Category Archives: Langendriyan

Langendriyan – Menakjingga Lena

Satu lagi jenis kesenian jawa tengah (khusunya Surakarta dan Jogyakarta) yang bisa dipastikan sudah tak lagi digelar.  Jangankan oleh televisi swasta dan masyarakat, bahkan oleh sanggar seni dan para pengamat seni sekalipun.  Langendriyan adalah salah satu bentuk kesenian yang hanya bisa dinikmati oleh sebagian kecil masyarakat kalangan tertentu.  Mereka adalah para prakktisi dan pemerhati kesenian jawa.  Kesenian ini menggabungkan antara karawitan, wayang orang, drama (baca:ketoprak) humor, sekaligus tari dalam kemasan yang sudah baku.

Beberapa waktu lalu saya pernah memperkenalkan (tepatnya, mengingatkan kembali) langendriyan Bancak Doyok, yang menurut saya harus dengan bekerut kening ketika harus menikmatinya.  Bukan lantaran lamanya pagelaran (dikemas dalam pita kaset c 90) tetapi juga materi yang disuguhkan.  Tak hanya itu, cara melucupun sedemikian tertib.   Kali ini, saya berhadapan dengan 2 buah kaset pita c 60 untuk satu lakon Langendriyan Menakjingga Lena.  Itu arttinya saya harus berkerut kening untuk bias menikmati  jenis kesenian ini.

Dimulai dengan pambuka suluk patet nem jugag yang dirangkai dengan palaran nyamleng selama satu sisi kaset (30 menit).  Boleh jadi, palaran bisa dinikmati sambil nglaras tetapi nampaknya tidak demikian.  Cakepan dari pangkur palaran tersebut merupakan prolog dari cerita Menakjingga yang berhadapan dengan Damarwulan ketika hendak berperang.  Tiap bait yang dirangkai dalam pupuh palaran tersebut merupakan potret keadaan dan gambaran emosi para tokohnya.  Terdorong oleh rasa penasaran, saya menuntaskan satu sisi kaset tersebut sembari mengconvert ke digital.  Katam sudah 30 menit pertama.

Pada sisi B, saya mengharapkan muncul dialog antara Menakjinggo dan Damarwulan diselingi guyonan Dayun yang menggelitik.  Tetapi ternyata tidak.  Saya tak menemukan apapun kecuali masih pada palaran yang sekarang berganti asmarandana.  Anehnya, makin saya dengarkan makin syik saja.  Maka dengan istiqomah saya nunggu selesainya side B tersebut.  Sebatang rokok, segelas kopi dan angan yang makin menerawang. Nglangut sampaui pada menit ke 15 ketika dalang suluk untuk mengganti laras dari slendro ke pelog!  Tak lama keterkejutan saya berlangsung karena gending sudah kembali ke suasana nyaman yang aneh.

Saya yang awam masalah seni bertanya dalam hati, kapan dialog Menakjingga, Damarwulan, Dayun, Waita dan Puyengan muncul padahal sudah duapuluh menit side B berputar.  Bahakan, lihatlah sekarang sudah sampak menyura?  Tetapi karena tetap saja nikmat buat didengarkan, maka terus saja saya menikmati suara yang muncul dari kaset pita yang kadang mleyat-mleyot ini.  Benar saja, sampai akhir side 2b, saya hanya mendengarkan gendhing-gendhing yang indah, dan sulit dimengerti.

Makin saya menyadari betapa awam dan bebalnya saya dalam menikmati seni tradisional jawa.  Langendriyan yang saya dengarkan ternyata hanya berupa rangkaian pupuh gendhing dan tembang, mulai macapat, tengahan maupun tembang gedhe.  Cerita yang dirangkai hanya bias diikuti apabila mencermati cakepan-cakepan gendhing itu.  Luar biasa!

  1. Langendriyan – Menakjingga Lena _1a
  2. Langendriyan – Menakjingga Lena _1b
  3. Langendriyan – Menakjingga Lena _2a
  4. Langendriyan – Menakjingga Lena _2b