Arsip Bulanan: Maret 2010

Wayang Orang, Gatutkaca Rebutan Kikis

Sekali lagi, kendati sadar banyak diantara anda yang kurang menyukai wayang orang, blog ini sengaja menghadirkan file Wayang Orang dalam format MP3 dengan harapan bisa diunduh untuk referensi sembari mengenang bahwa jenis hiburan ini pernah menjadi primadona.

Ketika itu, Gedung Wayang orang menjadi salah satu alternatif sasaran kunjungan hiburan keluarga.  Tak jarang anak kecil waktu itu mengidolakan tokoh wayang yang sering ditontonnya.  Gatutkaca, Werkudara, Arjuna dan Setyaki adalah sebagian nama yang acap kali ditempatkan sebagai hero.  Tapi sudahlah…… Itu masa lalu!

Kali ini saya menemukan kaset Wayang Kulit yang lumayan bagus baik phisik maupun kualitas suaranya, maka ketika saya merekam kedalam format digital, hampir tanpa editing sama sekali.  Lakon ini menampilkan rol wayang orang Sriwedari Surakarta ketika itu, yaitu Rusman dan Darsi.  Pasangan suami isteri yang secara total mengabdikan diri dalam dunia Wayang Orang.  Ketika saya menonton Wayang Orang di Balekambang 6 tahun lalu saya sempat berfikir, bagaimana mungkin orang “sekaliber” beliau masih bersedia main hanya dengan hanya 20 pasang mata penonton yang membeli tiket seharga Rp.5.000,- per lembar.  Jadi Pementasan Wayang Orang yang saya tonton ketika itu hanya memberikan pamasukan Rp. 100.000,- J

Lakon ini mengisahkan sengketa tapal batas antara Pringgondani dengan Trajutresna, yaitu Kadipaten Tunggarana.  Adipati Kahana, penguasa Tunggarana sengaja tidak mau seba dan asok glondhong pengareng-areng kepada Raja Trajutresna, Prabu Bomanarakasura, karena menurutnya wilayah ini masuk kekuasaan Pringgondani sebelum akhirnya diinvasi oleh Trajutresna sesaat setelah meninggalnya mendiang Prabu Kala Tremboko.

Prabu Anom Raden Gatutkaca, Raja Pringgondani pada dasarnya tidak mempermasalahkan hal tersebut sepanjang rakyat Kabupaten Tunggarana dalam keadaan sejahtera.  Akan tetapi ketika Adipati Kahana berniat mencari suaka politik dan mohon perlindungan sekaligus rencana menggabungkan diri dengan Pringgondani, maka hal ini dijadikan alasan oleh Gatutkaca untuk menggugat keberadaan Kikis Tunggarana.

Tentu saja Bomanarakasura tidak begitru saja melepaskan Tunggarana.  Terlebih setelah raden Setyaki dan Raden Somba bergabung dengan Raja Trajutresna ini.  Samba berani ambil resiko membantu Trajutresna karena dia dijanjikan menjadi adipati di Tunggarana apabila wilayah ini berhasil dipertahankan.

Kresna dan Pendhawa dijadikan meditor untuk menyelesaikan masalah ini tanpa pertumpahan darah.  Akan tetapi tidak berhasil dan perang tanding antara Bomanarakasura dan Gatutkaca tak dapat dihindarkan.

Nah, selengkapnya nikmati saja cerita ini dan pastikan anda bangga memiliki Kesenian Wayang Orang yang tak dikenal daerah lain

  1. Wayang Orang, Gatutkaca Rebutan Kikis_1a_001
  2. Wayang Orang, Gatutkaca Rebutan Kikis_1a_002
  3. Wayang Orang, Gatutkaca Rebutan Kikis_1a_003
  4. Wayang Orang, Gatutkaca Rebutan Kikis_1b_001
  5. Wayang Orang, Gatutkaca Rebutan Kikis_1b_002
  6. Wayang Orang, Gatutkaca Rebutan Kikis_1b_003
  7. Wayang Orang, Gatutkaca Rebutan Kikis_2a_001
  8. Wayang Orang, Gatutkaca Rebutan Kikis_2a_002
  9. Wayang Orang, Gatutkaca Rebutan Kikis_2a_003
  10. Wayang Orang, Gatutkaca Rebutan Kikis_2b_001
  11. Wayang Orang, Gatutkaca Rebutan Kikis_2b_002
  12. Wayang Orang, Gatutkaca Rebutan Kikis_2b_003

MUNGKIN ANDA ORANGNYA

Dialog Imajiner, Demokrasi Dimata Kami

“Skak!” kata Mas Widj sambil menggeserkan salah satu bidaknya kedepan dan raja saya tak bisa berkutik,  Saya kalah lagi!.  Dia tersenyum puas, sembari menghembuskan asap rokoknya yang lalu menggilas puntungnya di sudut tembok tanpa risih bahwa itu akan mengotori.  Memang tak hanya dia.  Kami semua yang biasa nongkrong di pos ronda melakukannnya.  Bagi kami noda bekas rokok yang hampir memenuhi sudut tembok sama sekali tidak mengganggu.  “Sampeyan itu terlalu berani bespekulasi adu jaran -kami tak pernah menyebut bidak ini gajah- harusnya tadi mentrinya mundur, sehingga sampeyan masih bisa menggunakan patih untuk bertahan!”

“Tapi patih saya juga terjepit, lho mas” kata saya membela diri “ saya sudah terlanjur memajukan patih. Kalau saya tidak adu jaran bisa-bisa, malah patih saya yang kena!” kata saya sambil memasukkan bidak-bidak kedalam kotak.  Saya menyerah.  Sudah berkali-kali saya main sama Mas Widj belum pernah menang.  Saya benar-benar frustasi.  Maka saya bertekad untuk tidak lagi menantang dia selama saya belum benar-benar siap.

“Itulah, kalau sampeyan terlalu semangat mempertahankan patih dan menteri, akibatnya malah kocar-kacir.  Raja harus berjuang sendiri diskak ngalor ngidul.  Oh, ya, Jadinya, kapan dik?” Mas Widj bertanya lagi sambil menyalakan rokoknya entah sudah batang keberapa.

“Apanya, mas?”

“Lho, sampeyan kan yang kemaren ikut kumbakarnan?

“Oh, itu ta?” saya meletakkan papan catur diatas lemari.  “ Rencananya tanggal dua, mas.  Cuma kayaknya Mas Edy tidak jadi mantu di Gedung.  Katanya dia lebih merasa nges jika mantu dirumah.

“Apa tidak terlalu sempit?” tanya mas Widj sambil mengulurkan korek api kepada saya.

“Ya memang” kata saya sembari menyalakan rokok. ” Nanti terpaksa nuntup jalan”

“Mulai prapatan kulone Mas Wahyu itu?” Tanya mas Widj.

“Ya, sekaligus nanti untuk pondokan besan, mas.  Rumahnya kan besar.  Lagian putra-putranya juga tidak pulang.  Lha wong kuliahnya di Luar Negeri, masak bisa bola-bali mudik” kata saya “Mas Wahyu ketika dikonfirmasi juga tidak keberatan” lanjut saya.

Kami terdiam dalam dan hanyut dalam lamunan masing-masing.

Banyak yang mengatakan bahwa lingkungan tempat kami tinggal adalah lingkungan Manula.  Sebagian besar yang tinggal disini adalah orang yang tak lagi bisa disebut muda.  Kami sama saja dengan sendiri. Hanya dengan isteri. Anak-anak kami sudah pergi mengikuti kewajiban mudanya di luar sana.  Ada yang harus setia mengikuti suami, ada yang karena pekerjaan harus tinggal di daerah lain  dan sebagainya.

Satu hal yang membuat kami betah menghabiskan hari dan usia adalah karena kami sering berkumpul ditempat ini.  Selepas maghrib biasanya kami berkumpul di Pos Ronda ini.  Ada saja yang kami perbincangkan.  Bahkan tak jarang kami ngrembug politik yang pasti tak akan pernah tercium gaungnya di Senayan yang jaraknya ratusan kilometer dari tempat ini.  Tak jarang kami hanya nongkrong sembari berkelakar, sampai Mbak Anna Maria yang tinggal diseberang pos kamling ini menutup horden tiap jam 11 malam.

Jiancuk!” Suara Mas Wahyu membuyarkan lamunan kami.  Darah Majapahitnya mengalir deras ditunjang pengalamannnya berkeliling dunia, maka pensiunan pilot ini terbisa berbicara blak-blakan, dan lantang.  Nampak sekali kegusaran diwajahnya.  Raket tennisnya dilemparkan begitu saja. “Sudah jelas-jelas salah, faktanya juga berbicara begitu.  Lha kok masih berkelit, masih dilindungi.  Apa tumon?”

Sareh, mas.  Sareh! Ini ada apa, kok ujug-ujug duka yayah sinipi begitu?” mas Widj bertanya sambil menggeserkan kursinya mendekat pada laki-laki tinggi besar ini.  Usianya kira-kira 65 tahun.  Jauh lebih muda dari Mas Widj.  Tapi posturnya yang gagah dan kumisnya yang tebal ditambah kebiasaannya berolah raga membuatnya seperti 50 tahun saja.  Dulu kami sering menjulukinya Gatutkaca.

“Saya mengharapkan sebuah akhir yang cerah setelah sebulan penuh berkeringat.  Anggaran negara dikucurkan untuk membiayai panitia ini.  Lha mbasan sudah ada hasilnya, kok dimentahkan lagi”

“Dimentahkan bagaimana, ta?” tanya saya yang sudah mulai tertarik

Mas Wahyu menoleh kepada saya “Sampeyan yang pensiunan pegawai pemda, yang sedikit banyak memahami sistem politik dan tata negara mestinya bisa merasakan, ta? bahwa UU No 6 tahun 1954 tentang Hak Angket DPR itu mestinya penerapannya oleh DPR.  Lha kok dipake alat oleh presiden untuk membela diri. Ya, jelas dong.  Kalau undang-undang itu tak mungkin bisa mengipeach presiden. Lagian UU itu kan semangatnya ketika jaman Parlementer dengan konsiderannnya UUD Sementara tahun 1950.  Ngawur!

“Bukankan Mahkamah Konstitusi melalui putusannya tanggal 26 Maret 2004 telah menegaskan bahwa UU Nomor 6 Tahun 1954 itu masih berlaku berdasarkan ketentuan Pasal I Aturan Peralihan UUD 1945″ saya memberanikan diri menyela

“Tapi permasalahannya kan bukan pada impeachment, Mas?” Mas Widj menambahkan.

“Dan itu kan sesuai dengan kapasitasnya, ta mas? “keberanian saya tiba-tiba muncul.

“Kapasitas apa? Itu namanya sewenang wenang!  Golek benere dewe. Bener menurut seseorang, belum tentu bener menurut pendapat umum.  Kalau caranya begini, gak akan rampung”

“Lha harusnya?” mas Widj menyela

“Harusnya presiden mencermati secara obyektif, bahwa kasus bail out bank century itu bermasalah!  gak usahlah cari “alasan pembenar”

“Bukankan sudah demikian, mas?”

“Ya, tapi tidak lantas dibelokkan ke kesalahan administratif saja.  Lalu atas nama keadaan darurat kesalahan administratif bisa dibenarkan”

“Tapi, mas” saya menyela. ” Itu kan bagian dari proses demokrasi.  Ada silang pendapat adalah hal yang lumprah.  Jika kayu tak bersilang, takkan unggun bisa menyala”

“Nah, inilah kata kuncinya, demokrasi!  Mestinya harus dilihat bagaimana semangatnya” katanya tak kalah serius

“Maksudnya?”

“Demokrasi itu adalah upaya menyamakan hak antar warga negara.  Jika JJ Rousseau memaknai demokrasi dengan mengangkat yang rendah, maka Robbes Pierre dengan merendahkan yang tinggi.  Dia dengan teorinya bisa menyeret banyak pejabat Perancis ke pisau guillotine.  Siapa yang menyangkal kebenaran teori Robbes Pierre?  Jika need kita adalah mengangkat hak rakyat, maka pelanggaran di tingkat elite harus diganyang” katanya garang.

Wah, Gawat!  Mas Wahyu jika sudah bicara prinsip, kebenaran dan idealisme sangat sulit dipatahkan.  Dia akan melakukan apapun, bila perlu meminta waktu untuk mencari referensi dan melanjutkannya esok hari.  Maka saya berinisiatif untuk mengalihkan pembicaraan ke rencana mantu salah satu tetangga kami, Mas Edy.

Pripun, Mas? Jadi untuk pondokan besan?

“Ya, jadi” jawabnya. “Ronde… ronde !!!” Mas Wahyu memanggil penjual ronde yang saban sore lewat ditempat ini.   (BERSAMBUNG……………….)

Kethoprak Mataram, Suminten Edan

Berpuluh tahun lalu, dimasa kanak-kanak saya, dimana kethoprak menjadi alternatif hiburan yang digemari, nonton Kethoprak Tobong maupun Tanggapan terasa begitu nikmatnya.  Berbaur dengan penonton lain dalam suasana komunal menikmati hiburan yang jalan ceritanya sebagian besar sudah diketahui terasa sangat asyik.  Penonton tak lagi peduli dengan cerita tapi lebih pada kemampuan pemainnya.  Bahkan tak jarang kedatangan mereka hanya ingin menyaksikan segmen dhagelan atau melihat kecantikan dan ketampanan “rol”nya, yang jan-jane ya gak seberapa :)

Suminten Edan adalah “cerita wajib” yang pasti digelar pada pertunjukan kethoprak seperti cerita saya diatas.  Cerita ini  menarik dipentaskan karena banyak adegan yang tak menuntut banyak teknik, penjiwaan dan sebaginya.  Banyak adegan yang hanya perlu mengeksplorasi kemampuan improvisasi aktor aktris untuk bisa menghanyutkan suasana hati penonton.  Maka seingat saya, lakon ini selalu mampu menggaet penonton untuk berbondong-bondong menyaksikan.

Akan tetapi, tidak demikian dengan Kethoprak Mataram.  Lakon Suminten Edan justru menuntut setiap pemain untuk menguasai perannya secara optimal.  Hal ini mengingat plotnya yang sangat jelas dan singkat dan jalan ceritanya yang sudah begitu dikenal.  Sehingga, pendengar akan sangat fokus pada dialog dan (bagi sebagian yang memahami) adalah aspek penyutradaraan.  Bayangkan, hanya dalam 1 kaset c60 (1 jam) harus bisa menamatkan sebuah cerita yang bila dipentaskan kethoprak tobong bisa semalaman!

Baiklah, Begini ceritanya.  Dirumah Warok Secadarma nampak kesibukan yang lebih dari biasanya karena tiga hari lagi dia akan menikahkan anak perempuannya, Suminten, dengan Raden Mas Subrata, putra Adipati Bratakusuma, Bupati Trenggalek atas jasanya meredam keonaran yang dilakukan oleh Brandal Gunung Klothok.  Sayangnya, pada saat yang sudah ditentukan datang utusan dari Kadipaten Trenggalek yang membawa perintah dari Adipati Bratakusuma untuk membatalkan rencana pernikahan tersebut.

Berita ini tentu saja mengejutkan Warok Secadarma.  Dia merasa malu karena persiapan yang dilakukan telah sedemikian rupa. Bahkan undangan sudah disebar.  Berita ini juga membuat Suminten shock dan karena besarnya rasa malu yang harus ditanggung, Suminten hilang ingatan.

Sementara itu, Cempluk Warsiyah anak perempuan Warok Suramenggala sedang dikejar oleh Gentho anak lelaki Warok Surabangsat, Brandhal Gunung Pegat karena Cempluk Warsiyah menolak ketika Gentho akan memperisterinya.  Pelarian Cempluk Warsiyah bertemu dengan Raden Mas Subrata.  Sayangnya Subrata tidak mampu mengalahkan Gentho ketika dia bermaksud menolong Warsiyah.

Beruntung segera datang Warok Suramenggala yang segera mengatasi permasalahan ini.  Gentho dihajar habis-habisan yang langsung mengadukan kepada Surabangsat, Bapaknya.  Tak hanya itu, Raden Mas Subrata juga merasa terkesan dan jatuh cinta pada pandangan pertama dengan cempluk Warsiyah.  Lalu di bawanya anak Suramenggala ini ke Kabupaten Trenggalek untuk dinikahi.

Kabar ini terdengar ke telinga Warok Secadarma. Dia beranggapan, Suramenggala telah menggunting dalam lipatan dan menohok kawan seiring yang berakibat gagalnya pernikahan Suminten dengan Raden Mas Subrata.

Bagaimanakah kisah selanjutnya?  Nikmati saja MP3 Kethoprak Mataram dalam cerita Suminten Edan berikut ini.  (Mohon maaf jika di beberapa bagian hasil rippingnya kurang sempurna, karena memang kaset aslinya sudah sedemikian parah……)

  1. Suminten Edan_1_001
  2. Suminten Edan_1_002
  3. Suminten Edan_1_003
  4. Suminten Edan_2_001
  5. Suminten Edan_2_002
  6. Suminten Edan_2_003

Imam Bashori, Nartosabdho Return

Ketika saya membaca beberapa komentar dari rekan, saya merasa trenyuuh dengan upaya yang ditempuh rekan saya yang satu ini.  Saya merasa perlu memposting komentar tersebut sebagai bentk apresisasi saya pada Mas Imam, yang bukan karena sudah berkenan mampir di gubug saya, tetapilebih karena upayanya yang tak kenal lelah dalam memburu warisan Ki Nartosabdho.  Semoga postingan ini bisa mennginspirasi rakan  yang lan yang merasa peduli pada karya Ki Nartosabdho.  Semoga!

Imam B, says :

“………..

ah gak begitu2 amat, sebenernya niki kangge mancing kanca2 para sutresna ingkang kagungan koleksi karya2ne mbahe supados kersa sharing. Ojo di endem dhewe. ketika saya bertemu Mas Priggo (RGS Ponorogo) beliau cerita pernah ada orang yang mencari2 karya2ne mbahe untuk dikoleksi pribadi. untung Mas Pringgo tidak ngasih (tdk menjualnya). saya salut dg Mas Pringgo yg masih kekeh tidak menjual koleksinya (untk disiarkan diradionya). saat saya datang memang agak alot negosiasi dgn beliau untuk saya pinjam. namun saya selalu mengambil jalan tengah agar beliau tdk rugi kita pun dapat hasil. Makanya jalan satu2nya adalah meminta tolong MAs Pringgo untuk merekamkan akhirnya ada sekitar 21 lakon langka yang akan kita launching yg terdiri dari 14 lakon pagelaran live dan 7 lakon langka yang belum ada (blm di upload).

Itu yang pertama
Yg Kedua saya ketemu teman klayapan di surabaya Mas Untung SUraja (RKIP Wonocolo) beliau mengatakan RKIP punya 20 lakon pagelaran live mbahe tapi masih dalam wujud Roll Kaset besar zaman dahulu. Mas Untung sanggup untuk mengconverd ke mp3 yang memang setiap radio baik Fm maupun Am sekarang sudah tdk memakai pita kaset tapi mp3. kita tunggu aja.

dan masih banyak lagi pengalaman2 tentang perburuan karya2 mbahe. mungkin itu yang akan terealisasi. Tapi yang lainnya nanti saya ceritakan setelah ada realisasi aja.

Mas Guntur menawi wonten wekdal coba dilacak di Radio Rasika FM Ungaran. mereka mempunyai koleksi Kaset Singo Barong limpahan dari Radio El Bayu Gresik. Kan Mas Guntur dekat dengan bumi kelahirannya. mboyolali.
Gitu aja kanggo tombo kangen salam mawon kangge sedaya.