Arsip Bulanan: Mei 2012

KI H ANOM SOEROTO – Wahyu Seta Sastra Kencana Purbaning Katon

Tersebutlah, tanpa ada yang tahu bagaimana mulanya, tiba-tiba Prabu Puntadewa murca (hilang) dari Negara Amarta . Dengan hilangnya Puntadewa menjadikan Negara Amarta berada dalam ancaman ekspansi Negara yang lain mengingat Amarta adalah Negara yang makmur.

Loyalitas rakyat terhadap Puntadewa menjadikan kebimbangan yang luar biasa yang pada akhirnya justru akan melemahkan negara itu. Hal inilah yang menjadi agenda utama Prabu Duryudana pada kesempatan pasewakan agung negara Astina pada hari itu.

Hadir di pertemuan tersebut Pendhita Durna dan Patih Sengkuni. Semula Prabu Duryudana berniat untuk ikut menjaga ketenteraman Negara Amarta, dengan pertimbangan Pendhawa sudah seringkali memberi bantuan kepada Negara Astina. Hal ini dikuatkan oleh Pendhita Durna yang mengingatkan bahwa Pendhawa bersaudara dengan Duryudana.

Tetapi Patih Sengkuni tidak setuju dengan Pendapat Durna, mengingat jangka sudah mnyebutkan bahwa diluar Pamuksa, Gojalisuta dan Guntarayana nantinya akan terjadi Perang Besar antara Pendhawa dan Kurawa yang disebut Perang Baratayuda Jayabinangun. Atas dasar inilah maka menjaga Amarta sama saja dengan menentang kehendak dewa. Duryudana jatuh dalam kebingungan.

Dalam kebingungannya, datanglah seorang Pendita Raksasa bernama Begawan Dorawacana. Kedatangannya semata ingin membantu Duryudana menghabisi Pendawa karena misi kepanditaannya untuk tidak menggagalkan jangka para dewa yaitu Perang Baratayuda. Tentu saja dengan mudah Sengkuni bisa membelokkan komitmen Duryudana. Tidak hanya itu, keputusan Duryudana untuk menerima sara Dorawacana talah mebuat Durna walk out.

Pada akhirnya memang Duryudana memang tidak pernah berhasil mengekspansi Amarta. Tetapi pertanyaannya adalah siapakah sebenarnya Begawan Dorawacana? Siapakah tokoh sentral dalam Lakon ini? Kemana sebenarnya perginya Puntadewa? Apakah sebenarnya Wahyu Seta Sastra Kencana Purbaning Katon dan siapakah yang berhasil mendapatkan wahyu tersebut?

Jawaban lengkapnya aka anda dapatkan secara lengkap pada link berikut ini.

1. Wahyu Seta Sastra Kencana Purbaning Katon 1
2. Wahyu Seta Sastra Kencana Purbaning Katon 2
3. Wahyu Seta Sastra Kencana Purbaning Katon 3
4. Wahyu Seta Sastra Kencana Purbaning Katon 4
5. Wahyu Seta Sastra Kencana Purbaning Katon 5
6. Wahyu Seta Sastra Kencana Purbaning Katon 6
7. Wahyu Seta Sastra Kencana Purbaning Katon 7
8. Wahyu Seta Sastra Kencana Purbaning Katon 8
9. Wahyu Seta Sastra Kencana Purbaning Katon 9
10. Wahyu Seta Sastra Kencana Purbaning Katon 10
11. Wahyu Seta Sastra Kencana Purbaning Katon 11
12. Wahyu Seta Sastra Kencana Purbaning Katon 12
13. Wahyu Seta Sastra Kencana Purbaning Katon 13
14. Wahyu Seta Sastra Kencana Purbaning Katon 14
15. Wahyu Seta Sastra Kencana Purbaning Katon 15

Sejarah Singkat Kabupaten Sragen

SEJARAH SINGKAT PEMERINTAH KABUPATEN SRAGEN

A. Pendahuluan
Hari Jadi Kabupaten Sragen ditetapkan dengan Perda Nomor 4 Tahun 1987, yaitu pada hari Selasa Pon, tanggal 27 Mei 1746 Tangal dan waktu tersebut adalah dari hasil penelitian serta kajian pada fakta sejarah, ketika Pangeran Mangkubumi yang kemudian hari menjadi Sri Sultan Hamengku Buwono ke I, menancapkan tonggak pertama melakukan perlawanan terhadap Belanda menuju bangsa yang berdaulat dengan membentuk suatu pemerintahan lokal di Desa Pandak Karangnongko masuk tlatah Sukowati.

B. Proses & Kronologi
Pangeran Mangkubumi adik dari Sunan Paku Buwono II di Mataram sangat membenci Kolonialis Belanda. Apalagi setelah Belanda banyak mengintervensi Mataram sebagai Pemerintah yang berdaulat. Oleh karena itu dengan tekad yang menyala Bangsawam tersebut lolos dari istana dan menyatakan perang dengan Belanda.
Atas sikap adiknya tersebut Sunan PB II tidak tega kepada adiknya, tapi karena sudah berhutang budi kepada Kompeni, beliau memberi bekal berupa Tombak Pusaka Keraton “Kanjeng Kyai Pleret” dan uang secukupnya.

Dalam sejarah peperangan tersebut disebut peratag Mangkubumen (1746-1757). Dalam perjalanan perangnya Pangeran Mangubumi dengan pasukannya sampailah ke desa Pandak Karangnongko masuk tlatah Sukowati. Di desa ini Pangeran Mangkubumi membentuk Pemerintahan Pemberontak Desa Pandak Karangnongko dijadikan pusat pemerintahan Projo Sukowati dan beliau meresmikan namanya menjadi Pangeran Sukowati serta mengangkat pula beberapa pejabat pemerintahan.
Karena secara geografis desa Pandak Karangnongko terletak di tepi Jalan Lintas tentara Kompeni Surakarta-Madiun, pusat pemerintahan tersebut dianggap kurang aman, maka kemudian dipindah ke Desa Gebang yang terletak disebelah tenggara Desa Pandak Karangnongko. Sejak itu Pangeran Sukowati memperluas daerah kekuasaannya serta memperkuat pasukannya dengan bahu membahu bersama saudaranya Raden Mas Said dan Adipati dari Grobogan yaitu KRT Martopuro dan beberapa kerabat yang bersimpati dengan perjuangan Pangeran Mangkubumi.
Pusat Pemerintahan Projo Sukowati yang ada di Desa Gcbang ini pun akhirnya tercium oleh Kompeni Belanda yang bekerja sama dengan Kasunanan dan akan mengadakan penyerangan ke desa Gebang. Pasukan Gabungan antara Kompeni dan Pasukan dari Keraton Surakarta tersebut dipimpin oleh Patih Pringgalaya (Patih dari PB II). Untung rencana tersebut diketahui oleh Petugas Sandi (Intetegent) dan Pangeran Sukowati. Dengan berbagai pertimbangan maka Pusat Pemerintahan akan dipindahkan ke Desa Jekawal.

Dalam proses boyongan dari Gebang ke Jekawal “(Tangen)” tersebut melewati suatu Padepokan yang dipimpin oleh seorang kyai, yakni Kyai Srenggi. Konon Kyai Srenggi ini adalah salah seorang Panglima Perang dari Sunan Amangkurat di Kartosuro, yang sebetulnya bernama asli Tumenggung Alap-Alap. Untuk menghilangkan jejak beliau berganti nama Kyai Srenggi.
Pada saat Pangeran Sukowati singgah di padepokan tersebut oleh Kyai Srenggi disuguhi Legen dan Polowijo. Pangeran Sukowati merasa sangat puas dan beliau bersabda bahwa tempat tersebut diberi nama “SRAGEN” dari kata “Pasarah Legen” dan Kyai Srenggi diberi sebutan Ki Ageng Srenggi. Setelah pusat Pemerintahan berada di Jekawal maka Raden Mas Said diambil menantu oleh Pangeran Mangkubumi/Pangeran Sukowati dikawinkan dengan putrinya bernama BRA Suminten.
Perlawanan Pasukan Pangeran Sukowati semakin kuat dan karena Kompeni merasa terdesak kemudian membuat siasat memecah belah dengan mangadakan Perjanjian Pelihan Negeri atau terkenal dengan Perjanjian Giyanti Tahun 1755 dimana Kerajaan Mataram dipecah menjadi Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Jogjakarta dengan mengangkat Pangeran Mangkubumi/Pangeran Sukowati menjadi Sultan Hamengku Buwono I.

Kemudian pada tahun I757 diadakan Perjanjian Salatiga dengan memecah Kasultanan Jogjakarta menjadi Kasultanan dan Paku Alaman serta Kasunanan Surakarta menjadi Kasunanan dan Mangkunegaran, dimana Raden Mas Said (Pangeran Sambernyawa) ditetapkan menjadi Adipati Mangkunegoro I dengan mendapat sebagian wilayah Kasunan (Wonogiri dan Karanganyar.)

Sejak Pangeran Mangkubumi diangkat sebagai Sultan Hamengku Buwono VII dengan Hamengku Buwono V, daerah sukowati menjadi kurang terurus karena jauh dari pusat Pemerintahan Kasultanan Jogjakarta. Pada saat itu timbullah perlawanan pemberontakan dari Madiun dan Ponorogo yang ingin menguasai wilayah Sukowati dipimpin oleh Pangeran Ronggo Madiun. Untuk menanggulangi pemberontakan itu Raden Tumenggung Kartowiryo, salah seorang punggowo pasukan Pangeran Mangkubumi di tugasi untuk menghadapi kraman/pemberontakan tersebut. RT Kartowiryo berhasil menumpas pemberontakan Pangeran Ronggo Madiun, dan RT Kartowiryo diangkat sebagai Bupati Penamping (wilayah perbatasan) di wilayah.
Pada tangga 17 September 1830, terjadilah perjanjian antara Paku Buwono dengan Hamengku Buwono V, daerah Sukowati masuk wilayah Kasunanan Surakarta dan Gunug Kidul masuk wilayah Kasultanan Jogjakarta.

Dalam Suatu Pisowanan Agung di Keraton Kasunanan Surakarta KRT Kartowiryo dapat menyerahkan pusaka-pusaka keraton yang hilang saat perang pecinan di Kartosuro yang berupa :
~ Satu tombak “Kanjeng Kyai Lindu Pawon”
~ Satu Keris “Kanjeng Kyai Nogososro” dan satu keris pusaka milik KRT Kartowiryo sendiri.

Karena sangat bergembira mendapatkan kenbali pusaka-pusaka yang sudah lama hilang dan sebagai penghargaan atas jasa KRT Kartowiryo, maka sejak saat itu daerah Sukowati diserahkan kepada KRT Kartowiryo sebagai daerah “Perdikan”(daerah bebas pajak).
Selanjutnya pada tanggal 12 Oktobcr 1840 dengan Surat Keputusan Sunan PB VII yaitu Serat Angger-angger Gunung, daerah yang lokasinya strategis ditunjuk menjadi Pos Tundan, yaitu tempat untuk menjaga ketertiban dan keamanan lalu lintas barang dan surat serta perbaikan jalan dan jembatan, termasuk salah satunya adalah Pos Tundan Sragen
Setelah KRT Kartowiryo wafat, kedudukannya sebagai Bupati Penamping digantikan oleh putra ke V yang nama kecilnya RM Sulomo. Perkembangan selanjutnya sejak tanggal 5 juni 1847 oleh Sunan Paku Buwono VIII dengan persetujuan Resident Surakarta Baron de geer ditambah kekuasaannya yaitu melakukan tugas kepolisian dan karenanya disebut Kabupaten Gunung Pulisi Sragen dan RM Sulomo yang diangkat menjadi Bupati Gunung Pulisi Sragen dengan nama KRT Sastrodipuro.

C. Sejarah Pemerintahan di Kabupaten Sragen Tahun 1871 – 1861
KRT Sastropuro menjabat sebagai Bupati Sragen Pertama

D. Tahun 186I-1903
KRT Wiryoprodjo (cucu KRT Kartowiryo) menjabat sebagat Bupati Sragen kedua

E. Tahun l903-1933
KMRT Panji Sumonegoro (cucu KRT Wiryodiprodjo) Menjabat Bupati Sragen sejak 1903 s/d 1933 Sunan Paku Buwono ke X dengan Rejkblaad No 23 tahun 1918 Kabupaten Gunung Polisi diubah menjadi Kabupaten Pangreh Projo sebagai daerah otonom yang melaksanakan Hukum dan Pemerintahan.

F. Tahun 1933-1939
Bupati Sragen dijabat oleh KRMAA Yudonegoro

G. Tahun 1939-1944
Bupati Sragen dijabat oleh KRMT MR. Wongsinagoro.

H. Tahun 1939-1944
Bupati Sragen dijabat oleh KRMT Darmonagoro. Setelah Proklamasi tahun 1945 di Sragen ada gerakan Masyarakat yang ingin melepaskan diri dari kekuasaan Kasunanan Surakarta dan bergabung dengan Pemerintah Republik Indonesia.keinginan masyarakat itu disalurkan lewat Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID) Sragen yang terbentuk pada bulan September 1945 dengan susunan sebagai berikut :
Ketua : KMRTP Mangunagoro
Wakil Ketua : Suharni Kusumodirjo (cucu KRT Wiryodiprodjo)
Anggota 25 orang amtara lain :
- S. Mloyo Pranoto
- Indardjo
- Tjipto Pranoto

I. Keputusan KNI Daerah Sragen
1. Menyampaikan keinginan Rakyat sragen untuk melepaskan diri dari ikatan Swapraja Kepada Bupati Darmonagoro
2. Bila Darmonagoro bersedia, tetap diminta menjadi Bupati Sragen.
Bupati Darmonagoro tidak bersedia memenuhi permintaan KNI Daerah Sragen dengan alasan :
- Sebagai Abdi Dalem beliau harus tetap setia kepada raja.
- Sikap melepaskan diri itu bertentangan dengan Keputusan Pemerintah Kerajaan
- Maka sebagai jalan tengah Bupati Darmonagoro lebih baik menyingkir ke Solo
- Untuk mengisi kekosongan tersebut dibentuklah Dewan Pemerintah Daerah Kabupaten Sragen dan mengusulkan KMRT P Mangunnagoro sebagai Bupati Sragen.
Untuk menyatakan lepas dari ikatan Swapradja diadakan Rapat Umum di Halaman Gedung Kontrolir (Kantor Pemda sekarang) yang dihadiri oleh masa rakyat, organisasi perjuangan dan Lurah Desa seKabupeten Sragen pada tanggal 26 April 1946. dan mulai saat ini Kabupaten Sragen menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sumber : Surat Edaran Dari Bupati Tiap malam Syukuran Hari Jadi Sragen ke 266 tahun 2012

KI H Anom Suroto – Gatutkaca Lahir


Saya tak hendak menceritakan secara rinci bagaimana Satria Pringgondani ini lahir ke dunia karena saya yakin, dengan mudah anda bisa mengingatnya. Ya, Gatutkaca lahir dengan mengalami keanehan dimana pusar sang jabang bayi tidak bisa dipotong bahkan dengan senjata yang paling sakti sekalipun.

Sementara itu, di Kahyangan jonggring Saloka Prabu Kalapracona tengah melancarkan ekspansi ke kayangan demi syahwatnya menguasai dan menjadi raja di menggantikan kedudukan Batara Guru. Dibantu Patihnya yang sakti mandraguna yaitu Patih Sekipu, Prabu Kalapracona mengamuk ke kahyangan.
Semula jago paradewa yang diandalkan adalah Prabu Baladewa.

Kendati pada awalnya mampu menyingkirkan bala tentara Kalapracona, tetapi pada akhirnya Balade3wa tak kuasa menandingi Raja Raksasa dari Gilingwesi itu.
Para dewa mulai panik dan berfikir untuk mencari jago yang lain. Pilihannya jatuh kepada Arjuna yang dengan banyak pertimbangan diperkirakan mampu mengalahkan Kalapracona.

Guna memberikan ketuguhan hati dan sebagai simbol kepercayaan para dewa kepada Arjuna, diberikanlah senjata Sakti yang Bernama Wijayacapa berikut langkapnya yang bernama Wijayandanu. Betara Narada diberikan kepercayaan untuk atas nama para dewa menyerahkan pusaka ini kepada Arjuna.

Sayangnya, dalam perjalanannya senjata ini tak pernah sampai kepada arjuna karena ada konspirasi yang dibangun oleh Betara Surya untuk membelokkan pusaka sakti ini kepada anaknya, yakni Raden Suryatmaja (kelak bernama Adipati Karna).
Sekali lagi, inilah seorang penguasa yang berusaha memperjuangkan kebahagiaan anaknya meski dengan cara yang licik.

Pada awalnya memang langkah Bethara Surya nyaris tanpa hambatan. Dengan kesaktian yang dimilikinya mampu mengaburkan mata Bethara Narada yang menjadikan Suryatmaja menjadi mirp Arjuna. Dan terlepaslah pusaka sakti itu ketngan yang tidak berhak.
Tetapi demikiankan substansinya?

Tidak. Kendati secara wadag Suryatmaja berhasil memiliki Wijayacapa, tetapi dia tidak bisa menikmati secara utuh, karena wrangka (wadah) nya yang bernama Wijayandanu akdirnya menyatu dalam tubuh Raden Tetuka. Wijayacapa hanya sekali memberikan jasa kepada pemilikinya. Itupun hanya beberapa hari sebelum pemiliknya meninggal. Yaitu padawaktu Perang Baratayuda. Hakikatnya selama hidup Suryatmaja tidak pernah menikmati Wijayacapa tetapi justru dia berkewajiban menjaga pusaka tersebut terus-menerus sebelum akhirnya digunakan dipertengahan perang baratayuda.
Baiklah.

Kita nikmati lagi indahnya rangkaian cerita itu ditangan ki H Anom Suroto dalam lakon Gatutkaca Lahir di link berikut ini.

  1. Gatutkaca lahir 01a
  2. Gatutkaca lahir 01b
  3. Gatutkaca lahir 02a
  4. Gatutkaca lahir 02b
  5. Gatutkaca lahir 03a
  6. Gatutkaca lahir 03b
  7. Gatutkaca lahir 04a
  8. Gatutkaca lahir 04b
  9. Gatutkaca lahir 05a
  10. Gatutkaca lahir 05b
  11. Gatutkaca lahir 06a
  12. Gatutkaca lahir 06b
  13. Gatutkaca lahir 07a
  14. Gatutkaca lahir 07b