Arsip Kategori: KETHOPRAK PATI

MP3 Ketkoprak – SARIDIN LAHIR

Bukan hanya anda, sayapun cukup lama mencari lakon ini.  Saya sudah berupaya mencari ke berbagai tempat untuk sekedar mendapatkan jawaban prolog dari sequel panjang Kyai Eksentrik, Saridin alias Syeh Jangkung.

Banyak sudah kita mendengar kehebatan ulama pesisir ini tapi minim sekali  informasi yang memberikan jawaban atas pertanyaan mendasar, siapakah Saridin itu?  Dari latar belakang apa sehingga dimasa dewasanya memiliki daya linuwih.  Bukan hanya bupati pati, tetapi Raja Matarampun rela bertani sekadar memberikan kesempatan kepada dasidin untuk menyelesaikan konflik di kotaraja Mataram.

Setelah hampi putus asa, akahirnya saya menemukan kaset pita dengan Lakon Saridin Lahir.  Kabar baiknya, lakon ini didukung oleh seniman dari latar belakang yang berbeda.  Saridin Lahir merupakan Kethoprak Gabungan antara Ketoprak  Sri Budaya Pati dengan Kethoprak Mataram RRI Yogyakarta.  Sungguh perpaduan yang tidak gampang dilakukan untuk sebuah pagelaran yang akan dikemas dalam pita kaset  sebagai barang komuditi.   Kabar buruknya, lakon ini selesai dalam 6 kaset c 60.  Bukan saja 12 jam harus saya habiskan untuk convert tai juga 100 MB upload dengan internet yang super lelet sesuai budged yang ada pada saya.

Tanpa melihat adanya episode lain yang (mungkin) belum saya ketemukan, Saridin Lahir seakan telah melengkapi cerita panjang sang cikal bakal dukuh Milono yang lehendaris ini.  Ketika saya memulai mengunggah cerita ini setahun lalu dengan episode Andum Waris, banyak rekan yang mampir dan memberikan apresiasi atas kerja (keras) saya.  Lalu berturut turut saya unggah Geger Palembang, Bedhahing Ngerom, Ontran-ontran Cirebon, Andha Rante, Sultan Agung Tani, Keris Jangkung dan Lulang Kebo Landhoh (Syeh Jangkung Wafat).  Dalam kesempatan ini saya perlu mengucapkan terima kasih kepada Nangagus dan Iwan AK yang telah berbaik hati melengkapi cerita Saridin.  Dengan upload saridin lahir ini, seakan lunaslah hutang saya.

Saya pastikan, cerita tak akan lagi menarik jika otak bebal saya harus bergaya membuat sinopsi cerita ini.  Oleh karenanya saya tidak merasa perlu membuat sinopsis karena justru akan mengotori kehebatan cerita Kethoprak Gabungan ini.

Berikut adalah hasil conver Saridin Lahir

  1. Kethoprak – Syeh Jangkung (Saridin) Lahir _1a
  2. Kethoprak – Syeh Jangkung (Saridin) Lahir _1b
  3. Kethoprak – Syeh Jangkung (Saridin) Lahir _2a
  4. Kethoprak – Syeh Jangkung (Saridin) Lahir _2b
  5. Kethoprak – Syeh Jangkung (Saridin) Lahir _3a
  6. Kethoprak – Syeh Jangkung (Saridin) Lahir _3b
  7. Kethoprak – Syeh Jangkung (Saridin) Lahir _4a
  8. Kethoprak – Syeh Jangkung (Saridin) Lahir _4b
  9. Kethoprak – Syeh Jangkung (Saridin) Lahir _5a
  10. Kethoprak – Syeh Jangkung (Saridin) Lahir _5b
  11. Kethoprak – Syeh Jangkung (Saridin) Lahir _6a
  12. Kethoprak – Syeh Jangkung (Saridin) Lahir _6b(tamat)

Syeh Jangkung, Andum Waris

Sejujurnya, Sunan Kudussaya tidak begitu mengenal cerita ini.  Tetapi karena begitu dahsyatnya cerita ini menjadikan saya tertarik. Maka ketika saya berburu kaset bekas (tepatnya; Bekas Kaset) di pasar loak dan melihat judul diatas,  langsung saya ambil, kendati hanya ada 4 buah dari 5 buah kaset yang seharusnya.  Kekurangan 1 kaset bagi saya tak masalah, karena si penjual menjajikan  kekurangannya.

Sambil saya convert ke format digital, saya browsing untuk mencari referensi tentang Saridin.  Saya tak hendak memilih ketika membuka situs yang bercerita tetang Saridin seperti di bawah ini.  Kepada Mahesa Jenar, mohon maaf saya mengutip artikel anda.

Inilah sekilas tentang Saridin:

Saat era Wali Songo, di suatu daerah di pesisir utara pulau Jawa, tepatnya di daerah Pati, tersebutlah seorang pemuda desa yang lugu dan bersahaja, bernama Saridin.
Nama Saridin mungkin tidak begitu tenar secara nasional, tapi sudah melegenda secara regional. Region itu adalah wilayah Demak Kudus Pati Juwono Rembang, atau yang sering dilafadzkan sebagai Anak Wedus Mati Ketiban Pedang.

Saridin seorang sakti, namun lugunya tidak ketulungan, sehingga (seakan) tidak menyadari kesaktiannya.

Sunan KalijagaDia pernah membunuh kakak iparnya, karena sang kakak sering mencuri durian miliknya. Saat itu kakaknya menyamar menggunakan pakaian harimau, sehingga Saridin tidak mengenali. Dengan sekali tombak, matilah sang ipar.  Saat ditanya oleh petugas, Saridin mengaku tidak membunuh kakaknya, melainkan membunuh harimau yang mencuri duriannya. Meskipun jika pakaian harimau dibuka, Saridin tau bahwa itu kakak iparnya.
Kalo secara hukum, Saridin tidak bersalah, karena membela miliknya, dan tidak menyadari kalo harimau itu adalah kakaknya.  Namun demikian, Saridin tetap harus dipenjara.

Untuk memasukkan ke penjara bukan hal mudah, karena Saridin ngotot tidak bersalah. Akhirnya Adipati Jayakusuma, pemimpin pengadilan, menggunakan kalimat lain, bahwa Saridin tidak dipenjara, melainkan diberi hadiah sebuah rumah besar, diberi banyak penjaga, makan disediakan, mandi diantarkan. Akhirnya Saridin bersedia.

Sebelum dipenjara, Saridin bertanya apakah boleh pulang kalo kangen anak dan istrinya. Petugas menjawab: “boleh, asal bisa” .  Dan terbukti beberapa kali Saridin bisa pulang, keluar dari penjara di malam hari dan kembali lagi esok harinya.

Karena Adipati jengkel, Saridin dikenai hukuman gantung. Tapi saat digantung para petugas tidak mampu menarik talinya karena terlalu berat. Saridin menawarkan ikut membantu, dijawab oleh Adipati: “boleh, asal bisa”. Dan karena ijin itu Saridin lepas dari talinya, lalu ikut menarik tali gantungan.

Adipati semakin murka, dan menyuruh membunuh Saridin saat itu juga. Sebuah tindakan putus asa seorang penguasa.

Saridin melarikan diri sampai ke Kudus, yang lalu berguru pada Sunan Kudus. Di sini Saridin tidak berhenti menunjukkan kesaktiannya, malah semakin menonjol.

Saat disuruh bersyahadat oleh Sunan Kudus, para santri lain memandang remeh pada Saridin, apa mungkin Saridin bisa mengucapkannya dengan benar.

Tapi yang terjadi sungguh di luar dugaan semua orang. Saridin justru lari, memanjat pohon kelapa yang sangat tinggi, dan tanpa ragu terjun dari atasnya. Sampai di tanah, dia tidak apa-apa. Semua pada heran pada apa yang terjadi.

Sunan Kudus menjelaskan, bahwa Saridin bukan cuma mengucapkan syahadat, tapi seluruh dirinya bersyahadat, menyerahkan seluruh keselamatan dirinya pada kekuasaan tertinggi. Kalo sekedar mengucapkan kalimat syahadat, anak kecil juga bisa.

MAKAM SYEH JANGKUNG Namun Saridin masih tetap dilecehkan oleh para santri. Saat ada kegiatan mengisi bak air untuk wudlu, Saridin bukannya diberi ember, malah diberi keranjang. Tapi dengan keranjang itu pula Saridin bisa mengisi penuh bak air.

Saat Saridin mengatakan bahwa semua air ada ikannya, tidak ada yang percaya. Akhirnya dibuktikan, mulai dari comberan, air kendi sampai air kelapa, ketika semua ditunjukkan di depan Saridin, semua ada ikannya.  Akhirnya Saridin diusir oleh Sunan Kudus, harus keluar dari tanah Kudus.

Singkat cerita, Saridin yang ternyata murid dari Sunan Kalijaga ini bertemu lagi dengan gurunya. Saridin diperintahkan untuk bertapa di lautan, dengan hanya dibekali 2 buah kelapa sebagai pelampung. Tidak boleh makan kalo tidak ada makanan yang datang, dan tidak boleh minum kalo tidak ada air yang turun.  Pada akhirnya, Saridin dikenal sebagai Syeh Jangkung, yang tinggal di desa Landoh, Kayen, Pati.

(Dikutip dari http://www.mahesajenar.com/2007/02/saridin.html)

Berikut ini KETOPRAK TRISNA BUDAYA dalam cerita SYEH JANGKUNG, dengan dukungan pemain:

  1. Ki Branjang                  :  Sariyanto
  2. Nyi Branjang               :  Suntari
  3. Saridin                           :  Tumijan
  4. Nyi Saridin                  :  Sumiyati
  5. Dagelan                        :  Kecik / Markum
  6. Lurah Miyono           :  Murdadi
  7. H. Joyokusumo        :  Suparjo
  8. Sunan Kalijaga          :  Daryanto
  9. Sunan Kudus             :  Iskandar
  10. Nyi Sunan Kudus     :  Winarsih
  11. Bakul Legen                :  Martono
  12. Bojo                               :  Endang R
  13. Waranggana               :  Purwanti / Sutinah

Bagi anda yang bermaksud mendengarkan Ketoprak MP3 dalam Cerita Syeh Jangkung Andum Waris kami persilahkan download disni ……………

  1. Syeh Jangkung, Andum Waris 1a
  2. Syeh Jangkung, Andum Waris 1b
  3. Syeh Jangkung, Andum Waris 2a
  4. Syeh Jangkung, Andum Waris 2b
  5. Syeh Jangkung, Andum Waris 3a
  6. Syeh Jangkung, Andum Waris 3b
  7. Syeh Jangkung, Andum Waris 4a
  8. Syeh Jangkung, Andum Waris 4b
  9. Syeh Jangkung, Andum Waris 5a
  10. Syeh Jangkung, Andum Waris 5b

Ketoprak “Syeh Siti Jenar mBalelo”

Ketoprak Belonk & Kancil “Syeh Siti Jenar mBalelo”

MENGENAL NAMA SYEKH SITI JENAR

Syekh Siti Jenar (829-923 H/1348-1439 C/1426-1517 M), memiliki banyak nama : San Ali (nama kecil pemberian orangtua angkatnya, bukan Hasan Ali Anshar seperti banyak ditulis orang); Syekh ‘Abdul Jalil (nama yg diperoleh di Malaka, setelah menjadi ulama penyebar Islam di sana); Syekh Jabaranta (nama yg dikenal di Palembang, Sumatera dan daratan Malaka); Prabu Satmata (Gusti yg nampak oleh mata; nama yg muncul dari keadaan kasyf atau mabuk spiritual; juga nama yg diperkenalkan kepada murid dan pengikutnya); Syekh Lemah Abang atau Lemah Bang (gelar yg diberikan masyarakat Lemah Abang, suatu komunitas dan kampung model yg dipelopori Syekh Siti Jenar; melawan hegemoni kerajaan. Wajar jika orang Cirebon tidak mengenal nama Syekh Siti Jenar, sebab di Cirebon nama yg populer adalah Syekh Lemah Abang); Syekh Siti Jenar (nama filosofis yg mengambarkan ajarannya tentang sangkan-paran, bahwa manusia secara biologis hanya diciptakan dari sekedar tanah merah dan selebihnya adalah roh Allah; juga nama yg dilekatkan oleh Sunan Bonang ketika memperkenalkannya kepada Dewan Wali, pada kehadirannya di Jawa Tengah/Demak; juga nama Babad Cirebon); Syekh Nurjati atau Pangran Panjunan atau Sunan Sasmita (nama dalam Babad Cirebon, S.Z. Hadisutjipto); Syekh Siti Bang, serta Syekh Siti Brit; Syekh Siti Luhung (nama-nama yg diberikan masyarakat Jawa Tengahan); Sunan Kajenar (dalam sastra Islam-Jawa versi Surakarta baru, era R.Ng. Ranggawarsita [1802-1873]); Syekh Wali Lanang Sejati; Syekh Jati Mulya; dan Syekh Sunyata Jatimurti Susuhunan ing Lemah Abang. Read the rest of this entry

JAKA TINGKIR NGRATU

KETOPRAK SISWO MUDHO “JAKA TINGKIR NGRATU”

Jeneng asline yaiku Mas Karebet, putra saka Ki Ageng Pengging. Jeneng mau, asale saka bapakke nanggap wayang beber ngepasi laire Jaka Tingkir. Nalika Mas Karebet umur sepuluh taun, Ki Ageng Pengging diukum pati, merga dituduh mbrontak saka Kesultanan Demak. Ora sawetara suwe ibune uga seda. Banjur Mas Karebet dipek anak dening Nyi Ageng Tingkir. Dheweke pamit marang Nyi Ageng Tingkir saperlu meguru.

Mas Karebet nyinau ilmu agama. Dheweke meguru marang Sunan Kalijaga, banjur meguru maneh menyang Ki Ageng Sela. Dening Ki Ageng Sela, diaku anak lan digandeng sedulurke karo putu-putune yaiku Ki Juru Martani, Ki Ageng Pemanahan Lan Ki Panjawi. Jaka Tingkir lunga menyang Kasultanan Demak Bintoro. Ing Demak, dheweke mangggon ing omahe Kyai Gandamustaka (pamane Jaka Tingkir) kang dadi lurah ganjur (ngurusi mesjid). Dening Sultan Trenggana, Tingkir diangkat dadi lurah wiratamtama. Read the rest of this entry

Calon Arang

Ketoprak Wahyu Manggolo “Dumadine Rondo Calon Arang”

Alkisah, pada zaman dahulu kala, di daerah Jawa Timur terdapat sebuah kerajaan bernama Kahuripan. Kerajaan tersebut dipimpin oleh Sri Baginda Erlangga. Suatu ketika, ia mendapat laporan dari patihnya yang bernama Narottama bahwa sebagian besar rakyatnya terserang penyakit aneh. Mendengar laporan itu, Sri Baginda Erlangga segera memerintahkan Patih Narottama untuk menyelidiki penyebab penyakit aneh tersebut. Alhasil, setelah diselidiki, ternyata penyakit aneh tersebut disebarkan oleh seorang perempuan penyihir yang bernama Serat Asih atau lebih dikenal dengan nama Calon Arang yang tinggal di Desa Girah. Setiap malam, Calon Arang menyebarkan penyakit aneh tersebut kepada rakyat Kahuripan dengan ilmu sihirnya. Mengetahui hal itu, Sri Baginda Erlangga memerintahkan Patih Narottama agar segera menangkap perempuan penyihir itu. Read the rest of this entry

Batik Madrim Sayembara, Angling Darmo Ngratu

Ketoprak Wahyu Manggolo : Batik Madrim Sayembara, Angling Darmo Ngratu

Prabu Anglingdarma, putra saka Dewi Pramesthi karo Astradarma Ratu saka Yawastina. Pramesthi kuwi putri Prabu Jayabaya, raja saka kraton Mamenang Kediri. Sawise dadi garwa raja Yawastina, Pramesti banjur di boyong menyang Yawastina.

Sawijining dina, Pramesthi diangslupi Bathara Wisnu, lan ndadekake dheweke ngandheg. Prabu Astradarma duka ngerti kahanan mau, lan ora nampa katrangane Pramesthi. Dheweke ditundung lunga saka kraton. Banjur mulih neng kratone bapake.

Prabu Jayabaya duka marang Astradarma, banjur sepata yen bakale negara Yawastina lebur dadi lendhut. Ora let suwe Prabu Jayabaya mukswa, Anglingdarma lahir lan dadi raja ing kraton Malawapati. Dewi Pramesthi kaboyong neng Malawapati. Read the rest of this entry

Ketoprak Siswo Budoyo “Sunan Kalijaga Sungkem”

1. ASAL USUL SUNAN KALIJAGA

Sudah banyak orang tahu bahwa Sunan Kalijaga itu aslinya bernama Raden Said.

Putra Adipati Tuban yaitu Tumenggung Wilatikta. Tumenggung Wilatikta seringkali disebut Raden Sahur, walau dia termasuk keturunan Ranggalawe yang beragama Hindu tapi Raden Sahur sendiri sudah masuk agama Islam.

Sejak kecil Raden Said sudah diperkenalkan kepada agama Islam oleh guru agama Kadipaten Tuban. Tetapi karena melihat keadaan sekitar atau lingkungan yang kontradiksi dengan kehidupan rakyat jelata maka jiwa Raden Said berontak.Gelora jiwa muda Raden Said seakan meledak-ledak manakala melihat praktek oknum pejabat Kadipaten Tuban di saat menarik pajak pada penduduk atau rakyat jelata.

Rakyat yang pada waktu itu sudah sangat menderita dikarenakan adanya musim kemarau panjang, semakin sengsara, mereka harus membayar pajak yang kadangkala tidak sesuai dengan ketentuan yang ada. Bahkan jauh dari kemampuan mereka. Seringkali jatah mereka untuk persediaan menghadapi musim panen berikutnya sudah disita para penarik pajak. Raden Said yang mengetahui hal itu pernah mengajukan pertanyaan yang mengganjal di hatinya. Suatu hari dia menghadap ayahandanya. Read the rest of this entry

Kethoprak Mustiko Budoyo "Adeking Menoro Kudus"

Sunan Kudus, Mesjid Menara Kudus, sampai Larangan Menyembelih Sapi

Dari sekian masjid bersejarah di Indonesia, Masjid Menara Kudus (Jawa Tengah) punya keunikan tersendiri. Sebuah menara mirip candi berdiri anggun di sebelah kiri depan masjid. Banyak masyarakat awam, bahkan para arkeolog yang bertanya-tanya, bagaimana elemen masjid mengadopsi model bangunan tempat ibadah umat Hindu dan Buddha.
Tidak hanya menara, bangunan-bangunan di sekeliling masjid juga banyak yang mirip dengan bangunan candi. Gapura di depan masjid yang tersusun dari batu bata tanpa semen tidak lain merupakan ciri khas candi di Jawa Timur. Ada juga pancuran untuk wudhu yang berjumlah delapan. Di atas pancuran itu diletakkan arca. Jumlah delapan pancuran, konon mengadaptasi keyakinan Buddha, yakni ‘Delapan Jalan Kebenaran’ atau Asta Sanghika Marga. Read the rest of this entry

Serial Syeh Jangkung (Saridin): ANDHARANTE

Bahagia rasanya, ditengah kesibukannya sebagai seorang yang berdedikasi tinggi di dunia pendidikan, kamasku Mas Totok Sutamto, masih rela menyisakan waktu berbagi file.

Tidak tanggung tanggung.  Setelah 4 kali maringi link download, kali ini aebuah lakon yang merupakan serial unggulan blog ini, yaitu Serial Saridin (Syeh Jangkung) dihibahkan untuk melengkapi episode Syeh Jangkung terdahulu.

Andharante.  Begitulah judul episode yang kali ini dikirimkan oleh Mas Sutamto Totok untuk melengkapi seri-seri terdahulu yaitu Andum Waris, Geger Palembang, Ontran-ontran Cirebon, Bedhahing Ngerum, Sultan Agung Tani, Keris Jangkung dan Dumadine Lulang Kebo Landhoh.

Dengan demikian, ibarat berhutang, saya tinggal satu kali lagi angsuran untuk bisa melunasinya, yaitu Saridin Lahir yang materinya sudah siap.  Rasanya tepat sekali episode Saridin saya posting menghadapi Bulan Ramadhan karena betapapun Syeh Jangkung adalah sebuah icon bagi konsep sufi ala Jawa.  Selamat Menikmati

 

Ringkasan cerita :
Ketoprak Sri Kencono Budhoyo, Ondorante – Syeh Jangkung

Oleh : Sutamto Totok

 

Konon, pada masa pemerintahan Sultan Agung, ada kawula Kadipaten Pati yang suka membuat onar. Namanya Ondorante. Kisahnya, Ondorante sering marah dan membubarkan orang-orang yang mau salat di masjid. Beduk masjid di rusak, perempuan-perempuan berjilbab diejek, dilempari batu. Berkali-kali umat Islam di desa melawan, namun selalu kalah karena kesaktian Ondorante sangat tinggi. Bahkan ketika Adipati Mangun Oneng (Adipati Pati) dan Tumenggung Sombo Pradan juga turun tangan, keduanya juga dibuat bertekuk lutut oleh Ondorante. Read the rest of this entry

Seri Syeh Jangkung, DUMADINE LULANG KEBO LANDOH

Gelisah juga rasanya, ketika sampai sekian lama saya tak juga menemukan kaset bekas di pasar klithikan (loak) untuk melengkapi Serial Syeh Jangkung yang tinggal dua episode lagi, yaitu Saridin Lahir dan Dumadine Lulang Kebo Landoh.  Sejujurnya, saya sudah membeli 2 kaset baru demi melengkapi serial ini yaitu, Bedhahing Ngerom dan Ontran-ontran Cirebon sehingga ketika saya melihat Seri Syeh Jangkung, Dumadine Lulang Kebo Landoh di toko awal Februari lalu saya jadi ragu untuk membelinya.

Disamping harganya yang relatif mahal, bulan ini saya tak merencanakan budged untuk keperluan membeli kaset baru.  Bagi saya, Rp. 85.000,- bukanlah angka yang kecil sekalipun jika selesai di konvert saya masih punya kesempatan untuk menukarkan dengan judul lain dengan “nombok” Rp.3500 tiap kaset.  Akan tetapi, demi melihat tak ada cadangan dalam tumpukan kaset itu, rasa khawatir saya akan kehilangan kesempatan dan kaset itu laku kepada pembeli lain makin menggoda. Maka jadilah kaset itu saya ambil.  Untuk memuaskan hasrat langsung saya convert untuk kemudian saya upload dan saya posting sebelum perasaan-perasaan yang tidak perlu singgah dihati saya.

Pada episode inilah puncak “karier” Syeh Jangkung.  Secara de facto dia telah menjadi ulama dan paranpara Negara Mataram.  Tak kurang, Sultan Agung rela menjadi petani menggantikan Syeh Jangkung yang ketika itu sedang sibuk menggarap sawah demi meminta kesediaan kyai eksentrik ini mennyelesaikan permasalahan dan pageblug yang menimpa keraton Mataram akibat ulah lelembut yang membuat bencana di seantero keraton Mataram.

Dari sinilah sekuel ini dimulai.  Syeh Jangkung bisa datang ke Mataram memenuhi harapan Sultan Agung untuk menumpas gerombolan jin yang dipimpin oleh Kalawindu yang telah menguasai keraton Mataram.  Atas keberhasilan Syeh Jangkung menumpas gerombolan Jin Kalawindu, Sultan Agung bermaksud memboyong Keluarga Besar Syeh Jangkung di Miyono, Pati (termasuk Retna Jinoli) untuk tinggal di Mataram, akan tetapi Syeh Jangkung menolak, karena banginya tinggal di Miyono sebagai petani terasa lebih nikmat jika di jalani dengan ikhlas.

 

Sementara itu, keberadaan Syeh Jangkung di Miyono terasa sangat mengganggu keberadaan Panti Kudus yang dipimpin oleh Sunan Kudus.  Hal ini karena ajaran yang di bawa oleh Saridin dapat membahayakan santri-santri lain pada umumnya.  Oleh karena itu, dengan semakin banyaknya warga (terutama santri) yang berguru ke Miyono menjadikan Sunan Kudus makin gusar.  Kegusaran Sunan Kudus kemudian dibawa ke Kabupaten Pati.

 

Dengan mengingatkan kembali kejadian lolosnya Saridin dari penjara Kadipaten Pati sampai kejadian gagalnya hukuman gantung yang dijatuhkan kepada Saridin atas tuduhan terbunuhnya kakak ipar Saridin saat memakai pakaian harimau beberapa tahun yang lalu, Adipati Tandanegara termakan oleh masukan Sunan Kudus.  Oleh karena itu, diputuskan untuk membubarkan perguruan (baca: pesantren di Miyono) yang diasuh oleh Syeh Jangkung bagaimanapun caranya!

Bagaimana kelanjutan  kisah ini?  Berhasilkah Sunan Kudus membungkam kehebatan Saridin? Apa hubungannnya dengan Lulang Kebo Landoh? Dan banyak lagi pertanyaan lain yang masih menggantung selama anda belum tuntas mendengarkan cerita ini.  Episode ini adalah jawaban terakhir atas berbagai pertanyaan seputar Kisah Saridin (Syeh Jangkung) yang demikian melegenda di Kabupaten Pati dan di pesisir utara Jawa Tengah pada umumnya.

Selamat menikmati……………….

  1. Syeh Jangkung, Dumadine Lulang Kebo Landoh_1_1
  2. Syeh Jangkung, Dumadine Lulang Kebo Landoh_1_2
  3. Syeh Jangkung, Dumadine Lulang Kebo Landoh_1_3
  4. Syeh Jangkung, Dumadine Lulang Kebo Landoh_2_1
  5. Syeh Jangkung, Dumadine Lulang Kebo Landoh_2_2
  6. Syeh Jangkung, Dumadine Lulang Kebo Landoh_2_3
  7. Syeh Jangkung, Dumadine Lulang Kebo Landoh_3_1
  8. Syeh Jangkung, Dumadine Lulang Kebo Landoh_3_2
  9. Syeh Jangkung, Dumadine Lulang Kebo Landoh_3_3
  10. Syeh Jangkung, Dumadine Lulang Kebo Landoh_4_1
  11. Syeh Jangkung, Dumadine Lulang Kebo Landoh_4_2
  12. Syeh Jangkung, Dumadine Lulang Kebo Landoh_4_3
  13. Syeh Jangkung, Dumadine Lulang Kebo Landoh_5_1
  14. Syeh Jangkung, Dumadine Lulang Kebo Landoh_5_2
  15. Syeh Jangkung, Dumadine Lulang Kebo Landoh_5_3
  16. Syeh Jangkung, Dumadine Lulang Kebo Landoh_6_1
  17. Syeh Jangkung, Dumadine Lulang Kebo Landoh_6_2
  18. Syeh Jangkung, Dumadine Lulang Kebo Landoh_6_3
  19. Syeh Jangkung, Dumadine Lulang Kebo Landoh_7_1
  20. Syeh Jangkung, Dumadine Lulang Kebo Landoh_7_2
  21. Syeh Jangkung, Dumadine Lulang Kebo Landoh_7_3
  22. Syeh Jangkung, Dumadine Lulang Kebo Landoh_8_1
  23. Syeh Jangkung, Dumadine Lulang Kebo Landoh_8_2
  24. Syeh Jangkung, Dumadine Lulang Kebo Landoh_8_3