KI Narto Sabdho – Bale Gala-gala

Ini adalah cerita monumental yang merubah perjalanan sejarah Pendhawa. Dari sinilah sumbu pendek perang besar Baratayudha itu disulut. Tak pernah terbayang, bahwa Pendhawa akan terlibat dalam konflik besar yang berdampak bukan saja kepada Para Pandhawa, tetapi pada keturunan Abiyasa secara keseluruhan.

Saya tertarik untuk memposting dan berbagi cerita dengan anda bukan semata karena menghormati Mas Edy Listanto dan Mas Santoso yang telah memberikan file ini kepada saya, akan tetapi juga berharap banyak untuk bersama anda membuka memori perjalanan sejarah darah barata, hingga memicu pertumpahan darah di Kurukhsetra.

Terlepas dari sesuatu yang namanya takdir, lakon buruk Pendhawa yang harus dibuang 13 tahun di hutan ditambah bersembunyi 2 tahun, tak bisa dilepaskan dari keputusanya menerima tantangan bermain dadu yang dilanjutkan bergembira diluar batas di Bale Gala-gala. Sebuah tempat yang oleh Kurawa di setting sedemikian rupa, sehingga mudah terbakar. Tujuannya jelas, yaitu memusnahkan putra-putra Pandu buat selama-lamanya. Bagi Kurawa, Pendawa adalah penghambat bagi upayanya menguasai Negara Asitinpura. Oleh karena itu, Patih Sengkuni (paman kurawa) menggunakan berbagai cara untuk menyingkirkan Pandhawa.

Langkah licik Patih Sengkuni sebagai tokoh intelektual dibalik konflik besar ini bukan tanpa alasan. Dia merasa khawatir Kurawa tidak akan pernah merasakan kenikmatan Negara Astina. Bagaimana tidak? Sejak awal Adipati Destarata tak hendak menyerahkan Negara Astina kepada Kurupati dan adik-adiknya tetapi akan dikembalikan kepada keturunan Pandhudewanata, yaitu Yudistira dan adik-adiknya. Semua punggawa Astina, termasuk Resi Druna menyetujui rencana ini. Kurupati yang masih lugupun tak merasa hal ini sebagai sebaua ancaman. Tapi tidak demikian dengan Dewi Gendari dan Patih Sengkuni. Dari sinilah Ki Nartosabdho secara teliti memulai Lakon “pakem” Bale Gala-gala.

Adipati Destarata mengingatkan lagi, ketika berlangsung Perang Pamuksa, perang besar antara Astina dengan Pringgondani yang menjadi penyebab gugurnya Prabu Pandhudewanata. Disaat terakhir meninggalnya Raja Astinapura itu, dia berpesan kepada Adipati Destarata tentang dua hal yaitu, menitipkan kelima anaknya dan Pusaka Sakti yang dimilikinya, yaitu Minyak Tala untuk diserahkan dikemudian hari kepada Pandhawa dimemudian hari jika sudah dewasa. Destarata menunggu Prabu Pandhu mengamanatkan bagaimana dengan Negara Astina tapi tak kunjung terucap. Akhirnya, Destarata menanyakan bagaimana dengan Negara Astina. Diluar dugaaan, Pandhu menyerahkan sepenuhnya kepada kebijakan Adipati Destarata.

Misalkan Desatarata mau bertindak serakah, bisa saja dia menyerahkan Negara Astina Kepada anak-anaknya, tetapi tidak. Dia harus bertindak bawaleksana, tidak ingkar janji. Dia berniat menyerahkan Astina kepada Pendhawa, karena merekalah yang mempunyai hak Negara beesar ini. Selain itu, kegagalan membagi Minyak Tala pada lakon Pendhawa Dhadu, semakin meneguhkan tekad Destarata untuk secepatnya menyerahkan Negara Gajahoya kepada yang memilki hak, yaitu Pendhawa. Tapi tidak demikian dengan isteri dan adik iparnya, Dewi Gendari dan Patih Sengkuni.

Membicarakan Dewi Gendari, ada sesuatu yang menarik. Bukan dari latar belakang keluarga dan proses menikahnya dengan Destarata, tetapi dari tindakan setelah dia menikah dengan kakak Prabu Pandhudewanata ini. Sejak diperisteri Adipati Destarata, Dewi Gendari menutup matanya dengan kain sehingga benar-benar tidak bisa melihat terangnya cahaya dunia. Hal ini bisa doimaknai sebagai bentuk kesetiaannya kepada sang suami yang tuna netra.

Tetapi, ada juga yang memaknai Dewi Gendari sebagai wanita yang sengaja “membutakan diri” terhadap keadaan. Seharusnya dia mengetahui kepada siapa Negara Astina harus diserahkan. Tetapi Gendari menutup mata terhadap hal itu, dia membuta (tuli) terhadap kebenaran demi kepentingan diri dan keluarganya. Entahlah!!! Yang pasti Ki Nartosabdho menceritakan watak Gendari sebagai orang ketiga yang berada di belakang Destarata sehingga beberapa kali salah dalam mengambil keputusan. Bahkan, sampai keputusannya memanggil Pendhawa untuk dikumpulkan di Bale Gala-gala.

Bale Gala-gala pada awalnya dibrancang oleh Adipati Desatarata untuk menyambut kehadiran Pendhawa dan Dewi Kunthi, guna menerima penyerahan Negara Hastinapura. Akan tetapi ditangan Sengkuni dan Dewi Gendari, ceritanya menjadi lain. Rencana ini justru menjadi awal perjalanan panjang putera-putera Pandhu dalam merebut kembali haknya atas Negara Astina, Inderaprastha dan jajahannya. Bale Gala-gala menjadi sarana bangkitnya Pendhawa menunju kedewasaan dan kesempurnaan. Ki Nartosabdo dengan sangat gamblang mengupasnya.

Diluar aspek cerita, hasil ripping kang Edy benar-benar luar biasa. Bening dan hampir tanpa noise. Salut kang!!! Padahal sepanjang yang beliau ceritakan kepada saya, kang Edy Listanto menggunakan software gratisan :)

Anda ingin membuktikan? Mangga silahkan!


About these ads

Tentang Jaman Semana

Sapa Wani Karo Aku wong Aku Ora Wani Karo Sapa-sapa

Posted on 24 Mei 2011, in Bale Gala-gala, KI NARTO SABDHO, WAYANG, WAYANG KULIT. Bookmark the permalink. 7 Komentar.

  1. wah suaranya bening dan nggregetke…..

  2. Lha iyo aku seneng ngrungoake…

  3. Wuh iya mas…seneng banget aku ngrungokake…swarane bening tur lakone ya apik…suwun mas…

  4. wah kok kulo mboten saget temukan file download ipun nggih,…kulo penggemar berat pak narto sabdho..juga pak basiyo dan cak kartolo….

  5. maaf saya tidak bisa temukan link downloadnya.. bgmn ya pak Listanto ini.. bikin link kok ada yg bisa dibuka..??

  6. mantaaaapp,,,,trima kasih yo mas

Dhawuh Panjenengan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: