Category Archives: KETHOPRAK

MP3 Kethoprak RRI Yogyakarta – Arya Penangsang Gugur

Secara historis, Arya Penangsang sebenarnya memiliki hak atas Bumi Pajang.  Akan tetapi justru Hadiwaijaya yang menduduki tahta Pajang atas kehendak mendiang Raden Patah, atas jasa Hadiwaijaya (Jaka Tingkir) ketika itu.  Atas dasar itulah maka, Arya penangsang selaku penguasa  Kadipaten Jipang tidak mau lagi hadir di pisowanan agung Sultan Hadiwijaya.  Kehendak Arya Penangsang ini mendapatkan dukungan dari ayahnya, Sunan Kudus.  Dukungan kepada Arya Penangsang ini bukan hanya berupa politis tetapi  juga takstis.

Mengingat Sultan Hadiijaya memiliki kesaktian yang luar biasa, maka Sunan Kudus berupaya untuk menghadirkan Sultan Hadiwijaya, dengan maksud untuk bisa dibunuh oleh Arya Penangsang.  Langkah yang diambil oleh Sunan Kudus adalah berpura-pura mengundang Penguasa Pajang ini untuk hadir di Panti Kudus.  Alih-alih mendapat ilmu baru dari Sunan Kudus, Hadiwijaya justru akan dilemahkan secara mistis.  Ia diminta duduk di kursi yang disiapkan oleh Sunan Kudus dimana kursi tersebut telah diberi rajah darubeksi yang bisa melunturkan kesaktian siapapun yang menduduki kursi tersebut.

Kadang sulit sekali memahami sifat Sunan Kudus.  Bagaimana mungkin ia mendukung niat Harya Penangsang  untuk merebut Kekuasaan Sunan Hadiwijaya di Pajang.  Sementara, Harya Penangsang sudah sudah memiliki kekuasaan di Jipang Panolan.  Tapi begitulah kenyataan yang terjadi.  Sejarah akhirnya mencatat bahwa upaya  kudeta yang dilakukan Harya Penangsang tidak berhasil.

Kembali pada cerita yang kali ini saya upload.  Sultan hadiwijaya benar hadir di Panti Kudus.  Harya penangsang mempersilahkan Sultan Hadiwijaya duduk di kursi yang telah dipersiapkan.  Hampir saja Sultan Hadiwikaya terjebak untuk duduk dikuri yang penuh dengan rajah itu jika saja Ki Ageng Pemanahan tidak mencegahnya.  Berulang kali dengan berbagai cara Harya Penangsang mempersilahkan adik kemenakannya itu duduk di kursi, tapi Hadiwijaya tetap tak bergeming.  Akhirnya, dengan amarah luar biasa, Harya Penangsang menduduki kursi tersebut.  Tak pelak, dia terkena rajah dan akan kalah dalam peperangan selama empat puluh hari kedepan.  Pada saat bersamaan, datang sunan Kudus yang tengah melihat Arya Penangsang memegang keris.  Dia member “sasmita” agar keris itu disarungkan, tetapi penguasa Jipang Panolan yang sedang dikuasai amarah ini tidak tanggap sehingga ketika ia memiliki kesempatan untuk menikan Hadiwijaya dengan restu Sunan Kudus, justru keris disarungkan dalam arti yang sebenarnya. Sadar atas kekeliruannya, Arya Penangsang berniat menyusul Hadiwijaya untuk menuntaskan niatnya membunuh adik kemenakan itu.  Tetapi Sunan Kudus mengingatkan bahwa, rajah sakti sudah masuk kedalam tubuhnya sehingga mustahil bisa menang perang dalam empat puluh hari kedepan.  Yang justru harus dilakukan adalah bertapa untuk menghilangkan rajah yang sudah menyatu dengan dirinya.  Empat puluh hari tanpa makan, tanpa minum, tanpa tidur dan tanpa marah adalah harga yang harus dibayar oleh Harya Penangsang.

Sementara itu, di Gunung Danaraja, ratu Kalinyamat tengah menjalankan ritual samadinya bersama dua kemenakannya Rara Semangkin dan Rara Prihatin.  Dua gadiis belia ini adalah putra mendiang Pangeran Prawata yang tewas di tangan Harya penangsang.  Ratu Kalinyamat berada di tempat ini dan melakukan ritual bertapa telanjang (dalam arti sebenarnya) karena upayanya membalas dendam atas kematian adiknya, Pangeran Prawata.  Tekadnya sudah bulat bahwa dia tidak akan mengenakan busana dan kembali ke Kadipaten Jepara sebelum berhasil membalas dendam kepada Harya Penangsang.

Ketika itu Ki Ageng Pemanahan tengah hadir ke Gunung Danaraja dan menghadap Ratu Kalinyamat.  Kedatangan sebenarnya ketempat ini sebenarnya adalah terdorong oleh rasa kasihan dan prihatin atas keadaan Ratu Kalinyamat.  Kakak mendiang Sunan Prawata ini tidak akan mungkin bisa kembali ke Jepara jika tidak ada campur tangan orang lain untuk membunuh Harya Penangsang.  Sebagai seorang perempuan tanpa dukungan politis dari siapapun, mustahil Kalinyamat bisa memenuhi sumpahnya. Keberadaan Semangkin dan Prihatin akan dipergunakan sebagai alat untuk membujuk Sultan Hadiwijaya.  Harapannya, Sultan Hadiwijaya yang sebentar lagi akan hadir ke Gunung Danaraja dipastikan akan jatuh hati kepada Semangkin dan Prihatin.  Skenarionya adalah, kedua gadis ini akan diminta untuk meminta mas kawin yang berupa kepala Adipati Jipang Panolan jika Sunan Hadiwijaya berniat meminangnya.

Berhasilkah Skenario Ki Ageng Pemanahan?  Benarkah nantinya Sultan Hadiwijaya benar-benar jatuh hati kepada puteri mendiang Sunan Prawata? Bersediakan Semangkin dan Prihatin diboyong ke Pajang?  Semua tahu bahwa akhirnya Harya Penangsang gugur di tangan Sutawijaya, Putra Hadiwijaya.  Tapi bagaimana ceritanya?

Ikuti saja ceritanya dalam versi Kethoprak yang dengan manis dibawakan oleh Keluarga Kethoprak Mataram RRI Yogyakarta………….

  1. Harya penangsang Gugur 1
  2. Harya penangsang Gugur 2

MP3 Kethoprak Mataram – Rara Jonggrang.


Sebenarnya, dia bukanlah sosok misterius.  Dia sangat terbuka tentang banyak hal.  Kecintaan dan pengetahuannya tentang Kesenian Jawa, tak perlu diragukan.  Betapa tidak, bukan masalah uang tetapi lebih pada komitmennya untuk nguri-uri kesenian yang adiluhung ini.  Tetapi wanti-wanti dia berpesan kepada saya untuk tidak perlu menceritakan siapa dirinya. Dia hanya ingin berbagi, tak lebih.

 Jauh hari dia sudah memberitahukan kepada saya bahwa dia akan mengirimkan “beberapa” judul wayang dan kethoprak guna melengkapi materi dalam blog yang sangat sederhana ini.  Oleh karenanya, ketika siang tadi datang kiriman dari teman saya ini,tak terlalu mengejutkan.  Yang membuat terhenyak, adalah jumlahnya.  Yang dia katakan “beberapa” itu ternyata sangat banyak bagi saya.  Misalkan itu dalam bentuk kaset pita, saya harus membelinya dengan harga yang tidak sedikit.  Duabelas judul adalah “harta karun” yang luar biasa besarnya.  Jika satu lakon berharga Rp. 90.000, maka  sebelas lakon wayang dan satu lakon kethoprak bernilai Rp. 1.000.000,-.  Ah, sudahlah.  Jika bicara angka bisa saya pastikan dia akan menegur saya pada kesempatan pertama ketika dia membaca postingan ini.  Anda penasaran judul apa saja yang dia kirimkan pada saya?

  1. KI H Anom Soeroto – Wahyu Tejamaya.
  2. KI H Anom Soeroto – Wahyu Seta Sastra Kencana Purbaning Katon
  3. KI H Anom Soeroto – Setyaki Lahir
  4. KI H Anom Soeroto – Babad Wanamarta
  5. KI H Anom Soeroto – Kakrasana Wisudha (Wasi Jaladara)
  6. KI H Anom Soeroto – Babad Wanamarta
  7. KI H Anom Soeroto – Dewi Sri Mulih
  8. KI H Anom Soeroto – Wahyu Senapati
  9. KI H Manteb Soedarsono – Kresna Duta
  10. KI H Manteb Soedarsono – Bima Suci
  11. KI H Manteb Soedarsono – Dewa Ruci
  12. Kethoprak Mataram – Rara Jonggrang.

 Saya akan berusaha untuk berbagi kepada anda dengan memposting judul-judul tersebut secara bertahap dengan harapan andapun bisa menikmati kebahagiaan yang saya rasakan.  Saya akan memulainya dengan Kethoprak Mataram, Rara Jonggrang.

Beberapa waktu yang lalu saya pernah mengunggah lakon ini tetapi jauh dari kata sempurna.  Bukan saja hasil ripping tetapi tetapi juga masalah cerita.  Cerita yang kali ini saya unggah bisa dipastikan akan melengkapi postingan saya terebut.

Cerita dimulai dengan  adegan di dalam taman Keraton Wanasegara.  Adik perempuan Prabu Gupala, Raja Wanasegara yang bernama Rara Jonggrang tengah dilanda kesedihan.  Mengingat kakaknya harus membuka front dengan Kraton Pengging.  Perang ini dipicu oleh keinginan Prabu Gupala yang bermaksud memperisteri Dewi Candrawati, permaisuri Raja Pengging.

Tiba-tiba, rara Jonggrang mendengar khabar bahwa Prabu Gupala gugur dalam pertempuran tersebut.  Disusul kehadiran Raden Bandung Bandhawasa putra raja sekaligus panglima perang Keraton Pengging yang berniat mengambil pampasan perang, termasuk diantaranya rara Jonggrang. Tetapi keluguan Bandung Bandawasa yang ternyata jatuh hati pada rara Jonggrang, dimanfaatkan oleh Adik Prabu Gupala ini untuk membalas dendam kematian kakaknya.  Rara Jonggrang berpura-pura mencintai Bandung Bandhawasa.  Ia meminta kepada Bandung untuk mengambilkan gatheng kencana, kedalam sumur.  Tedorong oleh perasaan cintanya, Bandung memenuhi permintaan Rara Jonggrang.  Begitu Bandung masuk kedalam sumur, Rara Jonggrang segera memerintahkan prajurit Wanasegara untuk menutup sumur tersebut.  Tujuannya jelas.  membunuh Bandung Bandhawasa.

Sementara itu, jauh dipesisir Parangtritis. Dewi Daruwati tengah menyiapkan makan siang anak lelakinya yang bernama Raden Baka.  Kendati berwajah tampan, Raden baka memiliki kelainan.  Dia memiliki taring sebagaimana layaknya seorang raksasa.  Karena terlalu tergesa akibat perntah Baka yang merasa sudah sangat lapar, ibu jari Dewi Daruwati teriris pisau yang digenggamnya.  Celakanya daging irisan ibu jari dan darah Dewi Daruwati terbawa dalam piring makanan yang disiapkan untuk Baka.  Anehnya, ketika tersantap justru Baka sangat menyukainya.  Saking kepinginnya memakan darah dan daging manusia, sampai-sampai dia memaksa ibu dan kakeknya untuk dimakan bila dia tidak mencarikan santapan yang berupa daging manusia.

Mempertimbangkan akibat buruk apabila tidak memenuhi keinginan Raden Baka, maka sang kakek menyarankan anak muda ini untuk pergi ke Karaton Wanasegara.  Dikatakan bahwa disana tengah terjadi pertempuran besar anatara Keraton Pengging dan Keraton Wanasegara.  Bisa dipastikan akan banyak diketemukan daging manusia.  Dengan diantar oleh abdinya yang bernama Dhandhanggula, Baka berangkat ke Keraton Wanasegara.

Rara Jonggrang yang berniat membunuh Bandung Bandhawasa ternyata tidak berhasil karena ternyata Bandung Bandhawasa bisa keluar dengan selamat dari dalam sumur.  Terdesak oleh kenyataan ini, Rara Jonggrang bermaksud melarikan diri dari Bandung Bandhawasa.  Disaat Bandung tengah tertidur, Jonggrang melarikan diri.  Ditengah hutan dia bertemu dengan Raden Baka. Tak berbeda dengan Bandung, Bakapun jatuh hati pada putrid Wanasegara ini.  Kadaan ini dimanfaatkan oleh Rara Jonggrang untuk mengadu domba antara Baka dan Bandung.  Terjadi pertarungan antara dua pemuda sakti ini.

Siapa sebenarnya Bandung Bandhawasa? Siapakah Baka yang meski berwajah tampan tetapi memiliki taring dan doyan daging manusia?  Saya percaya, banyak diantara anda sudah mengetahui akhir cerita ini.  Inilah legenda terjadinya Candi Prambanan dan Patung rara Jonggrang.  Tetapi bagaimana rincian cerita versi kethopraknya?  Pasti anda penasaran juga.  Nah, kami persilahkan kepada anda untuk menikmatinya.  Mohon maaf, atas nama bandwidth yang terbatas, saya mengkompres habis-habisan file dari rekan saya tadi.  Tujuannya jelas.  Agar mudah untuk diunggah!

  1. Rara Jonggrang _1
  2. Rara Jonggrang_2
  3. Rara Jonggrang_3
  4. Rara Jonggrang_4

MP3 Ketkoprak – SARIDIN LAHIR

Bukan hanya anda, sayapun cukup lama mencari lakon ini.  Saya sudah berupaya mencari ke berbagai tempat untuk sekedar mendapatkan jawaban prolog dari sequel panjang Kyai Eksentrik, Saridin alias Syeh Jangkung.

Banyak sudah kita mendengar kehebatan ulama pesisir ini tapi minim sekali  informasi yang memberikan jawaban atas pertanyaan mendasar, siapakah Saridin itu?  Dari latar belakang apa sehingga dimasa dewasanya memiliki daya linuwih.  Bukan hanya bupati pati, tetapi Raja Matarampun rela bertani sekadar memberikan kesempatan kepada dasidin untuk menyelesaikan konflik di kotaraja Mataram.

Setelah hampi putus asa, akahirnya saya menemukan kaset pita dengan Lakon Saridin Lahir.  Kabar baiknya, lakon ini didukung oleh seniman dari latar belakang yang berbeda.  Saridin Lahir merupakan Kethoprak Gabungan antara Ketoprak  Sri Budaya Pati dengan Kethoprak Mataram RRI Yogyakarta.  Sungguh perpaduan yang tidak gampang dilakukan untuk sebuah pagelaran yang akan dikemas dalam pita kaset  sebagai barang komuditi.   Kabar buruknya, lakon ini selesai dalam 6 kaset c 60.  Bukan saja 12 jam harus saya habiskan untuk convert tai juga 100 MB upload dengan internet yang super lelet sesuai budged yang ada pada saya.

Tanpa melihat adanya episode lain yang (mungkin) belum saya ketemukan, Saridin Lahir seakan telah melengkapi cerita panjang sang cikal bakal dukuh Milono yang lehendaris ini.  Ketika saya memulai mengunggah cerita ini setahun lalu dengan episode Andum Waris, banyak rekan yang mampir dan memberikan apresiasi atas kerja (keras) saya.  Lalu berturut turut saya unggah Geger Palembang, Bedhahing Ngerom, Ontran-ontran Cirebon, Andha Rante, Sultan Agung Tani, Keris Jangkung dan Lulang Kebo Landhoh (Syeh Jangkung Wafat).  Dalam kesempatan ini saya perlu mengucapkan terima kasih kepada Nangagus dan Iwan AK yang telah berbaik hati melengkapi cerita Saridin.  Dengan upload saridin lahir ini, seakan lunaslah hutang saya.

Saya pastikan, cerita tak akan lagi menarik jika otak bebal saya harus bergaya membuat sinopsi cerita ini.  Oleh karenanya saya tidak merasa perlu membuat sinopsis karena justru akan mengotori kehebatan cerita Kethoprak Gabungan ini.

Berikut adalah hasil conver Saridin Lahir

  1. Kethoprak – Syeh Jangkung (Saridin) Lahir _1a
  2. Kethoprak – Syeh Jangkung (Saridin) Lahir _1b
  3. Kethoprak – Syeh Jangkung (Saridin) Lahir _2a
  4. Kethoprak – Syeh Jangkung (Saridin) Lahir _2b
  5. Kethoprak – Syeh Jangkung (Saridin) Lahir _3a
  6. Kethoprak – Syeh Jangkung (Saridin) Lahir _3b
  7. Kethoprak – Syeh Jangkung (Saridin) Lahir _4a
  8. Kethoprak – Syeh Jangkung (Saridin) Lahir _4b
  9. Kethoprak – Syeh Jangkung (Saridin) Lahir _5a
  10. Kethoprak – Syeh Jangkung (Saridin) Lahir _5b
  11. Kethoprak – Syeh Jangkung (Saridin) Lahir _6a
  12. Kethoprak – Syeh Jangkung (Saridin) Lahir _6b(tamat)

MP3 Kethoprak Mataram – Kamandaka Lutung Kasarung

Cukup lama saya tidak posting kethoprak. Rindu juga rasanya. Tetapi untuk mendapatkan materi kethoprak klasik gaya mentaraman nampaknya tak mudah pula. Saya berusaha mendapatkan file dengan berbagai cara, termasuk membeli kaset baru. Tak terasa, hampir semua judul di toko langganan saya sudah saya beli dan selesai convert.

Saya coba memilih lakon untuk saya upload, dari beberapa yang sudah saya miliki tetapi belum sempat saya unggah di blog ini. Salah satu dari banyak lakon wajib yang menjadi andalan group kebanyakan kethoprak pada masa jayanya, adalah Kamandaka Lutung Kasarung. Cerita ini menarik karena menggabungkan antara unsur legenda, humor dan romantisme. Disamping jalan ceritanya yang sudah banyak dikenal. Dikenalnya sebuah lakon kethoprak justru menarik untuk dipentaskan karana penonton ditantang untuk bias memberikan apresiasi secara awam. Maka pilihan saya jatuh pada lakon ini.

Ada dua versi lakon Kamandaka Lutung Kasarung yang ada di hard disk saya. Yang pertama, versi rekaman studio. Lakon ini kelihatan lebih tertata tapi terasa kurang menggigit karena terikat dengan running play. Versi yang kedua, adalah versi rekaman pentas. Sebenarnya versi ini lebih menarik karena keleluasaan tiap pemain untuk berimprovisasi. Bungsu Ciptarasa, misalnya. Kendati bukan Bu Marsidah yang memerankan, tetapi kenes dan manjanya jutru lebih menarik Juga adegan roman antara Raden Kamandaka dan Ciptarasa, di versi panggung terlihat lebih hidup. Sedangkan di versi rekaman studio, terasa Bu Marsidah kurang optimal memerankan putrid bungsu adipati Kandhandaha. Dari spek cerita, versi studio terlihat kurang lengkap kendati (seperti saya katakana tadi) lebih runtut. Maksud hati ingin mengunggah versi panggung, tetapi saying file yang saya miliki tidak lengkap. Maka tanpa mengurangi nilai dan maknanya, saya mengangkat versi rekaman studio sebagi obat kangen anda pada kehebatan Keluarga Kethoprak Mataram Kodam VII Diponegoro dibawah pimpinan Bagong Kussudiharjo.

Cerita dimulai pada keinginan Prabu Siliwangi, Raja Pajajaran untukmenyerahkan tampuk pemerintahan kepada Raden Banyak Tatra, pangeran pati pajajarn yang tampan dan sakti mandraguna itu. Berbagai persyaratan untuk menjadi seorang raja sudah dimiliki oleh Sang Pangeran tampan ini, kecuali satu hal, calon permaisuri. Ya, itulah kelemahan yang menurut Prabu Siliwangi harus ditutup oleh Banyak Tatra untuk bisa menduduki tahta Kerajaan Pajajaran. Raden banyak Tatra diberikan kesempatan untuk mencari calon permaisuri tetapi diupayakan bisa memiliki watak dan kecantikan seperti Dewi Kumudaningsih, yang tak lain adalah ibu tiri Banyak Tatra sendiri.

Atas petunjuk Begawan Wirangrong, pendeta sakti dari Gunung Tangkuban Perahu, Raden Banyak Tatra diminta untuk memulai perjalanan di Kadipaten Pasir Luhur. Menurutnya, disanalah perempuan yang memenuhi persyaratan untuk menjadi pendamping Pangeran Banyak Tatra bisa ditemukan.

Adalah Adipati Kandhandhaha, Penguasa Kadipeten Pasirluhur. Ia memiliki 25 orang puteri yang 24 diantaranya telah menikah. Tinggal satu orang yang sampai saat ini belum memiliki pendamping. Putri tersebut bernama Bungsu Ciptarasa. Puteri inilah yang menurut Begawan Wirangrong layak menjadi calon permaisuri Sang Pangeran.

Alih-alih untuk menguji kesetiaan sang putrid, Begawan Wirangrong meminta Pangeran Banyak Tatra untuk menyamar menjadi rakyat jelata dan memulai pengabdian di rumah Patih Reksanata, Patih Pasir Luhur dan mengganti namanya menjadi Kamandaka.
Kamandaka diterima mengabdi di kepatihan sekaligus diambil anak pungut oleh Patih Reksanata. Kendati cuma sebagai anak pungut, tetapi kasih sayang Patih Reksanata kepada Kamandaka sangat besar. Pada saatnya nanti, Kamandaka diharapkan bisa mengabdi kepada Adipati Kandhandaha.

Tak elok jika saya menceritakan lakon ini sampai tuntas karena saya khawatisr justru akan melemahkan cerita yang dengan sangat luar biasa telah dikemas oleh Keluarga Kethoprak Mataram Kodam VII Diponegoro. Oleh karenanya, kami persilahkan anda untuk download lakon tersebut disini.
Selamat menikmati

Kamandaka Lutung Kasarung_1a
Kamandaka Lutung Kasarung_1b
Kamandaka Lutung Kasarung_2a
Kamandaka Lutung Kasarung_2b
Kamandaka Lutung Kasarung_3a
Kamandaka Lutung Kasarung_3a
Kamandaka Lutung Kasarung_3b
Kamandaka Lutung Kasarung_4a
Kamandaka Lutung Kasarung_4b(tamat)

Seri Mahesa Jenar – Geger Pangrantunan

Entah berapa episode kita akan kehilangan. Jika dilihat dari urutan seri kasetnya, boleh jadi sampai 9 episode. Itulah yang membuat saya ragu untuk memposting Mahesa Jenar, sebagai kelanjutan Uling Kuning mBarang Amuk.

Tetapi, nampaknya tidak fair juga jika saya tidak berbagi dengan anda, sementara beberapa judul telah saya dapatkan sekalipun tidak urut. Kali ini adalah episode Geger Pangrantunan. Ditilik dari novel aslinya, setidaknya kita telah melompat 7 bab dari Uling Kuning Mbarang amuk. Saya tidak tahu, bagaimana harus memulai membuat sinopsisnya. Tapi baiklah, kendati tidak runtut, saya akan coba sarikan episode ini.

Wiling Putih penguasa padepokan Rawa Pening telah menyuruh Yuyu Rumpung dan Gemak Paron untuk mengambil keris Nagasasra Sabuk Inten, dengan harapan bisa menjadi penguasa golongan hitam. Selain itu, aura keris sakti dari Demak Bintara itu sangat kuat sehingga memungkinkan pemiliknya menjadi raja di Tanah Jawa.

Sebenarnya Wilingputih sadar bahwa ia bukan satu-satunya orang yang menginginkan keris Nagasasra Sabuk Inten. Dihadapannya masih ada Simarodra dan banyak tokoh golongan hitam dengan kesaktian yang luar biasa. Tetapi ambisi untuk menjadi penguasa, mengalahkan rasa takutnya. Dia bertekad untuk menguasai keris itu. Lebih hebat lagi, keris ampuh itu sekarang berada dalam cengkeraman Simarodra di Gunung Tidar.

Sekali lagi, Wilingputih memerintahkan Yuyurumpung dan Gemakparon untuk mencuri keris Nagasasra Sabuk Inten yang berada di gedhong pusaka Gunung Tidar.

Sementara itu, salah satu tokok pendekar golongan hitam, yaitu Simalodra sudah mulai malang melintang membuat keresahan di wilayah Pangrantunan.  Pertanyaannya adalah bagaimana mungkin Penguasa Gunung Tidar ini bisa mengibarkan benderanya di Pangrantunan, sementara daerah ini dahulu dikuasai oleh tokoh sakti, teman seperguruan Ki Ageng Pengging, Guru Mahesa Jenar, yang bernama Ki ASgeng Soradipayana.

Ki Ageng Soradipayana yang dulu bernama Pangeran Gunung Slamet mempunyai dua orang anak lelaki yang memiliki watak yang berbeda. Yang sulung bernama Gajah Sora dan yang Bungsu bernama Lembu Gajah Sora.

Seiring dengan usianya yang telah merambat senja, Pangrantunan Barat pusat kekuasaan di Banyubiru diserahkan kepada Gajahsora. Sedang Pangrantunan Timur dengan pusat pemerintahan di Pamingit diserahkan kepada Lembu Sora.

Berbeda dengan Gajah Sora, kakaknya, Lembu Sora memiliki watak buruk, adigang adigung adiguna. Kebengalan Lembu Sora sampai pada puncaknya ketika rela menjual Pangrantunan Timur kepada Simorodra berandal dari Gunung Tidar.  Sejak berada dibawah kekuasaan Simarodra itulah, penduduk Pangrantunan secara rutin harus menyerahkan pajak yang berupa hasil bumi kepada Simarodra.

Siang itu, perjalanan Mahesa Jenar sampai kewilayah yang porak poranda ini. Simorodra sedang pada kegiatannya memungut pajak dari penduduk Pangrantunan. Salah seorang tua tidak mau membayar pajak karena merasa dirinya miskin.  Antek-antek Simorodra tidak mau menerima alasan orang tua itu maka dihajarlah orang tua itu sejadi-jadinya.

Merasa tak tahan atas perlakuan anak buah Simorodra, oran tua tersebut melawan. Akibatnya, salah seorang diantara mereka mati. Kejadian tersebut, digunakan oleh Mahesa Jenar untuk membangkitkan semangat penduduk Pangrantunan guna melawan dan membebaskan diri dari cengekraman Simorodra. Tak hanya itu, mahesa jenar memberikan bekal latihan bertempur kepada Penduduk Pangrantunan untuk melawan penindasan penguasa Gunung Tidar yang bengis ini.

Bagiamana mungkin Keris Nagasasra Sabukinten bisa berada di gunung Tidar dan dalam penguasaan Simorodra? Berhasilkan Wilingputih yang telah menyuruh Yuyurumpung dan Gemakparon merebut Keris Nagasasra Sabukinten? Siapa sebenarnya orang tua yang berani membunuh anak buah Simorodra? Berhasilkan Penduduk Pangrantunan terbebas dari cengkeraman Simorodra? Masih banyak lagi pertanyaan yang belum akan terjawab sebelum anda tuntas mendengarkan Serial Mahesa Jenar, Geger Pangrantunan.  Silahkan download disini

Selamat menikmati.

Kethoprak Mataram (Seri Mahesa Jenar ) – Wirasaba Liwung

Wirasaba sudah hilang harapan.  Sakit lumpuhnya tak kunjung sembuh.  Ki Asem Gede, mertuanya sungguh merasa sangat terpukul menilah keadaan menantunya yang dulu gagah perkasa itu.  Jentik Manis, isterinyapun, seakan sudah pasarah dengan semua keadaan yang menyedihkan ini.

Wirasaba tengah melamun dengan meniup seruling yang (nyaris) menjadi satu-satunya teman selama dia mendrita sakit.  Pada saat itulah, Ki Asem Gede dengan membawa obat guna kesembuhan menantunya itu.  Ajaib, obat lulur yang semula terasa sangat panas itu, tiba-tiba menunjukkan kasiatnya.  Wirasaba sembuh dari penyakit lumpuhnya.  Hal ini sungguh sangat menggembirakan dan memberikan harapan baru bagi keluarga ini.

Kesembuhan Wirasaba sesungguhnya bisa menjadi berkah yang sangat membahagiakan jika tidak dikotori oleh fitnah Ny. Wirasaba.  Dimulai dengan kecurigaan Wirasaba yangmenanyakan keberadaan Mahesa Jenar dimana saat dia sembuh tak ikut barada dalam lingkaran kebahagiaan yang dia rasakan.  Kenyataan Mahesa Jenar telah pergi tanpa pamit.

Beberapa waktu yang lalu, disaat telah berhasil diselamatkan dari penculikan Sampararan, Nyi Wirasaba menemui Mahesa Jenar ditengah malam ketika tengah mencoba Aja Candrabirawa.  Bukan hanya itu, Nyi Wirasaba juga menyatakan kekagumannya pada Mahesa Jenar.  Melihat gelagat yang kurang baik, Mahesa Jenar meneur Nyi Wirasaba.  Sayangnya anak perempuan Ki Asem Gede salah faham dan berniat mengadukan Mahesa Jenar apabila kelak suaminya sudah sembuh dari sakit lumpuhnya.

Saat yang ditunggu kini telah tiba.  Wirasaba telah sembuh dari sakitnya.  Dadanya terbakar oleh api cemburu kepada Mahesa Jenar atas aduan isterinya, Jentik Manis.  Setelah mendapat restu dari KI Asem Gede dia segera pergi untuk mencari Mahesa Jenar guna membuat perhitungan atas tindakan kekurangajaran yang telah dilakukan kepada isterinya.  Wirasaba, yang kini telah sembuh dengan ilmu silat yang tinggi disertai dengan seruling sakti yang ada ditangan berniat membunug Mahesa Jenar, bukanlah sebuah isapan jempol.  Mahesa Jenar dalam bahaya.

Bagaimanakah kisah selanjutnya?  Bagaimana perjalanan Mahesa Jenar di Desa Pliridan?  Berhasilkah Wirasaba berhasil mengalahkan Mahesa Jenar?  Untuk mengetahui jawabnya, download dan dengarkan Kisah Wirasaba Liwung berikut ini.

Download Kethoprak Mataram (Seri Mahesa Jenar) – Wirasaba Liwung

Kethoprak Seri Mahesa Jenar – Mahesa Jenar Tanding.

Setelah kematian Samparan yang sangat dramatis tantangan Mahesa Jenar bukan berkurang, tapi justru semakin bertambah.  Banyak pertanyaan baru yang justru sangat menyulitkan kendati ada gelagat makin mengerucut pada keberadaan Keris Nagasasra Sabuk Inten.

Sementara itu, di seberang hutan Tambakbaya mengalir sebuah sungai yang cukup besar.  Orang-orang yang hendak menuju hutan Tambakboyo harus menyeberangi sungai itu.  Beruntung disana sudah ada tempat penyeberangan lengkap dengan perahu dan satang untuk mengantarkan orang-orang yang ingin kehutan Tambakbaya.

Pada suatu hari, seorang perempuan muda berwajah cantik hendak menuju ke Desa Pliridan di tepi Hutan Tambakbaya.  Terpaksa ia harus menumpang perahu yang memang sudah tersedia disitu.  Selain perempuan cantik tadi, seorang pemuda juga bermaksud menyeberang karena hendak menuju ke Bagelen, sebuah desa dekat Pliridan.  Dari gelagatnya, pemuda tadi menaruh hati –setidaknya-  tertarik pada si gadis, bahkan sudah ada usaha untuk menggoda.

Selain si pemuda dan si gadis, seorang saudagar dengan banyak barang bawaan juga bermaksud menyeberang.  Tiba-tiba data ng seorang lelaki muda berwajah tampan yang menawarkan diri untuk membantu membawa barang bawaan sang saudagar dengan imbalan membayar ongkos penyeberangan.  Jadilah mereka berempat menjadi penumpang perahu penyeberangan itu.

Tak ada yang mengetahui, bahwa lelaki tampan yang menyamar sebagai lelaki miskin pembawa barang itu adalah Mahesa Jenar alias Rangga Tohjaya, pasukan khusus Demak Bintoro yang sedang menjalankan tugas.  Ia ikut dalam rombongan penumpang perahu karena memang sengaja membuntuti pemuda yang sejak dari drmaga menggoda si gadis.  Benar saja, ditengah perjalanan pemuda tadi menculik si gadis.  Semua petugas perahu tak mampu merebut si perempuan.

Tak diduga, si si pemuda ternyata adalah Jaka Soka, tokoh sakti golongan hitam dari Nusa Kambangan. Ketika Joko Soka hendak membawa si perempuan yang ternyata adalah Rara Wilis tiba-tiba muncil Lawa Ijo. Dia sangat hafal pada Mahesa Jenar maka tak ada gunanya lagi Mahesa Jenar untuk merahasiakan dirinya.  Terjadi pertempuran antara Mahesa Jenar dengan Lowo Ijo, tapi Lowo Ijo terpojok dia melarikan diri dengan luka akibat aji Canrabirawa.

Yang justru menjadikan keheranan banyak orang, adalah patrem (keris kecil) yang dibawa Rara Wilis.  Keris itu mengarah ke nama Ki Sentanu dan Pasingsingan. Pertanyaannya adalah siapa sebenarnya Rara Wilis ?  Siapakah KI Sentanu.  Lalu bagaimana pula muncul tokoh jahat bernama Wadas Gunung saudara kembar Watu Gunung yang hendak membalas dendam kepada Mahesa Jenar atas kematian Watugunung.  Berhasilkah dia membala dendam ?

Jawabnya dapat anda ketahui setelah tuntans mendengarkan Seri Mahesa Jenar dalam Lakon Mahesa Jenar Tanding

Link Download Mahesa Jenar Tandhing

Kethoprak Mataram Seri Sudira – SUTRISNA SAPU

Kondisi kesehatan Raja Tanjunganom, Prabu Lesanpura sudah sangat menurun, jika tidak bisa disebut parah.  Segala daya sudah ditempuh demi kesehatan sang raja namun tidak juga mendapatkan hasil.  Bahkan dalam sakitnya,  baginda seringkali menyebut nama senapati Utara, Cempala dan Cempaka yang kesemuanya sudah meninggal beberapa waktu lalu.

Semangat hidup Prabu Lesanpura benar-benar padam, ketika mendengar kabar bahawa Resi Jimbonanom, pujangga keraton Tanjunganom telah meninggal dunia yang disusul kemudian berita gugurnya Sudira, Sang Manggalayuda.  Bagaimana tidak, nama-nama yang telah mendahuluinya adalah benteng terakhir Keraton Tanjung Anom.  Tanpa Sudira dan Resi Jimbonanom, bagaimana kelanjutan ekspansi Tanjunganom ke barat.  Tidak berapa lama, Prabu Lesancaka pun mangkat.

Gugurnya Sudira merupakan sesuatu yang menarik untuk diceritakan.  Kendati tidak secara langsung, akan tetapi sang Manggalayuda gugur akibat senjata Sutrisna, anaknya sendiri.  Ketika itu dalam perang tanding dengan Adipati Yoandana Sudira mengeluarkan kesaktian dengan merubah diri menjadi seekor harimau putih.  Sutrisna membunuh harimau tersebut karena tidak tahu bahwa itu adalah penjelmaan ayahnya.  Akibatnya, Sutrisna harus kehilangan jabatannya sebagai Manggalayuda II dan menerima hukuman badan berupa kurungan (penjara).

Sepeninggal Prabu Lesanpura, Pangeran Lesancaka mengambil alih kepemimpinan Tanjung Anom dalam melakukan ekspansi ke barat.  Dalam kondisi sulit tersebut tak ada yang pantas dipilih untuk memimpin pasukan, kecuali Senapati Kadipaten Hargapura, yaitu Waryanti.  Oleh karena itu, Pangeran Lesancaka memerintahkan Sutrisnna untuk dikeluarkan dari penjara dan diutus ke Hargapura guna melunakkan hati dan membujuk Waryanti agar bersedia menjadi senapati bagi Tanjung Anom.

Membujuk dan melunakkan hati? Ya, itulah bahasa yang tepat.  Waryanti adalah isteri Sutrisna.  Beberapa waktu lalu, ia pernah dipermalukan oleh Suaminya dihadapan almarhum Manggalayuda Sudira.  Waryanti benar-benar mutung dan tak lagi bersedia menjadi senapati Tanjung Anom.  Sekarang, dalam keadaan genting negara membutuhkannya lagi.  Sayangnya tak da seorangpun yang dianggap mampu melunakkah hati Waryanti, kecuali Sutrisna, suaminya.

Sungguh, Sutrisna dalam keadaan sulit. Disatu sisi dia harus loyal pada titah junjungannya, Pangeran Lesancaka.  Di lain fihak, harga dirinya sebagai laki-laki seakan ternjak-injak jika dia harus memohon kepada Waryanti untuk berkenan menghadap pangeran Lesancaka.  Yang paling penting diantara keduanya adalah keraguan Sutrisna apakah Waryanti, masih mencintainya setelah dia mempermalukannya.

Bersediakan Waryanti menghadap Pangeran Lesancaka dan menjadi Senapati bagi Tanjunganom? Bagaimanakah nasib Sutrisna selanjutnya?  Untuk mengetahui jawabnya, berikut adalah file AudioMP3 Seri Sudira – Sutrisna Sapu.

  1. Sutrisna Sapu 1a
  2. Sutrisna Sapu 1b
  3. Sutrisna Sapu 2a
  4. Sutrisna Sapu 2b

Seri Mahesa Jenar – Samparan Nebus Dosa

Hati Wirsaba terasa remuk.  Bagaimana tidak?  Keadaannya tubuhnya yang menderita lumpuh harus menerima kenyataan, isterinya, Nyi Wirasaba diculik oleh Samparan.  Kendati dia sudah berusaha menghibur diri dengan meniup seruling saktinya, tetap saja tak bisa menghilangkan kegundahan hati karena kehilangan perempuan yang dicintainya.

Pada saat itulah, Nyi Wirasaba datang dalam keadaan segar bugar.  Hal ini justru  menjadikan Wirasaba curiga.  Dia tidak bisa begitu saja menerima kehadiran isterinya.   Jika Nyi Wirasaba  datang karena dilepaskan oleh Samparan, dia merasa tidak berhak menerima karena justru hal ini akan meremehkan harga dirinya.  Demikian juga, jika Nyi Wirasaba bebas karena ditolong oleh orang lain itu artinya Wirasaba harus berhutang budi kepada orang itu seumur hidupnya.  Disaat Nyi Wirasaba kebingungan atas sikap suaminya, datang Ki Asem Gede, berusaha menjelaskan bahwa Nyi Wirasaba masih suci.  Tetapi hal tidak menjadikan Wirasaba berubah fikirin.  Dia tetap menolak kedatangan isterinya.

Mahesa Jenar

Mahesa Jenar

Tiba-tiba muncul Samparan yang langsung menantang KI Asem Gedhe yang menganggap berbuat curang merebut Nyi Wirasaba darinya.  Bukan hanya itu, Samparan juga menghina Wirasaba sebagai suami yang tak punya harga diri.  Mendengar penghinaaan Samparan, Wirasaba marah dan menantang samparan untuk bertanding secara jantan dengan dirinya.  Diluar dugaan, kendati dalam keadaan cacat ternyata Wirasaba memiliki kesaktian yang luar biasa.  Dengan bersenjatakan kampak, dia berhasil menumbangkan Samparan.  Kejadian inilah yang akhirnya menjadikan Ki Wirasaba bisa menerima kembali isterinya.

Dalam keadaan terluka akibat sabetan kampak Wirasaba, Samparan melarikan diri.  Ki Asem Gede, Dalang Mantingan dan Mahesa Jenar berhasil menangkap Samparan.  Mahesa Jenar sempat marah dan heran atas sikan Samparan.  Dalam lakon Watu Gunung Lena, Samparan telah menyatakan tobat atas semua perbuatannya dan tak lagi berani mengganggu Ki Asem Gede dan keluarganya.  Akan tetapi mengapa Samparan menantang Ki Asem Gede dan menghina KI Wirasaba?

Dalam keadaan terluka, Samparan mengaku bahwa apa yang dia lakukan semata-mata untuk memulihkan hubungan Wirasaba dengan isterinya.  Jika Wirasaba tak punya jalan untuk merebut isterinya secara jantan, tak mungkin dia menerima isterinya.  Samparan merasa punya jalan untuk menebus dosa-dosanya.  Itulah sebabnya dia membakar amarah Wirasaba kendati dengan resiko dirinya terluka parah dan ahkirnya mati dihadapan Asem Gede, Mahesa Jenar dan Ki Dalang Mantingan.

Pada akhir hidupnya, dihadapan ketiga orang itu, Samparan sempat menceritakan perihal Keris Nagasasra Sabuk Inten serta rencana besar yang akan dilakukan oleh para pendekar golongan hitam di Rawa Pening di saat bulan purnama, termasuk diantaranya Lawa Ijo.

Keadaan kembali tenang sepeninggal Samparan.  Mahesa Jenar segera menyusun rencana untuk melanjutkan perjalanan mencari hilangnya Keris Nagasasara Sabuk Inten.  Dia memulai rencananya dengan mencoba Aji Sasrabirawa yang diajarkan oleh gurunya, Ki Ageng Pengging, pada tengah malam kepada seekor harimau yang tiba-tiba masuk ke perkampungan.  Ternyata, aji Sasrabirawa masih bisa dikuasai oleh Mahesa Jenar dengan baik.  Harimau besar itu mati seketika akibat Aji Sasrabhirawa.

Nyi Wirasaba datang tiba-tiba dimalam itu.  Dia juga mengetahui ketika Mahesa Jenar membunuh Harimau dengan Aji Sasrabirawa.  Nyi Wirasaba mengungkapkan kekagumannya pada kesaktian Mahesa Jenar.  Semula pembicaraan antara mereka hanya mengenai hal yang ringan-ringan.  Akan tetapi karena khawatir menjadi fitnah mengingat tak seharusnya sebagai seorang perempuan Nyi Wirasaba berduaan dengan dirinya, Mahesa Jenar menegurnya.   Nyi Wirasaba tersinggung atas teguran ini dan berniat mengadukan kepada suaminya.  Pada saatnya nanti apabila Wirasaba sudah sembuh dari sakit lumpunya, akan diminta untuk menantang Mahesa Jenar untuk bertarung secara jantan.

Kendati hanya 60 menit running play, seri ini berhasil mengungkap banyak hal tentang latar belakang tokoh dalam cerita Nagasasra Sabuk Inten, tetapi bagaimanakah itu?

Selamat menikmati

Download link  Kethoprak Mataram Seri Mahesa Jenar –  Samparan Nebus Dosa

 

Syeh Jangkung, Andum Waris

Sejujurnya, Sunan Kudussaya tidak begitu mengenal cerita ini.  Tetapi karena begitu dahsyatnya cerita ini menjadikan saya tertarik. Maka ketika saya berburu kaset bekas (tepatnya; Bekas Kaset) di pasar loak dan melihat judul diatas,  langsung saya ambil, kendati hanya ada 4 buah dari 5 buah kaset yang seharusnya.  Kekurangan 1 kaset bagi saya tak masalah, karena si penjual menjajikan  kekurangannya.

Sambil saya convert ke format digital, saya browsing untuk mencari referensi tentang Saridin.  Saya tak hendak memilih ketika membuka situs yang bercerita tetang Saridin seperti di bawah ini.  Kepada Mahesa Jenar, mohon maaf saya mengutip artikel anda.

Inilah sekilas tentang Saridin:

Saat era Wali Songo, di suatu daerah di pesisir utara pulau Jawa, tepatnya di daerah Pati, tersebutlah seorang pemuda desa yang lugu dan bersahaja, bernama Saridin.
Nama Saridin mungkin tidak begitu tenar secara nasional, tapi sudah melegenda secara regional. Region itu adalah wilayah Demak Kudus Pati Juwono Rembang, atau yang sering dilafadzkan sebagai Anak Wedus Mati Ketiban Pedang.

Saridin seorang sakti, namun lugunya tidak ketulungan, sehingga (seakan) tidak menyadari kesaktiannya.

Sunan KalijagaDia pernah membunuh kakak iparnya, karena sang kakak sering mencuri durian miliknya. Saat itu kakaknya menyamar menggunakan pakaian harimau, sehingga Saridin tidak mengenali. Dengan sekali tombak, matilah sang ipar.  Saat ditanya oleh petugas, Saridin mengaku tidak membunuh kakaknya, melainkan membunuh harimau yang mencuri duriannya. Meskipun jika pakaian harimau dibuka, Saridin tau bahwa itu kakak iparnya.
Kalo secara hukum, Saridin tidak bersalah, karena membela miliknya, dan tidak menyadari kalo harimau itu adalah kakaknya.  Namun demikian, Saridin tetap harus dipenjara.

Untuk memasukkan ke penjara bukan hal mudah, karena Saridin ngotot tidak bersalah. Akhirnya Adipati Jayakusuma, pemimpin pengadilan, menggunakan kalimat lain, bahwa Saridin tidak dipenjara, melainkan diberi hadiah sebuah rumah besar, diberi banyak penjaga, makan disediakan, mandi diantarkan. Akhirnya Saridin bersedia.

Sebelum dipenjara, Saridin bertanya apakah boleh pulang kalo kangen anak dan istrinya. Petugas menjawab: “boleh, asal bisa” .  Dan terbukti beberapa kali Saridin bisa pulang, keluar dari penjara di malam hari dan kembali lagi esok harinya.

Karena Adipati jengkel, Saridin dikenai hukuman gantung. Tapi saat digantung para petugas tidak mampu menarik talinya karena terlalu berat. Saridin menawarkan ikut membantu, dijawab oleh Adipati: “boleh, asal bisa”. Dan karena ijin itu Saridin lepas dari talinya, lalu ikut menarik tali gantungan.

Adipati semakin murka, dan menyuruh membunuh Saridin saat itu juga. Sebuah tindakan putus asa seorang penguasa.

Saridin melarikan diri sampai ke Kudus, yang lalu berguru pada Sunan Kudus. Di sini Saridin tidak berhenti menunjukkan kesaktiannya, malah semakin menonjol.

Saat disuruh bersyahadat oleh Sunan Kudus, para santri lain memandang remeh pada Saridin, apa mungkin Saridin bisa mengucapkannya dengan benar.

Tapi yang terjadi sungguh di luar dugaan semua orang. Saridin justru lari, memanjat pohon kelapa yang sangat tinggi, dan tanpa ragu terjun dari atasnya. Sampai di tanah, dia tidak apa-apa. Semua pada heran pada apa yang terjadi.

Sunan Kudus menjelaskan, bahwa Saridin bukan cuma mengucapkan syahadat, tapi seluruh dirinya bersyahadat, menyerahkan seluruh keselamatan dirinya pada kekuasaan tertinggi. Kalo sekedar mengucapkan kalimat syahadat, anak kecil juga bisa.

MAKAM SYEH JANGKUNG Namun Saridin masih tetap dilecehkan oleh para santri. Saat ada kegiatan mengisi bak air untuk wudlu, Saridin bukannya diberi ember, malah diberi keranjang. Tapi dengan keranjang itu pula Saridin bisa mengisi penuh bak air.

Saat Saridin mengatakan bahwa semua air ada ikannya, tidak ada yang percaya. Akhirnya dibuktikan, mulai dari comberan, air kendi sampai air kelapa, ketika semua ditunjukkan di depan Saridin, semua ada ikannya.  Akhirnya Saridin diusir oleh Sunan Kudus, harus keluar dari tanah Kudus.

Singkat cerita, Saridin yang ternyata murid dari Sunan Kalijaga ini bertemu lagi dengan gurunya. Saridin diperintahkan untuk bertapa di lautan, dengan hanya dibekali 2 buah kelapa sebagai pelampung. Tidak boleh makan kalo tidak ada makanan yang datang, dan tidak boleh minum kalo tidak ada air yang turun.  Pada akhirnya, Saridin dikenal sebagai Syeh Jangkung, yang tinggal di desa Landoh, Kayen, Pati.

(Dikutip dari http://www.mahesajenar.com/2007/02/saridin.html)

Berikut ini KETOPRAK TRISNA BUDAYA dalam cerita SYEH JANGKUNG, dengan dukungan pemain:

  1. Ki Branjang                  :  Sariyanto
  2. Nyi Branjang               :  Suntari
  3. Saridin                           :  Tumijan
  4. Nyi Saridin                  :  Sumiyati
  5. Dagelan                        :  Kecik / Markum
  6. Lurah Miyono           :  Murdadi
  7. H. Joyokusumo        :  Suparjo
  8. Sunan Kalijaga          :  Daryanto
  9. Sunan Kudus             :  Iskandar
  10. Nyi Sunan Kudus     :  Winarsih
  11. Bakul Legen                :  Martono
  12. Bojo                               :  Endang R
  13. Waranggana               :  Purwanti / Sutinah

Bagi anda yang bermaksud mendengarkan Ketoprak MP3 dalam Cerita Syeh Jangkung Andum Waris kami persilahkan download disni ……………

  1. Syeh Jangkung, Andum Waris 1a
  2. Syeh Jangkung, Andum Waris 1b
  3. Syeh Jangkung, Andum Waris 2a
  4. Syeh Jangkung, Andum Waris 2b
  5. Syeh Jangkung, Andum Waris 3a
  6. Syeh Jangkung, Andum Waris 3b
  7. Syeh Jangkung, Andum Waris 4a
  8. Syeh Jangkung, Andum Waris 4b
  9. Syeh Jangkung, Andum Waris 5a
  10. Syeh Jangkung, Andum Waris 5b