Arsip Bulanan: Mei 2010

Surya Group, CINTA KINGKONG

Berikut ini adalah file Lawak Jadul SURYA GROUP dengan judul CINTA KINGKONG untuk adan download sebagai teman bernostalgia

  1. Cinta Kingkong 1_1
  2. Cinta Kingkong 1_3
  3. Cinta Kingkong 2_1
  4. Cinta Kingkong 2_2
  5. Cinta Kingkong 2_3

WO Sriwedari, Parta Krama

Postingan kali ini adalah Wayang Orang, dengan cerita Parta Krama oleh Keluarga Wayang Orang RRI Surakarta yang direkam pada tahun 1982.  Kualitas suaranya masih bagus, sayang sampul kasetnya sudah tidak bisa tertolong lagi.  Dari aspek cerita, tentunya telah banyak diantara anda yang mengetahui.  Ini adalah cerita mengenai perkawinan Arjuna dengan Bratajaya (Subadra). Akan tetapi secara historis, Parta Krama adalah momentum kelahiran Raja Astina pasca Baratayda.  Dari perkawinan inilah nantinya akan melahirkan Abimanyu yang kemudian menurunkan Parikesit, Raja  Besar Astinapura di jaman kekemasan yang konon berlangsung hingga ratusan tahun kemudian.

Dalam upaya melamar Dewi Bratajaya, Prabu Baladewa mensyaratkan banyak hal yang sungguh terasa sangat sulit diwujudkan, antara lain pertama, pengarak pengantin harus naik kereta kencana yang ditarik raksasa dengan kusir kera putih yang bisa beksa dan berbicara.  Kedua, temu pangantih harus di balai kencana yang saka sadomas, yaitu gedung dengan 800 tiang penyangg dengan dekorasi yang kesemuanya dihiasi emas.  Ketiga, srah-srahan pengantin harus dilengkapi dengan karbau ndanu 120 ekor yang pancal panggung.  Keempat, pangantin harus didampingi para dewa dengan diiringi gamelan lokananta, dan kelima, pengantin pria harus mampu menerima pukulan dari pusaka sakti kyai Alugora.

Bagi Gatutkaca yang ketika itu menjadi duta Prabu Yudistira, merasa bahwa jawaban dan persyaratan yang diajukan oleh Prabu Baladewa adalah upaya untuk menolak lamaran Permadi secara halus.  Hal ini tidak salah mengingat pada dasarnya kehadiran Prabu Baladewa di Dwarawati karena mendapat amanat dari Prabu Salya, mertuanya,  untuk melamar Bratajaya guna dinikahkan dengan Raden Burisrawa.

Singkat cerita, setelah melewati berbagai tantangan dan hambatan, akhirnya Permadi berhasil menyunting Bratajaya.

Salah satu adegan menarik dan cukup monumental untuk diabadikan dalam lakon ini adalah pertemuan Gatutkaca dengan Dadung Awuk, raksasa yang dipercaya menggembala 140 ekor kerbau ndanu pancal panggung, milik Bethara Darma.  Dadung awuk hanyalah pangon dan dia hanya berhak menikmati tanpa berhak memiliki atau bahkan menjual.  Hebatnya, dia sadar akan posisi itu sehingga ketika Gatutkaca ingin meminjam (hanya meminjam) kerbau ndanu sebagai syarat pernikahan Permadi, Dadung Awuk rela berkubang darah mempertahankannya.

Selamat Menikmati.

  1. WO Sriwedari, PARTA KRAMA _1a_1
  2. WO Sriwedari, PARTA KRAMA _1a_2
  3. WO Sriwedari, PARTA KRAMA _1a_3
  4. WO Sriwedari, PARTA KRAMA _1b_1
  5. WO Sriwedari, PARTA KRAMA _1b_2
  6. WO Sriwedari, PARTA KRAMA _1b_3
  7. WO Sriwedari, PARTA KRAMA _2a_1
  8. WO Sriwedari, PARTA KRAMA _2a_2
  9. WO Sriwedari, PARTA KRAMA _2a_3
  10. WO Sriwedari, PARTA KRAMA _2b_1
  11. WO Sriwedari, PARTA KRAMA _2b_2
  12. WO Sriwedari, PARTA KRAMA _2b_3

Video Wayang Kulit Ki Manteb Sudarsono, Amarta Binangun

Sebagaimana dilansir oleh Panyebar Semangat Edisi 18 tanggal 1 Mei 2010, Ki Manteb Sudarsono dari Indonesia untuk bidang Kebudayaan, Tomy Fernandez dari Philipina untuk bidang Pembangunan Regional dan seorang Pakar dari Taiwan yang tak disebutkan namanya untuk Bidang Iptek , mendapatkan penghargaaan dari Nippon Keizaei Shimbun (Nikkei), sebuah koran tertua di Jepang yang beroplah 3 juta eksemplar setiap terbitan yang upacaranya akan dilakukan tanggal 19 Mei 2010 di Tokyo, Jepang.

Oleh Nikkei, ketiga tokoh tersebut dinilai berjasa di bidang masing-masing, bukan saja pada skala regional, tetapi juga glogal.  Secara politis, kehadiran Ki Manteb Sudarsono di Jepang pada acara tersebut bisa membungkam Malaysia atas klaimnya terhadap wayang kulit.  Lebih tegas lagi, Ki Manteb menyatakan kesediaannya untuk hadir dengan sebuah syarat agar diperkenankan untuk mengenakan pakaian kejawen lengkap (Bukan Jas sebagai pakaian resmi) dan diberikan kesempatan untuk memperagakan sabet pewayangan selama 10 menit (diluar pidato yang hanya 10 menit untuk tiap penerima) dengan iringan karawitan lengkap.  Disamping itu, dia juga meminta untuk menyajikan acara ritual dilengkapi dengan pembakaran dupa.  Untuk yang terakhir ini pihak Nikkei tidak menyetujui dengan pertimbangan keamanan lokasi yang melarang penggunaaan api sekecil apapun.

Terbayang oleh saya, bagaimana Pak Manteb akan menggunakan 20 menit kesempatan langka ini untuk memperkenalkan wayang kulit pada khalayak dunia melalui event bergengsi ini.

Keterlambatan saya memposting kiriman dari Mas Bambang Supriyadi ini seakan menjadi blessing in disguess, berkah tersembunyi.  Bagaimana tidak.  Lakon Amarta binangun yang di gelar di Universitas Brawijaya Malang ini berlangsung disaat kita gayeng menghadapi klaim Malaysia terhadap kesenian wayang, lalu pada saat yang tepat saya bisa memberikan pengantar dengan mengutip berita di Panyebar Semangat tentang rencana keberangkatan Ki Manteb Sudarsono mewakili Indonesia menerima penghargaan tingkat dunia dengan wayang sebagai medianya.

Baiklah.  Amarta binangun yang saat ini saya posting adalah versi lain dari Lakon Babad Alas Wanamarta yang menceritakan kerja keras Pandhawa membangun negara Amarta.  Plot ceritanya nyaris sama hanya berbeda di masalah penekanan.  Jika babad Alas Wanamarta lebih menekankan pada hasil, sedangkan Amarta Binangun lebih pada pada prosesnya.

Seperti biasa, pak Manteb telah memberikan warna baru pada corak pewayangan.  Terasa lebih eksperimental dan terasa sekali nilai-nilai filsafatis yang terangkai sepanjang pagelaran.

Jika ada yang dinamakan kekurangan adalah faktor teknis perekaman videonya.  Terasa sekali moment-moment penting yang harusnya terlihat, terlewatkan begitu saja akibat pengambilan gambar yang kurang proporsional.  Tapi secara keseluruhan, kepiawaian Ki Manteb Sudarsono tak tertutup hanya karena aspek-aspek teknis diluar pedhalangannya sendiri.

Selamat menikmati.

Download Video Wayang Ki Manteb Sudarsono,  Amarta Binangun