara Dwarawati dalam rangka melamar Dewi Brata Jaya untuk dinikahkan dengan Raden Arjuna.  Akan tetapi ternyata Dewi Kunthi Datang dengan membawa berita yang tidak menggembirakan.  Hal ini disebabkan persyaratan yang diajukan oleh Prabu Baladewa sungguh diluar dugaan Para Pandhawa.  Dewi Brata Jaya bersedia dipersunting oleh siapapun pria yang mampu menyediakan

  1. Pangarak temanten dari Amarta ke Dwarati harus naik Kereta Kencana yang ditarik kuda raksasa.
  2. Pesta penganten harus dilaksanakan di balai kencana yang “saka sak domas”
  3. Pengarak pengantin harus diiringi Gamelan Lokananta yang berbunyi di angkasa.
  4. Serah terima pengantin harus dilengkapi Kebo Ndanu 140 yang “ pancal panggung”
  5. Abon-abo Suralaya yang berupa kayu klepu dewa ndaru, kembar mayang, gedhang mas pupus cindhe, lombok, terong yang berisi mutiara
  6. Kereta harus dikemudikan oleh kera putih yang bisa menyanyi (ngidung) dan mampu beksa (joget)
  7. Dalam waktu tujuh hari semua persyaratan harus tersedia.  Jika tidak berhasil, maka lamaran De3wi Kunti ditolak.

Semula pendhawa menganggap bahwa persyaratan ini berari penolakan karena hampir semua unsur yang disyaratkan  hampir tak mampu di wujudkan.  Akan tetapi Resi Wiyasa memandang persyaratan itu justru menguntungkan Pendhawa, karena hampir semua syarat tadi dimiliki oleh Pandawa.

Yang menarik dari jawaban atas pertasyaratan tadi, ternyata selesai ditangan Semar dan Anoman, yang merupakan representasi dari Kawula Alit dan Rohaniwan.  Semar drekomendasikan oleh Abiyasa untuk dimintai pertimbangan sebagai simbol wong cilik. Sedangkan Anoman merupakan simbol manusia yang sudah “menep”.  Merekalah yang pada akhirnya mampu mnyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh para ksatria.

Seperti biasa, KI Narto Sabdo menyisipkan pengetahuan tentang sastra dan budaya jawa secara sangat proporsional ditengah dialog para tokoh yang dengan nyaman dapat anda ikuti.

Selengkapnya, kami persilahkan anda untuk menikmati salah satu karya besar dari seniman yang belum ada tandingannnya, Ki Narto Sabdho dalam Lakon Banjaran Arjuna II.  Selamat Menikmati……….

  1. Banjaran Arjuna 2_01
  2. Banjaran Arjuna 2_02
  3. Banjaran Arjuna 2_03
  4. Banjaran Arjuna 2_04
  5. Banjaran Arjuna 2_05
  6. Banjaran Arjuna 2_06
  7. Banjaran Arjuna 2_07
  8. Banjaran Arjuna 2_08
  9. Banjaran Arjuna 2_09
  10. Banjaran Arjuna 2_10
  11. Banjaran Arjuna 2_11
  12. Banjaran Arjuna 2_12
  13. Banjaran Arjuna 2_13
  14. Banjaran Arjuna 2_14
  15. Banjaran Arjuna 2_15
  16. Banjaran Arjuna 2_16 (tamat)

Barangkali diantara anda ada yang kurang familiar dengan 4shared, maka pucuk dicinta  ulam tiba Mas Edy Listanto rekan lain yang “sama buaya”nya dengan Mas Handoko jika sudah ngembug Narto Sabdo yang ditengah kesibukannya juga ngopeni blog edy listanto’s blog) memberikan link yang lain untuk Lakon Banjaran Arjuna 2 di MediaFire. Mangga, silahkan donwload disini

BANJARAN ARJUNA2 (MEDIA FIRE by EDY LISTANTO)

Catatan:

Untuk Mas Suhandoko (Denpasar) dan Mas Edy Listanto

Mewakili rekan-rekan setresna budaya wayang kulit, saya mengucapkan terima kasih atas semua jerih payah dan dedikasinya dalam nguri-uri seni budaya jawa. Ditunggu untuk cerita-cerita selanjutnya.