Arsip Bulanan: September 2010

Download MP3 Lagu Anak-anak

Ada yang mengatakan, bahwa generasi yang ada saat ini adalah sebuah generasi yang ditempa dengan lagu yang salah sejak kanak-kanaknya.  Memori kita  di penuhi dengan syair lagu yang tidak mendidik dan kurang konsruktif.

Sejak kanak-kanak kita di ajari untuk naik kereta dengan percuma, tanpa bayar alias gratis.  Jadilah kita generasi yang maunya menikmati fasilitas umum tanpa mengeluarkan biaya seperti  syair lagu Naik Kereta api berikut ini “…. ke bandung, surabaya, bolehlah naik dengan percuma…..”

Lalu ada lagi, “….nenek sudah tua, giginya tinggal dua…..” Konon syair itulah yang mengilhami kita untuk bersikap kurang ajar,  suka mengeksploitasi kekurangan orang lain dan melihat orang dari aspek phisik semata.

Kita menjadi generasi yang suka memaksakan kehendak, mejalankan sesuatu dibawah ancaman dan tidak menghargai kemandirian adalah sejalan dengan syair lagu Nina Bobo.  Si Nina itu harus mau segera tidur kalau tidak mau digit nyamuk. Tidur bukan karena ngantuk atau untuk melepas lelah tetapi karena takut digigit nyamuk: “….. kalau tidak bobo, digigit nyamuk…..”

Orientasi bekerja kita adalah uang, honor dan bayaran.  Tidak lebih! Karena kita memang bercita-cita menjadi tukang perahu karena bayaran satus suwidak ewu:  “….. Besok gede dadi tukang perahu, bayarane satus suwidak ewu….”

Ada lagi.  Konon, sayair lagu Balonku adalah “ Balonku ada lima, rupa-rupa warnanya, merah kuning kelabu, merah muda, dan biru.  Meletus balon hijau…..”  Kita adalah genarasi yang tidak konsisten.  Bagaimana mungkin tiba-tiba muncl balon hijau sementara sebelumnya tak disebutkan warna itu.  Untunglah syair itu, karena kreatifitas guru kemudian berubah :….hijau, kuning kelabu……

Lalu, dengarlah lagu Si Kancil. Memang dia adalah naka nakal, tapi apakah karena kenakalannya itu lantas si kancil harus “lekas dikejar”  dan “jangan diberi ampun???”  Maka tak salah jika sekarang kita cenderung anarkis karena sejak awal kita diajarkan untuk menghajar anak nakal sedemikian rupa tanpa ampun, tanpa belas kasihan.

Itu hanya pendapat sebagian orang yang sempat saya dengarkan untuk menyalahkan keadaan generasi sekarang ini.  Mereka mencari kambing hitam atas carut-marutnya keadaan.  Mereka tak mau dipersalahkan sebagai generasi salah urus maka disalahkannya lagu yang jelas tak ada korelasinya.  Kita menjadi kejam, bodoh, suka mengancam, penakut karena keadaan memaksa kita demikian.  Bukan karena lagu!

Yang pasti saya rasakan dalah bahwa sejak 30 tahun terakhir kita tidak mempunyai tambahan referensi lagu anak-anak.  Lagu-lagu yang bisa kita ajarkan pada anak cucu kita hanya itu-itu saja.  Itupun makin lama makin tipis gaungnya.  Lagu yang diperdengarkan telinga bayi-bayi sekarang, masih sama dengan yang diperdengarkan oleh nenek dan kakek mereka.

Memang ada masanya booming lagu anak-anak, yaitu eranya Chicha, Ira Maya, Adi Bing Slamet, Bobby Sandhora dsb.  Lalu dua dekade kemudian, ada beberapa penyanyi cilik yang sempat membuat riak kecil dalam kolam lagu anak-anak.  Akan tetapi makin kesini semakin tipis juga nampaknya.

Praktis anak-anak kita tidak mendapat tempat di program acara hiburan rumah tangga, TV.  Sejak matahari terbit sampai terbit lagi keesokan harinya, anak-anak kita berhadapan dengan acara tawuran antar warga, debat politisi, lawak yang lebih tepat disebut konyol daripada lucu, sulapan dalam berbagai bentuk, pembunuhan, perkosaan, penggusuran,  berita celebritis yang di kemas dengan cara sangat kreatif (bahkan mengoprek isi tas bintang filem bisa dikemas dalam 30 menit running play) dan masih banyak lagi.

Ada memang beberapa segment ditujukan untk anak-anak.  Tetapi secara pribadi saya tak melihat substansinya.  Idola Cilik? Bagaimana mungkin bocah yang belum tumbuh bulu ketiak  menyanyikan lagu Kamu Ketahuan, Matanya Lelaki harus dijadikan idola???

Kemudian si bolang yang konon dikemas untuk anak, sejauh ini lebih pada mendidik anak kita menjadi “nggragas”.  Belum satu episodepun yang saya tonton dari si bolang yang tidak menceritakan tentang bagaimana membakar kodok, memakan  singkong setengah matang dan adegan lain yang menunjukkan bahwa kita miskin kreativitas.

Jika sudah begitu, maka kendati Cuma si Kancil, Nina Bobo, Pok Ame-ame, Saya Seorang Kapitan jauh lebih bisa kita jejalkan ketelinga anak cucu kita daripada membiarkannya menonton Sinchan, bocah jepang yang mbelingnya minta ampun itu.

Nah, bagi yang ingin bernostalgia dengan lagu anak-anak yang dengan sinis sijadikan kambing hitam bobroknya generasi ini, kami persilahkan untuk downoad di link berikut:

  1. Aku Anak Sehat
  2. Anak-anak Indonesia
  3. Anak Ayam
  4. Balonku Ada Lima
  5. Bangun Tidur
  6. Bintang Kecil
  7. Burung Kakatua
  8. Burung Kutilang
  9. Disini Senang, Disana Senang
  10. Du Di Dam
  11. Dua Mata Saya
  12. Empat Sehat Lima Sempurna
  13. Gilang Sipaku Gilang
  14. Hujan
  15. Kasih Ibu
  16. Kelinciku
  17. Kereta Apiku
  18. Lihat Kebunku
  19. Mari Pulang
  20. Naik Delman
  21. Naik Ke Puncak Gunung
  22. Nama-nama Hari
  23. Nina Bobo
  24. Pelangi-pelangi
  25. Pok Ame-ame
  26. Potong bebek Angsa
  27. Satu ditambah Satu
  28. Selamat Ulang Tahun
  29. Semut-semut Kecil
  30. Si Kancil
  31. Siapa Dapat Berbaris
  32. Topi Saya Bundar
  33. Tralala Trilili
  34. Tukang Bakso
  35. Yuk Makan Bersama
  36. Chicha & Adi BS – Mau Kemana
  37. Chicha – Helly
  38. Joan Tanamal  – Mandi Pagi

Ki H Anom Suroto, Semar mBangun Kayangan

Lakon ini seakan merupakan “lakon wajib” bagi dalang untuk membawakannnya.  Disamping menarik, lakon ini memberikan pesan moral yang gampang dimenerti kendati mengandung nilai-nilai filosofis “khas kejawen”.  Hampir semua dalang pernah membawakan cerita ini dengan versi dan kreativitas masing-masing, tak terkecuali Ki H Anom Suroto.  Oleh karena itu lakon ini banyak dikenal oleh masyarakat pecinta wayang kulit.

Dari sampul kaset dan ijin produksinya, kaset ini direkam pada tahun 1985, Duapuluh lima tahun atau seperempat abad sudah Ki H Anom Suroto membawakan cerita ini.  Akan tetapi ketika saya mendengarkan sembalri mengconvert cerita ini, terasa masih sangat segar ide-ide yang dilontarkan olehnya.  Hanya saja, mendengarkan wayang akan lebih sangat menarik apabila dikaitkan dengan suasana aktual yang terjadi pada masa itu.

Mendengarkan cerita ini, seakan kita dibawa pada suasana dimana Negara Indonesia masih “ayem tentrem” tanpa gejolak baik politik, ekonomi maupun sosial (tentu saja  dalam pengertian praktis, bukan subsatnsi).  Pesan-yang ada didalam dialog antar tokoh sepanjang pagelaran, tak menggambarkan adanya “kegundahan” hati masyarakat Indonesia.  Tak ada century, tak ada kerusuhan, tak ada pemakzulan, tak ada debat politik, tak ada perang media.  Pendeknya, yang  tergambar dalam angan-angan adalah nonton wayang ditengah kehidupan warga masyarakat yang rukun, ayem tentrem dan tanpa rasa curiga mencurigai.  Kesulitan ekonomi yang dihadapi punakawan dalam adegan goro-goro menunjukkan kewajaran, bukan ketakutan.  Ahh, ini kok malah ngelantur……………..

Diceritakan, bahwa untuk kepentingan “mbangun kayangan” , Ki Lurah Semar bermaksud meminjam Jamus Kalimasada kepada Prabu Puntadewa. Oleh karena itu, dia mengutus Petruk untuk menghadap Sang Prabu guna menindak lanjuti rencana tersebut.  Pada saat yang sama Pendita Durna dan Patih Sakuni menyampaikan pesan  sebagai utusan Prabu Duryudana, untuk _juga- meminjam Jamus Kalimasada sebagai sarana memulihkan “dahuru” yang menimpa Kerajaan Astinapura.

Tentu saja, Prabu Puntadewa menjadi “ewuh aya ing pambudi” kepada siapa Jamus Kalimasada akan dipinjamkan.  Prabu Kresna yang berada di pasewakan karena diundang Prabu puntadewa, mengambil langkah bijak agar masing-masing menunggu di alun-alun, sementara keputusan akan dimusyawarahkan terlebih dahulu.  Kresna pergi ke Kahyangan Jonggring Saloka guna menghadap Betara Guru agar diberikan petunjuk menyelesaikan permasalahan ini dengan cara yang tepat.  Sambil menunggu kedatangan Sri Kresna, Prabu Puntadewa menemui para utusan dan memberikan syarat bagi siapapun yang bermaksud meminjam Jamus Kalimasada, yaitu berupa “Kembang Turangga Jati”.  Siapapun, baik Semar maupun Duryudana bisa membawa Jamus Kalimasada asalkan berhasil memetik  “Kembang Turangga Jati”.

Tak elok, jika saya menceritakan sampai tuntas lakon ini kepada anda, karena tujuan saya adalah mengajak anda untuk ikut menikmati suasana ketika Lakon ini direkam / dipentaskan.  Sekali lagi, kendati saya sangat yakin anda sudaj hafal dengan cerita ini, tapi mendengarkan wayang bukan saja bertujuan untuk mengetrahui akhir dan jalannnya cerita tetapi juga menggali pesan moral yang terkandung didalamnya, selain tentunya sebagai “lelangen wardaya”, makanan jiwa!

Selamat menikmati…………………..

  1. Anom Suroto, Semar Mbangun Kayangan _01_a
  2. Anom Suroto, Semar Mbangun Kayangan _01_b
  3. Anom Suroto, Semar Mbangun Kayangan _02_a
  4. Anom Suroto, Semar Mbangun Kayangan _02_b
  5. Anom Suroto, Semar Mbangun Kayangan _03_a
  6. Anom Suroto, Semar Mbangun Kayangan _03_b
  7. Anom Suroto, Semar Mbangun Kayangan _04_a
  8. Anom Suroto, Semar Mbangun Kayangan _04_b
  9. Anom Suroto, Semar Mbangun Kayangan _05_a
  10. Anom Suroto, Semar Mbangun Kayangan _05_b
  11. Anom Suroto, Semar Mbangun Kayangan _06_a
  12. Anom Suroto, Semar Mbangun Kayangan _06_b
  13. Anom Suroto, Semar Mbangun Kayangan _07_a
  14. Anom Suroto, Semar Mbangun Kayangan _07_b
  15. Anom Suroto, Semar Mbangun Kayangan _08_a
  16. Anom Suroto, Semar Mbangun Kayangan _08_b


MP3 Kethoprak Mataram, Lambangsari Edan

Latar belakang cerita ini adalah Kerajaan Kediri di bawah kekuasaan Prabu Lembu Amisena.  Ketika itu, Putri Prabu Lembu Amisena yang bernama Rara Kuning dipinang oleh Raja Tunjung Angin-angin.  Padahal sang Putri sudah menjalin hubungan dengan Panji Carangwaspa sehingga apabila pinangan itu ditolak akan menimbulkan kemaranhan Raja Tunjung Angin-angin yang terkenal sakti mandraguna.  Hal ini akan sangat membahayakan keselamatan Keraton Kediri.

Guna menghindari pertumpahan darah demi menjaga keamanan Keraton Kediri, Prabu Lembu Amisena mengadakan sayembara kepada siapapun yang bisa mempersembahkan “Sekar Pudhak Kencana” berhak mempersunting Retna Kuning.

Raja Tunjung Angin-angin menyadari bahwa keputusan sang prabu ini semata adalah upaya penolakan secara halus.  Oleh karena itu, raja Tunjung Angin-angin tetap menyerang Kediri dan memaksa mempersunting Retna Kuning.  Sudah bisa disuga, dalam pertempuran ini Kediri mengalami kekalahan.

Pada saat genting itulah datang Jaka Sembara dari pertapaan Argasari yang dengan kesaktiannya bisa mengalahkan Raja Tunjung Angin-angin.  Bahkan, Sembara juga mempunyai Sekar Pudhak Kencana.   Sabda pendhita ratu, ucapan seorang raja tidak boleh berubah ubah, maka jadilah Jaka Sembara menantu Prabu Lembu Amisena.  Tak syak lagi, bintang Jaka Sembara cemerlang didepan mata.  Yang tak bisa dihindari adalah sebuah kenyataan bahwa Jaka Sembara sebenarnya  sudah memiliki seorang isteri yang ditinggal di pertapaan Argasari, yaitu Lambangsari.

Tak berapa lama setelah pernikahan Jaka Sembara dengan Retna Kuning, Prabu Inu Kertapati, Raja Kediri bersama dengan Permaisurinya, Dewi Sekartaji datang menghadap guna mengantarkan Pangeran Carangwaspa yang juga berniat mempersunting Retna Kuning dengan membawa persyaratan yang diajukan oleh Prabu Lembu Amisena, yaitu Sekar Pudhak Kencana.

Kegagalan mempersunting retna Kuning menjadikan Pangeran Carangwaspa kecewa.  Dia pulang dengan membawa kemarahan karena gagal mempersunting rara Kuning.

Apa tindakan Pangeran Carangwaspa selanjutnya? Akankan Jaka Sembara menjadi putera Mahkota Keraton Kediri? Bagaimana nasib Lambangsari?  Semua pertanyaan anda akan terjawab setelah tuntas mendengarkan MP3 Kethoprak Mataram dalam cerita Lambangsari Edan yang dapat anda download berikut ibi.

Sedikit catatan.  Meskipun hal ini tak seharusnya terjadi, tetapi karena kebebalan saya dalam hal recording audio, terasa jelas bahwa file 1 over volume.  Tapi sudahlah! Mempersalahkan orang yang memang tidak mampu justru akan menyakiti diri anda sendiri………..

Link Download MP3 Kethoprak Mataram, Lambangsari Edan

  1. Lambangsari Edan_1
  2. Lambangsari Edan_2
  3. Lambangsari Edan_3
  4. Lambangsari Edan_4

MP3 Kethoprak Mataram, Seri Sudira, Sudira Papa

Seingat saya, sebelum ini masih ada seri lain yang mengawali sequel panjang Manggalayuda Sudira.  Kalau tidak salah judulnya Sudira Prana.  Sayangnya, sejauh ini saya belum menemukan kaset aslinya, sehingga Sudira Papa ini saya gunakan sebagai awalan dalam upaya memposting cerita Manggalayuda Sudira.

Dimulai, ketika Sudira dan temannya,  Anggana bekerja di Rumah Jragan Kayu bernama  Laksana. Pada saat libura kerja, semua buruh pulang kerumah masing-masing.  Cuma Sudira dan Anggana yang tidak pulang.  Hal ini menimbulakn tanya pada diri Juragan Laksana kenapa pada kesempatan baik bertemu keluarga, mereka tidak pulang.

Sudira dan Anggana tidak pulang karena memang tidak lagi memiliki rumah dan keluarga.  Bahkan mereka mengajukan diri untuk bisa tinggal dirumah sang Majikan.   Juragan Laksana memberikan ijin untuk tinggal rumah belakang (gandok) berdekatan dengan sumur.

Malam itu, puteri sang juragan yang bernama Lestari kebetulan keluar rumah melewati gandok tempat Sudira dan Anggana tidur.  Timbul rasa kasihan pada diri Sulastri melihat Sudira tidur tanpa baju yang pantas.  Oleh karena itu dia mengambil sehelai baju milik bapaknya dan dilemparkan begitu saja kepada Sudira.

Esok harinya, Juragan Laksana mengetahui baju kesayangannya dipakai Sudira.  Timbul prasangka bahwa Sudira mencuri baju itu.  Kemarahan Sang Juragan makin memuncak ketika Sudira tidak mengakui mencuri baju itu.  Maka diusirlah Sudira dan Anggana.

Bukan hanya itu, ketika  Sulastri mengakui bahwa dialah yang memberikan baju kepada Sudira, kemarahan Sang Juragan bukan mereda malah semakin menjadi dan hendak membunuh Sulastri.  Isteri sang Juragan merasa kasihan kepada Sulastri, maka dimintalah Sulastri untuk meninggalkan rumah.  Kepada suaminya, dia mengatakan bahwa Sulastri telah bunuh diri, masuk kedalam sumur.

Sementara itu, di keraton Tanjung Anom, tengah dilanda peperangan dan mengalami krisis prajurit sehingga memaksa memerintahkan kepada setiap pemuda untuk menjadi relawan, membela negara.  Tak terkecuali Sudira.

Akan tetapi, jalan untuk menjadi prajurit ternyata tidak gampang karena kebetulan Sudira memakai baju putih padahal alam mimpinya Sang Raja mendapatkan firasat, bahwa Kraton Tanjunganom akan bisa diselamatkan oleh seorang calon prajurit yang berpakaian serba putih.  Hambatan Sudira datang dari kalangan keraton sendiri.  Ada seorang punggawa yang berambisi untuk mengangkat anaknya menjadi prajurit  Tanjung Anom tetapi tidak berekenan di hati Sang Prabu.  Oleh karena itu, ia berusaha menghalangi setiap pelamar yang berpakaian serba putih.  Inilah langkah awal Sudira dalam rangka menapaki kariernya sebagai Manggalayuda di Kreaton Tanjung Anom.

Bagaimanakah kelanjutan cerita ini? Siapakah yang berkehendak menghalangi langkah Sudira?  Bagaimanakah Nasib Lestari?  Semua dapat anda ketahui setelah mendengarkan Cerita Sudira Papa, yang merupakan sequel awal dari Jalan Panjang Manggalayuda Sudira.

Selamat Menikmati.

Download File MP3 Kethoprak Mataram, Sudira Papa

  1. Sudira Papa_1a
  2. Sudira Papa_1b
  3. Sudira Papa_2a
  4. Sudira Papa_2b

MP3 KETHOPRAK MATARAM, RENGGANIS

Babon dari cerita ini adalah cerita dari Negri Persia. Inilah cerita tentang Wong Agung Jayengrana yang didaptasi dengan latar belakang budaya jawa.

Cerita saduran yang kali ini digelar oleh Kethoprak Mataram Kodam VII Diponegara sunggung sangat menarik untuk diikuti.

Di Keraton Kuparman, Wong Agung Jayengrana merasa gundah  karena Prabu Bethara Nurwsewan sudah sementara waktu meninggalkan Negeri Kuparman.  Adipati Umarmaya dan Adipati Umarmadi sebagai menantu dari Bethara Nursewan juga tak bisa memberikan banyak keterangan selain kenyataan bahwa kepergian Prabu Bethara Nursewan membawa serta Patih Bestak yang selama ini dicurigai mengail di air Keruh di Kerajaan Medayin.

Raden Imansuwangsa yang diberi tugas untuk mencari keterangan tentang keberadaan Betahara Nursewan membawa kabar, bahwa saat ini Bethara Nursewan dan Patih Bestak berada di Negeri Mukadam.  Kenyataan ini membuat Wong Agung Jayengrana semakin gundah.  Betapa tidak?  Negeri Mukadam tidak mempunyai hubungan diplomamatis dengan Kuparmkan, sehingga tidak memungkinkan untuk mengambil mereka berdua guna kembali baik ke Kuparman maupun ke Medayin.

Oleh karena itu, Wong Agung Jayengrana memerintahkan Raja Umarmaya dan Umarmadi untuk menghadap raja Mukadam guna meminta Bethara Nuersewan dan Patih Bestak kembali ke Medayin maupun Kuparman.

Sementara itu, di Taman Banjaran Sari, tempat kediaman Raden Iman Suwangsa terjadi peristiwa aneh, dimana bunga-bunga dan berbagai hiasan ditaman dirusak oleh seseorang secara misterius.  Seorang gadis cantik tiba-tiba muncul dan mebuat kerusakan di Taman Banjaransari.  Dialah Dewi Rengganis dari Gunung Argapura.  Celakanya, Iman Suwangsa justru jatuh hati kepada Dewi Rengganis.

Bagaimanakah kelanjutan cerita Dewi Rengganis?  Siapakah Dewi Rengganis? Siapakah Bethara Nursewan dan Patih Bestak?  Berhasilkan Umarmaya dan Umarmadi membawa kembali Bethara Nursewan dan Patih Bestak?  Dan masih banyak lagi pertanyaan yang bisa terjawan hanya bila anda mendengarkan secara tuntas Lakon Dewi rengganis yang di bawakan Kethoprak Mataram Kodam VII Diponegoro.

Selamat Menikmati!

Download MP3 Kethoprak Mataram, Rengganis

Kethoprak Mataram, Johar Manik – Lolos Saking Praja

Ini juga satu dari sekian banyak lakon kethoprak yang daiangkat cerita saduran.  Cerita ini berlatar belakang Kerajaan Baghad, dijaman kejayaan raja Badarul Kamari.

Sayangnya, setelah habis-habisan saya mencoba memperbaiki kaset tersebut, hasilnya tetap saja mengecewakan.  Hasil convert saya  jauh dibawah standar.  Tapi, bagaimanapun juga, nialai nostalgia pagelaran kethoprak “radio” ini masih asyik untuk diikuti.

Tersebutlah, Sultan Badarul Kamari, penguasa Negeri Baghdad bermaksud menunaikan Ibadah Haji ke Mekkah.  Menurut rencana, perjalan Sultan ke Tanah suci akan dilakukan melaui jalur laut, tetapi dengan pertimbangan keamanan, maka perjalanan diubah melaui jalur darat.  Ini berarti akan memakan waktu yang relatif lama. Read the rest of this entry

Ketoprak “Syeh Siti Jenar mBalelo”

Ketoprak Belonk & Kancil “Syeh Siti Jenar mBalelo”

MENGENAL NAMA SYEKH SITI JENAR

Syekh Siti Jenar (829-923 H/1348-1439 C/1426-1517 M), memiliki banyak nama : San Ali (nama kecil pemberian orangtua angkatnya, bukan Hasan Ali Anshar seperti banyak ditulis orang); Syekh ‘Abdul Jalil (nama yg diperoleh di Malaka, setelah menjadi ulama penyebar Islam di sana); Syekh Jabaranta (nama yg dikenal di Palembang, Sumatera dan daratan Malaka); Prabu Satmata (Gusti yg nampak oleh mata; nama yg muncul dari keadaan kasyf atau mabuk spiritual; juga nama yg diperkenalkan kepada murid dan pengikutnya); Syekh Lemah Abang atau Lemah Bang (gelar yg diberikan masyarakat Lemah Abang, suatu komunitas dan kampung model yg dipelopori Syekh Siti Jenar; melawan hegemoni kerajaan. Wajar jika orang Cirebon tidak mengenal nama Syekh Siti Jenar, sebab di Cirebon nama yg populer adalah Syekh Lemah Abang); Syekh Siti Jenar (nama filosofis yg mengambarkan ajarannya tentang sangkan-paran, bahwa manusia secara biologis hanya diciptakan dari sekedar tanah merah dan selebihnya adalah roh Allah; juga nama yg dilekatkan oleh Sunan Bonang ketika memperkenalkannya kepada Dewan Wali, pada kehadirannya di Jawa Tengah/Demak; juga nama Babad Cirebon); Syekh Nurjati atau Pangran Panjunan atau Sunan Sasmita (nama dalam Babad Cirebon, S.Z. Hadisutjipto); Syekh Siti Bang, serta Syekh Siti Brit; Syekh Siti Luhung (nama-nama yg diberikan masyarakat Jawa Tengahan); Sunan Kajenar (dalam sastra Islam-Jawa versi Surakarta baru, era R.Ng. Ranggawarsita [1802-1873]); Syekh Wali Lanang Sejati; Syekh Jati Mulya; dan Syekh Sunyata Jatimurti Susuhunan ing Lemah Abang. Read the rest of this entry

JAKA TINGKIR NGRATU

KETOPRAK SISWO MUDHO “JAKA TINGKIR NGRATU”

Jeneng asline yaiku Mas Karebet, putra saka Ki Ageng Pengging. Jeneng mau, asale saka bapakke nanggap wayang beber ngepasi laire Jaka Tingkir. Nalika Mas Karebet umur sepuluh taun, Ki Ageng Pengging diukum pati, merga dituduh mbrontak saka Kesultanan Demak. Ora sawetara suwe ibune uga seda. Banjur Mas Karebet dipek anak dening Nyi Ageng Tingkir. Dheweke pamit marang Nyi Ageng Tingkir saperlu meguru.

Mas Karebet nyinau ilmu agama. Dheweke meguru marang Sunan Kalijaga, banjur meguru maneh menyang Ki Ageng Sela. Dening Ki Ageng Sela, diaku anak lan digandeng sedulurke karo putu-putune yaiku Ki Juru Martani, Ki Ageng Pemanahan Lan Ki Panjawi. Jaka Tingkir lunga menyang Kasultanan Demak Bintoro. Ing Demak, dheweke mangggon ing omahe Kyai Gandamustaka (pamane Jaka Tingkir) kang dadi lurah ganjur (ngurusi mesjid). Dening Sultan Trenggana, Tingkir diangkat dadi lurah wiratamtama. Read the rest of this entry

SOFTWARE RAMAL, GAME JADUL

Dulu sekali, dalam sebuah acara pasar malam di kota saya, ada sebuah stand yang memberikan layanan ramal-meramal dengan software komputer.  Ketika itu, banayak pengunjung yang menyempatkan diri mampir.  Dengan Rp.500 kita mendapatkan print out ramalan (tentunya bohong2an) tentang nasib, jodoh bahkan peruntungan. Sekarang barangkali hal itu tak akan terasa aneh oleh anak-anak kita yang lebih melek teknologi.  Tapi bagi sementara orang (ketika itu) sungguh merupakan hal baru yang sangat menyenangkan.

Nah, untuk mengenang bahwa kita pernah dibuat kagum oleh teknologi komputer, berikut ini adalah sebuah sofrware ringan (dan kuno), untuk sekadar bermain ramal-meramal.  Sungguhpun demikian, ada beberapa item yang mungkin ada manfaatnya juga.  Karena dengan game itu, kita bisa tahu hari, pasaran wuku dan pranata mangsa yang sekarang nyaris kita lupakan.

Software ini merupakan stand alone, sehingga tidak perlu diinstall.  Dan yang lebih penting, tidak mengotori registri.  Ingin kemballi ke jaman komputer jadu dengan game itu?  Klik disini untuk DOWNLOAD SOFTWARE GAME RAMAL

Calon Arang

Ketoprak Wahyu Manggolo “Dumadine Rondo Calon Arang”

Alkisah, pada zaman dahulu kala, di daerah Jawa Timur terdapat sebuah kerajaan bernama Kahuripan. Kerajaan tersebut dipimpin oleh Sri Baginda Erlangga. Suatu ketika, ia mendapat laporan dari patihnya yang bernama Narottama bahwa sebagian besar rakyatnya terserang penyakit aneh. Mendengar laporan itu, Sri Baginda Erlangga segera memerintahkan Patih Narottama untuk menyelidiki penyebab penyakit aneh tersebut. Alhasil, setelah diselidiki, ternyata penyakit aneh tersebut disebarkan oleh seorang perempuan penyihir yang bernama Serat Asih atau lebih dikenal dengan nama Calon Arang yang tinggal di Desa Girah. Setiap malam, Calon Arang menyebarkan penyakit aneh tersebut kepada rakyat Kahuripan dengan ilmu sihirnya. Mengetahui hal itu, Sri Baginda Erlangga memerintahkan Patih Narottama agar segera menangkap perempuan penyihir itu. Read the rest of this entry