Author Archives: Jaman Semana

Ki H Anom Soeroto – Lahire Palasara

Berbeda dengan Mahabarata, yang menarik garis keturunan (silisilah) Pandhawa dan Kurawa dari darah Ksatria yang dimulai dari Prabu Kuru – Pratipa – Dusmanta – Santanu – dan kemudian bermuara kepada Bisma, versi Pustaka Raja Purwa, kakek buyut Pandhawa dan Kurawa bedarah Brahmana.  Dimulai dari Resa Kamunayasa – Sekutrem – Sakri – Palasara – Abiyasa.  Setelah Abiyasa dan Bisma inilah, silislah Pendhawa dan Kurawa menjadi semakin jelas dan praktis tidak ada perbedaan.

Nah, kali ini Jaman Semana memposting cerita menarik kelahiran kakek buyut Pandhawa yaitu Bambang Palasara.  Lelaki inilah yang dimudian hari menurunkan Abiyasa yang kita kenal sebagai penentu perjalanan sejarah perang saudara para darah Kuru, Perang Bharatayudha.  Sepeninggal mendiang Prabu Santanu Negara Hastina sudah nyaris berakhir, dengan meninggalnya Raden Wicitra dan Wicitrawirya di medan pertempuran.  Dua orang janda yang ditinggalnya belum sempat mengandung darah Santanu sampai kemudian Abiyasa bersedia menikahi kedua janda ini demi kelangsungan daranh Bharata dari garis Darah Brahmana.  Peran Palasara (banyak juga yang menyebut Parasara) menjadi sedemikian penting karena dialah yang kemudian menurunkan manusia besar, Abiyasa.

Dikisahkan, Prabu Parta Wijaya, Raja Agung Keraton Tabelasuket benar-benar merasa gundah karena putri tunggalnya yakni Dewi Partini tiba-tiba menghilang dari kaputren.  Kesedihan sang Prabu bukan saja karena Dewi Partini adalah puteri satu-satunya, tetapi juga karena Dewi Partini tengah hamil.  Disamping itu, kepergian menantunya yaitu Bambang Sakri tanpa pamit beberapa saat sebelum kepergian Dewi Partini semakin memperberat kesedihannya.  Gampang diduga bahwa kepergian Dewi Partini semata ingin mencari keberadaan suaminya. Pertanyaannya adalah, kemana?  Putus asa dengan upaya lahir yang telah ditempuh Prabu Partawijaya dengan mengerahkan semua prajuritnya untuk melacak keberadaan sang putrid, maka dia bertekad untuk mencari upaya batin dengan menanyakan ke pandhita linuwih dari Gunung Saptaarga yang bernama Resi Kamunayasa sekaligus berguru kepadanya.

Jauh diseberang lautan, Prabu Jayalengkara raja Purakancana tengah mengungkapkan kemarahan dan kekecewaannya.  Pasalnya, cintanya kepada Dewi Partini harus patah ditangan seorang pemuda gunung bernama Bambang Sakri.  Ketika itu, hamper saja dia berhasil merebut Dewi Partini dari Tangan Prabu Partawijaya dengan jalan kekerasan.  Sayangnya, disaat yang tapat Raja Tabelasuket ini mendapatkan pertolongan dari Bambang Sakri yang kemudian diambil sebagai anak menantu dengan menikahkannya dengan Dewi Partini.  Keputus asaannya khirnya bermuara pada sang guru yaitu Resi Dwakara di Pertapaan Tegalbandan.  Dia bertekad untuk mempertebal ilmu kanuragan guna kembali menantabf Bambang Sakri sekaligus merebut Dewi Partini.

Didepan gurunya, Prabu Jayalengkara menceritakan perjalanan cinta dan perjuangannya mempersunting Dewi Partini yang harus berakhir dengan kekecewaan.  Begawan Dwakara yang sebenarnya murid Saptaarga itu menemukan jalan yang jitu untuk menyelesaikan masalah ini.  Dia berniat mengadu domba antara Prabu Partawijaya dengan Bambang Sakri.  Begitulah maka dengan kesaktiannya dia bisa membelokkan perjalanan Prabu Partawijaya yang berniat ke Saptaarga untuk bisa hadiri dihadapannya.  Kepada Prabu Partawijaya dia mengaku sebagai resi Kamunayasa dan menjelaskan bahwa jodoh Dewi Partini adalah Prabu Jayalengkara dan bukan Bambang Sakri.  Lebih jauh dia menegaskan, bahwa sumber masalah yakni Bambang Sakri harus dimusnahkan.  Gelap mata oleh bujukan Resi Dwakara  Raja Tabelasuket ini segera mencari Bambang Sakri dan berniat menghabisinya.

Di Pertapaan Saptaarga, Begawan Kamunayasa tengah menyesali kepergian cucunya tercinta, yaitu Bambang Sakri.  Pemuda ini pergi dari pertapaan akibat dimarahi oleh ayahandanya, Bambang Sakutrem karena menolak menikah.  Sebenarnya kemarahan Sakutrem ini semata karena keluhan sang ayah, Resi Kamunayasa yang ingin segera melihat ducunya yang sudah dewasa segera menikah.  Tetapi Bambang Sakutrem terlalu keras memarahi anaknya, sampai-sampai dia tega mengusir anak lelaki satu-satunya itu.  Sekarang tinggalah penyesalan pada diri Bambang Sakutrem melihat kesedihan hati ayahandanya.  Itulah sebabnya dia segera memohon pamit untuk segera mencari keberadaan Bambang Sakri dan membawanya kembali menghadap Sang Kamunayasa.

Bagaimanakah kisah selanjutnya dapat anda ikuti setelah tuntas mendengarkan cerita Lahire Palasara oleh KI H Anom Soeroto

  1. Ki H Anom Soeroto – Lahire Palarsara_1a
  2. Ki H Anom Soeroto – Lahire Palarsara_1b
  3. Ki H Anom Soeroto – Lahire Palarsara_2a
  4. Ki H Anom Soeroto – Lahire Palarsara_2b
  5. Ki H Anom Soeroto – Lahire Palarsara_3a
  6. Ki H Anom Soeroto – Lahire Palarsara_3b
  7. Ki H Anom Soeroto – Lahire Palarsara_4a
  8. Ki H Anom Soeroto – Lahire Palarsara_4b

Ki Nartosabdho : Sawitri – Setyawan

Barangkali tidak terlalu salah pendapat sebagian orang bahwa hidup setahun dengan cinta tulus lebih bermakna dari pada seumur hidup bersama dengan orang yang tidak dicintai.  Tetapi permasalahannya bukanlah pada hakekat cinta tetapi lebih pada bagaimana kita memaknai kebersamaan dengan orang yang kita cintai itu.  Disamping itu, kekuatan cinta ternyata mampu merubah segalanya, bahkan takdir.

 Sawitri – Satyawan adalah metafora dari keindahan cinta yang kadang terasa berlebian.  Jika ada pendapat cinta bukanlah untuk memiliki maka pendapat itu akan patah ditangan Ki Nartosabdho.  Cinta ternyata adalah seberapa besar kemampuan kita membangun rasa saling memiliki.  Sekejap tetapi memiliki akan lebih berarti daripada setahun hanya sekedar mengakui.  Demikianlah cerita ini mengalir lembut dengan sentuhan romantisme yang menggelagak dibumbui   humor yang cerdas dan sehat.  Happy ending yang disajikanpun tidak terkesan berlebihan.  Ki Nartosdabdo benar-benar telah memposisikan diri sebagai seorang maestro drama bukan sekadar tukang bercerita.

Sejatinya cerita ini juga berangkat dari sempalan epos besar Mahabarata akan tetapi para tokoh yang ditampilkan jarang kita kenal dalam pagelaran wayang purwa pada umunya. Tokoh utama dalam lakon ini adalah nenek buyut Prabu Salya, Raja besar Mandaraka yang ketika mudanya dikenal sebagai Raden Narasoma.  Sawitri inilah yang pada generasi berikutnya melahirkan Salya dan Madrim, ibu Nakula dan Sadewa, bungsu Pandhudewanata.

Cerita dimulai dari kegundahan Hati Prabu Haswapati yang melihat putri semata wayangnya belum bersdia menikah meski sudah menjelang dewasa.  Tak ada yang kurang dari puti tuinggal Raja Madras (Mandaraka) ini.  Wajahnya yang cantik, budi pekerti luhur dan kelembutan hatinya seakan mampu menjinakkan singa yang paling galak sekalipun.  Tak heran banyak raja muda dari penjuru dunia mengharapkan Sawitri menjadi pendampingnya.  Akan tetapi sejauh ini tak seorangpun yang  mampu mencairkan hati sang putri.

Atas saran Resi Sabdalaga Sang prabu mengadakan sayembara pilih.  Tak seperti biasanya, sayembara pilih ini dilakukan dalam dua tahapan.  Tahap pertama sang calon harus dipilih lebih dahulu oleh Dewi Sawitri setelah itu, calon yang tidak terpilih mempunyai hak untuk merebut sang putri dengan pertarungan secara ksatria.  Tujuannya jelas, sang prabu menginginkan calon menantu yang bukan saja  menjadi tambatan hati sang putri, tetapi dia juga harus sakti mandraguna sebagai benteng tangguh kerajaan Madras.

Sementara itu, jauh ditengah pertapaan Bambang Setyawan tengah memeras raga dan bertapa demi kesembuhan ayahannya yang tiba-tiba hilang penglihatan(buta).  Segala cara telah ditempuh untuk kesembuhan ayahnya.  Tetapi sejauh ini usahanya sia-sia belaka.  Ayahnya belum juga bisa melihat terangnya dunia. Dalam keputus asaannya Bambang Satyawan bertapa memohon wisik dari yang Maha Kuasa unhtuk membuka jalan baginya bisa berbakti kepada ayahandanya.  Apapun dia pertaruhkan demi kesembuahn sang ayah.

Bethara Narada yang merasa terkesan dengan kesungguhan hati pemuda ini, memberikan jalan bagi permohonan Bambang Satyawan akan tetapi dia harus merelakan umurnya  menjadi tinggal setahun lagi.  Terdorong bhatinya pada sang ayah, Bambang Satyawan menerima persyaratan yang diajukan oleh Betara Narada.

Singkat cerita, Bambang Satyawan mengikuti sayembara pilih yang diuselenggarakan di Negara Madras.  Dewi Sawitri, menjatuhkan pilihan pada pemuda ini dan menyatakan kesanggupannya untuk mendampingi sebagai isteri dengan cinta dan kesetiaan yang tulus.

Bethara Narada memberitahu Prabu Haswapati bahwa calon menantunya ini hanya akan berumur setahun, dan mempersilahkan untuk mempertimbangkan kembali.  Sawitri juga diberitahu tentang hal ini.  Dia diminta untuk menmcabut pilihannya dan memilih peserta lain diluar Bambang Satyawan.  Tetapi Sawitri menolak.  Ketetapan hati dan kekuatan cinta telah membuatnya mantap mencintai dan meemilih Bambang satyawan kendati dia akan menjadi janda setahun lagi.

Bagaimanakah kisah selengkapnya?  Ikuti saja Lakon Sawitri Satyawan yang dengan manis dibawakan oleh sang maestro K Narto Sabdho berikut ini.  Untuk kompasiana, terima kasih illusstrasinya.

  1. Sawitri-Satyawan _01a
  2. Sawitri-Satyawan _01b
  3. Sawitri-Satyawan _02a
  4. Sawitri-Satyawan _02b
  5. Sawitri-Satyawan _03a
  6. Sawitri-Satyawan _03b
  7. Sawitri-Satyawan _04a

MP3 Wayang Kulit Ki H Anom Soeroto – Semar Manenges (Aji Gineng Sukawedha)

Semar Maneges menceritakan perjuangan Arjuna dalam mendapatkan wahyu dari Yang Maha Kuasa yang berupa Wahyu Aji Gineng Sukawedha.  Keberhasilannya ini adalah kerja kerasnya dibantu oleh Ki Lurah Semar Badranaya.  Sekali lagi –selain Wahyu Tohjali- Arjuna akan dikadali oleh Bethara Guru yang berniat menyerahkan Aji Gineng Sukawedha kepada anak biologisnya dengan Bethari Durga, yaitu Dewasrani.

Sebagai abdi yang tanggap terhadap kesulitan momongannya, Semar Maneges (baca: gugat) ke kahyangan, menuntut keadilan.  Rekayasa tingkat tinggi yang dilakukan oleh Bethara Guru bersama dengan Bethari Durga akhirnya kandas ditangan Semar.  Lurah Karang Kadempel inilah yang pada akhirnya menjadi tokoh sentral diakhir cerita untuk memuluskan langkah Arjuna mendapatkan haknya.

Mendengar nama wahyu yang kali ini diturunkan oleh dewa, yaitu Aji Gineng Sukawedha, setidaknya akan mengingatkan anda pada cerita yang juga melibatkan nama aji ini.  Pertama, Aji Gineng adalah sebuah pusaka (ajian) sakti yang dimiliki oleh Pikulun Nagaraja, Guru Spritual Prabu Angling Darma.  Ajian inilah yang pada akhirnya membuat Dewi Setyawati, sang permaisuri membakar diri.  Ketika itu, Angling Darma menapatkan wewarah Aji Gineg dari Nagaraja.  Hasilnya, Angling Darma mampu mengetahui bahasa semua jenis binantang di dunia ini.  Setyowati membakar diri karena Angling Darma tidak mau memberikan ajian sakti ini kepadanya.  Yang kedua, Aji Gineng dimiliki oleh Prabu Newatakawaca dari Keraton Himahimantaka yang menjadikannya sakti luar biasa.  Tak seorangpun mampu menandingi kesaktian Raja Raksasa ini.  Berbekal Ajian ini, Newatakawaca berniat memperisteri Dewi Supraba,  Primadona para bidadari di Kahyangan.  Tetapi dengan memperalat Supraba juga akhirnya Begawan Ciptaning berhasil membunuh Newatakawaca dengan jalan memanah aji Gineng yang berada di tenggorokan sang raksasa.

Dalam Lakon Semar Maneges Kali ini, nama Aji Gineng muncul lagi dalam bentuk wahyu yang merupakan representasi dari wahyu keprajuritan.  Nilai filosofis yang tersirat dari lakon ini adalah wahyu (kekuatan) seorang prajurit akan dapat dicapai apabila seorang ksatria senantiasa melibatkan “wong cilik” dalam meraihnya.  Semar adalah represntasi wong cilik, sementara Arjuna adalah symbol seorang ksatria, seorang aparat dan abdi Negara, seorang nayaka praja.  Pertanyaannya adalah, kenapa Aji Gineng?

Aji Gineng adalah ajian sakti yang oleh Pikulun Nagaraja bisa digunakan untuk mengetahui bahasa semua mahluq di dunia ini.  Sementara Prabu Newatakawaca menempatkan aji gineg di dalam tenggorokannya (katakanlah: mulut).  Baik Nagaraja maupun Newatakawaca menjadikan Aji Gineng sebagai sarana artikulasi dan penyampaian pesan.  Intinya, Aji Gineng akan menjadikan seorang prajurit mampu memahami kehendak bawahannya.  Aji Gineng adalah sarana komunikasi atasan dengan bawahan.  Barangkali itulah pesan yang akan disampaikan oleh Ki H Anom Soeroto?

Entahlah! Yang pasti, ceritanya begini.  Sadar bahwa kesaktian Pandawa tidak mungkin ditandingi oleh para kurawa, maka Prabu Duryudana berniat untuk mengembalikan Negara Hasitana kepada Pandhawa.  Niat ini ditentang oleh Patih Sengkuni dan Pendhita Durna.  Merekka menyarankan untuk lebih baik Sang Prabu berupaya meraih turunnya Wahyu Aji Gineng Saptawedha yang dalam waktu dekat akan diturunkan oleh Dewa di lereng Gunung Arjuna.  Prabu Duryudana menyetujui usulan ini dan memerintahkan Adipati Karna untuk “nyadhong’ turunnya Wahyu Aji Gineng Sukawedha.

Di kahyangan Jonggringsaloka, Bethara Guru tengah menerima kehadiran Bathari Durga bersama anak lelakinya yang sudah menjadi raja di Tunggulmalaya, Dewasrani.  Kedatangannya kali ini adalah untuk menagih janji Bathara Guru kepada Dewa Srani yang akan menyerahkan Wahyu Aji Gineng kepada Dewasrani apabila anak lelakinya ini sudah bersedia hadir menghadap dirinya.

Seperti saya kemukakan didepan, Aji Gineng Sukawedha akhirnya didapatkan oleh Panengah Pandhawa, Raden Arjuna.  Tetapi bagaiman peran Ki Lurah Semar?  Bagaimana mungkin seorang Ksatria sekelas Arjuna menyerahkan hidup matinya kepada seorang Lurah yang merupakan representasi Wong Cilik? Bagaimana Arjuna Semar mengekspresikan kepercayaan kepada wong cilik san bukan wong licik? (mensitir kata Bupati Sragen :) ).  Dengarkan bagaimana Semar menggugat para dewa yang akan berjuang bukan kepada Wong Cilik tetapi justru kepada Wong Licik dalam lakon SEMAR MANEGES berikut ini

  1. Ki H Anom Soeroto – Semar Maneges 1a
  2. Ki H Anom Soeroto – Semar Maneges 1b
  3. Ki H Anom Soeroto – Semar Maneges 2a
  4. Ki H Anom Soeroto – Semar Maneges 2b
  5. Ki H Anom Soeroto – Semar Maneges 3a
  6. Ki H Anom Soeroto – Semar Maneges 3b
  7. Ki H Anom Soeroto – Semar Maneges 4a
  8. Ki H Anom Soeroto – Semar Maneges 4b

MP3 Kethoprak Mataram Seri Mahesa Jenar – Uling Kuning mBarang Amuk

Sebuah kepercayaan, siapapun yang mampu dan mnguasai Keris Nagasasra Sabuk Inten kan benar-benar terhormat di dunia persilatan, baik golongan hitam maupun putih.  Itulah sebabnya, sipat kandel keraton Demak Bintoro menjadi incaran dan akhirnya hilang.  Itulah yang menjadi pemicu seorang perwira senior Keraton Demak keluar dari keraton dengan menanggalkan semua kemewahan dan kekuasaan kareraton sebagai Raden Rangga Tahjaya menjadi seorang sudra bernama Mahesa Jenar.

Perjalanan Mahesa Jenar dimulai dari Gunung Ijo ke  Rawa Pening dan saat ini berhenti di lereng Gunung Wilis.  Disinilah Pusaka sakti itu diduga berada.  Banyak informasi yang diterima oleh lelaki gagah yang berpakaian serba hijau ini mengarah ke tempat ini.  Naluri intejleennya tak bisa ditipu.  Maka segera dia mengendus tempat ini untuk melacak keberadaan keris simbol Demak Bintara ini.

Ki Demang Simarodra tengah dilanda kegembiraan luar biasa karena berhasil mencuri Keris Nagasasara Sabuk Inten.  Bersama isterinya, Simorodra tengah merayakan kenahagiaan itu sampai ketika Sekayon, abdinya melaporkan telah mencurigai seseorang yang memasuki walayahnya menuju ke tempat penyimpanan Keris sakti yang jadi rebutan, Nagasasra Sabukinten.

Benar saja, Gemak Paron dan  Yuyurumpung , orang suruhan Uling Putih dan Uling Kuning dari Rawa Pening telah memasuki Gudang Pusaka.  Dengan senjata sumpitnya, Nyi Simorodra berhasil merobohkan Gemak Paron.  Sayangnya, pemburuan Simorodra memasuki wilayah Pengarantunan Wetan tempat Kekuasaan Ki Ageng Lembu Sora, anak lelaki Ki Ageng Soradipayana.  Meskipun Pangrantunan Wetan sudah digadaikan kepada Simorodra, tetapi beberapa wilayah masih tetap menjadi kekuasaan  Ki Ageng Lembu Sora.  Inilah yang menjadikan penguasa Pangrantunan Wetab ini marah.

Mata dan nalurinya yang terlatih, membuat Mahesa Jenar bisa menduga apa yang terjadi ditempat ini beberapa waktu yang lalu.  Mayat Demak Paron masih tergeletak dengan luka bekas sumpit Nyai Simorodra.  Dia juga tahu, bahwa yang dicuri oleh orang ini bersama temannya bukanlah Keris Nagasasra Sabuk Inten.

Yuyu Rumpung kembali keempat tebunuhnya Gemak paron.  Disana dia bertemu dengan Mahesa Jenar.  Kecurigaannya pada lelaki berbaju hijau ini menjadikannnya marah dan menantang berkelahi.  Gemak Paron tidak mampu mengalahkan kesaktian Mahesa Jenar.  Dia harus meninggalkan kudanya dan terpaksa berlari untuk pulang ke Rawa Pening.  Mahesa Jenar perlu mengambil langkah ini agar utusan Uling Kuning ini tidak bisa segera melaporkan hasil penyusupannya ke Gunung Tidar.  Harapannya dia bisa menyusun rencana lebih lanjut.

Rencana apakah yang dibuat oleh Mahesa Jenar?  Bagaimanakah Nasib Yuyurumpung setelah seharian berlari dari Gunung Tidar ke Rawa Pening? Tindakan apa yang diambil oleh Ki Ageng Lembu Sora akibat kecerobohan yang dilakukan Simarodra yang telah memasuki wailayahnya.

Semua akan terjawab jika anda sudah mendengarkan tuntas Kethoprak Mataram Seri Mahesa Jenar – Uling Kuning mBarang Amuk berikut ini:

Download Kethoprak Seri Mahesa Jenar – Uling Kuning mBarang Amuk

Download MP3 – Mengenang Utha Likumahuwa

Kembali Indonesia kehilangan seorang musisi terbaiknya.  Utha Likumahuwa atau yang bernama lengkap Doa Putra Ebal Johan Likumahuwa meninggal di Jakarta, 13 September 2011 pada usia 56 tahun.

Cukup mengejutkan memang.  Karena beberapa hari terakhir dikabarkan kondisinya semakin membaik sepulang dari perawatannya di  Pekan baru.  Akan tetapi takdir berkata lain. Vokalis dengan suara khas ini meninggal dunia pada Selasa (13/9/2011) pukul 13.13 WIB di Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta Selatan.   Utha sempat menjalani operasi otak yang terkena penyempitan pembuluh darah akibat serangan stroke.

Sebagaimana diberitakan oleh Kompas.com , sebelum wafat, Utha sempat beberapa kali dirawat di rumah sakit. Awalnya, pada hari Minggu (26/6/2011) malam, Utha sempat terjatuh saat duduk mengobrol bersama sang istri di Pekanbaru, Riau. Segera setelah melihat kejanggalan pada kondisi suaminya, istri Utha membawanya ke RS St Maria, Pekanbaru, Riau, Senin (27/6/2011) dini hari.

Sejak debut awalnya melalui hitsnya Esok Kan Masih Ada, secara pribadi saya menyukai penyanyi ini dan masuk dalam catalog penyanyi favorit saya.   Saya merasa, belum ada penyanyi yang memiliki vocal khas semacam Utha.  Sehingga lagu-lagunya terasa hanya pas jika dia yang membawakan.

Utha adalah paman dari penggebuk drum Barry Likumahuwa. Selama kariernya, ia telah membuat sedikitnya sepuluh album, di antaranya Bersatu Dalam Damai (1983), Puncak Asmara (1988), Untuk Apa Lagi (1990), dan Masih Ada Waktu (1991).

Baiklah, untuk mengenang Utha Likumahuwa, berikut ini beberapa lagu yang mungkin anda sukai.

  1. Bersatu Dalam Damai
  2. Dengarlah Suara Kami
  3. Dimana Harus Kucari
  4. Esok Kan Masih Ada
  5. Haruskah Ku Pergi
  6. Kau
  7. Kenyataan
  8. Puncak Asmara
  9. Sesaat Kau Hadir
  10. Sesal
  11. Tersiksa Lagi
  12. Untuk Apa Lagi

Ki H Anom Soeroto, Seri Baratayudha (1) – Kresna Duta

Bagi penggemar wayang kulit, tak ada cerita yang tidak menarik.  Semua lakon punya makna, semua lakon punya jiwa.  Jadi permasalahannya bukan cerita apa yang digelar tetapi pada suaana jiwa yang bagaimana kita menyaksikan pagelaran wayang kulit.

Seperti teman saya yang beberapa waktu lalu, mengirimkan 17 lakon wayang yang masih dalam bentuk kaset pita untuk saya convert ke digital.  Sebelumnya teman saya tersebut telah pula mengirimkan puluhan lakon yang lain, hanya untuk berbagi sambil membuka mata saya pada lakon wahyu yang selama ini dikesampingkan (dalam arti sempit) karena lebih bersifat carangan sesuai dengan imajinasi para dalang, atau lebih ekstrim lagi, sesuai pesanan yang nanggap wayang.  Akan tetapi setelah mencermati beberapa lakon wahyu yang beliau kirimkan, saya jadi tertarik untuk mengoleksi lakon wahyu, sambil menjajagi suasana hati dan kemampuan improvisasi dalangnya.

Baiklah sementara kita lupakan lakon Wahyu, untuk beralih kepada lakon yang benar-benar “Pakem”, yaitu Perang Baratayudha.  Perang Baratayudha secara umum dimulai sejak Kresna Duta sampai Duryudana Gugur yang dalam perjalanannya banyak tokoh-tokoh lain yang terlibat didalamnya.  Baik yang Gugur maupun yang tidak terlibat dalam peperangan.  Seperti, bagaimna dengan Antareja, Antasena, Wisanggeni?

Perang besar antara Pendhawa dan Kurawa ini, menurut Katalog Dahlia Record, dibagi menjadi beberapa lakon dengan urutan sebagai berikut:

  1. Kresna Duta
  2. Bisma Gugur
  3. Ranjapan Abimanyu Gugur
  4. Jayadrata lan Burisrawa Lena
  5. Suluhan Gatutkaca Gugur
  6. Durna Gugur
  7. Karna Tandhing
  8. Duryudana Gugur

Nah kendati saya tidak sekaligus dalam memposting Lakon Baratayudha karena saya harus pula adil untuk memposting materi yang lain, tetapi saya akan mencoba menguploadnya secara berurutan untuk memudahkan saya dalam membuat sinopsisnya.  Baiklah saya akan memulainya dengan Lakon Kresna Duta oleh Ki H Anom Soeroto.

KRESNA DUTA

Inilah babak awal dan pemicu terjadinya perang besar  Baratayudha Jayabinangun yang terkenal itu.  Sejak kalah dalam pertaruhan dadu Pendhawa harus meninggalkan Inderaprastha selama 13 tahun dan bersembunyi selama 2 tahun.  Apabila pada masa itu ketahuan oleh kurawa, maka Pendawa harus memulai dari awal lagi.

Syahdan, setelah berhasil melewati masa sulit tersebut, Pendawa bermaksud untuk meminta kembali Hastina, Idraprasta dan jajahannya dari tangan Duryudana, raja Hastinapura.  Tetapi jangankan mendapatkan respon, menerima kedatangan pendhawapun tidak pernah dilakukan.  Setidaknya ada 3 lakon carangan yang menggambarkan kegagalan Pendhawa dalam meminta haknya tersebut.

Putus asa atas penolakan Duryudana, maka Prabu Drupada menyempatkan diri untuk mewakili menjadi duta ke Negara Hastina, tetapi juga tidak berhasil meluluhkan hati Duryudana yang bertekad untuk mempertahankan kekuasaannya.  Setelah itu, dengan segenap kehati-hatian Pendhawa meminta kepada Dewi Kunthi untuk menjadi duta para Pandawa ke Hastinapura.  Seperti telah diduga, Kunthipun tidak berhasil menarik kembali hak anak-anaknya.  Lalu atas petunjuk Prabu Matswapati, Pendawa memohon pertolongan Raja Dwarawati, Sri Kresna untuk tugasyang sama dengan Kunthi dan Drupada.  Dari sinilah Ki H Anom Soeroto memulai Lakon Kresna Duta.

Di Balairung Keraton Wirata, Prabu Matswapati bersama Para Pandhawa yang telah selesai menjalani 13 hukuman buang duduk dengan gelisah mananti kehadiran Raja Dwarawati.  Kedatangan titisan Wisnu ini atas undangan Prabu Matwapati dan Prabu Puntadewa agar berkenan menjadi Duta Pamungkas meminta kembali hak para Pendawa yang berupa Negara Hastina, Inderprsta dan semua jajahannya.

Prabu Kresna bersedia menjadi duta para Pendawa.  Dengan membawa Raden Setyaki berangkatlah sang duta agung ini ke Negara Hastinapura. Sadar bahwa duta pamungkas ini adalah titisan wisnu maka keyakinan pendahwa dan Prabu Matswapati semakin besar akan kembalinya Negara Hastina kepada keturunan mendiang Prabu Pandhudewanata.

Diperjalanan, Prabu Kresna dihadang oleh Batara Narada, Batara Kanwa, Batara Janaka dan Ramaparasu yang membawa amanat Sanghyang Guru untuk menjadi saksi pertemuan penting dan bersejarah antara Sri Kresna dengan Prabu Duryudana.

Sesuai dengan pesan Pandhawa, Prabu Kresna terlebih dahulu singgah di Ksatriyan Panggombakan, kediaman Raden Yamawidura untuk meminta rest kepada Dewi Kunthi yang sejak kegagalannya menjadi duta anak-anaknya tidak sampai hati untuk kembali ke Wiratha.  Dia lebih suka menenangkan diri di kediaman adik iparnya di Kasatriyan Panggombakan.  Tak berbeda dengan Pendawa dan Matswapati, Dewi Kunthi dan Yamawidurapun menaruh harapan besar Prabu Krsna akan dengan gemilang menjalankan tugas sebagai duta para Pendawa.

Keesokan harinya, barulah Sri Kresna dengan didamping empat dewa menemui Prabu Duryudana yang kala iyu sedang menyelenggarakan pasewakan agung.  Duta agung ini segera menyampaikan pesan para Pendhawa kepada Penguasa Astina yang congkak ini untuk menyerahkan Negara Hastina, Indraprasta dan jajahannya kepada Pendawa guna menghindari pertumpahan darah.

Tak kurang dari Resi Bisma dan Prabu Salya memberikan masukan kepada Duryudana untuk memenuhi janji ketika permainan dadu, akhirnya Duryudana bersedia memenuhi tuntutan Pendawa.  Para dewapun memberikan kesaksiannya sebelum akhirnya kembali ke kahyangan.

Sayangnya, keputusan Duryudan ini tidak bertahan lama.  Sepeninggal para dewa, Dewi Gendari dan Patih Sengkuni, menghasut Durydana untuk mencabut keputusannya.  Alih-alih mempertahankan keputusannya sebagai raja yang berwatak hambeg paramarta, Duryudana justru termakan oleh hasutan Ibu dan Pamannya.  Dia mengingkasri kesanggupannya untuk menyerahkan Negara Astina.  Kemarahannya justru tertumpah kepada Prabu Kresna sebagai Duta para Pandawa.

Inilah pemicu perang besar Baratayudaha Jayabinangun yang terkenal itu. Bagaimanakah kisah selengkapnya, kami persilahkan anda untuk mendengarkan langsung file MP3 Lakon Kresna Duta oleh Ki H Anom Soeroto berikut ini.

Link Download Kresna Duta

  1. Anom Suroto – Kresna Duta_1a
  2. Anom Suroto – Kresna Duta_1b
  3. Anom Suroto – Kresna Duta_2a
  4. Anom Suroto – Kresna Duta_2b
  5. Anom Suroto – Kresna Duta_3a
  6. Anom Suroto – Kresna Duta_3b
  7. Anom Suroto – Kresna Duta_4a
  8. Anom Suroto – Kresna Duta_4b

A Few Good Men

Judul diatas mungkin mengingatkan anda pada sebuah judul film yang dengan cemerlang dibintangi oleh Tom Cruise, Demi Moore dan Jack Nicholson.  Menceritakan perjuangan seorang oditur militer untuk menyeret seorang perwira yang didakwa melakukan pembunuhan terhadap seorang calon prajurit karena dianggapnya terlalu lamban sehingga dimungkinkan akan menyulitkan korpnya.

Saya tak hendak menceritakan film itu, karena saya yakin anda akan lebih fasih melakukannya.  Saya hanya tertarik untuk mengutip judul film tersebut sebagai judul postingan saya kali ini, sebagai metafora tekad salah seorang teman saya yang telah dengan tulus membantu melengkapi materi blog ini.  Singkatnya, ternyata masih banyak orang yang peduli pada kesenian jawa, atau lebih ekstrim lagi pada blog ini.  Bagaimana tidak?

Setelah banyak memberikan bantuan mulai dari saran, pendapat, kritik sampai materi dan bahkan finansial,  menjelang ramadan yang lalu, rekan saya ini menelpon saya dan mengatakan akan mengirimkan kaset magnetik kepada saya untuk saya convert ke digital.  Saya sungguh merasa sangat terhormat dipercaya untuk hal itu.  Kemampuan saya di bidang ripping audio jelas tidak akan sesuai harapannya.  Semantara, dia bisa saja memerintahkan ahli video / audio yang tak jauh dari tempat tinggalnya.

Dua hari lalu ponsel jelek saya member isyarat adanya sebuah pesan singkat.  Dan benar saja, melalui PT Herona dikabarkan bahwa kaset sudah dikirim dan bisa saya ambil esok harinya.  Rasanya duapuluh empat jam terasa sangat lama menjelang kiriman itu datang.  Bukan Indonesia namanya jika tidak terlambat.  Saya harus menelan kekecewaan karena ternyata kiriman itu harus tertunda setidaknya satu hari.  Sejujurnya, ini justru membuat saya semakin penasaran saja.  Baru kemaren sore, 10 september 2011 sembari menjemput anak pulang sekolah saya mampir untuk mengambil kiriman dari abangku tersayang ini.

Astaga! Paket itu ternyata sebuah bungkusan dos besar seberat lebih dari 20 kg.  Dikemas dengan sangat rapi, mencerminkan pribadi pengirimnya.  Jika tidak diinformasikan sebelumnya hampir tidak mengira jika itu kaset pita lakon wayang kulit yang tidak sedikit jumlahnya, 17 judul atau 136 buah.

Inilah kaset-kaset itu

  1. Ki Manteb Soedarsono – Gandamana Sayembara
  2. KI Nartosabdho – Rama Gandrung (Ramayana II, Sinta Cinidra – Subali Gugur)
  3. Ki H Anom Soeroto – Narayana Kridha Brata
  4. Ki H Anom Soeroto – Wahyu Sri Cemani
  5. Ki H Anom Soeroto – Wahyu Kembar
  6. Ki H Anom Soeroto – Semar Maneges
  7. Ki H Anom Soeroto – Kangsa Adu Jago
  8. Ki H Anom Soeroto – Parta Krama
  9. Ki H Anom Soeroto – Wahyu Makutharama
  10. Ki H Anom Soeroto – Kresna Duta
  11. Ki H Anom Soeroto – Suluhan Gatutkaca Gugur
  12. Ki H Anom Soeroto – Jayadrata & Burisrawa Lena
  13. Ki H Anom Soeroto – Ranjapan Abimanyu Gugur
  14. Ki H Anom Soeroto – Dewa Ruci
  15. Ki H Anom Soeroto – Bisma Gugur
  16. Ki H Anom Soeroto – Durna Gugur
  17. Ki H Anom Soeroto – Duryudana Gugur

Selepas makan malam, saya mencoba dan memulai mengkonvert kaset itu.  Saya tidak pernah berfikir kapan saya akan selesai menjadikan kaset-kaset ini menjadi file digital audio berformat mp3 standard, karena dengan rata-rata 1 jam masing-masing kaset saja memakan waktu 136 jam tanpa henti.  Jika sehari saya rekam 5 kaset saja setidaknya dua minggu baru selesai.  Ah, sudahlah!  Saya dengan senang hati saya akan melakukannya.  Sekarang, tiga hari kemudian ketia saya posting tulisan ini, Kangsa Adu Jago, Kresna Duta, Gatutkaca Gugur sudah selesai saya convert.

Inilah yang diawal posting saya sebut sebagai A Few Good Men.  Dari sekian banyak orang-orang baik yang peduli pada kesenian jawa, beliau salah satunya!

Diluar semua itu, pada akhirnya saya nanti akan berbagi dengan anda semua. Salam!

MP3 Tembang Kenangan – Black Brothers

Pada kurang lebih tahun 1975 saya yang tinggal di desa mendengar sebuah lagu dari radio (entah apa judulnya) tapi saya yakin, lagu tersebut dibawakan oleh kelompok musik Black Papas, karena setelah lagu tersebut selesai berkumandang, pembawa acara mengatakan …. “Demikian tadi Black Papas telah berlalu dari pendengaran kita melalui sebuah lagu yang sudah kita kenal semua

Beberapa hari kemudian, disaat ada kesempatan saya ke sebuah kota kabupaten, saya bermaksud membeli kaset yang beberapa hari lalu lagunya saya dengarkan. Hebatnya, ketika saya menyebutkan nama Black Papas, si penjaga toko tersebut tidak mengetahui dan menganggap saya salah sambil memastikan bahwa tidak ada group band dengan nama Black Papas. Dia juga memastikan bahwa yang saya maksud adalah Black Brothers sambil dia menyodorkan sebuah kaset pada saya. Karena malu (dan takut karena cah ndeso), saya beli saja saja kaset itu.

Sesampai dirumah, saya nikmati lagu-lagunya. Ketika itu, saya merasa bahwa lagu-lagu yang dibawakan Black Brothers sangat bagus. Enak didengar dan saya menyukainya hingga saya lupa pada Black Papas. Entahlah apa memang tidak ada band itu sudah tak lagi terfikir oleh saya, sampai beberapa hari yang lalu ketika saya menemukan kaset Black Brothers di pasar klithikan, cerita diatas terbayang lagi.

Group Band ini didirikan oleh Hengky Sumanti Miratoneng (alm) sekaligus sebagai lead vocal, didukung oleh Yohi Patipeiluhu (keyboard), Stevy Mambor (drummer), Amrey Kaha (saxophone), Agus Rumaropen (guitaris), Benny Betay (bassis). Tak banayk informasi yang bisa saya dapatkan dari Band hebat ini kecuali tentang issu keterlibatannya dengan Organisasi Papua Merdeka, meninggalnya Henky pada kurang lebih tahun 2006 dan upaya mengaransemen ulang lagu-lagu Black Brothers oleh kalangan musisi muda papua.

Kabar baiknya, saya berhasil memperbaiki kaset pita Black Brothers yang saya dapatkan di loakan (setelah berjuang siang malam) untuk kemudian saya convert ke format digital dan akan saya upload untuk anda yang hendak bernostalgia dengan band berambut kribo ini. Seperti biasa, saya selalu meminta maaf jika hasil ripping tidak memuaskan. Dan seperti biasa pula saya akan menyalahkan kondisi pita kaset yang memang sudah babak belur sejak awal untuk menutupi keterbatasan saya dalam hal audio editing!

Untuk cerita menganai Black Brothers silahkan anda browsing di internet. Ada banyak artikel, tulisan dan bahkan resensi untuk music-musiknya. Sedangkan bagi yang ingin mendengarkan lagi, suara Black Brothers dalam formt MP3, kami persilahkan download pada link dibawah ini.

1. Apuse
2. Ballada Dua remaja
3. Derita Tiada Akhir
4. Gadis Di Lembah Sunyi
5. Hari Kiamat
6. Hello
7. Hilang
8. Huembello
9. Irian Jaya
10. Kali Kemiri
11. Kenangan Novenmber
12. Keroncong Irian Jaya
13. Lonceng Kematian
14. Melati di Tanah gersang
15. Oh Sonya
16. Persipura
17. Putus Ditengah Kerinduan
18. Saman Doye
19. Terjalin Kembali,

MP3 Kethoprak RRI Yogyakarta – Arya Penangsang Gugur

Secara historis, Arya Penangsang sebenarnya memiliki hak atas Bumi Pajang.  Akan tetapi justru Hadiwaijaya yang menduduki tahta Pajang atas kehendak mendiang Raden Patah, atas jasa Hadiwaijaya (Jaka Tingkir) ketika itu.  Atas dasar itulah maka, Arya penangsang selaku penguasa  Kadipaten Jipang tidak mau lagi hadir di pisowanan agung Sultan Hadiwijaya.  Kehendak Arya Penangsang ini mendapatkan dukungan dari ayahnya, Sunan Kudus.  Dukungan kepada Arya Penangsang ini bukan hanya berupa politis tetapi  juga takstis.

Mengingat Sultan Hadiijaya memiliki kesaktian yang luar biasa, maka Sunan Kudus berupaya untuk menghadirkan Sultan Hadiwijaya, dengan maksud untuk bisa dibunuh oleh Arya Penangsang.  Langkah yang diambil oleh Sunan Kudus adalah berpura-pura mengundang Penguasa Pajang ini untuk hadir di Panti Kudus.  Alih-alih mendapat ilmu baru dari Sunan Kudus, Hadiwijaya justru akan dilemahkan secara mistis.  Ia diminta duduk di kursi yang disiapkan oleh Sunan Kudus dimana kursi tersebut telah diberi rajah darubeksi yang bisa melunturkan kesaktian siapapun yang menduduki kursi tersebut.

Kadang sulit sekali memahami sifat Sunan Kudus.  Bagaimana mungkin ia mendukung niat Harya Penangsang  untuk merebut Kekuasaan Sunan Hadiwijaya di Pajang.  Sementara, Harya Penangsang sudah sudah memiliki kekuasaan di Jipang Panolan.  Tapi begitulah kenyataan yang terjadi.  Sejarah akhirnya mencatat bahwa upaya  kudeta yang dilakukan Harya Penangsang tidak berhasil.

Kembali pada cerita yang kali ini saya upload.  Sultan hadiwijaya benar hadir di Panti Kudus.  Harya penangsang mempersilahkan Sultan Hadiwijaya duduk di kursi yang telah dipersiapkan.  Hampir saja Sultan Hadiwikaya terjebak untuk duduk dikuri yang penuh dengan rajah itu jika saja Ki Ageng Pemanahan tidak mencegahnya.  Berulang kali dengan berbagai cara Harya Penangsang mempersilahkan adik kemenakannya itu duduk di kursi, tapi Hadiwijaya tetap tak bergeming.  Akhirnya, dengan amarah luar biasa, Harya Penangsang menduduki kursi tersebut.  Tak pelak, dia terkena rajah dan akan kalah dalam peperangan selama empat puluh hari kedepan.  Pada saat bersamaan, datang sunan Kudus yang tengah melihat Arya Penangsang memegang keris.  Dia member “sasmita” agar keris itu disarungkan, tetapi penguasa Jipang Panolan yang sedang dikuasai amarah ini tidak tanggap sehingga ketika ia memiliki kesempatan untuk menikan Hadiwijaya dengan restu Sunan Kudus, justru keris disarungkan dalam arti yang sebenarnya. Sadar atas kekeliruannya, Arya Penangsang berniat menyusul Hadiwijaya untuk menuntaskan niatnya membunuh adik kemenakan itu.  Tetapi Sunan Kudus mengingatkan bahwa, rajah sakti sudah masuk kedalam tubuhnya sehingga mustahil bisa menang perang dalam empat puluh hari kedepan.  Yang justru harus dilakukan adalah bertapa untuk menghilangkan rajah yang sudah menyatu dengan dirinya.  Empat puluh hari tanpa makan, tanpa minum, tanpa tidur dan tanpa marah adalah harga yang harus dibayar oleh Harya Penangsang.

Sementara itu, di Gunung Danaraja, ratu Kalinyamat tengah menjalankan ritual samadinya bersama dua kemenakannya Rara Semangkin dan Rara Prihatin.  Dua gadiis belia ini adalah putra mendiang Pangeran Prawata yang tewas di tangan Harya penangsang.  Ratu Kalinyamat berada di tempat ini dan melakukan ritual bertapa telanjang (dalam arti sebenarnya) karena upayanya membalas dendam atas kematian adiknya, Pangeran Prawata.  Tekadnya sudah bulat bahwa dia tidak akan mengenakan busana dan kembali ke Kadipaten Jepara sebelum berhasil membalas dendam kepada Harya Penangsang.

Ketika itu Ki Ageng Pemanahan tengah hadir ke Gunung Danaraja dan menghadap Ratu Kalinyamat.  Kedatangan sebenarnya ketempat ini sebenarnya adalah terdorong oleh rasa kasihan dan prihatin atas keadaan Ratu Kalinyamat.  Kakak mendiang Sunan Prawata ini tidak akan mungkin bisa kembali ke Jepara jika tidak ada campur tangan orang lain untuk membunuh Harya Penangsang.  Sebagai seorang perempuan tanpa dukungan politis dari siapapun, mustahil Kalinyamat bisa memenuhi sumpahnya. Keberadaan Semangkin dan Prihatin akan dipergunakan sebagai alat untuk membujuk Sultan Hadiwijaya.  Harapannya, Sultan Hadiwijaya yang sebentar lagi akan hadir ke Gunung Danaraja dipastikan akan jatuh hati kepada Semangkin dan Prihatin.  Skenarionya adalah, kedua gadis ini akan diminta untuk meminta mas kawin yang berupa kepala Adipati Jipang Panolan jika Sunan Hadiwijaya berniat meminangnya.

Berhasilkah Skenario Ki Ageng Pemanahan?  Benarkah nantinya Sultan Hadiwijaya benar-benar jatuh hati kepada puteri mendiang Sunan Prawata? Bersediakan Semangkin dan Prihatin diboyong ke Pajang?  Semua tahu bahwa akhirnya Harya Penangsang gugur di tangan Sutawijaya, Putra Hadiwijaya.  Tapi bagaimana ceritanya?

Ikuti saja ceritanya dalam versi Kethoprak yang dengan manis dibawakan oleh Keluarga Kethoprak Mataram RRI Yogyakarta………….

  1. Harya penangsang Gugur 1
  2. Harya penangsang Gugur 2

BELAJAR AKSARA JAWA DENGAN HANACARAKA VER 1.0

Saya yakin, banyak diantara anda yang sudah memiliki program semacam ini, misalnya pallawa dsb.  Akan tetapi saya merasa tidak ada salahnya apabila saya kembali mengingatkan untuk kembali belajar Aksara Jawa (tentunya bagi yang belum faham) sebagai sarana referensi dan upaya “nguri-uri” budaya jawa yang konon dikenal adiluhung.

Program ini sangat kecil (20,5kb) dan mudah digunakan.  Dikeluarkan oleh Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta lebih dari lima tahun yang lalu.  Saya tidak tahu apakah ini melanggar hak cipta atau tidak tetapi jauh dihati saya cuma sekadar ingin berbagi kepada anda.  Kepada berbagai fihak, mohon maaf.

  1. Program Hanacaraka Ver 1.0 dapat diunduh disini
  2. Install program tersebut seperti biasa
  3. Hanacaraka Ver 1 dapat digunakan