Arsip Bulanan: Agustus 2011

MP3 Kethoprak RRI Yogyakarta – Arya Penangsang Gugur

Secara historis, Arya Penangsang sebenarnya memiliki hak atas Bumi Pajang.  Akan tetapi justru Hadiwaijaya yang menduduki tahta Pajang atas kehendak mendiang Raden Patah, atas jasa Hadiwaijaya (Jaka Tingkir) ketika itu.  Atas dasar itulah maka, Arya penangsang selaku penguasa  Kadipaten Jipang tidak mau lagi hadir di pisowanan agung Sultan Hadiwijaya.  Kehendak Arya Penangsang ini mendapatkan dukungan dari ayahnya, Sunan Kudus.  Dukungan kepada Arya Penangsang ini bukan hanya berupa politis tetapi  juga takstis.

Mengingat Sultan Hadiijaya memiliki kesaktian yang luar biasa, maka Sunan Kudus berupaya untuk menghadirkan Sultan Hadiwijaya, dengan maksud untuk bisa dibunuh oleh Arya Penangsang.  Langkah yang diambil oleh Sunan Kudus adalah berpura-pura mengundang Penguasa Pajang ini untuk hadir di Panti Kudus.  Alih-alih mendapat ilmu baru dari Sunan Kudus, Hadiwijaya justru akan dilemahkan secara mistis.  Ia diminta duduk di kursi yang disiapkan oleh Sunan Kudus dimana kursi tersebut telah diberi rajah darubeksi yang bisa melunturkan kesaktian siapapun yang menduduki kursi tersebut.

Kadang sulit sekali memahami sifat Sunan Kudus.  Bagaimana mungkin ia mendukung niat Harya Penangsang  untuk merebut Kekuasaan Sunan Hadiwijaya di Pajang.  Sementara, Harya Penangsang sudah sudah memiliki kekuasaan di Jipang Panolan.  Tapi begitulah kenyataan yang terjadi.  Sejarah akhirnya mencatat bahwa upaya  kudeta yang dilakukan Harya Penangsang tidak berhasil.

Kembali pada cerita yang kali ini saya upload.  Sultan hadiwijaya benar hadir di Panti Kudus.  Harya penangsang mempersilahkan Sultan Hadiwijaya duduk di kursi yang telah dipersiapkan.  Hampir saja Sultan Hadiwikaya terjebak untuk duduk dikuri yang penuh dengan rajah itu jika saja Ki Ageng Pemanahan tidak mencegahnya.  Berulang kali dengan berbagai cara Harya Penangsang mempersilahkan adik kemenakannya itu duduk di kursi, tapi Hadiwijaya tetap tak bergeming.  Akhirnya, dengan amarah luar biasa, Harya Penangsang menduduki kursi tersebut.  Tak pelak, dia terkena rajah dan akan kalah dalam peperangan selama empat puluh hari kedepan.  Pada saat bersamaan, datang sunan Kudus yang tengah melihat Arya Penangsang memegang keris.  Dia member “sasmita” agar keris itu disarungkan, tetapi penguasa Jipang Panolan yang sedang dikuasai amarah ini tidak tanggap sehingga ketika ia memiliki kesempatan untuk menikan Hadiwijaya dengan restu Sunan Kudus, justru keris disarungkan dalam arti yang sebenarnya. Sadar atas kekeliruannya, Arya Penangsang berniat menyusul Hadiwijaya untuk menuntaskan niatnya membunuh adik kemenakan itu.  Tetapi Sunan Kudus mengingatkan bahwa, rajah sakti sudah masuk kedalam tubuhnya sehingga mustahil bisa menang perang dalam empat puluh hari kedepan.  Yang justru harus dilakukan adalah bertapa untuk menghilangkan rajah yang sudah menyatu dengan dirinya.  Empat puluh hari tanpa makan, tanpa minum, tanpa tidur dan tanpa marah adalah harga yang harus dibayar oleh Harya Penangsang.

Sementara itu, di Gunung Danaraja, ratu Kalinyamat tengah menjalankan ritual samadinya bersama dua kemenakannya Rara Semangkin dan Rara Prihatin.  Dua gadiis belia ini adalah putra mendiang Pangeran Prawata yang tewas di tangan Harya penangsang.  Ratu Kalinyamat berada di tempat ini dan melakukan ritual bertapa telanjang (dalam arti sebenarnya) karena upayanya membalas dendam atas kematian adiknya, Pangeran Prawata.  Tekadnya sudah bulat bahwa dia tidak akan mengenakan busana dan kembali ke Kadipaten Jepara sebelum berhasil membalas dendam kepada Harya Penangsang.

Ketika itu Ki Ageng Pemanahan tengah hadir ke Gunung Danaraja dan menghadap Ratu Kalinyamat.  Kedatangan sebenarnya ketempat ini sebenarnya adalah terdorong oleh rasa kasihan dan prihatin atas keadaan Ratu Kalinyamat.  Kakak mendiang Sunan Prawata ini tidak akan mungkin bisa kembali ke Jepara jika tidak ada campur tangan orang lain untuk membunuh Harya Penangsang.  Sebagai seorang perempuan tanpa dukungan politis dari siapapun, mustahil Kalinyamat bisa memenuhi sumpahnya. Keberadaan Semangkin dan Prihatin akan dipergunakan sebagai alat untuk membujuk Sultan Hadiwijaya.  Harapannya, Sultan Hadiwijaya yang sebentar lagi akan hadir ke Gunung Danaraja dipastikan akan jatuh hati kepada Semangkin dan Prihatin.  Skenarionya adalah, kedua gadis ini akan diminta untuk meminta mas kawin yang berupa kepala Adipati Jipang Panolan jika Sunan Hadiwijaya berniat meminangnya.

Berhasilkah Skenario Ki Ageng Pemanahan?  Benarkah nantinya Sultan Hadiwijaya benar-benar jatuh hati kepada puteri mendiang Sunan Prawata? Bersediakan Semangkin dan Prihatin diboyong ke Pajang?  Semua tahu bahwa akhirnya Harya Penangsang gugur di tangan Sutawijaya, Putra Hadiwijaya.  Tapi bagaimana ceritanya?

Ikuti saja ceritanya dalam versi Kethoprak yang dengan manis dibawakan oleh Keluarga Kethoprak Mataram RRI Yogyakarta………….

  1. Harya penangsang Gugur 1
  2. Harya penangsang Gugur 2

BELAJAR AKSARA JAWA DENGAN HANACARAKA VER 1.0

Saya yakin, banyak diantara anda yang sudah memiliki program semacam ini, misalnya pallawa dsb.  Akan tetapi saya merasa tidak ada salahnya apabila saya kembali mengingatkan untuk kembali belajar Aksara Jawa (tentunya bagi yang belum faham) sebagai sarana referensi dan upaya “nguri-uri” budaya jawa yang konon dikenal adiluhung.

Program ini sangat kecil (20,5kb) dan mudah digunakan.  Dikeluarkan oleh Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta lebih dari lima tahun yang lalu.  Saya tidak tahu apakah ini melanggar hak cipta atau tidak tetapi jauh dihati saya cuma sekadar ingin berbagi kepada anda.  Kepada berbagai fihak, mohon maaf.

  1. Program Hanacaraka Ver 1.0 dapat diunduh disini
  2. Install program tersebut seperti biasa
  3. Hanacaraka Ver 1 dapat digunakan

MP3 Wayang Kulit Ki H Anom Soeroto – Gandamana Lahir

Pasewakan agung Negara Pancala tidak seperti biasanya.  Nampak Prabu Suganda atau dikenal pula dengan nama Prabu Gandasena sedang dirundung kesedihan.  Mestinya saat ini dia sedang berbahagia karena tengah menhadapi perayaan tingkeban yaitu upacara 7 bulan usia kehamilan sang permaisuru, Dewi Gandi.

Kendati pada kesempatan itu Prabu Suganda sedang menerima kehadiran Prabu Kuntiboja dari Keajaan Mandura yang berkenan hadir bersama putera mahkotanya yaitu Raden Basudewa, tetapi tidak cukup untuk menutupi kesedihan hati Prabu Suganda.  Disamping itu, akan hadirnya raja Mandaraka yaitu Prabu Mandradipa dan Prabu Pandudewanata dari Astina tidak pula mampu menutup mendung yang menggelayut dihati Raja Pancala ini.

Kesedihan Suami Dewi Gandi ini disebabkan adanya surat dari Raja Candipura yaitu Prabu Bagaswara yang isinya melamar Dewi Gandi.  Jelas ini merupakan tamparan keras bagi Prabu Suganda.  Kendati demikian, dia berusaha untuk bersabar dan menyampaikan kehendak Raja Candipura ini kepada sang permaisurinya.  Jelas Dewi Gandi menolak dan rela mati jika harus menikah dengan raja raksasa ini.  Dia tak hendak menghianati pernihakahannya dengan Prabu Suganda.  Apalagi saat ini dia tengah mengandung buah cinta mereka.

Kejadian ini bukan hanya Prabu Gandi yang tersinggung tetapi juga Prabu Kuntiboja.  Yang menjadi kebimbangan Prabu Sugandi adalah kesaktian Prabu Bagaswara.  Dia sudah memperkirakan bahwa prajuritnya tidak akan mampu menandingi Prajurit Candipura.  Tetapi tidak demikian dengan Kuntiboja.  Sebagai sahabat dan (sekaligus) famili.  Surat Prabu Bagaswara kepada Prabu Suganda seakan menjadi tantangan baginya.  Oleh karena itu, dia bertekad untuk menjadi beteng bagi keutuhan keluarga Prabu Sugandi dan Keraton Pancala.

Pada saat itulah datang utusan dari Candipura yang bernama Raden Bagaspati yang bermaksud menindak lanjuti surat yang telah disampaikan terlebih dahulu yaitu mengenai niat Prabu Bagaswara yang bermaksud melamar Dewi Gandi.  Tidak sabar, surat diterima oleh Raja Mandura, Prabu Kuntiboja.  Mengetahui isi surat dari Prabu Bagaswara, menyulut kemarahan Prabu Kuntiboja.  Terang-terangan dia menantang Prabu Bagaswara mewakili Prabu Suganda.  Raden Bagaspati undur diri untuk melaporkan hasil pisowanan kepada kakaknya.

Sementara itu di Keraton Candipura, Prabu Bagaswara tengah menanti kehadiran adiknya yaitu Raden Bagaspati yang beberapa waktu lalu ditus menyampaikan surat kepada Raja Pancala.  Raden Bagaspati menceritakan hasil pertemuannya dengan Prabu Suganda dan Prabu Kuntiboja.  Mendengar bahwa Raja Mandura pasang badan untuk Raja Pancala menjadikan kemarahan Prabu Bagaswara.  Oleh karena itu ia menyatakan perang baik kepada Mandura maupun Pancala dan bersiap menggempur Keton Pancala.  Raden Basudewa tidak tinggal diam.  Dia bersama Raden Ugrasena telah menyiapkan prajurit untuk menghadapi Serangan dari Kraton Candipura.  Perang tak dapat dihindarkan tetapi sejauh ini kekuatan kedua belah fihak cukup seimbang.  Tetapi ketika Prabu Bagaswara turun gelanggang, Prabu Kuntiboja dapat dikalahkan.

Jauh di lokasi peperangan, terdapat sebuah pertapaan yang bernama Pertapaan Jajarsewu.  Pendeta putri bernama Resi Jarwawati tengah memperbincangkan kegundahan hatinya dengan adik lelakinya yang bernama Resi Jarwadi.  Gegundahan hati sang pendeta puteri ini disebabkan karena mimpi yang diterimanya beberapa malam yang lalu.  Dalam mimpinya Dewi Jarwawati bertemu dengan Raja Astina, Prabu Pandudewanata.  Sejak itu, hatinya tertambat kepada raja muda  putera Abiyasa ini.  Dia bertekad untuk bisa menjadi isteri Prabu Pandu, apapun resikonya.  Oleh karena itu, dia meninggalkan pertapaan Jajarsewu guna mencari lelaki idamannya itu.

Singkat cerita, Resi Jarwawati berhasil bertemu dengan Prabu Pandudewanata yang ketika itu tengah turun dari pertawaan Wukir Retawu, tempat dimana Begawan Abiyasa tinggal.  Resi Jarwawati menyampaikan maksudnya untukk mengabdi menjadi isteri Raja Astina yang gagah perkasa ini.  Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak ternyata Prabu Pandu menolak permohonan Dewi Jarwawati dengan alasan belum ada niat untuk berumah tangga.  Merasa malu atas penolakan Prabu Pandu, Jarwawati ternyata merelakan hidupnya demi cintanya pada Sang Prabu.  Baginya, bunuh diri terasa lebih nikmat.  Resi Jarwawati mati bunuh diri dihadapan Prabu Pandu.

Resi Jarwada yang menyusul kepergian kakaknya, merasa bahwa penyebab kematiannya adalah Prabu Pandu.  Maka dia berniat untuk membalas dendam kepada Prabu Pandu.  Beruntung Semar dapat meredakan kemarahan Resi Jarwada.  Dia menyarankan kepada Resi Jarwada untuk langsung ke Kahyangan Suralaya dan meminta kepada para dewa untuk menghidupkan kembali kakaknya.

Jelas bahwa pada akhirnya Raden Gandamana lahir dari rahim Dewi Gandi.  Kemdudian hari dia menjadi patih di Negara Astina.  Dia rela meninggalkan haknya untuk menjadi Raja di Pancala tetapi lebih suka mengambdi sebagai patih di Negara Hastina. Kemudian hari, banyak cerita yang mengubah kehidupan Pandawa dan Kurawa diwarnai oleh tokoh yang satu ini.  Tak kurang, Raden Kumbayana yang harus rusak wajahnya oleh Gandamana.  Kemudian Fitnah Sengkuni kepada Patih Gandamana yang menjadikannya terusir dari Negara Astina dimana pada akhirnya kedudukan patih berppindah kepada Sengkuni.  Tokoh ini juga mengambil peran besar dalam perang Pamuksa, Perang besar antara Astina dengan Pringgondani. Tapi bagaimana ceritanya kasatria hebat ini lahir?  Bagaimana Nasib Resi Jarwawati yang buuh diri?  Berhasilkah Prabu Bagaswara mempersunting Dewi Gandi?  Apa peran Prabu Pandu dalam kponflik besar di Negeri Pancala? Dan Masih banyak lagi pertanyaan yang hanya akan terjawab apabila anda mendengarkan sampai tuntas pagelaran Gandamana Lahir ini,

Selamat Menikmati

  1. KI H Anom Soeroto – Gandamana Lahir_1a
  2. KI H Anom Soeroto – Gandamana Lahir_1b
  3. KI H Anom Soeroto – Gandamana Lahir_2a
  4. KI H Anom Soeroto – Gandamana Lahir_2b
  5. KI H Anom Soeroto – Gandamana Lahir_3a
  6. KI H Anom Soeroto – Gandamana Lahir_3b
  7. KI H Anom Soeroto – Gandamana Lahir_4a
  8. KI H Anom Soeroto – Gandamana Lahir_4b
  9. KI H Anom Soeroto – Gandamana Lahir_5a
  10. KI H Anom Soeroto – Gandamana Lahir_5b

MP3 Kethoprak Mataram – Rara Jonggrang.


Sebenarnya, dia bukanlah sosok misterius.  Dia sangat terbuka tentang banyak hal.  Kecintaan dan pengetahuannya tentang Kesenian Jawa, tak perlu diragukan.  Betapa tidak, bukan masalah uang tetapi lebih pada komitmennya untuk nguri-uri kesenian yang adiluhung ini.  Tetapi wanti-wanti dia berpesan kepada saya untuk tidak perlu menceritakan siapa dirinya. Dia hanya ingin berbagi, tak lebih.

 Jauh hari dia sudah memberitahukan kepada saya bahwa dia akan mengirimkan “beberapa” judul wayang dan kethoprak guna melengkapi materi dalam blog yang sangat sederhana ini.  Oleh karenanya, ketika siang tadi datang kiriman dari teman saya ini,tak terlalu mengejutkan.  Yang membuat terhenyak, adalah jumlahnya.  Yang dia katakan “beberapa” itu ternyata sangat banyak bagi saya.  Misalkan itu dalam bentuk kaset pita, saya harus membelinya dengan harga yang tidak sedikit.  Duabelas judul adalah “harta karun” yang luar biasa besarnya.  Jika satu lakon berharga Rp. 90.000, maka  sebelas lakon wayang dan satu lakon kethoprak bernilai Rp. 1.000.000,-.  Ah, sudahlah.  Jika bicara angka bisa saya pastikan dia akan menegur saya pada kesempatan pertama ketika dia membaca postingan ini.  Anda penasaran judul apa saja yang dia kirimkan pada saya?

  1. KI H Anom Soeroto – Wahyu Tejamaya.
  2. KI H Anom Soeroto – Wahyu Seta Sastra Kencana Purbaning Katon
  3. KI H Anom Soeroto – Setyaki Lahir
  4. KI H Anom Soeroto – Babad Wanamarta
  5. KI H Anom Soeroto – Kakrasana Wisudha (Wasi Jaladara)
  6. KI H Anom Soeroto – Babad Wanamarta
  7. KI H Anom Soeroto – Dewi Sri Mulih
  8. KI H Anom Soeroto – Wahyu Senapati
  9. KI H Manteb Soedarsono – Kresna Duta
  10. KI H Manteb Soedarsono – Bima Suci
  11. KI H Manteb Soedarsono – Dewa Ruci
  12. Kethoprak Mataram – Rara Jonggrang.

 Saya akan berusaha untuk berbagi kepada anda dengan memposting judul-judul tersebut secara bertahap dengan harapan andapun bisa menikmati kebahagiaan yang saya rasakan.  Saya akan memulainya dengan Kethoprak Mataram, Rara Jonggrang.

Beberapa waktu yang lalu saya pernah mengunggah lakon ini tetapi jauh dari kata sempurna.  Bukan saja hasil ripping tetapi tetapi juga masalah cerita.  Cerita yang kali ini saya unggah bisa dipastikan akan melengkapi postingan saya terebut.

Cerita dimulai dengan  adegan di dalam taman Keraton Wanasegara.  Adik perempuan Prabu Gupala, Raja Wanasegara yang bernama Rara Jonggrang tengah dilanda kesedihan.  Mengingat kakaknya harus membuka front dengan Kraton Pengging.  Perang ini dipicu oleh keinginan Prabu Gupala yang bermaksud memperisteri Dewi Candrawati, permaisuri Raja Pengging.

Tiba-tiba, rara Jonggrang mendengar khabar bahwa Prabu Gupala gugur dalam pertempuran tersebut.  Disusul kehadiran Raden Bandung Bandhawasa putra raja sekaligus panglima perang Keraton Pengging yang berniat mengambil pampasan perang, termasuk diantaranya rara Jonggrang. Tetapi keluguan Bandung Bandawasa yang ternyata jatuh hati pada rara Jonggrang, dimanfaatkan oleh Adik Prabu Gupala ini untuk membalas dendam kematian kakaknya.  Rara Jonggrang berpura-pura mencintai Bandung Bandhawasa.  Ia meminta kepada Bandung untuk mengambilkan gatheng kencana, kedalam sumur.  Tedorong oleh perasaan cintanya, Bandung memenuhi permintaan Rara Jonggrang.  Begitu Bandung masuk kedalam sumur, Rara Jonggrang segera memerintahkan prajurit Wanasegara untuk menutup sumur tersebut.  Tujuannya jelas.  membunuh Bandung Bandhawasa.

Sementara itu, jauh dipesisir Parangtritis. Dewi Daruwati tengah menyiapkan makan siang anak lelakinya yang bernama Raden Baka.  Kendati berwajah tampan, Raden baka memiliki kelainan.  Dia memiliki taring sebagaimana layaknya seorang raksasa.  Karena terlalu tergesa akibat perntah Baka yang merasa sudah sangat lapar, ibu jari Dewi Daruwati teriris pisau yang digenggamnya.  Celakanya daging irisan ibu jari dan darah Dewi Daruwati terbawa dalam piring makanan yang disiapkan untuk Baka.  Anehnya, ketika tersantap justru Baka sangat menyukainya.  Saking kepinginnya memakan darah dan daging manusia, sampai-sampai dia memaksa ibu dan kakeknya untuk dimakan bila dia tidak mencarikan santapan yang berupa daging manusia.

Mempertimbangkan akibat buruk apabila tidak memenuhi keinginan Raden Baka, maka sang kakek menyarankan anak muda ini untuk pergi ke Karaton Wanasegara.  Dikatakan bahwa disana tengah terjadi pertempuran besar anatara Keraton Pengging dan Keraton Wanasegara.  Bisa dipastikan akan banyak diketemukan daging manusia.  Dengan diantar oleh abdinya yang bernama Dhandhanggula, Baka berangkat ke Keraton Wanasegara.

Rara Jonggrang yang berniat membunuh Bandung Bandhawasa ternyata tidak berhasil karena ternyata Bandung Bandhawasa bisa keluar dengan selamat dari dalam sumur.  Terdesak oleh kenyataan ini, Rara Jonggrang bermaksud melarikan diri dari Bandung Bandhawasa.  Disaat Bandung tengah tertidur, Jonggrang melarikan diri.  Ditengah hutan dia bertemu dengan Raden Baka. Tak berbeda dengan Bandung, Bakapun jatuh hati pada putrid Wanasegara ini.  Kadaan ini dimanfaatkan oleh Rara Jonggrang untuk mengadu domba antara Baka dan Bandung.  Terjadi pertarungan antara dua pemuda sakti ini.

Siapa sebenarnya Bandung Bandhawasa? Siapakah Baka yang meski berwajah tampan tetapi memiliki taring dan doyan daging manusia?  Saya percaya, banyak diantara anda sudah mengetahui akhir cerita ini.  Inilah legenda terjadinya Candi Prambanan dan Patung rara Jonggrang.  Tetapi bagaimana rincian cerita versi kethopraknya?  Pasti anda penasaran juga.  Nah, kami persilahkan kepada anda untuk menikmatinya.  Mohon maaf, atas nama bandwidth yang terbatas, saya mengkompres habis-habisan file dari rekan saya tadi.  Tujuannya jelas.  Agar mudah untuk diunggah!

  1. Rara Jonggrang _1
  2. Rara Jonggrang_2
  3. Rara Jonggrang_3
  4. Rara Jonggrang_4

Video Wayang Kulit Ki Manteb Soedarsono – Gatutkaca Wisudha

Sampun sawetawis wekdal, kadang kinasih kula Mas Bambang Supriyadi mboten ketingal rawuh ing blog punika ingkang saperlu paring lampahan enggal.  Raos kapang saking peparingipun punika, dumadakan pikantuk jampi.  Kalawingi mboten kanyana panjenenganipun kepareng paring link enggal ingkang arupi video ringgit purwa kanthi lampahan Gatutkaca Wisudha, dening Ki H Manteb Soedarsono. Emanipun, fileipun ageng-angeng udakawis 50 MB.  Dados kangge kula ingkang bandwid internetipun pas-pasan cetha rekaos sanget bandhe ngundhuh.  Nanging, kanthi alon2 wusana saged kaundhuh sedaya.

Ningali pagelaran ringgit purwa Ki Manteb Sudarsono, panci kraos “mewah”.  Geber ukuran 9 meter, gangsa jangkep slendro pelog mawi tambahan “percusi”, ringgit cakrak kanthi prada emas, waah…. Jian nyamleng tenan. Upami wonten kuciwanipun, mbok menawi saking “juru kameranipun” ingkang mboten migatosaken raos nalika mendhet gambar.  Sindhen, gangsa lan papan sanes ingkang mboten perlu, kadhang kraos ngganggu “keasyikan” kita ningali ringgit.  Nanging mboten dados punapa.

Beneh kaliyan padatan, lampahan punika wonten “ambetipun” lampahan banjaran ingkang asring kagelar dening sawargi Ki Nartosabdo.  Nanging ketingalipun, pak Manteb saged mbentenaken ing antawisipun pagelaran ingkang kangge mripat, kaliyan ingkang kangge talingan.  Lampahan banjaran ingkang asring ginelar dening Pak Narto suwargi, katujokaken kangge kaset (audio), mila rancaging lampahan tinata kanthi langkung premati.  Kosok wangsulipun, Pak Mantep sengaja nggelar lampahan punika kanthi konsentrasi video, kangge dipun tingali.  Awit saking punika, nadyan ing pagelaran “audio” mboten ketawis ginanipun adegan Beksan Srimpi ing purwakaning lampahan, sakestu kraos resep.

Kados ingkang sampun, Dhalang Setan punika ugi migatosaken babagan teknologi.  Wiwit tata lampu, audio effect lsp dipun garap kanthi premati.  Wosipun mriksani pegalaran Pak Manteb ing lampahan punika sangat negsemaken.  Kangge bab punika, kula makili kanca-kanca sutresna budaya ngaturaken gengging panuwun konjuk dhumateng Mas Bambang Supriyadi.

Cariyos kawiwitan ing Kayangan Salendrabawana nalika Bethara Guru ngawontenaken pasewakan ageng ingkang kaadep dening para dewa, kalebet Bathara Narada.  Wosing gati pasewakan, ngrembag kawontenan Kahyangan ingkang nembe salebeting mendhung lelimengan amargi pangamukipun Patih Sekipu, utusanipun Prabu Kala Pracona.  Sedaya para dewa mboten kwagang hanandhingi kridhanipun Patih Sekipu.

Sasampunipun ngawontenaken pirembagan sawetawis, wusana katetepaken bilih ingkang kaanggep badhe kwagang hanandhingi raseksa ingkang sekti mandraguna punika mboten sanes kejawi Jabang Tetuka, putranipun Raden Werkudara ingkang patutan kaliyan Dewi Arimbi.  Sinaosa nembe kemawon linahiraken, nanging pranyata Jabang Tetuka mboten saged linebur dening Patih Sekipu.  Emanipun, Putra Raden Wrekudara punika dereng saged males amargi taksih bebayi.  Awit saking punika, supados saged males kridhanipun Patih Sekipu, Jabang Tetuka kacemplungaken ing kawah Candradimuka sinartanan sedaya pusaka pethingan kagunganipun dewa, kajedhi dadosa satriya pinunjul ingkang bade dados jagoning dewa, nranggulangi panantangipun Patih Sekipu dan Prabu Kalapracona.

Awit saking dayaning pusaka lan urubing latu ing kawah Candradimuka, Jabang Tetuka kadi ginege dados jejaka selawung-lawung lan sekti mandraguna. Kasektening Raden Gatutkaca amargi pinaringan pusaka ingkang arupi Caping Basunanda, Kotang Antakusuma lan Trumpah Padakasarwa.  Jabang tetuka ugi panaringan tambahan asma, inking ing tembenipun asma punika ingkanga asring kaagem lan kasebataken inggih punika Raden Gatutkaca.

Kadospundi babaring lampahan Gatukaca Wisudha, kasumanggaaken dhumateng para sutresna budaya.  Nuwun.

*) Bagi Aanda yang kesulitan mengunduh file youtube, kami persilahkan mengunduh file asli dari Mas Bambang Supriyadi dengan kualitas yang lebih bagus, disini…………

Dhalang Poer – Pejabat Nggedebus!

SIDHANGMU DUDU SIDHANGKU

Namanya Dalang Poer.  Entahlah, saya tidak tahu siapa nama lengkapnya.  Apakah Poerwanto, Poernomo, Poerwadi, atau Poer yang lain.  Gelar Dhalang  didepan namanyapun saya juga tidak bisa menjelaskan apakah memang dia seorang dhalang, atau profesi lain yang seirama dengan dalang, ataukah “paraban” karena kepintarannya mengolah gendhing dan musik serta mbabar lelakon sayapun juga tidak tahu.  Yang pasti, entah kenapa saya selalu tertarik dengan harya seniman yang satu ini.  Padahal, dengan pengetahuan music standard saja kita bisa tahu bahwa tidak ada yang istimewa dalam karya musiknya.

Mungkin kekuatan Mas Poer adalah pada kemampuannya mengartikulasikan sebuah lakon dalam syair lagu dengan cara yang ringan dan sederhana.  Bahkan lebih mendekati “guyon parikena”.  Oleh karenanya saya berusaha untuk bisa mengenal lebih dekat dengan sosok eksentrik ini.

Tak gampang tentunya mengenal sosok yang satu ini apalgi memasukkan nama saya dalam next list temannya.  Hal ini bukan karena beliau yang tertutup tetapi lebih karena minimnya refrensi saya tentang beliau ditunjang lemahnya pengetahuan saya tentang music dan ilmu-ilmu social.  Setelah gagal mendapatkan informasi dari google dan wekipedia, jelan sempit terbuka didepan saya.  Dia memiliki account di facebook.  Persetan dia menjawab sendiri atau diwakili asistennya, saya add untk masuk dalam list fiend saya.  Dengan bangga saya katakana pada anda, seniman nyentrik ini adalah teman saya.

Beberapa waktu yang lalu, saya mengunggah salah satu karyanya yang cukup familier diikalangan penggemar music campursari.  Meski tak seheboh Kreteg Nunengan, Kudu Misuh telah mengusik kesadaran saya, bahwa Mas Poer tengah bercerita tentang kenyataan hidup dengan cara yang paling sederhana disbanding seniman manapun.  Kegetiran hidup di ulas dengan cara lugas, tegas, ora nggagas, blas!!!  Belum lagi bosan dengan lagu itu, seorang teman memberikan sebuah video klip Dalang Poer berjudul Pejabat Nggedebus, Sidhangmu dudu Sidhangku.

Kali ini dia tidak lagi menyindir tetapi menohok.  Sayangnya kenyataan yang kita hadapi persis sama dengan apa yang ada di lagunya : “…… rakyat njerit kowe ora krungu………”  Begitulah.  Mereka bebal sehingga di kalangan local kendahati “mereka” juga jagong dan mendengarkan lagu itu pada acara hajata, tak tampak samasekali tertohok.  Mereka seakan tak mendengar atau memang tak mampu mendengar?  Budheg atau ndableg bagi saya sama saja.  Nuraninya tak mampu mencerna sebuah sindiran.  Kupingnya tak mampu mendengar teguran.  Hatinya telah berubah jadi batu.

Ah, biar mau berbusa-busa mulut kita membicarakan dia, hasilnya akan sama saja : “……………..Isine mung ndum-ndumen kursi, rebutan jatah wae!  Rumangsaku kowe kok mung rembugan butuhmu dhewe! Njur kepriye?”

Nikmati saja lagunya dan pastikan anda tidak milih dia lagi di pemilu nanti, meski dia janjikan pendidikan, kesehatan, sandang pangan dan papan gratis sekalipun.  Percayalah, paling-paling juga Nggedebus!

Untuk Mas Pur, Selamat berkarya!

SIDHANGMU DUDU SIDHANGKU

By : Dhalang Poer

Jare wakile rakyat, kudune betah tirakat
Yagene nalika rakyat melarat kowe malah nekad mupakat
Sapa sing ngongkon kowe rapat njaluk undhakan gaji
Sapa sing ngongkon kowe njaluk mobil dhinese kuwe
Sapa sing ngongkon kowe nggolek utangan luar negeri
Gumun meneh utang ora suda ning kok malah ndadi, dhuwite nyang ndi?
 
Apa lali jaman pemilu, kowe janji arep mikir aku
Nanging bareng wis oleh bangku, rakyat njerit kowe ora krungu
Apa bisu?
Lho….Malah turu! Katon Wagu! Kaya Aaaaku.
Hussh… Saru!!!
 
 
Agenda rapat digawe, nyang nyangan maneh isine
Kowe sing neng kana, kowe sing neng kene, rakyate among nyawang wae
Apa sing kok rembug eneng sidhang sing gedhe ragade?
Antarane putusan lan rakyat ra ana sambunge!
Isine mung ndum-ndumen kursi, rebutan jatah wae!
Rumangsaku kowe kok mung rembugan butuhmu dhewe! Njur kepriye?
 
Apa lali jaman pemilu, kowe janji arep mikir aku
Nanging bareng wis oleh bangku, rakyat njerit kowe ora krungu
Apa bisu?
Lho…Malah turu! Malah
Nesu….Katon Wagu!  Kaya Asu!!!!!
Huss… Saru!!!
Sidhang-sidhangmu susu sidhangku, dulur!
Rapat-rapatmu dudu rapatku.
Pasal-pasalmu dudu pasalku, dulur!
Kursi-kursimu mbiyen kursiku
Seneng-senengmu, sambat sebutku, dulur!
Sorak-sorakmu, lara laparku
Seneng-senengmu, sedhih tangisku, dulur!
Pesta-pestamu, ngelak luweku!
Janjine….janjine!
Mitro…. Nggedebus!

Bagi yang kesulitan download Youtube, silahkan melalui link berikut ini

Video Tayub Sragen – Geyong Kenthil

Jarang orang yang mengetahui, juga saya, siapa sebenarnya nama perempuan ini.  Dia dikenal dengan nama Suji.  Sinden Tayub Sragen yang cukup legendaris dan berjaya pada masanya.  Dia menjadi ikon Tayub cengkok Sragen karena suaranya yang khas, renyah dan apa adanya.

Anda tak akan menemukan vebrasi yang lembut ala penyanyi kroncong atau seriosa.  Alunan suaranya tidak melambangkan apapun kecuali sebuah kesederhanaan yang dikemas dalam bentuk kesenian yang sangat merakyat.  Anda juga tak akan menemukan wajah lembut khas kejawen seperti Sundari Soekotjo.  Berhidung mancung, bibir tipis merekah dan sanggul yang tak terlalu besar ditopang pundak ramping yang dibalut kain broklat lembut warna pastel.

Suji adalah sosok seniwati pinggiran yang matang karena hempasan jaman dan tumpukan kesahajaan yang tidak dipaksakan.  Dia tampil lugas apa adanya dan nyaris tanpa beban.  Dia menyanyi, menyanyilah dia tanpa hantu benar salah dan baik buruk.  Dia menyanyi karena memang harus menyanyi.  Selain Cao Glethak, Angleng, Celeng Mogok, dan Orek-orek, Geyong Kenthil adalah judul yang sering direquest para penayub.  Iramanya rancak, syairnya lugu dan ringan meski kadang terkesan nakal.  Coba perhatikan……….

…. Geyong mas, kenthil. Kenthil ya mas, geyong

Geyong ya mas, kenthil  ya mas ya.

Gilo-gilo walohe.  Nora kelong cukup butuhe.

Aja ngono lho dhik, aja ngono. Piye gek kepiyem, dhik.

Semarang kaline banjir, aja sumelang yen ra tak pikir

…. Geyong mas, kenthil. Kenthil ya mas, geyong

Geyong ya mas kenthil, ya mas ya.

Gilo-gilo walohe.  Karangpandan tawangmangu,

awan kencan bengi ketemu

Hanya begitu, dan cuma begitu.  Jika ada penambahan atau syair yang lain, hanyalah mengganti cakepan di akhir tiap baitnya.

…. Jarik kawung diwiru-wiru, atine bingung awakku kuru

Nonton kethek mangan gadhung, cedhak ledhek rawani ngam…pyang

Mlaku ngalor kepethuk uler, kathokmu kombor nggo buntel lemper

Nandur rawe neng galengan, ngesir kowe keleleren

Geyong Walohe, kenthil kruntile….

Nganggo belor pecahan gendul, mlaku ngalor, bali ngidul…

Dina minggu ora prei, tak tunggu-tunggu kok ora kok wehi….

 

Geyong Kenthil…… Aneh sekali judul itu.  Pengucapannyapun Cuma di bolak balik. Geyong mas kenthil. Kenthil mas geyong. Geyong mas kenthil, kenthil mas geyong…. Sulit sekali mencari maknanya.  Geyong adalah personifikasi sebuah benda yang menggantung dan bergoyang goyang jika tangkainya bergerak, sedang kenthil identik dengan benda yang senantiasa menempel kemanapun.  Geyong kenthil, meski menggantung dan bergerak (mungkin terasa ribet) tapi dia senantiasa menempel dan ikut kemanapun.  Geyong Mas, Kenthil….. Ha….ha…ha….

Ah, sudahlah.  Tak usah anda fikirkan bagaimana syair Geyong Kenthil dan apa maknanya. Nikmati saja!  Dan pastikan anda membayangkan seorang Suji, yang saya tahu rajin bekerja disawah.  Kulitnya hitam, ototnya kekar.  Maka ketika dia harus nyindhen dan terpaksa memakai bedak, akan kontras dan kadang luntur menampakkan gurat-gurat hitam karena bedak yang luntur oleh keringat.

Oh, Ya.  Kabar terakhir bu Suji telah pindah dari Dukuh Mentir, Pelok Sepur, Desa Bener Kecamatan Ngrampal, Kabupaten Sragen ke Desa Srimulyo, Kecamatan Gondang.  Jauh dari kehidupan glamour artis lokal.  Ponsel, Spa, Senam Kebugaran,??? Ah, jangan tanyakan itu.  Bu Suji adalah warga desa biasa yang sekarang sering menjadi tukang adang (menanak nasi) di acara hajatan.  Tetapi bagaimanapun dia adalah ikon Tayub Gaya Sragen.  Suaranya masih terselamatkan!  Sejujurnya, saya lebih bangga Bu Suji yang berasal dari Sragen, bukannya Jupe atau Dewi Persik yang jelas lebih cantik.

Ah, Ngelantur….  Ayo mas… Geyong, kenthil.  Geyong Mas, Kenthil.  Kenthil Mas Geyong…..

Bagi yang kesulitan download yaoutube, silahkan memalui link berikut ini

MP3 Wayang Kulit KI Narto Sabdho – Ramayana I (Sri Rama Lahir)

Sulit rasanya membuat synopsis lakon wayang yang dibawakan oleh Ki Nartosabdo.  Bukan pada jalan cerita, tetapi lebih pada darimana synopsis ini harus dimulai.  Dari cerita, mudah ditebak.  Kelahiran Sri Rama dalam rangkain epos besar Ramayana bukanlah cerita yang asing bagi anda. Bahkan jalan panjang Sri Rama sejak lahir, menikah dengan Dewi Shinta, dibuang ke hutan, Penculikan Shinta oleh Rahwana sampai Brubuh Alengka adalah cerita yang pasti sudah melekat dihati dan fikiran anda.  Tetapi menggelar cerita (semacam) banjaran sejak sebelum kelahiran Raden Rama sampai pembuangannya ke hutan, bukanlah kerja gampang.  Tapi begitulah Ki Nartosabdho.  Beliau tidak kehabisan cara untuk membuat cerita menjadi sedemikian menarik.  Belum lagi, banyaknya wewarah yang diberikan sang maestro hampir disepanjang cerita, sungguh merupakan karya brilliant yang layak diapresiasi.

Oleh karena itu, sengaja saya hanya akan mengulangi cerita kelahiran Sri Rama tersebut sebatas kemampuan saya.  Permohonan maaf perlu saya sampaikan jika ternyata dengan cerita ini justru akan mengecilkan keindahan cerita ini.

Dimulai dengan pasewakan agung Negara Ayodya. Prabu Sri Dasarata tengah tedhak siniwaka dihadap oleh para  nayakapraja diantaranya Patih Tamenggita dan Resi Wasista.  Nampak sang prabu tengan dirundung badra wirawan. Badra berarti rembulan dan wirawan berarti mendung.  Ibarat rembulan tertutup mendung Prabu Dasarata tengah dilanda kesedihan mendalam.  Kesedihan Sang Prabu ini disebabkan tak lain karena hingga saat ini beliau tak juga dianugerahi keturunan kendati telah mempunyai 3 orang isteri, semantara usia beliau semakin senja.  Siapa nanti yang akan meneruskan sejarah memegang kekuasaan di Ayodya adalah alasan utama kenapa Prabu Dasarata merasa sedih.

Ketika hal ini diungkapkan kepada Patih Tamenggita dan Resi Wasista, kedua nayaka andalan Ayodya ini, menyarankan agar Sang Prabu menenangkan diri, bertapa memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar segera diberikan putera dari ketiga permaisurinya.  Dilain fihak, ada sesuatu yang menarik untuk diceritakan adalah hubungan antara ketiga permaisuri Prabu Dasarata.  Isteri pertama Sang Dasarata adalah Dewi Sukasalya atau Dewi Ragu yang adalah isteri Begawan Rawatmaja yang tewas ditangan Prabu Dasamuka. Isteri kedua adalah Dewi Kekeyi.  Sedangkan Isteri ketiga adalah Dewi Sumitra.  Kendati dari luar nampak harmonis, tetapi pada dasarnya hubungan ketiganya sungguh jauh dari anggapan itu.  Terlebih Dewi Kekeyi yang memang memiliki watak kurang terpuji.

Terkabul permohonan prabu Dasarata. Setelah melakukan semedi Dewi Sukasalya atau Dewi Ragu mengandung.  Pada waktunya sang bayi lahir laki-laki, diberi nama Raden Regawa atau Raden Rama.  Begitu sayangnya Sang Prabu pada putera pertamanya sampai-sampai dia telah dibuatkan taman yang indah untuk menyenangkan calon putera mahkota itu.

Dewi Kekeyi merasa tidak suka atas kelahiran Regawa. Dia yang pada dasarnya memiliki watak iri dan dengki merasa tidak mendapatkan perhatian dari Sang Prabu atas lahirnya bayi yang lahir dari rahim Dewi Ragu. Dia berupaya sekuat tenaga untuk senantiasa untuk mendekati Sri Dasarata dan memohon agar jika pada saatnya dia berhasil mengandung putera Dasarata, nantinya diangkat menjadi Raja Ayodya.  Terbawa rasa cintanya yang begitu besar kepada Dewi Kekeyi,  Dasarata mengabulkan permohonan permaisuri yang iri hati ini.  Keputusan Dasarata inilah yang nantinya akan memicu permasalahn besar di Ayodyapala karena tak lama setelah itu Dewi Kekeyi mengandung.  Pada saatnya dari rahimnya lahir bayi laki-laki yang kemudian diberi nama Raden Barata.

Sungguh kenikmatan luar biasa dirasakan Prabu Dasarata.  Setelah sekian lama belum memiliki keturunan sekarang dua isterinya sudah melahirkan puteranya.  Kebahagiaan Raja Ayodyapala ini seakan sempurna, disaat isteri ketiganya yaitu Dewi Sumitra juga telah melahirkan putera laki-laki yang kemudian diberi nama Raden Lesmana Widagda atau Raden Sumitra Tanaya.  Tak hanya itu, dua tahun kemudia Dewi Sumitra melahirkan lagi seorang bayi laki-laki yang kemudian diberi nama Raden Satrugena.

Singkat cerita, keempat putera Dasarata telah dewasa.  Mereka tumbuh sebagai anak yang cerdas, sakti mandraguna dan berbudi pekerti luhur.  Hal inilah yang semakin membesarkan hati Prabu Dasarata. Sampai pada suatu hari, disaat pasewakan agung Negara Ayodya yang dihadiri oleh para priyagung dan para putera, datang seorang pertapa dari Hutan Dandaka yaitu Begawan Yogiswara dan Begawan Mitra.  Kedatangan mereka terdorong oleh adanya kerusuhan yang terjadi di desa sekitar Hutan Dandaka akibat tingkah para raksasa anak buah Prabu Dasamuka dari Alengka.

Sadar sebagai raja yang harus melindungi negaranya dari ancaman, maka Prabu Dasarata memerintahkan Prabu Rama dan Raden Lesmana untuk menuju ke Hutan Dandaka guna memusnahkan para perusuh yang mengganggu ketenteraman Negara Ayodya tersebut.

Dari sini cerita menjadi semakin menarik.  Karena Dasarata hanya memerintahkan Putera yang lahir Dewi Sukasalya dan Putera Dewi Sumitra.  Dia melarang ketika Barata ingin ikut Raden Rama Ke Hutan Dandaka.  Apakah semua ini ada hubungannya dengan janji Prabu dasarata kepada Dewi Kekeyi ketika itu? Kenapa Raden Lesmana yang harus ikut Raden Rama?  Bukankan Raden Satrugena si bungsu justru memiliki kesaktian luar biasa?  Jawabnya akan anda temukan setelah tuntas anda mendengarkan MP3 Wayang Kulit Ki Narto Sabdo dalam Cerita Ramayana I (Sri Rama Lahir) berikut ini. Selamat Menikmati.

  1. Ramayana I (Sri Rama Lahir)1a
  2. Ramayana I (Sri Rama Lahir)1b
  3. Ramayana I (Sri Rama Lahir)2a
  4. Ramayana I (Sri Rama Lahir)2b
  5. Ramayana I (Sri Rama Lahir)3a
  6. Ramayana I (Sri Rama Lahir)3b
  7. Ramayana I (Sri Rama Lahir)4a
  8. Ramayana I (Sri Rama Lahir)4b