Arsip Kategori: KETHOPRAK
Kethoprak Mataram Seri Sudira, Sutrisna – Waryanti
Ponakan saya ini mengatakan, suatu saat akan mampir kurumah saya. Tetapi setelah sekian lama menunggu, tidak juga ada kabarnya. Hal inilah yang membuat saya measa kangen. Ini Bukan tanpa alasan, karena dialah yang menlengkapi Seri Sudira di Blog ini. Disamping itu, keinginan saya untuk mendapatkan punjungan yang lain, mendorong saya untuk menyapanya kembali. Ini sapaan saya untuknya….
Seri Sudira, Sutrisna – Waryanti
oleh : Dian Pratama
Menurut Laporan pangeran Danawilapa kepada manggalayuda Sudira bahwa, Sapartibraja dengan kedua ajarnya telah melarikan diri meninggalkan medan laga, kesemuanya ini berkat bantuan Tarkini yang juga telah menolong Sutrisna dari bahaya maut. Untuk mempersatukan dan menambah kekuatan Tanjunganom, seyogyanya Sudira mengijinkan Sutrisna memperisteri Tarkini, Sudira setuju. Dengan demikian berarti Sonyapringga telah berhasil dikuasai sepenuhnya.
Namun di sebelah barat Sonyapringga masih ada benteng-benteng yang harus dipersatukan, termasuk kadipaten Hargapura yang perlu mendapat pengawasan langsung. Guna mengukur kekuatan lawan maka Tosidana dan Candrana ditugaskan untuk menyelidiki. Dalam perang melawan prajurit Tanjunganom, senopati Hargapura yang bernama Widarba dan Widagda merasa kewalahan menghadapi sepak terjang Tosidada yang dapat ambles bumi dan Candrana dapat terbang, oleh karena itu mereka segera kembali masuk benteng dan menutupnya. Hal ini dilaporkan kepada Adipati Wisraya ayah kedua senapati tersebut.
Atas perintah bethari Listyaningrat ibu angkatnya, Waryanti puteri Adipati Wisraya dari Kayangan turun ke bumi menuju kadhipaten Hargapura. Waryanti segera diangkat menjadi senopati dan memimpin penyerangan melawan prajurit Tanjung Anom. Prajurit Tanjung Anom dapat dipukul mundur dan tercertai berai termasuk Tosidana dan Candrana. Di kancah medan laga Waryanti senantiasa sesumbar menantang Sutrisna tetapi setelah berhasil berhadapan langsung dengan Sutrisna justru Waryanti tidak mau menyerang bahkan memohon agar Sutrisna sudi mempersuntingnya, tetapi Sutrisna tidak menanggapi ajakan Waryanti.
Karena kalah sakti, Sutrisna beberapa kali mengalami keadaan yang mengancam jiwanya, walau demikian Waryanti senantiasa bersedia menolong karena janji Sutrisna yang bersedia untuk mempersuntingnya. Tetapi janji Sutrisna yang disertai ucapan sumpah itu hingga beberapakali selalu tidak ditepati namun, karena selalu disudutkan dalam bahaya, akhirnya Sutrisna menyanggupi mempersunting Waryanti asalkan Hargapura menyerah, Waryanti sanggup dan berusaha meredam kemarahan ayahnya, sayang hal ini mengakibatkan tewasnya adipati Wisraya dan kedua saudara Waryanti terkena pusaka mereka sendiri.
Ketika sedang memadu kasih di taman, dari penuturan Waryanti sendiri Sutrisna tahu bahwa adipati Wisraya dan kedua putranya telah meninggal, Sutrisna mengira kematian ayah dan kedua saudaranya itu karena perbuatan Waryanti, maka marahlah Sutrisna dan berakibat Waryanti lari meninggalkan Sutrisna. Berakhirkah cerita ini? Tentu saja belum, ikutilah terus kelanjutan cerita ini.
Seri Mahesa Jenar – Simorodra Tandhing
Gunung Tidar geger! Orang orang sakti yang datang dari rawa Pening diataranya, Uling Putih berhasil masuk ke Gunung Tidar. Meski berhasil menyingkirkan anak buahnya, sayangnya mereka tidak bertemu dengan Simorodra penguasa Gunung Tidar yang terkenal sakti itu. Uling putih datang ke Guntung Tidar, bukan tanpa alasan. Simorodra, penguasa gunung Tidar hampir berhasil mendapatkan Keris Sakti Nagasasra Sabuk Inten yang menjadi icon Kerajaan Demak Bintoro.
Celakanya, ketika itu Simorodra tengah hanyut dalam buaian isteri mudanya, sehingga dia kurang memperhatikan keberadan gedhong pusaka yang ketika itu lepas daripenjagaan. Terlebih kedatangan orang-orang Rawa Pening telah berhasil melumpuhkan penjagaan di gedong pusaka. Tetapi apakah demikian adanya? Tidak! Isteri Simorodra adalah salah satu pendekar sakti, yang sengaja membiarkan Gedong Pusaka terbuka untuk memancing kedatangan orang-orang yang berminat merebut Keris Nagasasra Sabuk Inten.
Benar saja, seorang lelaki tampan tengah malam mendatangi Gedung Pusaka dan berhasil mencuri Keris Sakt itu. Beruntung Simorodra suami isteri memergokinya, sehingga terjadi perkelahian diantara mereka. Menghadapi dua orang sakti ini, lelaki tampan tadi kewalahan. Makin lama makin terdesak! Disaat genting tersebut, seorang lelaki lain melihat perkelahian yang tidak seimbang ini. Dia datang untuk menolong. Simorodra suami isteri dapat diundurkan.
Kedua orang ini akhirnya tidak mampu menahan beda pendapat saat mereka berhadapan dengan Keris Sakti Nagasasra Sabuk Inten yang sekarang berada didepan mata mereka. Pertarungan keduanya tak dapat dihindarkan. Karena sama-sama sakti pada akhirnya, mereka mengeluarkan aji pamungkasnya. Salah seorang menggunakan Aji Candrabirawa sedangkan yang lain adalah Aji Lebur Sakethi.
Candrabirawa jelas milik mahesa Jenar, tetapi bagaimana dengan Lebur Sekethi? Ajian ini hanya dimiliki oleh Ki Ageng Suradipayana…! Apakah dia?? Bukankan dia sedang sakit? Ah, makin ruwet dan menarik saja lakon Mahesa Jenar ini jika diikuti.
Marilah kita bernostalgia dengan Kethoprak Mataram…..
- Simorodra Tandhing 1
- Simorodra Tandhing 2
- Simorodra Tandhing 3
- Simorodra Tandhing 4
- Simorodra Tandhing 5
- Simorodra Tandhing 6
Kethoprak Mataram Seri Sudira – Sudira Bangkit
SUDIRA BANGKIT
Oleh : Dian Pratama
Atas pertimbangan pangeran sepuh Danawilapa, untuk segera dapat menolong prabu Lesanpura yang terkepung dalam benteng Sonyapringgga, apalagi mengingat penderitaan Sudira yang kalau tidak dapat tertolong dalam tempo 40 hari akan meninggal, maka Sutrisna segera menyerang bala tentara Sapartibraja yang mengepung benteng Sonyapringga.
Akhirnya Sapartibraja berhasil dipukul mundur, prajuritnya kocar-kacir. Dalam kesempatan ini Sutrisna dapat menguasai Sonyapringga baik diluar maupun didalam benteng. Atas usada anugerah Dewa yang dibawa oleh Sutrisna, Sudira bangkit kembali.
Malang bagi Sutrisna, karena setelah Sudira mengetahui bahwa Sutrisna kawin dengan Tosiani terpaksa Sutrisna dimasukan penjara. Setelah Sutrisna masuk penjara Sudira mendapat laporan bahwa Sapartibraja bersama-sama dengan ajar Dirgapati dan ajar wisapraja menyerang kembali dengan pusaka “cupu Wasiat”, Sudira akan maju tetapi tidak diperbolehkan oleh Danawilapa, kemudian tugas ditawarkan, Tosidana menyanggupi asal mendapat hadiah Sutrisni.
Betapa marah Sudira mendengar permohonan itu. Atas nasehat Donawilapa Tosidana disetujui melakukan tugas mencuri Cupu Wasiat dan membunuh kedua ajar, tapi apa lacur Tosidana gagal melakukan tugas tersebut, bahkan dia dapat ditawan dan disekap di dalam cupu Wasiat. Untung dalam situasi yang gawat ini Tosidana masih mempunyai saudara seperguruan yaitu Candrana, yang memang digariskan oleh dewa untuk menolong Tosidana. Oleh Candrana Cupu Wasiat yang telah berisikan Tosidana diserahkan kepada Sudira.
Sapartibraja dengan kedua ajar mengamuk, tetapi berhasil dipukul mundur oleh Sutrisna yang terpaksa dikeluarkan dari penjara. Sapartibraja mendapat bantuan dari kakak perempuannya yang bernama Sapartiati, Sutrisna kalah, tetapi mendapat pertolongan dari Tarkini, Sapartiati menemui ajalnya.
Kethoprak Mataram Seri Sudira – Sudira Kapidara
Ponakan saya, Dian Pratama, setelah tuntas menguplod Seri Sudira kepada sayatiba-tiba hilang tanpa kabar. Email saya juga tidak terbalas. Sayangnya saya juga tidak nyimpan nomor telepon. Kangen saya padanya makin tak tertahankan lagi.
Nah, sebagi ungkanpan kangen saya, berikut salah satu kirimannya saya upload untuk anda nikmati.
Sudira Kapidhara
oleh : Dian Pratama
Dalam Benteng Sonyapringga Adipati Sapartibraja minta pendapat kepada Ajar Dirgapati dan Ajar Wisapraja tentang cara mengalahkan prajurit Tanjung Anom, Kedua Ajar menyarankan agar benteng Sonyapringga dikosongkan, nanti setelah prajurit Tanjung Anom masuk ke dalam beteng segera diserang dari segala penjuru.
Dalam peperangan yang sangat ramai Sapartibraja memberi perintah mengosongkan benteng. Atas saran pangeran sepuh Danawilapa, walau saran ini ditentang oleh resi Jimbun Anom, prajurit Tanjung Anom lengkap perwira dan prabu Lesancaka masuk ke dalam benteng. Serangan Sapartibraja datang dari segala penjuru, pangeran Cempala menemui ajalnya tanding yuda melawan Sapartibraja, Cempalaputra ingin menuntut balas, tetapi tidak diperkenankan oleh sang prabu.
Kemudian manggalayuda Sudira bersama Candaka keluar benteng menghadapi serangan Sapartibraja kena pusaka pisau kilat
dari Sapartibraja, Manggalayuda Sudira rebah dibawa Cundaka masuk ke dalam benteng.
Dalam suasana sedih, bingung bercampur khawatir ini resi Jimbun Anom menunjuk pangeran Danawilapa ikhtiar mencari bantuan. Dengan penuh was-was dan takut akhirnya Danawilapa dapat lolos dari kepungan balatentara Sapartibraja.
Sutrisna yang beberapa tahun yang lalu kena panah ayahnya sendiri yang kemudian raganya dibawa harimau hitam, atas perintah dewata turun dari kayangan kembali ke bumi untuk melaksanakan tugas. Setelah bertemu dengan ibu kandung dan adiknya, oleh prabu Lesancaka
Sutrisna diangkat menjadi manggajayuda II.
Dalam perjalanan menuju benteng Sonyopringga rombongan Sutrisna dihalang-halangi oleh Tosidana dan Tosiani, karena kalah sakti maka
Sutrisna terpaksa kawin dengan Tosiani. Sampai di wilayah Kiranapraja rombongan Sutrisna terlibat perang dengan bawahan Sapartibraja yang dipimpin oleh senapati Anggayuda yang
telah berusia 90 tahun, dalam peperangan ini Lodona mati sampyuh dengan Anggayudo.
1. Sudira Kapidara_1
2. Sudira Kapidara_2
3. Sudira Kapidara_3
4. Sudira Kapidara_4
Kethoprak Mataram Seri Sudira – Sudira Kadakwa
Sekali lagi, ponakan saya Dian Pratama membangunkan saya menjelang subuh. Untuk yang pertama mengingatkan saya mengambil air wudlu dan segera sholat subuh. Setelah itu, segelas kopi, pisang goreng dan email yang dilampiri lakon Sudira Kadakwa. Segera setelah saya dengarkan kemudian saya upload untuk bisa anda nikmati sembari bernostalgia
SUDIRA KADAKWA
oleh : Dian Pratama
Akibat fitnah yang dilakukan oleh pangeran Linggaharda dengan mata kepala sendiri prabu Lesanpura mengetahui bahwa manggalayuda Sudira tidur pulas di kamar rumah pangeran Linggaharda yang di dalamnya terdapat juga Tantriati mati berlumuran darah dikepalanya, oleh karena itu Sudira dijatuhi hukuman mati.
Permohonan ampun yang dilakukan oleh pangeran Danawilapa, oleh resi Jimbun Anom serta anak dan isteri Sudira pun ditolak, segala upaya bekas jendral Utara ayah angkat Sudira untuk memohon ampun tidak dapat diterima oleh prabu Lesancaka, sehingga pusaka gada 18 keret digunakan oleh Utara untuk mendobrak pintu gerbang kraton yang akibatnya gada pecah menjadi 18 kepingan dan kemudian Utara membenturkan kepalanya dan menemui ajal seketika.
Alkhamdulilah keadaan memaksa prabu Lesancaka mengangkat kembali Sudira sebagai Manggalayuda , dengan diterimanya laporan bahwa Adipati Sapartibraja akan menyerang kerajaan Tanjung Anom.
Tetapi apakah Sudira dengan begitu mudah menerima pengangkatan sebagai Manggalayuda kembali? Jawabnya tidak. Persyaratan apakah yang diajukan oleh Sudira? Jawabnya silahkan anda mendengarkan rekaman ini.
1. Sudira Kadakwa 1
2. Sudira Kadakwa 2
3. Sudira Kadakwa 3
4. Sudira Kadakwa 4
Kethoprak Seri Sudira – MAEKA SUDIRA
Kembali, ponakanku Dian Pratama menyambangi saya kemaren pagi selepas subuh. Lewat Suratnya dia katakan telah mengupload sekuel ke III dari 16 seri yang dijanjikannya. Seakan tahu, bagaimana keinginan pakdhenya yang sudah kehabisan kata membuat sinopsis,
dilengkapinya file tersebut dengan ringkasan cerita Kethoprak yang dibawakan dengan nyaris sempurna oleh Keluarga Kethoprak Mataram Kodam VII Diponegoro pimpinan Bagong Kussudihardjo.
Selamat bernostalgia, kembali ke 30 tahun lalu ketika Kethoprak masih berjaya.
MAEKA SUDIRA
OLEH Dian Permana
Pada akhir cerita Manggalayuda Sudira ada dua keputusan penting dari prabu Lesanpura. Berdasarkan undian, Tiyasaguna mendapat tugas menakhlukan kadipaten Handakaraya, sedang Manggalayudo Sudira bertugas menakhlukan kadipaten Mintajiwa.
Karena merasa kurang mampu melaksanakan tugas tersebut, Tiyasaguna berbalik haluan memerintahkan para prajuritmenyerang Tanjung Anom, serangan berhasil dan pangeran dipatianom Lesancaka dipenjara.
Manggalayuda Sudira setelah menakhlukan kadipaten Mintajiwa ingat pesan resi Jimbun Anom untuk membaca surat yang dibawanya. Mengetahui isi surat tersebut, bersama prajuritnya, Sudira merebut kraton Tanjung Anom dari tangan Tiyosaguna.
Akhirnya Tiyosaguna beserta keluarganya mendapat hukuman mati. Hanya Tiyaningsih putri Tiyasaguna yang menjadi isteri pangeran Linggaharda bebas dari hukuman. Atas permintaan Tiyaningsih pangeran Lingga harda melakukan fitnah terhadap Sudira sewaktu Sudira telah dapat memboyong keluarganya dari desa.
Dalam usaha memboyong keluarga sudira kena fitnah Naga Ijo sehingga anaknya bernama Sutrisna mati karena panahnya Sudira sendiri. Dan bagaimana ujud fitnah Linngaharda terhadap Sudira, silahkan anda menikmati cerita ini.
Link Download MAeka Sudira
1. Maeka Sudira 1
2. Maeka Sudira 2
MP3 Kethoprak Mataram (Seri Sudira) – Manggalayuda Sudira
Hampir tak bisa dipercaya, ketika di bilah komentar blog ini, tiba-tiba seseorang memberikan komentar khusus mengenai Manggalayuda Sudira. Dia mengatakan, memiliki 14 dari 15 seri Sudira yang masih berbentuk pita magnetik dan berjanji akan memberikan file itu untuk sharing kepada kita semua.
Diluar dugaan, tengah malam beberapa waktu lalu rekan kita ini memperkenalkan diri sebagai Mas Dian Pratama. Dalam pesan singkatnya, (nampaknya dia masih muda maka saya minta untuk memanggil saya “pakdhe”) Mas Dian mengatakan akan segera mengirim file tersebut kepada saya. Benar saja, “ponakan” saya mengirim email yang dilampiri file Kethoprak Seri Sudiro dalam episode Manggalayudha Sudiro lengkap dengan sinopsisnya.
Tak sabar rasanya untuk segera berbagi file dari ponakan saya, itu. Selamat menikmati.
Untuk mas Dian Pratama: Terima kasih kami untuk anda yang sudah rela berbagi
MANGGALAYUDA SUDIRA
Oleh : Dian Pratama
Orang berpakaian serba putih masih diharapkan kehadirannya oleh raja Lesanpura. Tetapi karena kelicikan komandan Tiyosoguna, orang itu masih disembunyikan. yang selalu diperlihatkan anak menantunya sendiri bernama Hutaya.
Ketika raja Lesanpura menyerang kerajaan Kencana Arga dan terpipu dalam sekapan musuh berhasil ditolong orang berpakaian serba putih itu. Tetapi kemudian orang ini disembunyikan lagi oleh Tiyosoguna.
Nasib malang dialami lagi raja Lesanpura, ia tertipu lagi raja Kencana Arga hingga terjerembab dalam lautan lumpur dan dalam kesempatan ini raja Lesanpura dipaksa menyerah.
Tiba-tiba datang lagi orang berpakaian serba putih. Dengan pusaka orang itu raja Kencana Arga disirnakan. Raja Lesanpura terhindar dari maut. Ketemulah akhirnya raja Lesanpura dengan orang berpakaian serba putih yang ber- nama Sudira. Kemudian Sudira diangkat sebagai raja muda dan manggalayuda.
Download Kethoprak Seri Sudira – Manggalayuda Sudira
1. Manggalayuda Sudira 1a
2. Manggalayuda Sudira 1b
3. Manggalayuda Sudira 2a
4. http://www.mediafire.com/download.php?bp7ljlig4y231hc
MP3 Kethoprak RRI Yogyakarta – Arya Penangsang Gugur
Secara historis, Arya Penangsang sebenarnya memiliki hak atas Bumi Pajang. Akan tetapi justru Hadiwaijaya yang menduduki tahta Pajang atas kehendak mendiang Raden Patah, atas jasa Hadiwaijaya (Jaka Tingkir) ketika itu. Atas dasar itulah maka, Arya penangsang selaku penguasa Kadipaten Jipang tidak mau lagi hadir di pisowanan agung Sultan Hadiwijaya. Kehendak Arya Penangsang ini mendapatkan dukungan dari ayahnya, Sunan Kudus. Dukungan kepada Arya Penangsang ini bukan hanya berupa politis tetapi juga takstis.
Mengingat Sultan Hadiijaya memiliki kesaktian yang luar biasa, maka Sunan Kudus berupaya untuk menghadirkan Sultan Hadiwijaya, dengan maksud untuk bisa dibunuh oleh Arya Penangsang. Langkah yang diambil oleh Sunan Kudus adalah berpura-pura mengundang Penguasa Pajang ini untuk hadir di Panti Kudus. Alih-alih mendapat ilmu baru dari Sunan Kudus, Hadiwijaya justru akan dilemahkan secara mistis. Ia diminta duduk di kursi yang disiapkan oleh Sunan Kudus dimana kursi tersebut telah diberi rajah darubeksi yang bisa melunturkan kesaktian siapapun yang menduduki kursi tersebut.
Kadang sulit sekali memahami sifat Sunan Kudus. Bagaimana mungkin ia mendukung niat Harya Penangsang untuk merebut Kekuasaan Sunan Hadiwijaya di Pajang. Sementara, Harya Penangsang sudah sudah memiliki kekuasaan di Jipang Panolan. Tapi begitulah kenyataan yang terjadi. Sejarah akhirnya mencatat bahwa upaya kudeta yang dilakukan Harya Penangsang tidak berhasil.
Kembali pada cerita yang kali ini saya upload. Sultan hadiwijaya benar hadir di Panti Kudus. Harya penangsang mempersilahkan Sultan Hadiwijaya duduk di kursi yang telah dipersiapkan. Hampir saja Sultan Hadiwikaya terjebak untuk duduk dikuri yang penuh dengan rajah itu jika saja Ki Ageng Pemanahan tidak mencegahnya. Berulang kali dengan berbagai cara Harya Penangsang mempersilahkan adik kemenakannya itu duduk di kursi, tapi Hadiwijaya tetap tak bergeming. Akhirnya, dengan amarah luar biasa, Harya Penangsang menduduki kursi tersebut. Tak pelak, dia terkena rajah dan akan kalah dalam peperangan selama empat puluh hari kedepan. Pada saat bersamaan, datang sunan Kudus yang tengah melihat Arya Penangsang memegang keris. Dia member “sasmita” agar keris itu disarungkan, tetapi penguasa Jipang Panolan yang sedang dikuasai amarah ini tidak tanggap sehingga ketika ia memiliki kesempatan untuk menikan Hadiwijaya dengan restu Sunan Kudus, justru keris disarungkan dalam arti yang sebenarnya. Sadar atas kekeliruannya, Arya Penangsang berniat menyusul Hadiwijaya untuk menuntaskan niatnya membunuh adik kemenakan itu. Tetapi Sunan Kudus mengingatkan bahwa, rajah sakti sudah masuk kedalam tubuhnya sehingga mustahil bisa menang perang dalam empat puluh hari kedepan. Yang justru harus dilakukan adalah bertapa untuk menghilangkan rajah yang sudah menyatu dengan dirinya. Empat puluh hari tanpa makan, tanpa minum, tanpa tidur dan tanpa marah adalah harga yang harus dibayar oleh Harya Penangsang.
Sementara itu, di Gunung Danaraja, ratu Kalinyamat tengah menjalankan ritual samadinya bersama dua kemenakannya Rara Semangkin dan Rara Prihatin. Dua gadiis belia ini adalah putra mendiang Pangeran Prawata yang tewas di tangan Harya penangsang. Ratu Kalinyamat berada di tempat ini dan melakukan ritual bertapa telanjang (dalam arti sebenarnya) karena upayanya membalas dendam atas kematian adiknya, Pangeran Prawata. Tekadnya sudah bulat bahwa dia tidak akan mengenakan busana dan kembali ke Kadipaten Jepara sebelum berhasil membalas dendam kepada Harya Penangsang.
Ketika itu Ki Ageng Pemanahan tengah hadir ke Gunung Danaraja dan menghadap Ratu Kalinyamat. Kedatangan sebenarnya ketempat ini sebenarnya adalah terdorong oleh rasa kasihan dan prihatin atas keadaan Ratu Kalinyamat. Kakak mendiang Sunan Prawata ini tidak akan mungkin bisa kembali ke Jepara jika tidak ada campur tangan orang lain untuk membunuh Harya Penangsang. Sebagai seorang perempuan tanpa dukungan politis dari siapapun, mustahil Kalinyamat bisa memenuhi sumpahnya. Keberadaan Semangkin dan Prihatin akan dipergunakan sebagai alat untuk membujuk Sultan Hadiwijaya. Harapannya, Sultan Hadiwijaya yang sebentar lagi akan hadir ke Gunung Danaraja dipastikan akan jatuh hati kepada Semangkin dan Prihatin. Skenarionya adalah, kedua gadis ini akan diminta untuk meminta mas kawin yang berupa kepala Adipati Jipang Panolan jika Sunan Hadiwijaya berniat meminangnya.
Berhasilkah Skenario Ki Ageng Pemanahan? Benarkah nantinya Sultan Hadiwijaya benar-benar jatuh hati kepada puteri mendiang Sunan Prawata? Bersediakan Semangkin dan Prihatin diboyong ke Pajang? Semua tahu bahwa akhirnya Harya Penangsang gugur di tangan Sutawijaya, Putra Hadiwijaya. Tapi bagaimana ceritanya?
Ikuti saja ceritanya dalam versi Kethoprak yang dengan manis dibawakan oleh Keluarga Kethoprak Mataram RRI Yogyakarta………….
MP3 Kethoprak Mataram – Rara Jonggrang.
Sebenarnya, dia bukanlah sosok misterius. Dia sangat terbuka tentang banyak hal. Kecintaan dan pengetahuannya tentang Kesenian Jawa, tak perlu diragukan. Betapa tidak, bukan masalah uang tetapi lebih pada komitmennya untuk nguri-uri kesenian yang adiluhung ini. Tetapi wanti-wanti dia berpesan kepada saya untuk tidak perlu menceritakan siapa dirinya. Dia hanya ingin berbagi, tak lebih.
Jauh hari dia sudah memberitahukan kepada saya bahwa dia akan mengirimkan “beberapa” judul wayang dan kethoprak guna melengkapi materi dalam blog yang sangat sederhana ini. Oleh karenanya, ketika siang tadi datang kiriman dari teman saya ini,tak terlalu mengejutkan. Yang membuat terhenyak, adalah jumlahnya. Yang dia katakan “beberapa” itu ternyata sangat banyak bagi saya. Misalkan itu dalam bentuk kaset pita, saya harus membelinya dengan harga yang tidak sedikit. Duabelas judul adalah “harta karun” yang luar biasa besarnya. Jika satu lakon berharga Rp. 90.000, maka sebelas lakon wayang dan satu lakon kethoprak bernilai Rp. 1.000.000,-. Ah, sudahlah. Jika bicara angka bisa saya pastikan dia akan menegur saya pada kesempatan pertama ketika dia membaca postingan ini. Anda penasaran judul apa saja yang dia kirimkan pada saya?
- KI H Anom Soeroto – Wahyu Tejamaya.
- KI H Anom Soeroto – Wahyu Seta Sastra Kencana Purbaning Katon
- KI H Anom Soeroto – Setyaki Lahir
- KI H Anom Soeroto – Babad Wanamarta
- KI H Anom Soeroto – Kakrasana Wisudha (Wasi Jaladara)
- KI H Anom Soeroto – Babad Wanamarta
- KI H Anom Soeroto – Dewi Sri Mulih
- KI H Anom Soeroto – Wahyu Senapati
- KI H Manteb Soedarsono – Kresna Duta
- KI H Manteb Soedarsono – Bima Suci
- KI H Manteb Soedarsono – Dewa Ruci
- Kethoprak Mataram – Rara Jonggrang.
Saya akan berusaha untuk berbagi kepada anda dengan memposting judul-judul tersebut secara bertahap dengan harapan andapun bisa menikmati kebahagiaan yang saya rasakan. Saya akan memulainya dengan Kethoprak Mataram, Rara Jonggrang.
Beberapa waktu yang lalu saya pernah mengunggah lakon ini tetapi jauh dari kata sempurna. Bukan saja hasil ripping tetapi tetapi juga masalah cerita. Cerita yang kali ini saya unggah bisa dipastikan akan melengkapi postingan saya terebut.
Cerita dimulai dengan adegan di dalam taman Keraton Wanasegara. Adik perempuan Prabu Gupala, Raja Wanasegara yang bernama Rara Jonggrang tengah dilanda kesedihan. Mengingat kakaknya harus membuka front dengan Kraton Pengging. Perang ini dipicu oleh keinginan Prabu Gupala yang bermaksud memperisteri Dewi Candrawati, permaisuri Raja Pengging.
Tiba-tiba, rara Jonggrang mendengar khabar bahwa Prabu Gupala gugur dalam pertempuran tersebut. Disusul kehadiran Raden Bandung Bandhawasa putra raja sekaligus panglima perang Keraton Pengging yang berniat mengambil pampasan perang, termasuk diantaranya rara Jonggrang. Tetapi keluguan Bandung Bandawasa yang ternyata jatuh hati pada rara Jonggrang, dimanfaatkan oleh Adik Prabu Gupala ini untuk membalas dendam kematian kakaknya. Rara Jonggrang berpura-pura mencintai Bandung Bandhawasa. Ia meminta kepada Bandung untuk mengambilkan gatheng kencana, kedalam sumur. Tedorong oleh perasaan cintanya, Bandung memenuhi permintaan Rara Jonggrang. Begitu Bandung masuk kedalam sumur, Rara Jonggrang segera memerintahkan prajurit Wanasegara untuk menutup sumur tersebut. Tujuannya jelas. membunuh Bandung Bandhawasa.
Sementara itu, jauh dipesisir Parangtritis. Dewi Daruwati tengah menyiapkan makan siang anak lelakinya yang bernama Raden Baka. Kendati berwajah tampan, Raden baka memiliki kelainan. Dia memiliki taring sebagaimana layaknya seorang raksasa. Karena terlalu tergesa akibat perntah Baka yang merasa sudah sangat lapar, ibu jari Dewi Daruwati teriris pisau yang digenggamnya. Celakanya daging irisan ibu jari dan darah Dewi Daruwati terbawa dalam piring makanan yang disiapkan untuk Baka. Anehnya, ketika tersantap justru Baka sangat menyukainya. Saking kepinginnya memakan darah dan daging manusia, sampai-sampai dia memaksa ibu dan kakeknya untuk dimakan bila dia tidak mencarikan santapan yang berupa daging manusia.
Mempertimbangkan akibat buruk apabila tidak memenuhi keinginan Raden Baka, maka sang kakek menyarankan anak muda ini untuk pergi ke Karaton Wanasegara. Dikatakan bahwa disana tengah terjadi pertempuran besar anatara Keraton Pengging dan Keraton Wanasegara. Bisa dipastikan akan banyak diketemukan daging manusia. Dengan diantar oleh abdinya yang bernama Dhandhanggula, Baka berangkat ke Keraton Wanasegara.
Rara Jonggrang yang berniat membunuh Bandung Bandhawasa ternyata tidak berhasil karena ternyata Bandung Bandhawasa bisa keluar dengan selamat dari dalam sumur. Terdesak oleh kenyataan ini, Rara Jonggrang bermaksud melarikan diri dari Bandung Bandhawasa. Disaat Bandung tengah tertidur, Jonggrang melarikan diri. Ditengah hutan dia bertemu dengan Raden Baka. Tak berbeda dengan Bandung, Bakapun jatuh hati pada putrid Wanasegara ini. Kadaan ini dimanfaatkan oleh Rara Jonggrang untuk mengadu domba antara Baka dan Bandung. Terjadi pertarungan antara dua pemuda sakti ini.
Siapa sebenarnya Bandung Bandhawasa? Siapakah Baka yang meski berwajah tampan tetapi memiliki taring dan doyan daging manusia? Saya percaya, banyak diantara anda sudah mengetahui akhir cerita ini. Inilah legenda terjadinya Candi Prambanan dan Patung rara Jonggrang. Tetapi bagaimana rincian cerita versi kethopraknya? Pasti anda penasaran juga. Nah, kami persilahkan kepada anda untuk menikmatinya. Mohon maaf, atas nama bandwidth yang terbatas, saya mengkompres habis-habisan file dari rekan saya tadi. Tujuannya jelas. Agar mudah untuk diunggah!
- Rara Jonggrang _1
- Rara Jonggrang_2
- Rara Jonggrang_3
- Rara Jonggrang_4



