KI H Anom Suroto – Gatutkaca Lahir

Saya tak hendak menceritakan secara rinci bagaimana Satria Pringgondani ini lahir ke dunia karena saya yakin, dengan mudah anda bisa mengingatnya. Ya, Gatutkaca lahir dengan mengalami keanehan dimana pusar sang jabang bayi tidak bisa dipotong bahkan
dengan senjata yang paling sakti sekalipun.
Sementara itu, di Kahyangan jonggring Saloka Prabu Kalapracona tengah melancarkan ekspansi ke kayangan demi syahwatnya menguasai dan menjadi raja di menggantikan kedudukan Batara Guru. Dibantu Patihnya yang sakti mandraguna yaitu Patih Sekipu, Prabu Kalapracona mengamuk ke kahyangan.
Semula jago paradewa yang diandalkan adalah Prabu Baladewa.
Kendati pada awalnya mampu menyingkirkan bala tentara Kalapracona, tetapi pada akhirnya Balade3wa tak kuasa menandingi Raja Raksasa dari Gilingwesi itu.
Para dewa mulai panik dan berfikir untuk mencari jago yang lain. Pilihannya jatuh kepada Arjuna yang dengan banyak pertimbangan diperkirakan mampu mengalahkan Kalapracona.
Guna memberikan ketuguhan hati dan sebagai simbol kepercayaan para dewa kepada Arjuna, diberikanlah senjata Sakti yang Bernama Wijayacapa berikut langkapnya yang bernama Wijayandanu. Betara Narada diberikan kepercayaan untuk atas nama para dewa menyerahkan pusaka ini kepada Arjuna.
Sayangnya, dalam perjalanannya senjata ini tak pernah sampai kepada arjuna karena ada konspirasi yang dibangun oleh Betara Surya untuk membelokkan pusaka sakti ini kepada anaknya, yakni Raden Suryatmaja (kelak bernama Adipati Karna).
Sekali lagi, inilah seorang penguasa yang berusaha memperjuangkan kebahagiaan anaknya meski dengan cara yang licik.
Pada awalnya memang langkah Bethara Surya nyaris tanpa hambatan. Dengan kesaktian yang dimilikinya mampu mengaburkan mata Bethara Narada yang menjadikan Suryatmaja menjadi mirp Arjuna. Dan terlepaslah pusaka sakti itu ketngan yang tidak berhak.
Tetapi demikiankan substansinya?
Tidak. Kendati secara wadag Suryatmaja berhasil memiliki Wijayacapa, tetapi dia tidak bisa menikmati secara utuh, karena wrangka (wadah) nya yang bernama Wijayandanu akdirnya menyatu dalam tubuh Raden Tetuka. Wijayacapa hanya sekali memberikan jasa kepada pemilikinya. Itupun hanya beberapa hari sebelum pemiliknya meninggal. Yaitu padawaktu Perang Baratayuda. Hakikatnya selama hidup Suryatmaja tidak pernah menikmati Wijayacapa tetapi justru dia berkewajiban menjaga pusaka tersebut terus-menerus sebelum akhirnya digunakan dipertengahan perang baratayuda.
Baiklah.
Kita nikmati lagi indahnya rangkaian cerita itu ditangan ki H Anom Suroto dalam lakon Gatutkaca Lahir di link berikut ini.
Posted on 19 Mei 2012, in Gatutkaca Lahir, KI H ANOM SOEROTO, WAYANG, WAYANG KULIT. Bookmark the permalink. 6 Komentar.


kulo tenggo pak guntur.. hehehe
halah…. sabar, dhi…..
Matur nuwun sanget. kulo suwun koleksinipun dipun tambah. hehehee
kula remen sanget sami saged sesarengan nguri-uri kabudayan jawi
kula namung saged dunga mugi” wayang saged lestari
dereng wonten postingan kang enggal to maass…kulo nenggo niki..