Arsip Bulanan: Desember 2010

Kethoprak Seri Mahesa Jenar – Mahesa Jenar Tanding.

Setelah kematian Samparan yang sangat dramatis tantangan Mahesa Jenar bukan berkurang, tapi justru semakin bertambah.  Banyak pertanyaan baru yang justru sangat menyulitkan kendati ada gelagat makin mengerucut pada keberadaan Keris Nagasasra Sabuk Inten.

Sementara itu, di seberang hutan Tambakbaya mengalir sebuah sungai yang cukup besar.  Orang-orang yang hendak menuju hutan Tambakboyo harus menyeberangi sungai itu.  Beruntung disana sudah ada tempat penyeberangan lengkap dengan perahu dan satang untuk mengantarkan orang-orang yang ingin kehutan Tambakbaya.

Pada suatu hari, seorang perempuan muda berwajah cantik hendak menuju ke Desa Pliridan di tepi Hutan Tambakbaya.  Terpaksa ia harus menumpang perahu yang memang sudah tersedia disitu.  Selain perempuan cantik tadi, seorang pemuda juga bermaksud menyeberang karena hendak menuju ke Bagelen, sebuah desa dekat Pliridan.  Dari gelagatnya, pemuda tadi menaruh hati –setidaknya-  tertarik pada si gadis, bahkan sudah ada usaha untuk menggoda.

Selain si pemuda dan si gadis, seorang saudagar dengan banyak barang bawaan juga bermaksud menyeberang.  Tiba-tiba data ng seorang lelaki muda berwajah tampan yang menawarkan diri untuk membantu membawa barang bawaan sang saudagar dengan imbalan membayar ongkos penyeberangan.  Jadilah mereka berempat menjadi penumpang perahu penyeberangan itu.

Tak ada yang mengetahui, bahwa lelaki tampan yang menyamar sebagai lelaki miskin pembawa barang itu adalah Mahesa Jenar alias Rangga Tohjaya, pasukan khusus Demak Bintoro yang sedang menjalankan tugas.  Ia ikut dalam rombongan penumpang perahu karena memang sengaja membuntuti pemuda yang sejak dari drmaga menggoda si gadis.  Benar saja, ditengah perjalanan pemuda tadi menculik si gadis.  Semua petugas perahu tak mampu merebut si perempuan.

Tak diduga, si si pemuda ternyata adalah Jaka Soka, tokoh sakti golongan hitam dari Nusa Kambangan. Ketika Joko Soka hendak membawa si perempuan yang ternyata adalah Rara Wilis tiba-tiba muncil Lawa Ijo. Dia sangat hafal pada Mahesa Jenar maka tak ada gunanya lagi Mahesa Jenar untuk merahasiakan dirinya.  Terjadi pertempuran antara Mahesa Jenar dengan Lowo Ijo, tapi Lowo Ijo terpojok dia melarikan diri dengan luka akibat aji Canrabirawa.

Yang justru menjadikan keheranan banyak orang, adalah patrem (keris kecil) yang dibawa Rara Wilis.  Keris itu mengarah ke nama Ki Sentanu dan Pasingsingan. Pertanyaannya adalah siapa sebenarnya Rara Wilis ?  Siapakah KI Sentanu.  Lalu bagaimana pula muncul tokoh jahat bernama Wadas Gunung saudara kembar Watu Gunung yang hendak membalas dendam kepada Mahesa Jenar atas kematian Watugunung.  Berhasilkah dia membala dendam ?

Jawabnya dapat anda ketahui setelah tuntans mendengarkan Seri Mahesa Jenar dalam Lakon Mahesa Jenar Tanding

Link Download Mahesa Jenar Tandhing

WO RRI Surakarta – Petruk Mantu

Dikisahkan, Raden Lesmana Mandrakumara sudah beberapa waktu pergi dari kerjaan Astinapura tanpa pamit. Prabu Duryudana tidak pernah memahami alasan kepergian pangeranpati Astina yang idiot itu.  Padahal, gampang diduga, Lesmana merasa frustasi karena sudah berulangkali rencana pernikahannya gagal.  Mulai dari Siti Sendari, Pegiwa, Manuwati sampai akhirnya dia memutuskan untuk mencoba keberuntungan dengan melamar Nalawati anak perempuan Nala Gareng. Inipun terancam gagal, karena Lengkung Kusuma, anak lelaki  Petruk telah lebih dahulu melamar dan lebih masuk dihati Nalawati.

Ketika itu, sebenarnya Raden Lesmanamandrakumara berada di tengah hutan untuk bertapa demi keinginannya melamar anak Perempuan Nala Gareng, yang bernama Nalawati.  Dalam semedinya, sesosok mahluq halus bernama Kletingmungil datang menghampiri Raden Lesmana dan menyatakan kesanggupannya untuk menculik Nalawati.

Ketika saya selesai memperbaiki untuk kemudian mendengarkan Lakon Petruk Mantu sembari mengconvert ke digital, kanangan saya melayang disaat kejayaan Surono, Darsi, Rusman, Harjowibaksa dan lain-lain dalam Wayang Orang RRI Surakarta.  Ketika itu, Radio Republik Indonesia dan beberapa radio swasta masih sering memutar Wayang orang untuk para pendengarnya.  Entah perasaan apa yang berkecamuk disaat saya mendengarkan kembali Wayang Orang  yang sekarang praktis tak bisa kita temukan.  Yang pasti, ada rasa tenang yang aneh. Saya tiba-tiba merindukan sat-saat semavcam itu.

Saya tak ingin sendirian menikmatinya.  Silahkan anda download dan kita nikmati bersama Lakon Petruk Mantu oleh Keluarga Besar WO RRI Surakarta.

  1. WO  RRI Surakarta – Petruk Mantu 1a
  2. WO  RRI Surakarta – Petruk Mantu 1b

Wayang Orang Sriwedari – Pergiwa Pergiwati.

Dalam versi wayang kulit KI Narto Sabdo, episode ini dikemas dalam Lakon Abimanyu Krama.  Dimana dalam persyaratannya, Prabu Kresna mewajibkan pengantin pria didampingi patah sakembaran bagi siapa saja yang berniat melamar Siti Sundari.

Tetapi dalam lakon wayang orang, cerita ini biasa diangkat dengan Lakon Pergiwa Pergiwati.  Dengan lakon itu, dua putri begawan Sidiwacana dari Andongsumawi ini jelas akan menjadi fokus.  Sebagai hiburan panggung, kekenesan Pergiwa Pergiwati  akan menjadi andalan.

Saya tak hendak menceritakan jalannya lakon ini, tetapi akan mengajak anda untuk kembali mengingat kejayaan Rusman, Marsidah, Harjawibaksa dan lain-lain bersama keluarga Wayang Orang Sriwedari Surakarta.

Selamat Menikmati.

  1. Pergiwa – Pergiwati_1
  2. Pergiwa – Pergiwati_2

Ki H Anom Soeroto – Kumbakarna Gugur

Sejatinya, file ini saya dapatkan setahun lalu di Blognya Mas Prabu http://wayangprabu.com/ sehingga saya merasa tidak perlu mengupload ulang file itu.  Tetapi tererdorong oleh cerita dan pembawaan yang menarik oleh Ki H Anom Suroto, saya memposting lagi cerita itu untuk anda, barangkali ada diantara anda belum mengunduhnya.

Menarik bukan saja dari aspek penceriteraan tetapi juga pada pagelarannya.  Pak Anom seolah-olah menafikan aspek pakem yang selama ini dipandang wingit.  Betapa tidak?  Pada adegan kedhaton / limbukan misalnya.  Dasamuka meminta iringan gending ketika hendak dhahar. Tetapi betapa gendhing-gendhing tersebut tidak pernah sampai suwuk.  Jangankan suwuk, rep saja tidak.  Cara wira pradangga menghentikan gending benar benar kacau.  Hal yang tidak lumrah ini justru semakin menguatkan karakter Raja Alengka, Rahwana alias Dasamuka.

Cerita dimulai ketika Prabu Dasamuka benar-benar marah dan frustasi, karena sepanjang Perang Brubuh Alengka, tak sekalipun dia memperoleh kemenangan.  Hampir separo kekuatan Alengka telah tewas di medan pertempuran.  Tak kurang dari Jambu Mangli, Katakiya, Janggisrana, Wirakampana dan raksasa sakti lainnya telah tewas.  Bahkan Patih Prahasta juga telah tewas ditangan Anila.  Kesedihan Dasamuka memuncak ketika teringat bahwa Sarpakenaka yang kesaktiannya tiada tara juga telah mati.

Kekalahan demi kekalahan yang menimpa Dasamuka ditimpakan pada sosok Gunawan Kurda Wibisana.  Dimata Dasamuka, dialah sumber malapetaka karena telah bergabung dengan Prabu Rama.  Gunawan Wibisana dianggap telah membocorkan rahasia kekuatan Alengka.  Dasamuka berniat untuk berangkat sendiri memimpin pertempuran melawan Prabu Rama.

Hal ini dihentikan oleh putra-putra Rahwana yang lain yaitu : Trisirah, Trikaya, Trinetra, Trimurda, Dewantaka dan Narantaka. Mereka bertekad untuk meju ke medan laga demi menjaga wibawa Prabu Dasamuka.  Maka jadilah mereka berlima diangkat menjadi Senapati Alengka untuk menumpas Rama dan prajurit keranya.

Sayangnya, merekapun tak berdaya menhadapi kehebatan pasukan kera yang dipimpin oleh Prabu Rama.  Mereka harus menerima kenyataan dalam pertempuran membela keserakahan Prabu Dasamuka.  Tak pelak, kejadian ini membuat Dasamuka semakin murka.  Kebenciannya pada Prabu Rama dan Gunawan Wibisana semakin menjadi.

Disaat genting itulah, egoisme Rahwana surut juga.  Ia teringat kepada adiknya yaitu Kumbakarna yang hingga saat ini masih bertapa (tidur) di Gunung Gohmuka. Ia memerintahkan Indrajid untuk menghadirkan Satria Pangleburgangsa itu kehadapannya.  Tujuannya jelas, yaitu untuk dibujuk agar bersedia menjadi senapati Alengka.

Pada akhirnya Kumbakarna memanng bersedia menjadi Senapati Alengka.  Akan tetapi bagaimana ceritanya?  Bagaimana pula kedua anak kembar Kumakarna, yaitu Aswanikumba dan Kumbakumba juga tewas dalam pertempuran yang dahsyat ini.

Jawabannya bisa anda ketahui setelah tuntas mengikuti Lakon Kumbakarna Gugur yang dengan manis dibawakan oleh Ki H Anom Suroto.

Link Download Ki H Anom Soeroto – Kumbakarna Gugur

Junaedi CS – Junaedi Dadi Janaka

Seperti, yang sudah-sudah.  Tidak ada konsep yang boleh dikatakan “baru” ketika Junaedi mengeluarkan Album ini.  Lihatlah, dialog yang diangkat tak jauh berbeda dengan Gara-gara (Punakawan).  Tetapi, kala itu langkah yang diambil Pak Junaedi boleh dikatakan berani.

Ketika itu, di banyak media cetak sudah dimuat tulisan mengenai Wayang Mbeling.  Barangkali inilah salah satu implementasinya.  Junaedi dadi Janaka seakan membuka peluang semakin besar untuk mengesksploitasi wajah Junaedi yang jelas tidak cukup untuk memerenkan Arjuna.  Lagi-lagi, dhagelan.  Semua sah, semua halal.  tertawalah.

Link Download Junaedi CS – Junaedi Dadi Janaka

Junaedi CS – Ular-ular Temanten

Masih dalam cengkok mbeling.  Junaedi berusaha menampilkan pranatacara mbeling.  Bukan hanya itu, tetapi juga semua aspek perhelatan pernikahan dibanyolkan sedemikian rupa.

Sebenarnya tak ada hal baru dibandingkan dengan Dalang Internasional.  Hanya kali ini, yang internasional adalah dalang penganten alias pranata adicara, MC.  Konsep yang dibawakan memang cenderung monoton.  Buang dan Jambul masih mengeksploitasi fisik Junaedi, terutama, bibirnya.  Sama dengan sebagian besar lawakan kita.

Tetapi sekali lagi, titik berat postingan saya adalah menajak anda untuk mengenang kembali lawakan pada masa lalu.  Selamat Menikmati

Link Download Dhagelan Junaedi – Ular-ular Penganten

Junaedi Cs – Dalang Internasional

Inilah debut pertama Djunaedi sebagai pelawak.  Bersama Buang dan Jambul, junaedi berusaha memberikan warna baru dalam konsep lawak tradisional,  Lawakan Junaedi ketika itu, boleh dikatakan menyimpang dari kebiasaan lawak (baca: dhagelan) Mataran, yang biasa dibawakan oleh Pak Basiyo.

Penekanan Djunaedi, bukan pada aspek cerita tetapi lebih pada upaya memencing tawa pendengar (penonton), kendati duapuluh tahun kemudian mpodel lawakan semacam ini terbukti tidak awet.  Akan tetapi, timing yang tepat dari Junaedi, disaat Pak Basiyo tak lagi produktif -kalau tidak boleh dikatakan vakum- sungguh merupakan hal baru yang cukup menyegarkan.

Seakan ingin mengulagi sukses rekaman Dalang Internasional, Djunaedi kemudian meluncurkan Dalang Internasional II yang disusul dengan Goroi-goro (Punakawan).  Akan tetapi pada dua album terakhir, Djunedi tak cukup mampu mengangkat keberhasilan seperti di Dalang Internasional sebelumnya (baca: Dalang Internasional 1).

Nah, berikut saya buka memori anda pada kejayaan Djunaedi CS ketika itu.

  1. Dalang Internasional Vol 1
  2. Dalang Internasional Vol 2
  3. Dalang Internasional Vol 3

Peang Penjol – Nunggal Karep

Lagi, adikku Yokam berbagi cerita pada kita melalui Dhagelan Banyumasan.  Masih bersama Peang Penjol, yang kali ini mengambil lakon Nunggal Karep.  Dengan bahasa yang lugas, akrab dan gampang dimengerti, pengusaha air mineral ini mebuat sinopsisnya sehingga bisa memberikan gambaran cerita yang cukup jenaka ini.  Sembari anda mendownload filenya, silahkan belajar bahasa blekuthuk-blekuthuk dari rekan kita Yokam Bachdim

 

PEANG PENJOL – NUNGGAL KAREP

dening : Yokam

Diawali karo gending gudril sing jan nylekamin lan mbleketaket ncritakna Peang sing agi curhat ngomong karo awake dewek, nek Peang siki dadi duda ditinggal mati bojone anu gara-gara bojone wong teberi.

Peang ngiris gula jawa, neng bendone ana gulane setitik trus dilamod neng bojone tapi kebablas ilate pedot, dadi matine bojone Peang kwe ilate pedot gara-gara nglamod bendo.

Ujug-ujug si Penjol njedul teka anu tembe bali kang luar negeri, ya crita nek agi nggolet bojo. Bojone Penjol mati gara-gara kelilipen penglari, lah Penjol kwe arep ngajek Peang waring umahe Dul Calang sing duwe anak wadon arep dijodohna karo deweke. Jebule Peang ya uga arep nglamar anake dul calang,a khire wong loro nunggal karep (menyatukan keinginan).

Sauwise nengumahe Dul Calang, anake si Sri ditari ken karo Peang apa Penjol, tapi bingung soale wong loro pada bae ngodore lan pada ngeyele. Akhire si Sri nggawe pitakonan sing kudu dijawab karo jawaban ora.

Dasare Peang anu wong bodo anu uteke ora jalan, peang ora bisa gawe bener pitakonane si Sri, tapi penjol sing mandan ana pendidikane akhire bisa gawe pitakonan sing bisa dijawab Sri.

Peang sing kesuh ditolak si Sri akhire dwe pikiran daripada ditolak si Sri ya ken dijodohna karo ibune Sri. Akhir crita si Sri langsung di ijabna karo Penjol…..

Ya kwe crita dagelan sing bisa gawe cekikikan lan dadi kenangan JAMAN GEMIYEN….

Link Download Peang Penjol – Nunggal Karep

Peang Penjol, Pinter Keblinger

Sobatku Yokam, baru saja meluangkan waktu untuk memenuhi harapan saya membuat “semacam” sinopsis peang penjol.  Dia memulainya dengan lakon Pinter Keblinger.  Seilahkan download dan nikmati Dhagelan Banyumasan, Peang Penjol: Pinter Keblinger. Untuk Yokam, tak tunggu Sinopsis / cerita liyane!

Kwe crita anu kluargane Peang karo Suliyah sing carane wonge social alias tulkang ngutang-ngutangna duit tapi ben dina isine mung gegoh karo bojone/Suliyah perkara bebojoan sing anu dijodohna wong tuane.

Pas wektu kwe Penjol dadi wong kere tapi sok keminter utang karo Peang tapi nek ditagih angel lan alesan mbayare nek padang wulan lan nek wulan loro, lah Peang ngertine nek wulan loro kwe wulan pebruari dadi wulan pebruari peang Nagih utang karo Penjol.

Wektu peang nagih Penjol, Penjol ngotot nek wulane esih siji, akhire wong lro ribut masalah wulan. Akhire wektu ribut2 dipisah neng baune karo bayane, lah baune kwe ngerti nek kwe akal2ane Penjol bae sing ora gelem mbayar utang, trus neng baune wong loro kwe digawa neng ngarep blumbang.

Penjol didengi bayangan wulan..dadi wulane loro. wulan asline karo wulan bayangane sing neng blumbang, tapi Penjol ya tetep ngeles ora gelem mbayar utange bae..

Kwe secuplik synopsis crita dagelan peang penjol sing judule pinter keblinger,diiringi gending bendrong kulon sing mbleketaket.ya mung sebisane lah ya

Link Download Peang Penjol, Pinter Keblinger.

Kethoprak Mataram Seri Sudira – SUTRISNA SAPU

Kondisi kesehatan Raja Tanjunganom, Prabu Lesanpura sudah sangat menurun, jika tidak bisa disebut parah.  Segala daya sudah ditempuh demi kesehatan sang raja namun tidak juga mendapatkan hasil.  Bahkan dalam sakitnya,  baginda seringkali menyebut nama senapati Utara, Cempala dan Cempaka yang kesemuanya sudah meninggal beberapa waktu lalu.

Semangat hidup Prabu Lesanpura benar-benar padam, ketika mendengar kabar bahawa Resi Jimbonanom, pujangga keraton Tanjunganom telah meninggal dunia yang disusul kemudian berita gugurnya Sudira, Sang Manggalayuda.  Bagaimana tidak, nama-nama yang telah mendahuluinya adalah benteng terakhir Keraton Tanjung Anom.  Tanpa Sudira dan Resi Jimbonanom, bagaimana kelanjutan ekspansi Tanjunganom ke barat.  Tidak berapa lama, Prabu Lesancaka pun mangkat.

Gugurnya Sudira merupakan sesuatu yang menarik untuk diceritakan.  Kendati tidak secara langsung, akan tetapi sang Manggalayuda gugur akibat senjata Sutrisna, anaknya sendiri.  Ketika itu dalam perang tanding dengan Adipati Yoandana Sudira mengeluarkan kesaktian dengan merubah diri menjadi seekor harimau putih.  Sutrisna membunuh harimau tersebut karena tidak tahu bahwa itu adalah penjelmaan ayahnya.  Akibatnya, Sutrisna harus kehilangan jabatannya sebagai Manggalayuda II dan menerima hukuman badan berupa kurungan (penjara).

Sepeninggal Prabu Lesanpura, Pangeran Lesancaka mengambil alih kepemimpinan Tanjung Anom dalam melakukan ekspansi ke barat.  Dalam kondisi sulit tersebut tak ada yang pantas dipilih untuk memimpin pasukan, kecuali Senapati Kadipaten Hargapura, yaitu Waryanti.  Oleh karena itu, Pangeran Lesancaka memerintahkan Sutrisnna untuk dikeluarkan dari penjara dan diutus ke Hargapura guna melunakkan hati dan membujuk Waryanti agar bersedia menjadi senapati bagi Tanjung Anom.

Membujuk dan melunakkan hati? Ya, itulah bahasa yang tepat.  Waryanti adalah isteri Sutrisna.  Beberapa waktu lalu, ia pernah dipermalukan oleh Suaminya dihadapan almarhum Manggalayuda Sudira.  Waryanti benar-benar mutung dan tak lagi bersedia menjadi senapati Tanjung Anom.  Sekarang, dalam keadaan genting negara membutuhkannya lagi.  Sayangnya tak da seorangpun yang dianggap mampu melunakkah hati Waryanti, kecuali Sutrisna, suaminya.

Sungguh, Sutrisna dalam keadaan sulit. Disatu sisi dia harus loyal pada titah junjungannya, Pangeran Lesancaka.  Di lain fihak, harga dirinya sebagai laki-laki seakan ternjak-injak jika dia harus memohon kepada Waryanti untuk berkenan menghadap pangeran Lesancaka.  Yang paling penting diantara keduanya adalah keraguan Sutrisna apakah Waryanti, masih mencintainya setelah dia mempermalukannya.

Bersediakan Waryanti menghadap Pangeran Lesancaka dan menjadi Senapati bagi Tanjunganom? Bagaimanakah nasib Sutrisna selanjutnya?  Untuk mengetahui jawabnya, berikut adalah file AudioMP3 Seri Sudira – Sutrisna Sapu.

  1. Sutrisna Sapu 1a
  2. Sutrisna Sapu 1b
  3. Sutrisna Sapu 2a
  4. Sutrisna Sapu 2b