Arsip Bulanan: Juni 2011

Ki H Anom Soeroto – Wahyu Sri Cemani

Dalam upaya perburuan saya, tanpa saya duga saya mendapatkan sebuah lakon carangan yang digelar oleh Ki H Anom Soeroto dengan cerita Wahyu Sri Cemani.  Kendati lakon ini sudah digelar di Universitas Negeri Yogyakarta beberapa waktu yang lalu dan juga sudah diunggah di youtube, tetapi saya tidak ragu untuk kembali mengupload di blog ini.   Alasannya karena lakon ini direkam puluhan tahun lalu ketika Ki H Anom Soeroto masih relatif muda.  Selain itu, kesan klasik pegelaran wayang ini juga masih kental kita rasakan. Disini anda tak akan menemukan adegan lawak / dagelan yang memakan porsi cukup besar dalam running play yang hanya tujuh jam.  Sepanjang pagelaran kita akan disuguhi kemampuan bercerita dalang yang pernah menyandang nama Margono ini.

Diceritakan, bahwa dunia tengah mengalami bencana besar, pageblug mayangkara.  Semua Negara berada dalam kesulitan.  Tak Kurang Negara Astina, Amarta bahkan Talangantungan mengalami nasib yang tidak jauh berbeda.  Timbul wabah penyakit dan bencana alam yang nyaris tak pernah berhenti.  Keadaan ini memaksa para pemimpin Negara berupaya mendapatkan sarana bagi kejayaaan negaranya masing-masing.

Di Pendapa Negara Astina, Prabu Duryudana tengah membahas pageblug mayangkara yang melanda negaranya.  Patih Sengkuni sudah melaporkan bahwa segala daya upaya telah ditempuh, namun tak juga bisa menghindarkan bencana yang barangkali sudah menjadi kehendak dewata.  Duryudana meminta saran Pandhita Durna tentang malapetaka yang tangah dihadapi oleh Negara Astina.

Pendhita Sokalima ini menjelaskan bahwa bencana yang saat ini tengah dihadapi Negara Astina memang kehendak dewata, karena tingkah laku manusia yang sudah menyimpang dari kebenaran.  Kemaksiatan yang terjadi dimana-mana semakin mempertegas kutukan dewata tersebut.  Satu-satunya jalan yang bisa ditempuh adalah memboyong Prabu Kresna, Raja Dwarawati -sebagai symbol ketenteraman- ke Negara Astinapura.  Duryudana menerima saran ini dan memerintahkan Adipati Karna untuk bersedia diboyong dan bersatu dengan Kurawa.

Sementara itu, di Keraton Dwarawati, Sri Kresna tengah menerima kehadiran Raden Gatutkaca dan Raden Antareja yang menerima titah Prabu Puntadewa untuk memboyong Sri Kresna ke Amarta sebagai sarana memulihkan ketenteraman Amarta yang saat ini tengan dilanda bencana.  Belum lagi Prabu Kresna menyatakan kesanggupannya, datang Adipati Karna yang mewakili Duryudana dengan maksud yang sama.

Guna menghindari pertengkaran antara mereka, Prabu Kresna mengajukan permintaan kepada siapa saja yang bermaksud memboyongnya.  Prabu kresna bersedia diboyong oleh siapapun yang bisa mendapatkan Wahyu Sri Cemani.  Taka ada pilihan bagi duta Amarta maupun Astina untuk mengelak dari keputusan raja yang dikenal bijaksana ini.

Apa sebenarnya Wahyu Sri Cemani itu?  Siapa yang berhasil mendapatkan Wahyu Sri Cemani?  Kami persilahkan anda untuk menyimak secara lengkap lakon carangan yang dengan runtut di gelar oleh Ki H Anom suroto pada link download berikut ini.

  1. Ki H Anom Soeroto – Wahyu Sri Cemani 1a
  2. Ki H Anom Soeroto – Wahyu Sri Cemani 1b
  3. Ki H Anom Soeroto – Wahyu Sri Cemani 2a
  4. Ki H Anom Soeroto – Wahyu Sri Cemani 2b
  5. Ki H Anom Soeroto – Wahyu Sri Cemani 3a
  6. Ki H Anom Soeroto – Wahyu Sri Cemani 3b
  7. Ki H Anom Soeroto – Wahyu Sri Cemani 4a
  8. Ki H Anom Soeroto – Wahyu Sri Cemani 4b
  9. Ki H Anom Soeroto – Wahyu Sri Cemani 5a
  10. Ki H Anom Soeroto – Wahyu Sri Cemani 5b
  11. Ki H Anom Soeroto – Wahyu Sri Cemani 6a
  12. Ki H Anom Soeroto – Wahyu Sri Cemani 6b
  13. Ki H Anom Soeroto – Wahyu Sri Cemani 7a
  14. Ki H Anom Soeroto – Wahyu Sri Cemani 7b(tamat)

DAGELAN BASIYO – Wong Edan Ora Ndalan

Dalam hardisk saya sudah ada 52 judul Dagelan Basiyo.  Saya sudah berusaha mencari judul lain hampir kesetiap sudut kota Solo dan Jogja, tatapi tak mendapatkan hasil, sampai saya berksimpulan sudah semua kaset Basiyo saya convert ke digital.

Tetapi belakangan saya menemukan satu judul lagi dari maestro dagelan, Pak Basiyo dengan Judul Wong Edan Ora Ndalan.  Secara bertahap semua judul tersebut akan kami posting untuk bersama –sama kita nikmati.

Dari aspek cerita, sebenarnya lakon ini “biasa saja”.  Tetapi kekuatannya terletak pada dialog para pemainnya yang runtut.  Pak Basiyo dkk tidak mengajak kita untuk tertawa terbahak-bahak tetapi cukup dengan senyum simpul, khas Dhagelan Mataram.  Kenakalan dan kejenakaan Basiyo biasa kita ketemukan ketika jaman belum semaju sekarang ini.  Pernah pada hari ketika tidur disurau, tiba-tiba terbangun di dekat sumur.  Kocak, akrab dan kadang nakal. Itulah cerita yang terjadi dimasa kanak-kanank saya.

Diceritakan Pak Harjo Gepeng adalah seorang yang kaya raya.  Saking banyaknya kekayaan yang dimiliki oleh suami Bu Prenjak ini, sampai dia tak sempat keluar rumah untuk sekedar refreshing.  Pak Basiyo, sebagai teman akrab Pak Harjo berniat mengajak keluar rumah sembari tirakat.  Ajakan ini  disetujui oleh Bu Harjo.  Jadilah mereka berdua tirakat disebuah tempat yang jauh dari rumah.  Dijalan mereka berpisah agar bias lebih khusuk.

Malang, ketika tengah sendirian Pak Basiyo didatangi oleh seorang perempuan gila.  Orang gila ini selalu mengejar pak Basiyo kemanapun pergi.  Timbul niat usil Basiyo untuk mengantar orang gila ini kepada Harjo Gepeng.  Celakanya, ketika Basiyo tiba, Harjo Gepeng tengah tidur nyenyak.  Saking nyenyaknya tidar, Pak Harjo Tidak sadar bahwa Basiyo menidurkan orang gila disampingnya.

Masalah menjadi semakin runyam ketika Bu Harjo menyusul kesesokan paginya.  Dilihatnya sang suami tengah tidur disamping perempuan lain.  Kelanjutannya?

Silahkan anda download dan nikmati, Dhagelan Mataram Basiyo CS – Wong Edan Ora Ndalan

  1. Wong Edan Ora Ndalan 1
  2. Wong Edan Ora Ndalan 2
  3. Wong Edan Ora Ndalan 3
  4. Wong Edan Ora Ndalan 4
  5. Wong Edan Ora Ndalan 5