Category Archives: LAWAK / DHAGELAN

Basiyo – MBecak

Barangkali inilah karya Pak Basio yang cukup fenomenal.  Bukan saja dari aspek cerita, tetapi juga dari kemampuan improvisasi seorang Basiyo.  Tidak hanya itu, Pak Basiyo seakan menyadari betapa pentaingnya pembagian peran dalam sebuah lakon.  Kelucuan muncu bukan hanya dating dari basiyo, tetapi prakstis dari hamper semua pelaku yang terlibat.

Sebagaimana biasa, cerita yang diangkat sangat sederhana.  Sepasang suami isteri ingin berangkat ke pesta pernikahan.  Mereka naik becak yang dibawa oleh seorang tukang becak eksentrik bernama Basiyo.  Si tukang becak mengawali dengan sebuah hubungan kekeluargaan yang akrab terhadap penumpangnya, bahkan untuk urusan bayaranpun dia tak mau menyebutkan jumlahnya, cukulah apabila dia diebri yang paling banyak.

Masalah jadi runyam ketika, berapapun jumlah rupaiah yang diberikan selalu kuramg banyak dibanding angka lain yang disebutkan oleh Pak Basiyo.  Hanya itu, dan hanya begitu!  Tetapi kekuatan dramaturgi Pak Basiyo dan kawan-kawan, bukan hanya dari aspek cerita tetapi juga pada improvisasi dialog.  Tak heran jika sepanjang cerita kita selalu disuguhi dengan guyonan yang segar, sopan dan lugas.  Lucu tak harus tertawa!

Nah silahkan anda bernostalgia denganBasiyo Mbecak pada link berikut ini.  Selamat menikmati

Download file BASIYO MBECAK

Basiyo – Pak Dengkek

(untuk temanku Rumpis Trimintarta)

Apakah anda penggemar Moliere? Ya, Jean-Baptiste Poquelin atau yang lebih dikenal dengan Moliere (1622 – 1673) seorang sasterawan Perancis yang banyak menulis nakah drama komedi.  Karyanya banyak diterjemahkan dan seakan menjadi pegangan wajib bagi pemerhati dan prakstisi dunia teater di Indonesia, sampai saat ini.  (tentang Moliere dapat dilihat di Wikipedia)

Adalah Rumpis Trimintarta, seorang birokrat (sekaligus dhagelan ; pangapunten Pak Camat) yang memperkenalkan nama Moliere pada saya lebih dua dasawarsa lalu lewat sebuah naskah drama komedi Dokter Gadungan.  Dari lelaki inilah saya banyak tambahan referensi tentang buku sastra dan teater ketika itu.  Dialah yang mengajari saya untuk hidup  digawe penak angger ora sak kepenake. Kendati kami tidak berhasil mementaskan karya itu, tetapi naskahnya katam saya baca.  Nah, yang kali ini hendak saya upload, adalah sebuah file MP3 Dhagelan Mataram (Basiyo) yang berjudul Pak Dengkek.  Lalu apa hubungannya?

Begini, plot Pak Dengkek dan Dokter Gadungan, nyaris sama.  Seorang yang bukan dokter (dukun) dipaksa harus mengobati orang sakit.  Sayangnya, dokter tersebut tak mau pamer kepintaran.  Oleh karenanya, harus dipukul jika dia mengaku bukan dokter.  Hanya begitu!  Tapi membandingkan keduanya sungguh sangat menarik.

Basiyo adalah sorang seniman besar yang karyanya selalu original, kendati dia tak berpendidikan tinggi.  Banyak guyonan dan cerita lawakannya yang diadaptasi oleh banyak pelawak muda setelahnya, termasuk  lakon Pak Dengkek ini.  Karya-karya lain yang monumental adalah Pangkur Jenggleng.  Dialah yang memperkenalkan jenis tembang Pangkur (yang semula Palaran) di garap dengan cara nyeleneh dan tetap bisa dinikmati sampai saat ini.  Selain itu, masih banyak cerita original Basiyo yang lain, yang seakan menjadi wajib bagi pementasa lawak / dagelan.  Lihatlah Misalnya, Kepuntir, Impen Daradasih, Pari Bengong, Popok Wewe dan sebaginya.

Saya yakin, Basiyo tidak pernah membaca Dokter Gadungan karya Moliere karena sejauh yang saya dengar cerita yang dipentaskan hanya berupa plot.  Selebihnya adalah improvisasi.  Sayangnya budaya menulis belum begitu lekat dikalangan seniman kita ketika itu.

Saya Cuma ingin mengatakan, bahwa imajinasi Basiyo dalam membuat karya Pak Dengkek, yang ternyata sama dengan Dokter Gadungan karya Moliere, adalah kebetulan semata.  Haqul yakin, Basiyo tidak menjiplak karya Moliere.  Lalau apa artinya?

Jika Pak Basiyo mau membuat naskah atau setidaknya meninggalkan tulisan-tulisan terkait dengan karyanya, tak berlebihan rasanya menyandingkan Basiyo dengan Sastrawan besar Perancis, Moliere.

Download MP3 Basiyo – Pak Dengkak.

Guyon Maton Mp3

Pada dekade 90an, ketika dimulai era global banyak seni dari luar negeri (baca: barat) menggelontor negeri ini.  Dimulai dari seni tari ( ingat: break dance, flash dance), film dan musik menggelegak ditengah seni  tradisional yang makin terpinggirkan.  Pentas-pentas kethoprak mulai sepi penonton, wayang orang mulai ditinggalkan dan tari pethilan (bahkan yang berlabel tari kreasi baru)pun sudah jarang ditemukan.  Para seniman dan pelaku seni pada umumnya sudah mulai banting setir untuk mencari sumber penghasilan baru diluar spesialisasinya.  Benar-benar terasa keterpurukan seni  tradisional ketika itu.

Disaat sulit semacam itu, bagai oase, Surono, Nanik Ramini, Darsi, Rusman dan banyak tokoh WO Sriwedari Surakarta pada waktu itu, membuat terobosan dengan menampilkan Guyon Maton, sebuah bentuk “lawak gaya baru” dengan tetap mengedepankan unsur hiburan tanpa terlalu jauh menyimpang dari “pakem”.  Ketika itu jenis lawak ini banyak ditampilkan pada acara hajatan seperti  mantu, khitanan dsb dengan sebutan Guyon Maton Lesmana Wuyung.

Disebut demikian karena tokoh / lakon yang ditampilkan adalah R. Lesmana (putra Raja Astina, yang idiot itu) berdialog dengan emban dan tokoh lain dalam rel “dhapukan” wayang orang.  Meski demikian, Guyon Maton Lesmana Wuyung ini, tidak selalu menampilkan tokoh Lesmana tetapi juga Ki Lurah Petruk.  Intinya adalah berupaya menampilkan “dagelan” yang lebih halus dibanding “lawak modern”  tetapi tak harus mengernyitkan kening semacam Langendriyan Bancak Doyok.

Ketika itu, Guyon Maton Lesmana Wuyung  sempat menyita perhatian banyak pecinta seni.  Para seniman Wayang Orang dan Kethoprak yang sepi order, dapat mengais rejeki sambil mengespresikan jiwa keseniannnya melalui jenis pentas ini.  Sayapun sempat  punya kesempatan dan pengalaman langsung serta menerima “tanggapan”  guyon maton di dibeberapa tempat, tentunya sesuai dengan kapasitas saya sebagai seniman ajaran.

Saya tidak ingat, kapan Guyon Maton Lesmana Wuyung (baca: Guyon Maton) ini mulai sepi dari berbagai pentas hajatan.  Yang pasti, sekarang pantas sejenis itu praktis tak bisa kita temukan.  Sekarang pada hajatan mantu dsb, orang lebih suka menoleh ke Organ Tunggal, Dangdut dan Campursari (yang -maaf- sudah kehilangan arah).  Saat ini (dibeberapa tempat, tentu) penyanyi  cantik, iringan / musik yang cenderung  gayeng dan MC yang pintar nyerempet “daerah hitam” dengan berdialog dengan penyanyi, menjadi alternatif.

Ketika tengah  “ngolak-alik” kaset bekas di pasar loak minggu kemaren,  beberapa judul Guyon Maton saya temukan dengan kondisi  “sangat mengenaskan”.  Sampulnya sudah kusam, kemasannya sudah pecah disana sini.  Kemudian di bagian dalam, pitanya sudah mbundhet total dan ditautkan melingkar begitu saja di tubuh kasetnya.  Ganjel gabus yang menjadi nyawa menkanik kaset sudah tidak ada lagi.  Ada empat kaset dengan kondisi yang tak jauh berbeda.

Terdorong rasa ingin berbagi, Rp. 500 saya bayarkan pada Mas Agus untuk kaset itu.  Kemudian dengan penuh keyakinan saya lakukan perbaikan dengan metode kanibalisme :) .  Satu kaset saya bongkar, kemudian peralatan yang ada didalamnya saya pasangkan untuk memutar kaset yang lain.  Begitu selesai, pita dikaset kedua saya pasangkan untuk saya putar dan convert.  Demikian setelah seharian empat kaset selesai  juga.  Dan setelah yakin terhadap hasil convert yang telah saya lakukan.  Maka dengan penuh khidmad, kaset pita seharga Rp. 500 itu saya buang. Wussss………..

Nah, untuk mengenang Guyon Maton sekaligus melihat hasil perjuangan saya, berikut ini saya persembahkan beberapa judul Guyon Maton untuk anda!

  1. Guyon Maton, Petruk Godril (Surono – Darsi)_A
  2. Guyon Maton, Petruk Godril (Surono – Darsi)_B
  3. Guyon Maton, Nawangwulan (Waldjinah)_A
  4. Guyon Maton, Nawangwulan (Waldjinah)_B
  5. Guyon Maton, Lesmana Godril (Surono – Darsi)
  6. Guyon Maton, Petruk Dadi Dalang (Surono – Darsi)
  7. Guyon Maton, Janaloka Gandrung (WO Sriwedari)

Junaidi CS – Junaidi Khotbah, Junaidi Guru Ngaji

Sungguh, tidak gampang mencari referensi tentang pelawak yang satu ini.   Padahal Junaidi telah memberikan warna pada perkembangan dagelan (Mataram) yang pada waktu itu vakum setelah era Basiyo.  Bersama Buang dan Jambul, Junaedi membentuk kelompok Junaedi CS dengan gebrakan pertama Junaedi Dalang  Internasional yang disusul Junaedi Dalang Internasional II dan judul-judul yang lain berturut-turut diluncurkan.

Secara tematis, sebenarnya Junaedi tidak ada yang baru.  Lawakannnya tidak dilengkapi dengan “cerita” sebagaimana biasa di bawakan oleh Basiyo.  Kekuatan Junaedi adalah pada spontanitas dan eksploitasi phisknya.  Mrongos dan memble adalah “trade mark” yang tak pernah lepas dari materi lawakannya.

Pada kesempatan perburuan saya dalam mencari kaset magnetik, saya menemukan 3 judul dari Junaedi dengan kualitas yang masih sangat baik yaitu Junaedi dadi Janaka, Junaedi Khotbah dan Junaedi Guru Ngaji.  Dalam rencana memposting materi tersebut, untuk dua judul saya merasa kesulitan dalam menempatkan kategori.  Semula, saya berencana menempatkan Junaedi Khorbah dan Junaedi Guru Ngaji, di Halaman Islam.  Akan tetapi dari aspek materi (tanpa sama sekali mungurangi nilai dan maknanya) saya melihat lebih dominan Lawak daripada Khotbahnya, maka saya posting semua kaset Junaedi tersebut dalam kategori Dagelan.

Nah, kami persilahkan anda untuk mengambil sarinya tanpa mengurangi hak anda untuk tersenyum.

  1. Junaidi Cs, Junaidi Khotbah-01
  2. Junaidi Cs, Junaidi Khotbah-02
  3. Junaidi Cs, Junaidi Khotbah-03
  4. Junaidi Cs, Junaidi Khotbah-04
  5. Junaidi Cs, Junaidi Khotbah-05
  6. Junaidi Cs, Junaidi Khotbah-06
  7. Junaidi Cs, Junaidi Khotbah-07
  8. Junaidi Cs, Junaidi Guru Ngaji-01
  9. Junaidi Cs, Junaidi Guru Ngaji-02
  10. Junaidi Cs, Junaidi Guru Ngaji-03
  11. Junaidi Cs, Junaidi Guru Ngaji-04
  12. Junaidi Cs, Junaidi Guru Ngaji-05
  13. Junaidi Cs, Junaidi Guru Ngaji-06
  14. Junaidi Cs, Junaidi Guru Ngaji-07

MP3 Lawak Jadul, Warkop DKI

Masih dari sahabat saya Mas Suhandoko, Denpasar. Ketika mengirmkan CD Lakon Wayang Banjaran Arjuna II (Ki Narto Sabdho), beliau menyertakan file Ludruk Kartolo dan Lawak Warkop DKI.  Untuk Ludruk Kartolo, kendati belum semuanya ada di Blog ini, akan tetapi sebagian besar sudah saya tambahkan paringan Mas Suhandoko tadi di postingan saya.  Selain itu, dalam banyak tempat anda bisa menemukan Luruk Kartolo ketika anda googling.

Saya merasa, bahwa Lawak Warkop yang disertakan Mas Suhandoko tadi terasa sangat istimewa ditengah lawak masa kini yang kering ide (kecuali Eko Patrio yang nampak sangat lucu di Senayan :) ) oleh karena itu, postingan kali ini saya dedikasikan kepada Mas Suhandoko, Denpasar. yang diantara kesibukannnya masih menyempatkan diri mengirimkan file itu kepada saya, bahkan ketika menengok ayahandanya di Sragen, beliau sempatkan untuk bertandang di gubug reyot saya. (terima kasih untuk semuanya)

Dari aspek cerita, lawak DKI kali ini tidak menunjukkan plot yang jelas bahkan boleh dikatakan tidak ada alur sama sekali.  Tatapi dari aspek ide, Warkop memberikan banyak sekali inspirasi yang (ketika itu) original, kendati humornya masih monoton pada perbedaan etnis / suku, pelesatan lagu dan eksploitasi fisik seseorang (bibir dono yang mBemo masih menjadi bahan tertawaan).

Tapi itu tak mengapa, karena hingga saat ini masih digemari.  Lihatlah, Bukan Empat Mata.  Betapa lawakan Tukul (yang konon tergolong papan atas), tak henti-hentinya mentertawakan bibir dan ketampanan wajahnya (seperti “cover boy, katanya” sebagai bahan lawakan.  Herannya, penonton masih saja tertawa sekalipun hanya itu-itu saja yang dikemas oleh Mas Tukul Arwana.

Yang menjadi aspek andalan dari postingan saya kali ini adalah nilai Jadul dan Nostalgianya.  Maka, jadilah saya mengemas Warkop DKI dalam bingkai Lawak Nostalgia.  Sekali lagi, tanpa bermaksud membandingkan Warkop DKI dengan lawak masa kini saya berharap semoga postingan saya bisa membawa anda kemasa lalu.  Ingat, lawakan Warkop ketika itu memiliki segmen yang cukup hebat, mahasiswa!

  1. Warkop DKI 1
  2. Warkop DKI 2
  3. Warkop DKI 3

 

Admin:

Untuk Mas Suhandoko, Denpasar. saya ucapkan terima kasih atas semua dedikasinya.  Kami semua menunggu judul-judul lain dari anda…………… Salam.

Junaedi CS – Junaedi Dadi Juru Kunci

Dari aspek cerita, mungkin tak terlalu istimewa.  Basiyo dan Srimulat pernah mengangkat cerita ini.  Kancil-kancilan orang yang terdesak kesulitan ekonomi, menggunakan cara jenaka untuk mendapatkan keuntungan.

Masih bersama Buang dan Jambul,  Djunaidi berusaha untuk memberikan warna baru dalam memancing tawa.  Kendati tidak “seheboh” Dalang Internasional dan Ular-ular Temanten

Sekali lagi, barangkali anda akan sedikit kecewa dengan kualitas suara yang dihasilkan.  Saya berusaha untuk merekam sebaik mungkin akan tetapi karena keterbatasan kemampuan saya di bidang ripping audio, hasilnya tetap saja tak memenuhi harapan anda.

Sebagai obat kangen, kami persilahkan anda untuk mengunduh file Junaidi Dadi Juru Kunci.

Link Download  Junaedi CS – Junaidi Juru Kunci

Menang Lotre

Ini adalah  gambaran masyarakat kelas bawah ketika itu.  Dalam keterbatasan mereka berusaha untuk merubah nasib dengan cara apapun, termasuk membeli nomor lotre.
Pak Harjo baru saja menerima momongan dua orang anak,  laki-laki dan perempuan (dhampit).  Mereka telah mencari pinjaman uang yang akan digunakan untuk menyelenggarakan hajatan (sepasaran).
Karena khawatir uang tersebut hilang, maka ketika akan mencuci pakaian ke sungai Bu Harjo menitipkan uang itu kepada suaminya.
Sepeninggal Bu Harjo datang seorang tamu yang berniat meminjam uanag kepada Pak Harjo.  Karena tidak mempunyai uang Pak Harjo tidak bisa memenuhi harapan sang tamu.  Akan tetapi si tamu mendesak Pak Harjo bahkan berniat menjual kupon lotre yang baru saja dibelinya.
Semula Pak Harjo tidak bersedia membeli, tetapi karena di desak, akhirnya Pak Harjo bersedia membeli kupon lotre tersebut.
Betapa marah Bu Harjo ketika mengetahui bahwa uangnya telah dibelikan lotre oleh suaminya.  Pertengkaran mereka berujung pada pengusiran Pak Harjo dari rumah itu.  Pak Harjo pergi dengan membawa anak perempuannya.  Sedang anak yang seorang lagi (laki-laki) ditinggal untuk diasuh Bu Harjo.
Hebatnya, kupon  lotre tadi ternyata tembus, dan Bu Harjo mendapat hadiah uang yang tak sedikit jumlahnya.  Dia menjadi kaya raya.
Singkat cerita anak lelaki yang diasuh Bu Harjo telah tumbuh menjadi seorang remaja bernama Basiyo.  Dia jatuh cinta dengan seorang gadis, anak tukang cukur bernama Harjo.
Bagaimanakah kelanjutan cerita ini???
Silahkan anda nikmati sembari brnostalgia dengan Keluarga Dagelan Mataram pimpinan Pak Basiyo.

SURYA GROUP

Surya Group, Pameran PacarKadang-kadang, lucu tak harus tertawa.  Begitulah, konsep lawak pada masa lalu.  Bagaimana Pak Basiyo “melucu” dengan berbicara wajar, mengalir apa adanya.  Kemudian, Ranto Edy Gudel, Gepeng dan pelawak-pelawak “jadul” yang lain.  Mereka seakan tak dituntut harus membuat tertawa.  Mereka lucu dan menghibur cukup dengan tampil apa adanya. Tanpa bermaksud mengatakan bahwa konsep lawak sSurya Group, Sinyo membolosekarang sudah berubah, pada kenyataannya lawakan yang sering kita lihat sekarang terasa sangat dipaksakan.  Mereka terbebani oleh rasa harus membuat orang tertawa.  Sehingga kelucuan yang dibuat oleh Eko Patrio dan lain-lain terasa benar bedanya dengan S. Bagyo, Sol Saleh, Diran dan lain-lain seangkatannya.

Sebagai pelepas kangen, tanpa anda harus tertawa berikut ini kami persembahkan untuk anda MP3 Lawak Surya Group.  Ya, Surya Group, dengan personil Heri Koko, Susi (Sunaryono), Sinyo (Prapto) dan Ayub Djalal.

Tidak banyak refernsi yang kami dapatkan dari personil grup ini, taSurya Group, Sinyo Main Sandiwarapi Ayub Djalal saya temukan di Wikepedia.

Ayub Abdul Djalal atau lebih dikenal dengan nama Djalal (lahir di Mojokerto, Jawa Timur, 12 Februari 1946 – wafat: 1980) adalah seorang pelawak Indonesia yang terlaris di era tahun 1970-an. Mulanya bersama teman-temannya, ia mendirikan grup pelawak “Surya Grup” yang terdiri dari Herry Koko, Suprapto (Esther), dan Sunaryo (Susy).

Sebelum ke film Djalal pernah mengajar di SKKP Negeri Surabaya (1967-1976). Sejak tahun 1974 Djalal bersama kawan-kawannya membentuk grup lawak yang diberi nama Surya Grup. Tahun 1975 ia menerjunkan diri ke dunia film sebagai figuran. Karirnya di film semakin mengorbit setelah mendapat peran utamSurya-Group-01-Sinyo-Minta-Mamia dalam “Inem Pelayan Sexy” yang dibikin dua seri sekaligus. Di luar film Djalal bersama grup lawaknya aktif mengadakan pertunjukan-pertunjukan ke daerah-daerah maupun di layar televisi. Di samping itu sejak tahun 1977 ia telah diangkat sebagai karyawan Kanwil Departemen P&K Surabaya. Jalal wafat tahun 1980 karena serangan jantung yang disebabkan karena kegemukan.

Namanya melambung lewat film komedi Inem Pelayan Sexy yang juga dimainkan oleh aktris Doris Callebaute, penyanyi senior Titiek Puspa , Aedy Moward dan pelawak Srimulat terkenal Karjo AC-DC. Film ini disambut luar biasa oleh Surya-Group-10-Suamiku-Tergadaimasyarakat seluruh Indonesia. Dengan kesuksesnya akhirnya sutradara Nya’ Abbas Akup melanjutkan serinya yaitu Inem Pelayan Sexy 2 dan Inem Pelayan Sexy 3.

Berikut ini adalah hasel convert pita kaset Surya Group untuk anda download.

  1. Sinyo Gombal_a
  2. Sinyo Gombal_b
  3. Sinyo Main Sandiwara.
  4. Sinyo Membolos A
  5. Sinyo Membolos B
  6. Sinyo Minta Mami
  7. Suamiku Tergadai