Arsip Bulanan: Desember 2011

Ki H Anom Soeroto – Lahire Palasara

Berbeda dengan Mahabarata, yang menarik garis keturunan (silisilah) Pandhawa dan Kurawa dari darah Ksatria yang dimulai dari Prabu Kuru – Pratipa – Dusmanta – Santanu – dan kemudian bermuara kepada Bisma, versi Pustaka Raja Purwa, kakek buyut Pandhawa dan Kurawa bedarah Brahmana.  Dimulai dari Resa Kamunayasa – Sekutrem – Sakri – Palasara – Abiyasa.  Setelah Abiyasa dan Bisma inilah, silislah Pendhawa dan Kurawa menjadi semakin jelas dan praktis tidak ada perbedaan.

Nah, kali ini Jaman Semana memposting cerita menarik kelahiran kakek buyut Pandhawa yaitu Bambang Palasara.  Lelaki inilah yang dimudian hari menurunkan Abiyasa yang kita kenal sebagai penentu perjalanan sejarah perang saudara para darah Kuru, Perang Bharatayudha.  Sepeninggal mendiang Prabu Santanu Negara Hastina sudah nyaris berakhir, dengan meninggalnya Raden Wicitra dan Wicitrawirya di medan pertempuran.  Dua orang janda yang ditinggalnya belum sempat mengandung darah Santanu sampai kemudian Abiyasa bersedia menikahi kedua janda ini demi kelangsungan daranh Bharata dari garis Darah Brahmana.  Peran Palasara (banyak juga yang menyebut Parasara) menjadi sedemikian penting karena dialah yang kemudian menurunkan manusia besar, Abiyasa.

Dikisahkan, Prabu Parta Wijaya, Raja Agung Keraton Tabelasuket benar-benar merasa gundah karena putri tunggalnya yakni Dewi Partini tiba-tiba menghilang dari kaputren.  Kesedihan sang Prabu bukan saja karena Dewi Partini adalah puteri satu-satunya, tetapi juga karena Dewi Partini tengah hamil.  Disamping itu, kepergian menantunya yaitu Bambang Sakri tanpa pamit beberapa saat sebelum kepergian Dewi Partini semakin memperberat kesedihannya.  Gampang diduga bahwa kepergian Dewi Partini semata ingin mencari keberadaan suaminya. Pertanyaannya adalah, kemana?  Putus asa dengan upaya lahir yang telah ditempuh Prabu Partawijaya dengan mengerahkan semua prajuritnya untuk melacak keberadaan sang putrid, maka dia bertekad untuk mencari upaya batin dengan menanyakan ke pandhita linuwih dari Gunung Saptaarga yang bernama Resi Kamunayasa sekaligus berguru kepadanya.

Jauh diseberang lautan, Prabu Jayalengkara raja Purakancana tengah mengungkapkan kemarahan dan kekecewaannya.  Pasalnya, cintanya kepada Dewi Partini harus patah ditangan seorang pemuda gunung bernama Bambang Sakri.  Ketika itu, hamper saja dia berhasil merebut Dewi Partini dari Tangan Prabu Partawijaya dengan jalan kekerasan.  Sayangnya, disaat yang tapat Raja Tabelasuket ini mendapatkan pertolongan dari Bambang Sakri yang kemudian diambil sebagai anak menantu dengan menikahkannya dengan Dewi Partini.  Keputus asaannya khirnya bermuara pada sang guru yaitu Resi Dwakara di Pertapaan Tegalbandan.  Dia bertekad untuk mempertebal ilmu kanuragan guna kembali menantabf Bambang Sakri sekaligus merebut Dewi Partini.

Didepan gurunya, Prabu Jayalengkara menceritakan perjalanan cinta dan perjuangannya mempersunting Dewi Partini yang harus berakhir dengan kekecewaan.  Begawan Dwakara yang sebenarnya murid Saptaarga itu menemukan jalan yang jitu untuk menyelesaikan masalah ini.  Dia berniat mengadu domba antara Prabu Partawijaya dengan Bambang Sakri.  Begitulah maka dengan kesaktiannya dia bisa membelokkan perjalanan Prabu Partawijaya yang berniat ke Saptaarga untuk bisa hadiri dihadapannya.  Kepada Prabu Partawijaya dia mengaku sebagai resi Kamunayasa dan menjelaskan bahwa jodoh Dewi Partini adalah Prabu Jayalengkara dan bukan Bambang Sakri.  Lebih jauh dia menegaskan, bahwa sumber masalah yakni Bambang Sakri harus dimusnahkan.  Gelap mata oleh bujukan Resi Dwakara  Raja Tabelasuket ini segera mencari Bambang Sakri dan berniat menghabisinya.

Di Pertapaan Saptaarga, Begawan Kamunayasa tengah menyesali kepergian cucunya tercinta, yaitu Bambang Sakri.  Pemuda ini pergi dari pertapaan akibat dimarahi oleh ayahandanya, Bambang Sakutrem karena menolak menikah.  Sebenarnya kemarahan Sakutrem ini semata karena keluhan sang ayah, Resi Kamunayasa yang ingin segera melihat ducunya yang sudah dewasa segera menikah.  Tetapi Bambang Sakutrem terlalu keras memarahi anaknya, sampai-sampai dia tega mengusir anak lelaki satu-satunya itu.  Sekarang tinggalah penyesalan pada diri Bambang Sakutrem melihat kesedihan hati ayahandanya.  Itulah sebabnya dia segera memohon pamit untuk segera mencari keberadaan Bambang Sakri dan membawanya kembali menghadap Sang Kamunayasa.

Bagaimanakah kisah selanjutnya dapat anda ikuti setelah tuntas mendengarkan cerita Lahire Palasara oleh KI H Anom Soeroto

  1. Ki H Anom Soeroto – Lahire Palarsara_1a
  2. Ki H Anom Soeroto – Lahire Palarsara_1b
  3. Ki H Anom Soeroto – Lahire Palarsara_2a
  4. Ki H Anom Soeroto – Lahire Palarsara_2b
  5. Ki H Anom Soeroto – Lahire Palarsara_3a
  6. Ki H Anom Soeroto – Lahire Palarsara_3b
  7. Ki H Anom Soeroto – Lahire Palarsara_4a
  8. Ki H Anom Soeroto – Lahire Palarsara_4b

Ki Nartosabdho : Sawitri – Setyawan

Barangkali tidak terlalu salah pendapat sebagian orang bahwa hidup setahun dengan cinta tulus lebih bermakna dari pada seumur hidup bersama dengan orang yang tidak dicintai.  Tetapi permasalahannya bukanlah pada hakekat cinta tetapi lebih pada bagaimana kita memaknai kebersamaan dengan orang yang kita cintai itu.  Disamping itu, kekuatan cinta ternyata mampu merubah segalanya, bahkan takdir.

 Sawitri – Satyawan adalah metafora dari keindahan cinta yang kadang terasa berlebian.  Jika ada pendapat cinta bukanlah untuk memiliki maka pendapat itu akan patah ditangan Ki Nartosabdho.  Cinta ternyata adalah seberapa besar kemampuan kita membangun rasa saling memiliki.  Sekejap tetapi memiliki akan lebih berarti daripada setahun hanya sekedar mengakui.  Demikianlah cerita ini mengalir lembut dengan sentuhan romantisme yang menggelagak dibumbui   humor yang cerdas dan sehat.  Happy ending yang disajikanpun tidak terkesan berlebihan.  Ki Nartosdabdo benar-benar telah memposisikan diri sebagai seorang maestro drama bukan sekadar tukang bercerita.

Sejatinya cerita ini juga berangkat dari sempalan epos besar Mahabarata akan tetapi para tokoh yang ditampilkan jarang kita kenal dalam pagelaran wayang purwa pada umunya. Tokoh utama dalam lakon ini adalah nenek buyut Prabu Salya, Raja besar Mandaraka yang ketika mudanya dikenal sebagai Raden Narasoma.  Sawitri inilah yang pada generasi berikutnya melahirkan Salya dan Madrim, ibu Nakula dan Sadewa, bungsu Pandhudewanata.

Cerita dimulai dari kegundahan Hati Prabu Haswapati yang melihat putri semata wayangnya belum bersdia menikah meski sudah menjelang dewasa.  Tak ada yang kurang dari puti tuinggal Raja Madras (Mandaraka) ini.  Wajahnya yang cantik, budi pekerti luhur dan kelembutan hatinya seakan mampu menjinakkan singa yang paling galak sekalipun.  Tak heran banyak raja muda dari penjuru dunia mengharapkan Sawitri menjadi pendampingnya.  Akan tetapi sejauh ini tak seorangpun yang  mampu mencairkan hati sang putri.

Atas saran Resi Sabdalaga Sang prabu mengadakan sayembara pilih.  Tak seperti biasanya, sayembara pilih ini dilakukan dalam dua tahapan.  Tahap pertama sang calon harus dipilih lebih dahulu oleh Dewi Sawitri setelah itu, calon yang tidak terpilih mempunyai hak untuk merebut sang putri dengan pertarungan secara ksatria.  Tujuannya jelas, sang prabu menginginkan calon menantu yang bukan saja  menjadi tambatan hati sang putri, tetapi dia juga harus sakti mandraguna sebagai benteng tangguh kerajaan Madras.

Sementara itu, jauh ditengah pertapaan Bambang Setyawan tengah memeras raga dan bertapa demi kesembuhan ayahannya yang tiba-tiba hilang penglihatan(buta).  Segala cara telah ditempuh untuk kesembuhan ayahnya.  Tetapi sejauh ini usahanya sia-sia belaka.  Ayahnya belum juga bisa melihat terangnya dunia. Dalam keputus asaannya Bambang Satyawan bertapa memohon wisik dari yang Maha Kuasa unhtuk membuka jalan baginya bisa berbakti kepada ayahandanya.  Apapun dia pertaruhkan demi kesembuahn sang ayah.

Bethara Narada yang merasa terkesan dengan kesungguhan hati pemuda ini, memberikan jalan bagi permohonan Bambang Satyawan akan tetapi dia harus merelakan umurnya  menjadi tinggal setahun lagi.  Terdorong bhatinya pada sang ayah, Bambang Satyawan menerima persyaratan yang diajukan oleh Betara Narada.

Singkat cerita, Bambang Satyawan mengikuti sayembara pilih yang diuselenggarakan di Negara Madras.  Dewi Sawitri, menjatuhkan pilihan pada pemuda ini dan menyatakan kesanggupannya untuk mendampingi sebagai isteri dengan cinta dan kesetiaan yang tulus.

Bethara Narada memberitahu Prabu Haswapati bahwa calon menantunya ini hanya akan berumur setahun, dan mempersilahkan untuk mempertimbangkan kembali.  Sawitri juga diberitahu tentang hal ini.  Dia diminta untuk menmcabut pilihannya dan memilih peserta lain diluar Bambang Satyawan.  Tetapi Sawitri menolak.  Ketetapan hati dan kekuatan cinta telah membuatnya mantap mencintai dan meemilih Bambang satyawan kendati dia akan menjadi janda setahun lagi.

Bagaimanakah kisah selengkapnya?  Ikuti saja Lakon Sawitri Satyawan yang dengan manis dibawakan oleh sang maestro K Narto Sabdho berikut ini.  Untuk kompasiana, terima kasih illusstrasinya.

  1. Sawitri-Satyawan _01a
  2. Sawitri-Satyawan _01b
  3. Sawitri-Satyawan _02a
  4. Sawitri-Satyawan _02b
  5. Sawitri-Satyawan _03a
  6. Sawitri-Satyawan _03b
  7. Sawitri-Satyawan _04a