Arsip Bulanan: Juli 2011

MP3 Wayang Kulit – Ki H Anom Soeroto – BASUDEWA KEMBAR

Seakan menjadi bagian tak terpisahkan dalam kisah besar Mahabarata adalah keberadaan Kerajaan Mandura.  Tak terlalu besar memang kerajaan ini dalam peta geografis pewayangan.  Akan tetapi perannya tak diragukan.  Ia mampu memberikan warna dalam kisah hebat Kurawa – Pendhawa.  Nama nama Basudewa, Harya Prabu, Setyajid, Kunthi, Baladewa, Setyaki, Subadra bahkan Kresna adalah nama-nama besar berdarah Mandura.  Dikemudian hari ternyata mereka memperindah kisah besar Mahabarata yang menjadikannya lebih hidup dan realistis.

Postingan kali ini saya mencoba mengunggah lakon yang berlakang belakang kerajaan Mandura dengan judul Basudewa Kembar.  Cerita inilah yang melahirkan dilemma pada diri Prabu Basudewa yang pada akhirnya membuka konflik besar dengan munculnya tokoh antagonis, Prabu Kangsadewa.  Dari tokoh inilah lakon-lakon menarik lahir misalnya  Kongsa Adu jago, Setyaki Lahir, Alap-alap Setyaboma dan lain-lain.

Alkisah, Sepeninggal mendiang Prabu Kuntiboja, Kerajaan Mandura dipertintah oleh putera mahkota yang kemudian hari  bergelar Prabu Basudewa.  Ia memerintah dengan adil dan bijaksana serta mendapatkan dukungan dari seluruh rakyat Mandura.  Prabu Basudewa memiliki empat orang istri, yaitu Dewi Amirah, dan Dewi Ruhini  Dewi Dewaki, Dewi Badrahini yang pada saat itu tengah mengandung.  Hebatnya, dalam kehamilannya keempat istri Basudewa “ngidam” dan memiliki keinginan yang sama yaitu ingin menikmati hidangan yang berupa daging hewan hasil berburu.  Oleh karena itu Basudewa meminta persetujuan para nayaka praja kemana harus memasang grogol (berburu).  Atas saran Raden Ugrasena, Prabu Basudewa bermaksud berburu ke Hutan Madeki guna memenuhi keinginan isteri-isterinya.

Sementara itu, jauh diseberang lautan berdiri kerajaan para raksasa yaitu Kerjaan Guagra.  Kerajaan besar ini diperintah oleh seorang Raksasa yang terkenal sakti mandraguna bernama Prabu Gorawangsa.  Ia didampingi oleh seorang pujangga bernama Begawan Jayabajra dan seorang patih yang memiliki kesaktian luar biasa bernama Patih Suratimatra.  Ketika itu, sang yaksendra tengah dilanda asmara.  Sang Raja saksasa ini ini jatuh cinta kepada seorang puteri dari Pertapaan Banjarpatoman, Putri Begawan Maera yang bertama Endang Amirah.  Sayangnya ketika Gorawangsa bertandang ke Banjarpatoman, ternyata Endang Amirah sudah diperistri oleh Raja Mandura.  Saat ini putri Begawan Maera bernama Dewi Amirah atau Dewi Maerah.

Sadar bahwa mustahil untuk bisa mendapatkan kembali Dewi Maerah kedalam pelukannya, Prabu Gorawangsa berniat menculik Dewi Amirah dari dalam Keraton Mandura yang ketika itu memang tengah kosong karena Prabu Basudewa sedang berburu ke hutan Madeki.  Guna memudahkan upaya menculik Dewi Amirah, Prabu Gorawangsa merubah wujud dirinya menjadi Prabu Basudewa.

Hampir tanpa rintangan Gorawangsa masuk ke Kerator Mandura bahkan ke Taman Kaputren.  Dengan wujudnya sebagai Prabu Basudewa, Gorawangsa berhasil bertemu Dewi Amirah di dalam kamarnya.  Sialnya, Dewi Amirah tidak menyadari bahwa yang memasuki kamarnya bukan suaminya.  Jadilah Sang Putri melayani Gorawangsa layaknya melayani sang Suami tercinta, Prabu Basudewa.

Sebenarnya, Haryaprabu, adik Basudewa,  sudah mencurigai kehadiran Prabu Basudewa yang tidak pada tempatnya.  Akan tetapi dia tidak cukup alasan ketika Basudewa palsu ini mengatakan ingin menumpahkan rasa kangennya pada sang permaisuri.  Terlebih ketika Basudewa menuduh Haryaprabu berniat tidak baik kepada Dewi Maerah.  Kecemburuan Basudewa yang tidak beralasan inilah yang makin membuat Haryaprabu tersinggung.  Atas nama harga diri, Haryaprabu menantang Basudewa untuk bertarung.  Haryaprabu kalah dalam pertarungan ini.  Ia segera meninggalkan Mandura menyusul rombongan lain ke Hutan Madeki.

Jauh di Kerajaan Astina, Prabu Pandudewanata merasa sangat gundah karena beberapa malam lalu ia bermimpi.  Dalam mimpinya, dia melihat Kerajaan Madura diliputi mendung tebal yang kemudian berubah menjadi banjir besar dan kakak iparnya, Prabu Basudewa (kakak Dewi Kunti) hanyut dalam bencana itu.  Terdorong oleh firasat yang kurang baik tersebut, Prabu Pandudewanata bermaksud menyusul ke Hutan Madeki mencari kejelasan tentang mimpinya tersebut.  Dihadapan Basudewa, Prabu Pandhudewanata menceritakan mimpinya dan meminta untuk lebih waspada.

Ketika itu datanglah Haryaprabu.  Keheranan dan kecurigaan Haryaprabu semakin menjadi ketika ternyata Prabu Basudewa masih berada di hutan.  Untuk menghapus semua kecurigaan itu, rombongan Prabu Basudewa segera pulang ke Mandura.  Terbukti bahwa di Kerton Mandura sudah ada Basudewa lain yang berhasil saresmi dengan Dewi Amirah.  Kedua Basudewa tersebut bertarung untuk membuktikan siapa yang asli.  Atas bantuan Prabu Pandudewanata, Gorawangsa berhasil dibunuh.

Atas kesalahan Dewi Amirah yang telah berlaku serong, Prabu Basudewa menjatuhkan hukuman mati kepada putri Pertapaan Bajarpatoman ini.  Tugas menghabisi Dewi Amirah ini diserahkan kepada Haryaprabu.  Ia ditugasi untuk membawa Amirah ketengah hutan untuk selanjutnya eksekusi dilakukan disana.  Dengan sekuat hati,  Haryaprabu membawa Dewi Amirah ke tengah hutan untuk memenuni titah Prabu Basudewa.  Kenyataanya, Harya Prabu tidak sampai hati untuk menghabisi Dewi Amirah. Sesampai ditengah hutan, ia tidak membunuh Dewi Amirah sebagaimana perintah Raja Mandura, tetapi melepaskan begitu sja sang permaisuri yang malang ini.  Segera Haryaprabu pulang ke Mandura dan melaporkan bahwa tugas telah dilaksanakan.  Dewi Amirah sudah mati!.

Selesai?  Belum!  Kenyataannya bayi yang dikandung dewi Amirah lahir dengan selamat.  Ia dipelihara oleh Begawan Jayabajra dan digembleng dengan oleh raksasa sakti yang tak lain adalah Patih Suratimantra.  Bayi anak Dewi Amirah inilah yang kelak kemudian hari menjadi raja sakti bernama Prabu Kangsadewa.

Nah, setelah anda membaca sinopsis yang lumayan panjang ini, tentunya anda juga ingin menikmati bagaimana Ki H Anom Soeroto menceritakan dengan bahwasa pewayangan yang manis kepada anda.  Untuk itu, kendati dengan kualitas rekaman yang kurang baik karena (atas nama bandwidth yang terbatas) saya mengkompres file ini habis-habisan agar bisa diunggah dan anda bisa mengunduhnya.

Selamat Menikmati.

  1. KI H Anom Soeroto – Basudewa Kembar_1a
  2. KI H Anom Soeroto – Basudewa Kembar_1b
  3. KI H Anom Soeroto – Basudewa Kembar_2a
  4. KI H Anom Soeroto – Basudewa Kembar_2b
  5. KI H Anom Soeroto – Basudewa Kembar_3a
  6. KI H Anom Soeroto – Basudewa Kembar_3b
  7. KI H Anom Soeroto – Basudewa Kembar_4a
  8. KI H Anom Soeroto – Basudewa Kembar_4b

MP3 Gendhing Beksan

Salah satu hiburan alternatif pada acara hajatan di penghunjung tahun 80an adalah beksan.  Beksan (tari-tarian jawa) pada awal kemunculannya selain dipergunakan untuk acara ritual juga berfungsi sebagai bahasa non verbal untuk sebuah pesan (cerita).  Sendratari Ramayana, misalnya.  Selain sebagai pelengkap ritual agama Hindhu juga merupakan hiburan yang berupa cerita yang diambil dari epos besar Ramayana.  Oleh karena itu, keberadaan tarian atau beksan dalam budaya jawa hamper tak bisa dipisahkan.

Keluarga Kerajaan (Surakarta dan Jogjakarta) memiliki tradisi menciptakan Beksan Bedhaya untuk acara-acara tertentu, misalnya wisuda, kelahiran putra raja dan sebagainya.  Bahkan beberapa beksan bedaya bukan hanya dilarang untuk dipentaskan di sembarang waktu tetapi dilarang juga dimainkan / ditarikan oleh sembarang orang, karena sifatnya yang “keramat”.   Sedemikian menyatunya beksan dengan budaya jawa, maka kemampuan seseorang untuk bisa menari jawa seakan meenjadi kebutuhan oleh orang yang menyebut dirinya mencintai budaya jawa.

Menariknya sebuah tarian (beksan) bukan hanya ditentukan oleh kemampuan para penarinya tetapi juga oleh iringan (ilustrasi music) dari tarian tersebut.  Dalam hal ini peran gendhing-gendhing beksan sungguh tak dapat dielakkan dari pagelaran beksan itu sendiri.  Gending beksan bisa mempertajam sebuah suasana yang digambarkan oleh gerakan tariannya.  Tari Gambyong, contohnya.  Suasana rancak dan akrab langsung terarasa begitu music mengalun.  Itulah sebabnya, tari gambyong sering digunakan untuk menyambut tamu dan sebagai pembuka acara.

Tanpa sebab yeng jelas, pegelaran tari kian hari kian ditinggalkan. Beberapa tarian kadangkala memang masih digelar tetapi hanya tarian tertentu dan pada acara tertentu saja.  Tarai gambyong adalah satu diantara yang sedikit itu.

Sudah ada upaya untuk membuka ketertarikan generasi muda oleh para koreografer dan pemerhati kesenian jawa pada umumnya dengan menciptakan tarian-tarian yang berlabel Tari Kreasi Baru.  Akan tetapi langkah itu belum menunjukkan keberhasilan yang berarti  (jika tak boleh disebut gagal).  Kendatipun begitu, kita harus tetap optimis pada upaya pelestarian dan pengembangan tarian jawa.  Lihatlah disanggar-sanggar seni, masih banyak anak-anak kita yang dengan sungguh-sungguh belajar hasil kesenian yang indah itu.  Permasalahannya adalah, keberanian kita untuk menikmati pagelaran beksan. Masih beranikah kita mengambil resiko “nanggap” beksan pada acara yang boleh jadi kita pertaruhkan.  Beranikan kita menggelar beksan Enggar-enggar, Karonsih, Gatutkaca Gandrung dan sebagainya pada acara hajatan pernikahan anak kita?

Baiklah.  Kita mulai saja dengan mendengarkan gendhing-gendhing beksan sebagai pintu masuk kita untuk bisa menikmati tarian jawa.  Tak bosan permintaan maaf perlu saya sampaikan apabila hasil ripping dari kaset digital kurang memenuhi harapan anda.  Hal ini lebih disebabkan karena kaset aslinya yang memang sudah rusak.  Saya akan menambahkan dari sedikit koleksi gendhing beksan seiring saya mendapatkan file-file baru.  Salam Budaya!

  1. Beksan GAMBYONG (Pareanom)
  2. BEKSAN GAMBYONG PKJT
  3. Beksan GAMBIRANOM
  4. Beksan ANILA PRAHASTA
  5. Beksan BEDAYA LA – LA
  6. Beksan BOPNDHAN LANGEN SAYUK
  7. Beksan ENGGAR -ENGGAR
  8. Beksan GOLEK MANIS
  9. Beksan SRIMPI GANDAKUSUMA
  10. Beksan GATUTKACA ANTASENA
  11. Beksan GATUTKACA GANDRUNG
  12. Beksan GOLEK
  13. Beksan  JATHAYU
  14. Beksan  PRAWIRAGUNA
  15. Beksan SRIMPI ANGLIR MENDHUNG
  16. Beksan TANDHINGAN
  17. Beksan TROPONGAN

MP3 Ketkoprak – SARIDIN LAHIR

Bukan hanya anda, sayapun cukup lama mencari lakon ini.  Saya sudah berupaya mencari ke berbagai tempat untuk sekedar mendapatkan jawaban prolog dari sequel panjang Kyai Eksentrik, Saridin alias Syeh Jangkung.

Banyak sudah kita mendengar kehebatan ulama pesisir ini tapi minim sekali  informasi yang memberikan jawaban atas pertanyaan mendasar, siapakah Saridin itu?  Dari latar belakang apa sehingga dimasa dewasanya memiliki daya linuwih.  Bukan hanya bupati pati, tetapi Raja Matarampun rela bertani sekadar memberikan kesempatan kepada dasidin untuk menyelesaikan konflik di kotaraja Mataram.

Setelah hampi putus asa, akahirnya saya menemukan kaset pita dengan Lakon Saridin Lahir.  Kabar baiknya, lakon ini didukung oleh seniman dari latar belakang yang berbeda.  Saridin Lahir merupakan Kethoprak Gabungan antara Ketoprak  Sri Budaya Pati dengan Kethoprak Mataram RRI Yogyakarta.  Sungguh perpaduan yang tidak gampang dilakukan untuk sebuah pagelaran yang akan dikemas dalam pita kaset  sebagai barang komuditi.   Kabar buruknya, lakon ini selesai dalam 6 kaset c 60.  Bukan saja 12 jam harus saya habiskan untuk convert tai juga 100 MB upload dengan internet yang super lelet sesuai budged yang ada pada saya.

Tanpa melihat adanya episode lain yang (mungkin) belum saya ketemukan, Saridin Lahir seakan telah melengkapi cerita panjang sang cikal bakal dukuh Milono yang lehendaris ini.  Ketika saya memulai mengunggah cerita ini setahun lalu dengan episode Andum Waris, banyak rekan yang mampir dan memberikan apresiasi atas kerja (keras) saya.  Lalu berturut turut saya unggah Geger Palembang, Bedhahing Ngerom, Ontran-ontran Cirebon, Andha Rante, Sultan Agung Tani, Keris Jangkung dan Lulang Kebo Landhoh (Syeh Jangkung Wafat).  Dalam kesempatan ini saya perlu mengucapkan terima kasih kepada Nangagus dan Iwan AK yang telah berbaik hati melengkapi cerita Saridin.  Dengan upload saridin lahir ini, seakan lunaslah hutang saya.

Saya pastikan, cerita tak akan lagi menarik jika otak bebal saya harus bergaya membuat sinopsi cerita ini.  Oleh karenanya saya tidak merasa perlu membuat sinopsis karena justru akan mengotori kehebatan cerita Kethoprak Gabungan ini.

Berikut adalah hasil conver Saridin Lahir

  1. Kethoprak – Syeh Jangkung (Saridin) Lahir _1a
  2. Kethoprak – Syeh Jangkung (Saridin) Lahir _1b
  3. Kethoprak – Syeh Jangkung (Saridin) Lahir _2a
  4. Kethoprak – Syeh Jangkung (Saridin) Lahir _2b
  5. Kethoprak – Syeh Jangkung (Saridin) Lahir _3a
  6. Kethoprak – Syeh Jangkung (Saridin) Lahir _3b
  7. Kethoprak – Syeh Jangkung (Saridin) Lahir _4a
  8. Kethoprak – Syeh Jangkung (Saridin) Lahir _4b
  9. Kethoprak – Syeh Jangkung (Saridin) Lahir _5a
  10. Kethoprak – Syeh Jangkung (Saridin) Lahir _5b
  11. Kethoprak – Syeh Jangkung (Saridin) Lahir _6a
  12. Kethoprak – Syeh Jangkung (Saridin) Lahir _6b(tamat)

MP3 Gendhing Jawa – Klenengan Mat-matan

Memahami gendhing-gendhing jawa (saya menuliskannya “gendhing” –dan bukan gending disamping karena kaidah penulisan juga sekadar untuk memasatikan bahwa lidah jwa saya tidak salah melafalkannya) sungguh sangat tidak gampang. Ditelinga saya terasa hampir sama. Bagaimana tidak. Kata atau syair : ya mas, ya mas, gones-gones, eman-eman, witing klapa kalapa kang maksih mudha, hamiwiti, ujung jari balung randhaning kalapa, hamiwiti sindhen sendhoning pradangga, atmaja nata rahwana dan sebagainya, selalu saja muncul dalam setiap lagu.

Belum lagi jika sudah masuk dengan disebut gendhing, ketawang, jineman, ladrang dan lain-lain. Sungguh membuat saya semakin malu dengan diri sendiri yang berulangkali mengaku sangat bangga sebagai orang jawa. Yang merasa diri mencintai kesenian jawa dan yang dengan jumawa sok njawani. Saya bisa pastikan bahwa saya tidak sendirian. Masih banyak rekan-rekan lain yang enggan mengakui betapa tidak jawanya kita.

Kesadaran ini muncul tidak tiba-tiba. Rekan saya Wahyudiono didalam status FB nya beberapa waktu lalu seakan menggugah tidur panjang saya tentang kesenian jawa ketika menulis dengan lugas: “sayup-sayup terdengar randu kentir……….” Status yang terdengar ringan, tetapi “menyakitkan” (meminjam istilah mas Malix CJDW). Mas wahyu seakan menyentil saya untuk mencoba memulai dari awal sebelum masuk ke masalah kejawen secara lebih luas, yaitu lagu!

Sungguh saya tidak mengkhususkan konten dalam blog ini. Tetapi sebagian besar materi blog ini adalah segala seuatu yang ada hubungannya dengan kesenian jawa (bagian kecil dari budaya jawa) yang justru sudah banyak bertebaran di dunia maya. Oleh karenanya, sentilan Mas Wahyu tadi menggugah saya untuk mencoba mengupload file audio “lagu dan musik jawa” yaitu Gendhing Jawa. Sudah barang tentu ini bukan ajang untuk mengapresiasi, tetapi sekadar mengingatkan bahwa jawa mempunyai orkestrasi sendiri yang harus kita nikmati. Saya mengajak anda untuk bersama-sama mendengarkan dengan cara yang paling awam terlebih dahulu. Rasakan betapa nikmatnya.

Anda dengan mudah bisa membedakan suara Whiney Huston, Celine Dion, Iwan Fals, Ruth Sahanaya, Kris Dayanti kendati mereka bernyanyi dibawah orchestra yang berbeda. Tetapi tidak demikian dengan klenengan. Kecuali Nyi Condrolukito, anda akan sulit membedakan suara sinden apabila sudah berbaur orkestrasi gamelan. Suara mereka benar-benar menyatu dengan instrument music tradisional itu. Disinilah uniknya.

Nah, untuk anda yang ingin seperti saya, secara awam mendengarkan klenengan /gendhing-gendhing jawa, silahkan untuk mengunduh pada link berikut:

  1. Bawa Kuswaraga dawah_Gd._Kutut_Manggung_Pl.Br
  2. Bawa Raraturidha dhawah Gd. Gambirsawit Pancarena mawi kebar sekaran Gambyong, Laras Pelog Patet 6
  3. Bawa Retna Asmara dawah gd kembang widara ktmpn Ldr. Cangklek terus dolanan Pendisil Pl.6
  4. Bawa Retna Asmara dhawah Gendhing Randhukentir, minggah Ldr Ayun-ayun Kebar mawi Gogyg Laras Pelog Patet 6
  5. Bawa sekar ageng kumudasmara Rujak Sentul srundeng gosong ktw sinom wenigonjing
  6. Bawa SA Banjaransari dawah Gd Gandrungmanis Dhandhanggula Banjet Kljg Ldr Sarayuda
  7. Gd Mayangsari kljg Ldr Kapireta mandheg Nyekar Maskumambang Kasambet Ktw Pucung Wuyung
  8. Srepeg Mataraman mawi Ura2 Pangkur Rambangan katampen Srpg. Asmaradana kalajengaken Srpg. Durma Rambangan
  9. Srepeg Dhandhanggula Banjet Pelog Barang
  10. Pangkur Pamijen
  11. Ldr._Pangkur_Ngrenas_Pl.6
  12. Ldr Tebu Sak Uyun Slendro Menyura
  13. Ldr Kembang Kates Pelog 6
  14. Ldr Asmaradana Slendro Manyura
  15. Lcr. Baita Kandhas kljngkn Ldr. Gangsaran Pl.Br Panutup
  16. Jineman Uler Kambang – Ldr. Cikar Bobrok Sl.My