Arsip Bulanan: Februari 2010

Ki. H. Manteb Sudharsono, Baratayudha Jayabinangun

Sekali lagi, Mas Bambang Supriyadi menyempatkan upload file untuk kita semua.  Kali ini kembali bersama dalang setan Ki H Manteb Sudarsono dalam Lakon Baratayuda.  Sebuah lakon yang tidak sembarang dalang berani menggelar.  Terlebih untuk pagelaran live.  Dengan kata lain jika bukan dalang “linuwih” shokhibul khajad tidak akan berani naggap lakon Baratayuda.  Terlepas dari pepali dan wewaler yang kini masih kental di masyarakat jawa, Lakon baratayuda ini layak anda simak dan nikmati sebagai sarana referensi cerita perang baratayudha yang dikemas dalam 1 lakon, padat dan menggigit tanpa kehilangan substansi pewayangannya.

BARATAYUDHA

Oleh : Bambang Supriyadi

Dikisahkan perang baratayudha sudah berlangsung 15 hari, dipihak Kurawa banyak yang gugur. Prabu Duryudana jengkel terhadap Raden Kartomarmo karena Kurawa sudah hampir habis gugur di medan perang sedangkan Raden Kartomarmo masih segar-bugar, maka diusirlah dia…

Patih Sengkuni maju sebagai Senapati dibantu oleh adiknya yaitu Raden Sorobasonto dan Raden Gajagso.

Patih sengkuni yang selama ini kita kenal sebagai tokoh yang licik lagi pengecut ternyata adalah seorang patih yang sangat kebal terhadap segala senjata, kuku pancanaka dan gada Rujakpolo-nya Werkudara-pun tidak mempan.

Prabu Baladewa yang sudah sekitar tujuh bulan “Matirta” di bengawan Bagiratri ingin dilibatkan dan menyaksikan Perang Baratayudha khususnya perangnya Werkudara dengan Duryudana yang keduanya adalah sama-sama muridnya dalam hal “perang gada”. Namun demikian ternyata Duryudana walaupun tubuhnya sudah rusak dihajar oleh Werkudara tidak bisa binasa, bisa mati kalau bersama Katresnannya.

Diceritakan pula ada seorang Kurawa yang bernama Joyosusena, dia adalah pengagum Werkudara rela mati kalau yang membunuh Werkudara….

Lakon Baratayudha adalah lakon wingit (pinjam istilahnya mbak Galuh), tidak semua dalang berani menggelar lakon ini terutama yang punya hajat tentu tidak akan meninta lakon ini ada yang bilang karena takut kena “walat” (kembali ke Gugon Tuhon). Tapi kali ini Pak Manteb menggelar lakon Baratayudha disaat “ditanggap”. Entah karena saya terlanjur mengagumi pagelarannya pak Manteb… saya mendengarkan iringan karawitan Bima terutama kendangannya Pak Sunarto terasa “marem” hemm…. Dimeriahkan pula oleh Lawak Kirun Cs. Selamat menikmati…..

  1. Ki H Manteb Sudarsono, Baratayuda_1a
  2. Ki H Manteb Sudarsono, Baratayuda_1b
  3. Ki H Manteb Sudarsono, Baratayuda_2a
  4. Ki H Manteb Sudarsono, Baratayuda_2b
  5. Ki H Manteb Sudarsono, Baratayuda_3a
  6. Ki H Manteb Sudarsono, Baratayuda_3b
  7. Ki H Manteb Sudarsono, Baratayuda_4a
  8. Ki H Manteb Sudarsono, Baratayuda_4b
  9. Ki H Manteb Sudarsono, Baratayuda_5a
  10. Ki H Manteb Sudarsono, Baratayuda_5b

Admin: mewakili rekan rekan sutresna budaya wayang kulit, saya menyampaikan usapan terima kasih dan penghargaan uyang setinggi-tingginya kepada Mas Bambang Supriyadi yang telah berkenan melengkapi koleksi Wayang Kulit Ki Manteb Sudarsono.  Ditunggu untuk lakon-lakon selanjutnya…………

Edy Listanto & Imam B, (Tribute to Ki Nartosabdho)

Matahari belum sepenggalah, ketika pesan pendek itu saya terima.  Nomor itu juga yang telah masuk beberapa jam sebelumnya yang mengabarkan akan kehadirannnya di gubug saya dalam rangkaian tugasnya mengikuti Raker di Jogyakarta.  Dalam entry name saya, si pengirim pesan pendek itu tercatat sebagai Imam B, lelaki Garut yang mengenalkan saya pada jenis rekaman kaset Ki Nartosabdho versi Singobarong.  Ini adalah rekaman Ki Nartosabdho yang diambil secara langsung dari panggung pertunjukan, bukan di studio.  Apa bedanya?

Karena kesengsemnya pada Ki Nartosabdho sementara referensi tentang sang maestro itu sangat minim ditambah teknologi ketika itu tidak memungkinkan untuk mendokumentasikan pentas Ki Nartosabdho, maka rekaman “live” sungguh menjadi angan-angan “pendengar” yang ingin “menonton”  Ki Nartosabdho.  Adalah PT Singobarong yang melihat peluang itu dengan membuat rekaman pertunjukan langsung Ki Nartosabdho.  Sekarang, disaat orang tak lagi telaten dengan kaset pita, jadilah Nartosabdho versi Singobarong menjadi sedemikian sulit didapatkan.

Berbicara mengenai Ki Nartosabdho, selain Mas Imam B, rasanya tak bisa saya melupakan nama Edy Listanto, pakar teknologi pertanian IPB yang ditengah tugas akhirnya meraih doktor masih saja menyempatkan diri berkutat dengan gulungan pita kaset magnetik dalam upayanya “menyelamatkan” warisan Ki Nartosabdho yang masih berserakan.  Kegandrungannya pada Ki Nartosabdho bukan saja diwujudkan pada upayanya mendigitalisasi kaset-kaset Mbah Narto saja, tetapi juga membangun blog tentang dalang kondang ini di Edy Listanto’s Blog.  Lebih dari itu, dia juga merasa sangat nyaman berbagi bandwidh melalui radio online yang secara rutin menyiarkan wayang kulit dengan Ki Nartosabdho sebagai dalangnya.

Dia adalah pemrakarsa (jika tak boleh disebut perintis) digitalisasi Lakon Wayang Ki Nartosabdho.  Tak kurang dari 50 lakon telah ia upload online storage untuk kemudian di link ke berbagai blog.  Bagi sementara orang, apa yang saya tulis mengenai Mas Edy Listanto ini terasa berlebihan, tapi tidak bagi saya yang dalam dua tahun terakhir menghabiskan waktu minimal 3 jam sehari untuk berselancar di blog dengan konten Sastra Jawa.  Sehingga, saya mengatahui update file wayang yang bisa di download di berbagai blog yang sering menjadi “jujugan” pecinta Wayang Kulit MP3.  Sekarang -tanpa bermaksud jumawa- sebagian besar radio FM (Radio Publik Lokal RSPD) yang menyiarkan lakon wayang kulit KI Nartosabdho adalah hasil download dari file yang diconvert dan diupload Edy Listanto.  Saya bisa memastikan itu, karena “cacat yang dibawa oleh file Mas Edy” tak bisa dihilangkan oleh operator radio FM / SW.

Konkritnya, maksud hati ingin menyumbang file Ki Nartosabdho, saya pernah merekam siaran di sebuah radio swasta di Surakarta.  Belum lagi selesai talu, saya terganggu oleh suara yang saya kenal yaitu distorsi suara sinyal handphone dalam rekaman itu.  Saya ingat mas Edy pernah “kecelakaan” ketika merekam Pendhawa Boyong.  Ketika saya membuka file itu dan memutar bareng dengan siaran radio, yakinlah saya bahwa yang diputar itu adalah hasil download Edy Listanto’s Blog.  Setelah itu, berturut-turut siaran wayang kulit yang saya dengarkan tak pernah bergeser dari 50an lakon yang dimiliki Edy Listanto.

Kembali ke Mas Imam yang bermaksud mampir ke gubug saya beberapa waktu yang lalu.  Saat menyampaikan pesan pendek itu, Mas Imam sudah berada di Surakarta, itu artinya 30 menit lagi dia akan sampai ke gubug saya.  Gupuh saya pulang untuk menyambut kahadirannnya, tetapi setelah berputih mata baru 5 jam kemudian dia sampai dirumah saya.  Banyak yang kami perbincangkan waktu itu, tetapi semuanya tak jauh bergeser dari materi utama yang memang sudah lekat di hati kami.  Kami tak membicarakan berita aktual yang saat ini tengah gencar di siarkan media masa.  Kami hanya berbincang masalah wayang, wayang dan wayang.  Hanya itu seakan tak ada habisnya.  Selepas sholat ashar, saya mengantarnya kejalan tempat Avanza hitamnya diparkir.

Membicarakan dua lelaki ini (Mas Edy dan Mas Imam) rasanya timbul banyak harapan bahwa Lakon Wayang Ki Nartosabdho akan segera lunas terdigitalisasi.  Komitmen mereka untuk sekuat tenaga mengumpulkan lakon-lakon wayang yang bersumber dari pita digital patut diacungi jempol.  Mas Edy Listanto telah berhasil membuka akses ke Jakarta, Semarang dan Yogyakarta, sementara Mas Imam telah membuka gembok di Lokananta Surakarta, dan stasiun radio di seantero Jawa Timur.  Entah berapa judul yang berhasil masuk entry listnya.  Masalahnya adalah : Jer Basuki Mawa Bea.

Saya yang sering bermain dengan acara convert kaset magnetik ke digital bisa merasakan kesulitan itu.  Jika kaset bekas, sebagian besar lakon pasti tidak lengkap.  Belum lagi masalah teknis lain yang melekat pada permasalahan barang bekas (mbundhet, nglokor, macet, jamuren dan sebagainya).  Alhasil,  perhitungan matematika tak akan pernah bisa gatuk jika dihitung satu kaset membutuhkan waktu 1 jam.  Katakanlah, setelah dikurangi ganngguan khas kaset bekas, 2 jam untuk 1 kaset.  Itu artinya, 1 lakon (8 kaset) dibutuhkan waktu 16 jam.  Wwuiiih…..!!!!

Jika kebetulan menemukan kaset “baru” (maksudnya kaset itu belum pernah diputar, karena sebaru apapun kaset wayang kulit, pasti produk yang seudah cukup berumur) harganya mencapai Rp. 20.000,- per kaset.  Artinya, untuk 1 lakon harganya Rp. 160.000,-.  Dalam katalog yang dikeluarkan Lokananta yang saya lihat di sebuah toko kaset di Surakarta, perusahaan ini telah merekam 142 judul Lakon Wayang Kulit Ki Narto Sabdo.  Untuk Fajar Record merekam 97 lakon sedang Singobarong tidak diketahui.  Katakanlah Lokananta dan Fajar merekam Lakon yang sama, sementara saat ini sudah 60 lakon yang dimilki Mas Edy dan Mas Imam, berarti masih 80 lakon lagi yang belum terdeteksi.  Jika 1 lakon harganya 160.000,- maka harus ada Rp. 12.800.000.  Sedang waktu convert jika dihitung adalah 80 lakon X 8 kaset X 1 jam = 640 jam.  Toblasss………..!!!!!.

Bandingkan dengan format digital.  Jika file itu sudah dalam bentuk digital 1 kaset yang berdurasi 1 jam, dengan format MP3 4400khz 128 kbps, rata-rata berukuran 40 MB. Maka 640 kaset yang berdurasi 640 jam akan berbobot 25600 kb atau 2,56 GB.  Dengan komputer standard didukung oleh akses internet yang relatif stabil, tak butuh waktu semalam untuk ngunduh file sebesar itu.

Seperti juga saya, tentu saja Mas Edy dan Mas Imam tak akan mau terjebak dalam hitung-hitungan konyol semacam itu.  Yang  dilakukan hanyalah semaksimal mungkin ndudah warisan mbah Narto yang peta serta kuncinya sudah berada di tangan.  Tinggal keberanian untuk segera memulai ekspedisi “memburu harta karun”. Mereka perlu sponsor untuk ekspedisi itu!!!

Komitmen

Boleh jadi Mas Edy memiliki weton Rebo Pahing :) yang konon memiliki watak panasbarang, laku srengenge!.  Berkemauan keras, lugas (cenderung galak), ingin semua pekerjaan cepat selesai, berani ambil resiko dan ora wegahan! Terbukti (meminjam istilah dhalang) laki-laki ini seakan tak mau “kelangan ngeng” segera mengambil langkah.

Jiwa akdemisinya berjalan seiring dengan naluri agrarisnya yang kental.  Segera dia berkoordinasi dengan beberapa rekan (dalam hal ini Mas Prabu, Mas Imam, Mas Widjanarko, Mas Handoko dan entah berapa orang lagi).  Dirasa dia sudah cukup persiapan segera mengambil tindakan dengan target Rp.1.000.000,- untuk langkah awal dan hebatnya 75% sudah didepan mata dalam hitungan hari.

Hal ini terwujud selain kerja keras mas Edy dan Mas Imam, juga rasa peduli rekan-rekan lain yang (mungkin membayangkan itung-itungan antara mengrekam dengan mendownload  :) merasa terenyuh dengan tekad dan komitmen kedua lelaki ini.  Meski tak saling mengenal orang-orang yang di kontak Mas Edy via facebook dan add comment di blog telah menyatakan kesanggupannya.

Jujur saja, terus terang, ora tedheng aling-aling, aling-aling tedheng……… Postingan ini dibuat dengan harapan semakin memperluas jangkauan komitmen untuk siapapun yang simpati dengan langkah yang diambil Mas Edy dan Mas Imam.  Jika Mas Edy (mungkin karena Rabu Pahingnya itu) menentukan “ancer-ancer nominal”  kepada rekan-rekan yang dikontaknya, maka saya merasa tidak perlu menentukan.  Jika anda peduli, berapapun jumlahnya akan sangat bermanfaat untuk rekan-rekan yang secara sukarela berkeringat menyisakan waktu, tenaga, bandwidh, setrum PLN, kipas angin (saya yakin sumuk banget) dan lan-lain sehingga pada akhirnya kita akan temukan Lakon Wayang Nartosabdho yang bisa diunduh oleh siapapun, secara gratis dalam jumlah yang relatif lengkap

BERAPAPUN JUMLAHNYA AKAN DIMANFAATKAN SECARA OPTIMAL. DAN INSYA ALLAH TIDAK AKAN DISALAH GUNAKA.

SILAHKAN KIRIM KE BRI Cabang Garut, Jawa Barat NOMOR REKENING 0025-01-037750-50-5 An . Imam Bashori.

Mohon maaf, dan terima kasih!

Nah, berikut ini aalah Wayang Kulit dengan format MP3 oleh Ki Narto Sabdo yang bisa anda download dan nikmati

  1. Gatutkaca Sungging
  2. Suteja Takon Bapa
  3. Alap-alap Setyaboma
  4. Kresna Duta versi Singo Barong
  5. Pendhawa Ngenger
  6. Banjaran Arjuna II
  7. Abimanyu Krama
  8. Pendhawa Nugraha
  9. Alap-alap Dewi Sukeksi
  10. Pamuksa (Pandhu Gugur)
  11. Gatutkaca Nagih Janji
  12. Banjaran Drona
  13. Babad Wanamarta
  14. Pandhawa Gubah
  15. Gatutkaca Wisudha
  16. Abimanyu Gugur
  17. Banuwati Janji
  18. Arjuna Wiwaha
  19. Bambang Partadewa
  20. Bima Suci
  21. Pandhawa Boyong
  22. Parikesit Grogol
  23. Semar Kuning
  24. Bale Sigala-gala
  25. Bambang Sakri Krama
  26. Banjaran Arjuna 1
  27. Banjaran Drona
  28. Banuwati Janji
  29. Anoman Obang
  30. Anoman Swarga
  31. Dasamuka Lena
  32. Gatutkaca Nagih Janji
  33. Banjaran Bisma
  34. Bima Kelana Jaya (Banjaran Bima)
  35. Bima Bungkus
  36. Dewa Ruci
  37. Karno Tanding
  38. Lahire Gatutkaca
  39. Pamuksa (Pandhu Gugur)
  40. Pandhawa Gubah
  41. Pandhawa Ngenger
  42. Sawitri
  43. Rama Tambak
  44. Salya & Suyudana Gugur
  45. Sayembara Menthang Langkap
  46. Wiratha Parwa
  47. Semar mBarang Jantur
  48. Samba Juwing
  49. Sudamala
  50. Sumantri Ngenger
  51. Wahyu Sri Makutharama
  52. Narasoma (Banjaran Salya)
  53. Kresna Duta
  54. Banjaran Karna
  55. Gara-gara I
  56. Gara-gara II

Ki Manteb Sudarsono, Bratasena Maguru

Inilah satu lakon yang mengandung nilai filosofis yang sudah membumi di masyarakat jawa, Manunggaling Kawula lan Gusti.  Sebuah konsep tauhid “versi kejawen” yang berupaya membeberkan siapa “sejatine aku” dimata sang Khalik dan sebaliknya keberadaan Tuhan dilihat dari pengertian “aku”.  Apakah aku berada pada “wilayah Gusti” atau “Gusti yang berada dalam “diriku” adalah pertanyaan mendasar yang seringkali menjadi area pertentangan yang tak berujung untuk mengejawantahkan  konsep Manunggaling kawula Gusti.

Dalam tokoh pewayangan, hanya Wrekudara yang berhasil menerima kawruh “sangkan paraning dumadi” esensi dari konsep tauhid dalam filsafat kejawen.  Menurut saya ini adalah laokn carangan yang betul-betul bersumber dari jawa karena Bratasena maguru berupaya mengedepankan nilai esensial dari “ruh” budaya jawa itu.  Tentunya saya tak hendak mengulas lakon ini karena sebagian besar dari anda pasti sudah sangat mengenal jalan ceritanya.  Akan tetapi Bratasena maguru ditangan Manteb Sudarsana terasa lebih “cair” dan gampang dimengerti.

Coba bandingkan dengan Dewa Rucinya Ki Narto Sabdo.  Pesan yang disampaikan terasa lebih ringan kendati kita menyadari bahwa pesan “sangkan paraning dumadi” terasa sangat sulit dicerna (paling tidak oleh saya yang sekian lama hidup dialam logika praktis) yang nyaris lupa bertutur dalam format budaya dan filosofi kejawen.

Tidak banyak yang saya ulas untuk lakon ini.  Silahkan nikmati, ambil isinya dan temukan “sejatine aki ki sapa?”

  1. Ki Manteb Sudarsono, Bratasena Maguru_01A
  2. Ki Manteb Sudarsono, Bratasena Maguru_01B
  3. Ki Manteb Sudarsono, Bratasena Maguru_02A
  4. Ki Manteb Sudarsono, Bratasena Maguru_02B
  5. Ki Manteb Sudarsono, Bratasena Maguru_03A
  6. Ki Manteb Sudarsono, Bratasena Maguru_03B
  7. Ki Manteb Sudarsono, Bratasena Maguru_04A
  8. Ki Manteb Sudarsono, Bratasena Maguru_04B
  9. Ki Manteb Sudarsono, Bratasena Maguru_05A
  10. Ki Manteb Sudarsono, Bratasena Maguru_05B
  11. Ki Manteb Sudarsono, Bratasena Maguru_06A
  12. Ki Manteb Sudarsono, Bratasena Maguru_06B
  13. Ki Manteb Sudarsono, Bratasena Maguru_07A
  14. Ki Manteb Sudarsono, Bratasena Maguru_07B
  15. Ki Manteb Sudarsono, Bratasena Maguru_08A(tamat)

MUNGKIN ANDA ORANGNYA

Seri Syeh Jangkung, DUMADINE LULANG KEBO LANDOH

Gelisah juga rasanya, ketika sampai sekian lama saya tak juga menemukan kaset bekas di pasar klithikan (loak) untuk melengkapi Serial Syeh Jangkung yang tinggal dua episode lagi, yaitu Saridin Lahir dan Dumadine Lulang Kebo Landoh.  Sejujurnya, saya sudah membeli 2 kaset baru demi melengkapi serial ini yaitu, Bedhahing Ngerom dan Ontran-ontran Cirebon sehingga ketika saya melihat Seri Syeh Jangkung, Dumadine Lulang Kebo Landoh di toko awal Februari lalu saya jadi ragu untuk membelinya.

Disamping harganya yang relatif mahal, bulan ini saya tak merencanakan budged untuk keperluan membeli kaset baru.  Bagi saya, Rp. 85.000,- bukanlah angka yang kecil sekalipun jika selesai di konvert saya masih punya kesempatan untuk menukarkan dengan judul lain dengan “nombok” Rp.3500 tiap kaset.  Akan tetapi, demi melihat tak ada cadangan dalam tumpukan kaset itu, rasa khawatir saya akan kehilangan kesempatan dan kaset itu laku kepada pembeli lain makin menggoda. Maka jadilah kaset itu saya ambil.  Untuk memuaskan hasrat langsung saya convert untuk kemudian saya upload dan saya posting sebelum perasaan-perasaan yang tidak perlu singgah dihati saya.

Pada episode inilah puncak “karier” Syeh Jangkung.  Secara de facto dia telah menjadi ulama dan paranpara Negara Mataram.  Tak kurang, Sultan Agung rela menjadi petani menggantikan Syeh Jangkung yang ketika itu sedang sibuk menggarap sawah demi meminta kesediaan kyai eksentrik ini mennyelesaikan permasalahan dan pageblug yang menimpa keraton Mataram akibat ulah lelembut yang membuat bencana di seantero keraton Mataram.

Dari sinilah sekuel ini dimulai.  Syeh Jangkung bisa datang ke Mataram memenuhi harapan Sultan Agung untuk menumpas gerombolan jin yang dipimpin oleh Kalawindu yang telah menguasai keraton Mataram.  Atas keberhasilan Syeh Jangkung menumpas gerombolan Jin Kalawindu, Sultan Agung bermaksud memboyong Keluarga Besar Syeh Jangkung di Miyono, Pati (termasuk Retna Jinoli) untuk tinggal di Mataram, akan tetapi Syeh Jangkung menolak, karena banginya tinggal di Miyono sebagai petani terasa lebih nikmat jika di jalani dengan ikhlas.

 

Sementara itu, keberadaan Syeh Jangkung di Miyono terasa sangat mengganggu keberadaan Panti Kudus yang dipimpin oleh Sunan Kudus.  Hal ini karena ajaran yang di bawa oleh Saridin dapat membahayakan santri-santri lain pada umumnya.  Oleh karena itu, dengan semakin banyaknya warga (terutama santri) yang berguru ke Miyono menjadikan Sunan Kudus makin gusar.  Kegusaran Sunan Kudus kemudian dibawa ke Kabupaten Pati.

 

Dengan mengingatkan kembali kejadian lolosnya Saridin dari penjara Kadipaten Pati sampai kejadian gagalnya hukuman gantung yang dijatuhkan kepada Saridin atas tuduhan terbunuhnya kakak ipar Saridin saat memakai pakaian harimau beberapa tahun yang lalu, Adipati Tandanegara termakan oleh masukan Sunan Kudus.  Oleh karena itu, diputuskan untuk membubarkan perguruan (baca: pesantren di Miyono) yang diasuh oleh Syeh Jangkung bagaimanapun caranya!

Bagaimana kelanjutan  kisah ini?  Berhasilkah Sunan Kudus membungkam kehebatan Saridin? Apa hubungannnya dengan Lulang Kebo Landoh? Dan banyak lagi pertanyaan lain yang masih menggantung selama anda belum tuntas mendengarkan cerita ini.  Episode ini adalah jawaban terakhir atas berbagai pertanyaan seputar Kisah Saridin (Syeh Jangkung) yang demikian melegenda di Kabupaten Pati dan di pesisir utara Jawa Tengah pada umumnya.

Selamat menikmati……………….

  1. Syeh Jangkung, Dumadine Lulang Kebo Landoh_1_1
  2. Syeh Jangkung, Dumadine Lulang Kebo Landoh_1_2
  3. Syeh Jangkung, Dumadine Lulang Kebo Landoh_1_3
  4. Syeh Jangkung, Dumadine Lulang Kebo Landoh_2_1
  5. Syeh Jangkung, Dumadine Lulang Kebo Landoh_2_2
  6. Syeh Jangkung, Dumadine Lulang Kebo Landoh_2_3
  7. Syeh Jangkung, Dumadine Lulang Kebo Landoh_3_1
  8. Syeh Jangkung, Dumadine Lulang Kebo Landoh_3_2
  9. Syeh Jangkung, Dumadine Lulang Kebo Landoh_3_3
  10. Syeh Jangkung, Dumadine Lulang Kebo Landoh_4_1
  11. Syeh Jangkung, Dumadine Lulang Kebo Landoh_4_2
  12. Syeh Jangkung, Dumadine Lulang Kebo Landoh_4_3
  13. Syeh Jangkung, Dumadine Lulang Kebo Landoh_5_1
  14. Syeh Jangkung, Dumadine Lulang Kebo Landoh_5_2
  15. Syeh Jangkung, Dumadine Lulang Kebo Landoh_5_3
  16. Syeh Jangkung, Dumadine Lulang Kebo Landoh_6_1
  17. Syeh Jangkung, Dumadine Lulang Kebo Landoh_6_2
  18. Syeh Jangkung, Dumadine Lulang Kebo Landoh_6_3
  19. Syeh Jangkung, Dumadine Lulang Kebo Landoh_7_1
  20. Syeh Jangkung, Dumadine Lulang Kebo Landoh_7_2
  21. Syeh Jangkung, Dumadine Lulang Kebo Landoh_7_3
  22. Syeh Jangkung, Dumadine Lulang Kebo Landoh_8_1
  23. Syeh Jangkung, Dumadine Lulang Kebo Landoh_8_2
  24. Syeh Jangkung, Dumadine Lulang Kebo Landoh_8_3

Ki Manteb Sudarsono. Pandhawa Sanga (Anoman Maneges)

Setelah agak lama vakum (mungkin baru teteki), lelaki ganteng ini tiba-tiba mak bedunduk muncul lagi.  Dia adalah Mas Bambang Supriyadi satu dari banyak rekan yang peduli pada blog sederhana ini dan dengan keterbatasan waktu yang dimiliki, menyempatkan waktu untuk convert kaset dan upload file wayang.  Saya bisa membayangkan betapa dengan kesabaran dan ketulusannya meski dibayangi bandwidh yang terbatas berhasil upload Wayang Kulit Ki Manteb Sudarsono yang kali ini menampilkan Lakon Pendhawa Sanga, salah satu lakon “wingit” yang hanya dalang tertentu berani menggelar.  Beruntung sekali blog ini bisa menampilkkan lakon ini untuk anda.

PANDHAWA SANGA (ANOMAN MANEGES)

Oleh Bambang Supriyadi

Setelah berhasil membentuk “Pandhawa Pitu” Pandhawa bermaksud mempererat dan pemperluas tali Persaudaraan dengan membentuk manunggaling “Pandhawa Sanga” yang terdiri dari Puntadhewa, Bima, Harjuna, Nakula, Sadewa  Baladewa, Kresna, Setyaki dan Hanuman.

Namun keinginan yang mulia itu ternyata menghadapi banyak hambatan dan tantangan. Yang pertama datang dari Prabu Baladewa yang berpendapat bahwa tidak sepatutnya Hanuman yang hanya berupa Kera menjadi anggota “Pandhawa sanga”. Yang berikutnya hambatan datang dari para Kurawa khususnya Pandhita Durna yang menuduh bahwa para pandhawa akan memperbanyak sekutu untuk menghadapi perang Bharata Yudha, dengan suruhan murid barunya Ratu Raksasa yang bernama Prabu Sukmo Lawung bermaksud menggagalkan terbentuknya Pandhawa Sanga……

Di sini Semar dan Hanuman sebagai pamonge pandhawa benar-benar mendapat tantangan untuk mencairkan suasana yang semakin keruh dan rumit.

Simak selengkapnya bersama Ki H. Manteb Sudharsono diiringi oleh sanggar karawitan Bima, pagelaran ini direkam pada saat pentas terbuka (live) namun demikian kualitas suara bagus, dapat kita dengar jelas dan kita nikmati suara Rebab, Siter dll.

  1. Ki Manteb Sudarsono, Pendhawa Sanga_1a
  2. Ki Manteb Sudarsono, Pendhawa Sanga_1b
  3. Ki Manteb Sudarsono, Pendhawa Sanga_2a
  4. Ki Manteb Sudarsono, Pendhawa Sanga_2b
  5. Ki Manteb Sudarsono, Pendhawa Sanga_3a
  6. Ki Manteb Sudarsono, Pendhawa Sanga_3b
  7. Ki Manteb Sudarsono, Pendhawa Sanga_4a
  8. Ki Manteb Sudarsono, Pendhawa Sanga_4b
  9. Ki Manteb Sudarsono, Pendhawa Sanga_5a
  10. Ki Manteb Sudarsono, Pendhawa Sanga_5b
  11. Ki Manteb Sudarsono, Pendhawa Sanga_6a
  12. Ki Manteb Sudarsono, Pendhawa Sanga_6b

Admin: mewakili rekan rekan sutresna budaya wayang kulit, saya menyampaikan usapan terima kasih dan penghargaan uyang setinggi-tingginya kepada Mas Bambang Supriyadi yang telah berkenan melengkapi koleksi Wayang Kulit Ki Manteb Sudarsono.  Ditunggu untuk lakon-lakon selanjutnya…………

Prabu, Pranowo Budi

Secara phisik saya tidak mengenal lelaki ini.  Tetapi dihati saya, Budi Pranowo adalah sosok misterius yang namanya lekat dihati saya hampir setahun ini.  Saya hanya mengenal laki-laki ini melalui tulisan dan upload file yang selalu saya ikuti sejak dua tahun terakhir.

Sejujurnya, kendati saya tak mengenalnya tetapi wibawanya sangat saya rasakan sehingga menulis sesuatu kepadanya memerlukan kehati-hatian yang lebih dari biasanya.  Saya harus memilih kata-kata yang tepat untuk add comment di blognya yang terasa wingit.  Anehnya, saya tak pernah merasa terganggu dengan wibawanya ini.  Bagi saya dia adalah seorang guru.  Meski menakutkan tapi tidak untuk ditakuti.  Alhasil, yang hadir adalah sebuah bentuk kerinduan yang sulit tergambarkan.

Dua tahun lalu, ketika internet menjadi sedemikian mudah dan (murah), saya mulai sering berlama-lama didepan layar monitor untuk browsing dan mengenal lebih jauh mahluq yang bernama internet.  Dari melihat gambar, membaca berita, download software sampai  chatting dengan yahoo messenger maupun mirc.  Pada suatu hari, lacakan saya berhenti pada sebuah halaman yang menampilkan Wayang Kulit dengan format MP3.  Blog itu adalah Wayang Prabu.

Sejak itu saya tak pernah lepas dari halaman itu setiap kali browsing.  Hanya itu dan hanya disitu.  Komputer dan software yang saya pakai tidak memungkinkan untuk tugas multi tasking.  Sehingga  Blog Wayang Prabu khatam saya jelajahi.  Semua!  Bahkan sampai komentar-komentar yang masuk telah saya baca.

Ketika itu Ada 3 Judul Narto Sabdho, 3 Judul Anom Suroto, 18 Judul Basiyo, 7 Judul  Kartolo, Puluhan lagu Rhoma Irama dan Lagu Jadul yang lain.  Saya berfikir,  bagaimana mungkin ada orang yang mau secara sukarela mengupload begitu banyak file ke server berbayar.  Mulia betul hatinya.  Tak ada sedikitpun iklan disana. Tak seperti blog yang biasa saya temui.  Saya arahkan ke halaman” Abaut”.  Satu motto yang tegas  dikatakan oleh empunya blog: Bahagia bisa berbagi!!! Dan ditiap komentar yang menyanjungnya, selalu dijawabnya dengansebuah doa agar dirinya senantiasa istiqomah.

Gemetar saya mencoba untuk menuliskan sesuatu di bilah komentar yang disiapkan.  Esoknya, dengan berdebar saya mebuka halaman yang sama.  Mak clesss……… begitu saya menerima  balasannya.  Sejak itu saya makin berani dan makin berani.  Akhirnya jadilah saya komunitas yang rutin mengisi daftar buku tamunya.  Tak satu postinganpun yang lepas dari jamahan saya.

Empat bulan berjalan.  Lalu mak pet!!! Blog itu tak lagi bisa diakses.  Saya merasa sangat kehilangan.  Segala upaya saya tempuh untuk bisa menemukan blog itu kembali tapi tak pernah berhasil.  Barulah saya tahu bahwa persinggahan saya yang indah itu telah di blokir oleh WordPress.  Ada saya mampir di beberapa blog lain, tapi tak satupun yang menjawab ketika saya uluk salam ingin masuk.  Jadinya saya seperti nonton TV dirumah tetangga waktu kecil dulu.  Saya bisa menonton tapi tak bisa menikmati.

Ketika Blog barunya mulai diperbaiki dengan nama Prabu Wayang, saya merasa menemukan kembali tempat persinggahan.  Bahakan saat saya berniat menyumbangkan file Ketoprak dan Wayang, diluar dugaan Mas Prabu justru menyuruh saya untuk memposting sendiri.  Seperti belajar sepeda, dia membiarkan saya berulangkali jatuh sampai tanpa terasa kaki saya terangkat dari tanah dan menempel di pedal sepeda.  Tak terasa pula sepeda itu mulai berjalan.  Lalu, dengan sabar dia memberikan arahan bukan pada cara naik sepeda, tetapi juga cara memperbaiki sepeda.

Entahlah, tiba-tiba kerinduan saya kepadanya tiba-tiba menyeruak.  Jika saya mengenalnya pasti akan saya hubungi dia.  Tapi karena tak ada sarana menemuinya, maka postingan saya kali ini saya persembahkan kepadanya.

Salam sejahtera untuk Mas Prabu.  Semoga sehat sejahtera dan rukun bersama keluarga.  Bahagia bisa berbagi dan tetaplah istiqomah!!!

Berikut ini adalah Rumah Mas Prabu yang saya sering “klesetan” disana sembari menunggu suguhan yang terasa selalu “fresh”

  1. Bumi Prabu
  2. Bumi Prabu Multiply
  3. Bumi Prabu Dunia Wayang
  4. Bumi Prabu Video
  5. Bumi Prabu Vodpod
  6. Mengenang Ki Nartosabdho

Ki H Anom Suroto, Semar mBangun Kayangan

Lakon ini seakan merupakan “lakon wajib” bagi dalang untuk membawakannnya.  Disamping menarik, lakon ini memberikan pesan moral yang gampang dimenerti kendati mengandung nilai-nilai filosofis “khas kejawen”.  Hampir semua dalang pernah membawakan cerita ini dengan versi dan kreativitas masing-masing, tak terkecuali Ki H Anom Suroto.  Oleh karena itu lakon ini banyak dikenal oleh masyarakat pecinta wayang kulit.

Dari sampul kaset dan ijin produksinya, kaset ini direkam pada tahun 1985, Duapuluh lima tahun atau seperempat abad sudah Ki H Anom Suroto membawakan cerita ini.  Akan tetapi ketika saya mendengarkan sembalri mengconvert cerita ini, terasa masih sangat segar ide-ide yang dilontarkan olehnya.  Hanya saja, mendengarkan wayang akan lebih sangat menarik apabila dikaitkan dengan suasana aktual yang terjadi pada masa itu.

Mendengarkan cerita ini, seakan kita dibawa pada suasana dimana Negara Indonesia masih “ayem tentrem” tanpa gejolak baik politik, ekonomi maupun sosial (tentu saja  dalam pengertian praktis, bukan subsatnsi).  Pesan-yang ada didalam dialog antar tokoh sepanjang pagelaran, tak menggambarkan adanya “kegundahan” hati masyarakat Indonesia.  Tak ada century, tak ada kerusuhan, tak ada pemakzulan, tak ada debat politik, tak ada perang media.  Pendeknya, yang  tergambar dalam angan-angan adalah nonton wayang ditengah kehidupan warga masyarakat yang rukun, ayem tentrem dan tanpa rasa curiga mencurigai.  Kesulitan ekonomi yang dihadapi punakawan dalam adegan goro-goro menunjukkan kewajaran, bukan ketakutan.  Ahh, ini kok malah ngelantur……………..

Diceritakan, bahwa untuk kepentingan “mbangun kayangan” , Ki Lurah Semar bermaksud meminjam Jamus Kalimasada kepada Prabu Puntadewa. Oleh karena itu, dia mengutus Petruk untuk menghadap Sang Prabu guna menindak lanjuti rencana tersebut.  Pada saat yang sama Pendita Durna dan Patih Sakuni menyampaikan pesan  sebagai utusan Prabu Duryudana, untuk _juga- meminjam Jamus Kalimasada sebagai sarana memulihkan “dahuru” yang menimpa Kerajaan Astinapura.

Tentu saja, Prabu Puntadewa menjadi “ewuh aya ing pambudi” kepada siapa Jamus Kalimasada akan dipinjamkan.  Prabu Kresna yang berada di pasewakan karena diundang Prabu puntadewa, mengambil langkah bijak agar masing-masing menunggu di alun-alun, sementara keputusan akan dimusyawarahkan terlebih dahulu.  Kresna pergi ke Kahyangan Jonggring Saloka guna menghadap Betara Guru agar diberikan petunjuk menyelesaikan permasalahan ini dengan cara yang tepat.  Sambil menunggu kedatangan Sri Kresna, Prabu Puntadewa menemui para utusan dan memberikan syarat bagi siapapun yang bermaksud meminjam Jamus Kalimasada, yaitu berupa “Kembang Turangga Jati”.  Siapapun, baik Semar maupun Duryudana bisa membawa Jamus Kalimasada asalkan berhasil memetik  “Kembang Turangga Jati”.

Tak elok, jika saya menceritakan sampai tuntas lakon ini kepada anda, karena tujuan saya adalah mengajak anda untuk ikut menikmati suasana ketika Lakon ini direkam / dipentaskan.  Sekali lagi, kendati saya sangat yakin anda sudaj hafal dengan cerita ini, tapi mendengarkan wayang bukan saja bertujuan untuk mengetrahui akhir dan jalannnya cerita tetapi juga menggali pesan moral yang terkandung didalamnya, selain tentunya sebagai “lelangen wardaya”, makanan jiwa!

Selamat menikmati…………………..

  1. Anom Suroto, Semar Mbangun Kayangan _01_a
  2. Anom Suroto, Semar Mbangun Kayangan _01_b
  3. Anom Suroto, Semar Mbangun Kayangan _02_a
  4. Anom Suroto, Semar Mbangun Kayangan _02_b
  5. Anom Suroto, Semar Mbangun Kayangan _03_a
  6. Anom Suroto, Semar Mbangun Kayangan _03_b
  7. Anom Suroto, Semar Mbangun Kayangan _04_a
  8. Anom Suroto, Semar Mbangun Kayangan _04_b
  9. Anom Suroto, Semar Mbangun Kayangan _05_a
  10. Anom Suroto, Semar Mbangun Kayangan _05_b
  11. Anom Suroto, Semar Mbangun Kayangan _06_a
  12. Anom Suroto, Semar Mbangun Kayangan _06_b
  13. Anom Suroto, Semar Mbangun Kayangan _07_a
  14. Anom Suroto, Semar Mbangun Kayangan _07_b
  15. Anom Suroto, Semar Mbangun Kayangan _08_a
  16. Anom Suroto, Semar Mbangun Kayangan _08_b

MUNGKIN ANDA ORANGNYA

Wayang Orang MP3, Srikandi Wuyung

Semula, muncul keraguan pada diri saya apakah kira-kira saya telaten mendengarkan Wayang Wong yang duapuluh tahun lalu sering saya dengarkan sambil lalu dari radio.  Ketika itu, selain kethoprak dan sandiwara radio, Wayang Orang menjadi salah satu alternatif hiburan yang menghiasi gelombang radio.  Sejujurnya, ketika itu saya tidak bisa disebut menyukai siaran Wayang Orang.  Saya mendengarkan siaran ini karena pakdhe saya selalu mendengarkan acara ini dan saya tak punya pilihan lain, karena hanya ada 1 radio ketika itu.  Oleh karena itu ketika saya menemukan kaset ini, saya tidak yakin apakah saya “mampu” mendengarkan.

Akan tetapi diluar dugaan, ketika saya mulai mendengarkan Srikandi Wuyung sembari mengconvert ke format digital, saya menemukan suatu rasa yang sulit saya gambarkan yang bermuara pada satu kesimpulan; saya menyukai wayang orang  (barangkali faktor usia penyebabnya).  Akhirnya, niat saya untuk menutup volume saya urungkan.  Saya mendengarkan cerita ini sampai tuntas, nikmat sekali!

Cerita ini dimulai dengan ungkapan kesedihan Prabu Drupada, Raja Pancalaradya memikirkan putrinya Wara Srikandi yang sakit ingatan.  Atas upaya Raden Dwastajumpena, Srikandhi di sembuhkan dengan Sekar Wijaya Mulya.

Sementara itu, dalam perjalanannya Bambang Pamularsih sebagai utusan Prabu Harjunadi, Raja Gajahoya mencari Kembang Turangga Jati sebagai sarana meneteramkan negaranya, dia bertemu dengan pendhita raksasa bernama Begawan Kalapadnaba dari pertapaan Giri Kembang.  Ketika itu Kalapadnaba dalam perjalanan memenuhi permintaan adik perempuannya yang berkeinginan untuk mendapatkan momongan (anak angkat) satriya bagus.  Dalam amatan  Kalapadnaba, Bambang Pamularsih memenuhi persyaratan bagi keinginan adiknya itu.  Bambang Pamularsih menolak, tapi apa daya Kalapadnaba adalah raksasa yang sakti, sehingga dengan mudah bisa dikalahkan dan di boyong ke Giri Kembang.

Bagaimana kelanjutan cerita ini, silahkan anda bernostalgia dengan Wayang Orang RRI Surakarta, Surakarta dalam cerita Srikandi Wuyung dengan dukungan pemain :

  1. Srikandhi: Darsi
  2. Prabu Drupada: Hardjawibaksa
  3. R. Dwastajumpena : Suroto
  4. Patih Dwastacandra : Suparto
  5. R. Pamularsih : Tanti
  6. Begawan Kalapadnaba: Rusman
  7. Endang Turanggajati : Kristinah
  8. Harjunadi : Suratmi
  9. Sri Kresna : Sutarto
  10. Carangsusena : Ranawibaksa
  11. Semar : Suwandi
  12. Gareng : Padmawibaksa
  13. Petruk : Surono
  14. Emban : Suratmi
  15. Swarawati : Tukinem
  16. Dalang : Rototjarito
  17. Sutradara : Surono

File download MP3 Wayang Orang Srikandi Wuyung

  1. Srikandi Wuyung_1a
  2. Srikandi Wuyung_1b
  3. Srikandi Wuyung_2a
  4. Srikandi Wuyung_2b

Guyon Maton Mp3

Pada dekade 90an, ketika dimulai era global banyak seni dari luar negeri (baca: barat) menggelontor negeri ini.  Dimulai dari seni tari ( ingat: break dance, flash dance), film dan musik menggelegak ditengah seni  tradisional yang makin terpinggirkan.  Pentas-pentas kethoprak mulai sepi penonton, wayang orang mulai ditinggalkan dan tari pethilan (bahkan yang berlabel tari kreasi baru)pun sudah jarang ditemukan.  Para seniman dan pelaku seni pada umumnya sudah mulai banting setir untuk mencari sumber penghasilan baru diluar spesialisasinya.  Benar-benar terasa keterpurukan seni  tradisional ketika itu.

Disaat sulit semacam itu, bagai oase, Surono, Nanik Ramini, Darsi, Rusman dan banyak tokoh WO Sriwedari Surakarta pada waktu itu, membuat terobosan dengan menampilkan Guyon Maton, sebuah bentuk “lawak gaya baru” dengan tetap mengedepankan unsur hiburan tanpa terlalu jauh menyimpang dari “pakem”.  Ketika itu jenis lawak ini banyak ditampilkan pada acara hajatan seperti  mantu, khitanan dsb dengan sebutan Guyon Maton Lesmana Wuyung.

Disebut demikian karena tokoh / lakon yang ditampilkan adalah R. Lesmana (putra Raja Astina, yang idiot itu) berdialog dengan emban dan tokoh lain dalam rel “dhapukan” wayang orang.  Meski demikian, Guyon Maton Lesmana Wuyung ini, tidak selalu menampilkan tokoh Lesmana tetapi juga Ki Lurah Petruk.  Intinya adalah berupaya menampilkan “dagelan” yang lebih halus dibanding “lawak modern”  tetapi tak harus mengernyitkan kening semacam Langendriyan Bancak Doyok.

Ketika itu, Guyon Maton Lesmana Wuyung  sempat menyita perhatian banyak pecinta seni.  Para seniman Wayang Orang dan Kethoprak yang sepi order, dapat mengais rejeki sambil mengespresikan jiwa keseniannnya melalui jenis pentas ini.  Sayapun sempat  punya kesempatan dan pengalaman langsung serta menerima “tanggapan”  guyon maton di dibeberapa tempat, tentunya sesuai dengan kapasitas saya sebagai seniman ajaran.

Saya tidak ingat, kapan Guyon Maton Lesmana Wuyung (baca: Guyon Maton) ini mulai sepi dari berbagai pentas hajatan.  Yang pasti, sekarang pantas sejenis itu praktis tak bisa kita temukan.  Sekarang pada hajatan mantu dsb, orang lebih suka menoleh ke Organ Tunggal, Dangdut dan Campursari (yang -maaf- sudah kehilangan arah).  Saat ini (dibeberapa tempat, tentu) penyanyi  cantik, iringan / musik yang cenderung  gayeng dan MC yang pintar nyerempet “daerah hitam” dengan berdialog dengan penyanyi, menjadi alternatif.

Ketika tengah  “ngolak-alik” kaset bekas di pasar loak minggu kemaren,  beberapa judul Guyon Maton saya temukan dengan kondisi  “sangat mengenaskan”.  Sampulnya sudah kusam, kemasannya sudah pecah disana sini.  Kemudian di bagian dalam, pitanya sudah mbundhet total dan ditautkan melingkar begitu saja di tubuh kasetnya.  Ganjel gabus yang menjadi nyawa menkanik kaset sudah tidak ada lagi.  Ada empat kaset dengan kondisi yang tak jauh berbeda.

Terdorong rasa ingin berbagi, Rp. 500 saya bayarkan pada Mas Agus untuk kaset itu.  Kemudian dengan penuh keyakinan saya lakukan perbaikan dengan metode kanibalisme :) .  Satu kaset saya bongkar, kemudian peralatan yang ada didalamnya saya pasangkan untuk memutar kaset yang lain.  Begitu selesai, pita dikaset kedua saya pasangkan untuk saya putar dan convert.  Demikian setelah seharian empat kaset selesai  juga.  Dan setelah yakin terhadap hasil convert yang telah saya lakukan.  Maka dengan penuh khidmad, kaset pita seharga Rp. 500 itu saya buang. Wussss………..

Nah, untuk mengenang Guyon Maton sekaligus melihat hasil perjuangan saya, berikut ini saya persembahkan beberapa judul Guyon Maton untuk anda!

  1. Guyon Maton, Petruk Godril (Surono – Darsi)_A
  2. Guyon Maton, Petruk Godril (Surono – Darsi)_B
  3. Guyon Maton, Nawangwulan (Waldjinah)_A
  4. Guyon Maton, Nawangwulan (Waldjinah)_B
  5. Guyon Maton, Lesmana Godril (Surono – Darsi)
  6. Guyon Maton, Petruk Dadi Dalang (Surono – Darsi)
  7. Guyon Maton, Janaloka Gandrung (WO Sriwedari)