Category Archives: Klenengan

Video Tayub Sragen – Geyong Kenthil

Jarang orang yang mengetahui, juga saya, siapa sebenarnya nama perempuan ini.  Dia dikenal dengan nama Suji.  Sinden Tayub Sragen yang cukup legendaris dan berjaya pada masanya.  Dia menjadi ikon Tayub cengkok Sragen karena suaranya yang khas, renyah dan apa adanya.

Anda tak akan menemukan vebrasi yang lembut ala penyanyi kroncong atau seriosa.  Alunan suaranya tidak melambangkan apapun kecuali sebuah kesederhanaan yang dikemas dalam bentuk kesenian yang sangat merakyat.  Anda juga tak akan menemukan wajah lembut khas kejawen seperti Sundari Soekotjo.  Berhidung mancung, bibir tipis merekah dan sanggul yang tak terlalu besar ditopang pundak ramping yang dibalut kain broklat lembut warna pastel.

Suji adalah sosok seniwati pinggiran yang matang karena hempasan jaman dan tumpukan kesahajaan yang tidak dipaksakan.  Dia tampil lugas apa adanya dan nyaris tanpa beban.  Dia menyanyi, menyanyilah dia tanpa hantu benar salah dan baik buruk.  Dia menyanyi karena memang harus menyanyi.  Selain Cao Glethak, Angleng, Celeng Mogok, dan Orek-orek, Geyong Kenthil adalah judul yang sering direquest para penayub.  Iramanya rancak, syairnya lugu dan ringan meski kadang terkesan nakal.  Coba perhatikan……….

…. Geyong mas, kenthil. Kenthil ya mas, geyong

Geyong ya mas, kenthil  ya mas ya.

Gilo-gilo walohe.  Nora kelong cukup butuhe.

Aja ngono lho dhik, aja ngono. Piye gek kepiyem, dhik.

Semarang kaline banjir, aja sumelang yen ra tak pikir

…. Geyong mas, kenthil. Kenthil ya mas, geyong

Geyong ya mas kenthil, ya mas ya.

Gilo-gilo walohe.  Karangpandan tawangmangu,

awan kencan bengi ketemu

Hanya begitu, dan cuma begitu.  Jika ada penambahan atau syair yang lain, hanyalah mengganti cakepan di akhir tiap baitnya.

…. Jarik kawung diwiru-wiru, atine bingung awakku kuru

Nonton kethek mangan gadhung, cedhak ledhek rawani ngam…pyang

Mlaku ngalor kepethuk uler, kathokmu kombor nggo buntel lemper

Nandur rawe neng galengan, ngesir kowe keleleren

Geyong Walohe, kenthil kruntile….

Nganggo belor pecahan gendul, mlaku ngalor, bali ngidul…

Dina minggu ora prei, tak tunggu-tunggu kok ora kok wehi….

 

Geyong Kenthil…… Aneh sekali judul itu.  Pengucapannyapun Cuma di bolak balik. Geyong mas kenthil. Kenthil mas geyong. Geyong mas kenthil, kenthil mas geyong…. Sulit sekali mencari maknanya.  Geyong adalah personifikasi sebuah benda yang menggantung dan bergoyang goyang jika tangkainya bergerak, sedang kenthil identik dengan benda yang senantiasa menempel kemanapun.  Geyong kenthil, meski menggantung dan bergerak (mungkin terasa ribet) tapi dia senantiasa menempel dan ikut kemanapun.  Geyong Mas, Kenthil….. Ha….ha…ha….

Ah, sudahlah.  Tak usah anda fikirkan bagaimana syair Geyong Kenthil dan apa maknanya. Nikmati saja!  Dan pastikan anda membayangkan seorang Suji, yang saya tahu rajin bekerja disawah.  Kulitnya hitam, ototnya kekar.  Maka ketika dia harus nyindhen dan terpaksa memakai bedak, akan kontras dan kadang luntur menampakkan gurat-gurat hitam karena bedak yang luntur oleh keringat.

Oh, Ya.  Kabar terakhir bu Suji telah pindah dari Dukuh Mentir, Pelok Sepur, Desa Bener Kecamatan Ngrampal, Kabupaten Sragen ke Desa Srimulyo, Kecamatan Gondang.  Jauh dari kehidupan glamour artis lokal.  Ponsel, Spa, Senam Kebugaran,??? Ah, jangan tanyakan itu.  Bu Suji adalah warga desa biasa yang sekarang sering menjadi tukang adang (menanak nasi) di acara hajatan.  Tetapi bagaimanapun dia adalah ikon Tayub Gaya Sragen.  Suaranya masih terselamatkan!  Sejujurnya, saya lebih bangga Bu Suji yang berasal dari Sragen, bukannya Jupe atau Dewi Persik yang jelas lebih cantik.

Ah, Ngelantur….  Ayo mas… Geyong, kenthil.  Geyong Mas, Kenthil.  Kenthil Mas Geyong…..

Bagi yang kesulitan download yaoutube, silahkan memalui link berikut ini

MP3 Gendhing Beksan

Salah satu hiburan alternatif pada acara hajatan di penghunjung tahun 80an adalah beksan.  Beksan (tari-tarian jawa) pada awal kemunculannya selain dipergunakan untuk acara ritual juga berfungsi sebagai bahasa non verbal untuk sebuah pesan (cerita).  Sendratari Ramayana, misalnya.  Selain sebagai pelengkap ritual agama Hindhu juga merupakan hiburan yang berupa cerita yang diambil dari epos besar Ramayana.  Oleh karena itu, keberadaan tarian atau beksan dalam budaya jawa hamper tak bisa dipisahkan.

Keluarga Kerajaan (Surakarta dan Jogjakarta) memiliki tradisi menciptakan Beksan Bedhaya untuk acara-acara tertentu, misalnya wisuda, kelahiran putra raja dan sebagainya.  Bahkan beberapa beksan bedaya bukan hanya dilarang untuk dipentaskan di sembarang waktu tetapi dilarang juga dimainkan / ditarikan oleh sembarang orang, karena sifatnya yang “keramat”.   Sedemikian menyatunya beksan dengan budaya jawa, maka kemampuan seseorang untuk bisa menari jawa seakan meenjadi kebutuhan oleh orang yang menyebut dirinya mencintai budaya jawa.

Menariknya sebuah tarian (beksan) bukan hanya ditentukan oleh kemampuan para penarinya tetapi juga oleh iringan (ilustrasi music) dari tarian tersebut.  Dalam hal ini peran gendhing-gendhing beksan sungguh tak dapat dielakkan dari pagelaran beksan itu sendiri.  Gending beksan bisa mempertajam sebuah suasana yang digambarkan oleh gerakan tariannya.  Tari Gambyong, contohnya.  Suasana rancak dan akrab langsung terarasa begitu music mengalun.  Itulah sebabnya, tari gambyong sering digunakan untuk menyambut tamu dan sebagai pembuka acara.

Tanpa sebab yeng jelas, pegelaran tari kian hari kian ditinggalkan. Beberapa tarian kadangkala memang masih digelar tetapi hanya tarian tertentu dan pada acara tertentu saja.  Tarai gambyong adalah satu diantara yang sedikit itu.

Sudah ada upaya untuk membuka ketertarikan generasi muda oleh para koreografer dan pemerhati kesenian jawa pada umumnya dengan menciptakan tarian-tarian yang berlabel Tari Kreasi Baru.  Akan tetapi langkah itu belum menunjukkan keberhasilan yang berarti  (jika tak boleh disebut gagal).  Kendatipun begitu, kita harus tetap optimis pada upaya pelestarian dan pengembangan tarian jawa.  Lihatlah disanggar-sanggar seni, masih banyak anak-anak kita yang dengan sungguh-sungguh belajar hasil kesenian yang indah itu.  Permasalahannya adalah, keberanian kita untuk menikmati pagelaran beksan. Masih beranikah kita mengambil resiko “nanggap” beksan pada acara yang boleh jadi kita pertaruhkan.  Beranikan kita menggelar beksan Enggar-enggar, Karonsih, Gatutkaca Gandrung dan sebagainya pada acara hajatan pernikahan anak kita?

Baiklah.  Kita mulai saja dengan mendengarkan gendhing-gendhing beksan sebagai pintu masuk kita untuk bisa menikmati tarian jawa.  Tak bosan permintaan maaf perlu saya sampaikan apabila hasil ripping dari kaset digital kurang memenuhi harapan anda.  Hal ini lebih disebabkan karena kaset aslinya yang memang sudah rusak.  Saya akan menambahkan dari sedikit koleksi gendhing beksan seiring saya mendapatkan file-file baru.  Salam Budaya!

  1. Beksan GAMBYONG (Pareanom)
  2. BEKSAN GAMBYONG PKJT
  3. Beksan GAMBIRANOM
  4. Beksan ANILA PRAHASTA
  5. Beksan BEDAYA LA – LA
  6. Beksan BOPNDHAN LANGEN SAYUK
  7. Beksan ENGGAR -ENGGAR
  8. Beksan GOLEK MANIS
  9. Beksan SRIMPI GANDAKUSUMA
  10. Beksan GATUTKACA ANTASENA
  11. Beksan GATUTKACA GANDRUNG
  12. Beksan GOLEK
  13. Beksan  JATHAYU
  14. Beksan  PRAWIRAGUNA
  15. Beksan SRIMPI ANGLIR MENDHUNG
  16. Beksan TANDHINGAN
  17. Beksan TROPONGAN

MP3 Gendhing Jawa – Klenengan Mat-matan

Memahami gendhing-gendhing jawa (saya menuliskannya “gendhing” –dan bukan gending disamping karena kaidah penulisan juga sekadar untuk memasatikan bahwa lidah jwa saya tidak salah melafalkannya) sungguh sangat tidak gampang. Ditelinga saya terasa hampir sama. Bagaimana tidak. Kata atau syair : ya mas, ya mas, gones-gones, eman-eman, witing klapa kalapa kang maksih mudha, hamiwiti, ujung jari balung randhaning kalapa, hamiwiti sindhen sendhoning pradangga, atmaja nata rahwana dan sebagainya, selalu saja muncul dalam setiap lagu.

Belum lagi jika sudah masuk dengan disebut gendhing, ketawang, jineman, ladrang dan lain-lain. Sungguh membuat saya semakin malu dengan diri sendiri yang berulangkali mengaku sangat bangga sebagai orang jawa. Yang merasa diri mencintai kesenian jawa dan yang dengan jumawa sok njawani. Saya bisa pastikan bahwa saya tidak sendirian. Masih banyak rekan-rekan lain yang enggan mengakui betapa tidak jawanya kita.

Kesadaran ini muncul tidak tiba-tiba. Rekan saya Wahyudiono didalam status FB nya beberapa waktu lalu seakan menggugah tidur panjang saya tentang kesenian jawa ketika menulis dengan lugas: “sayup-sayup terdengar randu kentir……….” Status yang terdengar ringan, tetapi “menyakitkan” (meminjam istilah mas Malix CJDW). Mas wahyu seakan menyentil saya untuk mencoba memulai dari awal sebelum masuk ke masalah kejawen secara lebih luas, yaitu lagu!

Sungguh saya tidak mengkhususkan konten dalam blog ini. Tetapi sebagian besar materi blog ini adalah segala seuatu yang ada hubungannya dengan kesenian jawa (bagian kecil dari budaya jawa) yang justru sudah banyak bertebaran di dunia maya. Oleh karenanya, sentilan Mas Wahyu tadi menggugah saya untuk mencoba mengupload file audio “lagu dan musik jawa” yaitu Gendhing Jawa. Sudah barang tentu ini bukan ajang untuk mengapresiasi, tetapi sekadar mengingatkan bahwa jawa mempunyai orkestrasi sendiri yang harus kita nikmati. Saya mengajak anda untuk bersama-sama mendengarkan dengan cara yang paling awam terlebih dahulu. Rasakan betapa nikmatnya.

Anda dengan mudah bisa membedakan suara Whiney Huston, Celine Dion, Iwan Fals, Ruth Sahanaya, Kris Dayanti kendati mereka bernyanyi dibawah orchestra yang berbeda. Tetapi tidak demikian dengan klenengan. Kecuali Nyi Condrolukito, anda akan sulit membedakan suara sinden apabila sudah berbaur orkestrasi gamelan. Suara mereka benar-benar menyatu dengan instrument music tradisional itu. Disinilah uniknya.

Nah, untuk anda yang ingin seperti saya, secara awam mendengarkan klenengan /gendhing-gendhing jawa, silahkan untuk mengunduh pada link berikut:

  1. Bawa Kuswaraga dawah_Gd._Kutut_Manggung_Pl.Br
  2. Bawa Raraturidha dhawah Gd. Gambirsawit Pancarena mawi kebar sekaran Gambyong, Laras Pelog Patet 6
  3. Bawa Retna Asmara dawah gd kembang widara ktmpn Ldr. Cangklek terus dolanan Pendisil Pl.6
  4. Bawa Retna Asmara dhawah Gendhing Randhukentir, minggah Ldr Ayun-ayun Kebar mawi Gogyg Laras Pelog Patet 6
  5. Bawa sekar ageng kumudasmara Rujak Sentul srundeng gosong ktw sinom wenigonjing
  6. Bawa SA Banjaransari dawah Gd Gandrungmanis Dhandhanggula Banjet Kljg Ldr Sarayuda
  7. Gd Mayangsari kljg Ldr Kapireta mandheg Nyekar Maskumambang Kasambet Ktw Pucung Wuyung
  8. Srepeg Mataraman mawi Ura2 Pangkur Rambangan katampen Srpg. Asmaradana kalajengaken Srpg. Durma Rambangan
  9. Srepeg Dhandhanggula Banjet Pelog Barang
  10. Pangkur Pamijen
  11. Ldr._Pangkur_Ngrenas_Pl.6
  12. Ldr Tebu Sak Uyun Slendro Menyura
  13. Ldr Kembang Kates Pelog 6
  14. Ldr Asmaradana Slendro Manyura
  15. Lcr. Baita Kandhas kljngkn Ldr. Gangsaran Pl.Br Panutup
  16. Jineman Uler Kambang – Ldr. Cikar Bobrok Sl.My

(Masih) tentang Tayub, MP3 Gendhing Tayub

Secara terminologis, Tayub adalah akronim dari kata Ta – Yub (ditata supaya guyub), ditata agar kompak.  Jadi substansi dari tayub adalah upaya untuk membuat guyub, kompak. Nilai filosofis yang terkandung dalam tayub -saya bisa memastikan- positif. Jika kemudian tayub dikonotasikan sebagai sebuah tarian erotis yang mengumbar sensualitas, sungguh sebuah kekeliruan.

Karena tayub adalah sebuah perpaduan antara musik, lagu, tari dan falsafah, maka berbicara tayub –tentunya dalam pengertian awam saya- tak hanya dilihat secara hitam putih saja tetapi harus secara komprehensif  dar beberapa aspek

Pertama, lagu dan cakepan. Tayub berakar dari karawitan dan gendhing-gendhing jawa.  Apapun pengembangan yang dilakukan oleh seniman tayub dari berbagai daerah, akar “cakepan” gendhing jawa selalu ada di dalamnya.  Sayangnya, belum banyak referensi yang mengupas tentang cakepan (syair) gendhing jawa

Kata-kata :

Ya mas…., ya mas…

Kawis pita, jawata kentir ing toya

gones, gones

Jarwa nendra, narendra yaksa ngalengka

Witing klapa, salugune

Mumpung mudha, ngudi sarananing praja dst….

Selalu menghiasi setiap gending tayub versi apapun.  Orang jawa yang terbiasa menyamarkan pesan, tidaklah mungkin menempatkan cakepan itu dalam gendhing tayub jika memang tak ada pesan tersirat.

Kedua, Gendhing-gending tayub relatif lebih rancak, enerjik dan penuh semangat.  Hal ini menggambarkan bahwa Tayub memang ditujukan untuk membangkitkan semangat, bukan untuk mat-matan semata.

Ketiga, Tarian tayub bukan semata tarian ngibing yang hanya perlu cocok dengan irama lagu saja.  Ia dibatasi dengan aturan karografi jawa yang sudah pakem.  Kapan harus tandak, sampur dan sebagainya sudah memiliki tempat.

Keempat, keberadaan ledhek yang selama ini menjadi sasaran hujatan terhadap tayub, ternyata jauh dari kesan yang selama ini melekat.  Ledhek yang diakronimkan sebagai : ala-ala gelem medhek (biar jelek asal mau mendekat) lebih karena tuntutan profesionalitas semata.  Dia mendekat (kepada tamu) adalah karena memang itu tugasnya.  Tayub tidak menyediakan panggung sebagaimana konser dangdut.  Dia dirancang untuk bisa guyub antara pemain dan penonton,  Jadi ledheklah yang harus mendekat ke penonton, bukan sebaliknya.  Bahkan di beberapa tempat (Di Sragen) apabila ada tamu yang mendekat ledhek padahal bukan gilirannya mendapatkan (ketiban sampur) dianggap melanggar hak orang lain.  Sangsi sosialnya seberat berselingkuh dengan isteri orang.  Ledhek yang baik bukan dilihat dari kecantikan atau “keberanian”nya.  Untuk yang satu ini sudah ada panitia yang bertugas membagi tugas ledek untuk mendekati para tamu. Sedang untuk pakaian ledhek??? Ahh, sudahlah seberani apa sih ledhek berpakaian??? Pakaiaannya adalah pakaian pakem penari gambyong, tidak lebih.  Saya tak hendak membandingkannnya dengan penyanyi dangdut dan “campusari modern”. (saya perlu menyebutnya demikian karena pada saatnya saya akan mencoba ngudarasa tentang campursari yang menurut saya sudah kehilangan ruh).

Akhirnya saya berkesimpulan, jika di suatau daerah seorang isteri pejabat yang gerah pada tayub sampai-sampai membuat acara untuk “meluruskan” tayub yang kemudian di tampilkan di panggung, dengan pakaian “brukut”  berwarna lurik seperti “among tamu”.  Sungguh merupakan hal yang menggelikan.

Maaf, saya terlalu bersemangat membela tayub kendati saya sadar gaung suara saya tak mungkin terdengar.  Kita terlalu asyik memperdebatkan bayangan.  Seperti hantu, tayub hanya menakutkan bagi orang yang takut.

Nah, berikut ini MP3 Gending Tayub dari beberapa daerah bisa anda nikmati sembari membayangkan Dewi Persik bergoyang, dan anda akan kecewa karena tidak akan pernah pas iramanya.

Saya berusaha umtuk mengumpulkan Gendhing-gendhing Tayub dari berbagai daerah secara bertahap.

Download Gendhing Tayub

Tayub Grengseng (Purwodadi)

  1. Angkleng
  2. Arumanis
  3. Kijing Miring
  4. Ktw Puspawarna
  5. Kupu Kuwi
  6. Si Kucing
  7. Surobayan
  8. Suwe Ora Jamu
  9. Tawangmangu

Tayub Jepon (Blora)

  1. Cao Glethak
  2. Gunungsari
  3. Walu-wolu

Tayub Sragen

  1. Angkleng Sukowati
  2. Bandung
  3. Cebawa
  4. Celeng Mogok
  5. Jaka Nginguk
  6. Jamu Jawa
  7. Jombang
  8. Rewel
  9. Gemblakan
  10. Jamong
  11. Pentil Asem
  12. Randha Kenes
  13. Pentil Asem
  14. Tembung Manis
  15. Rondha Kampung
  16. Jaran Dhawuk
  17. Ktw. Puspawarna (dangdut)
  18. Kutut Manggung (dangdut)
  19. Sekarteja
  20. Semaya
  21. Sinom Parijatha

Tayub Ngawi

Tayub Bojonegoro

Tayub Tuban

Sementara saya mencari referensi lainnya, kami persilahkan anda berkunjung ke Kangmas Saya SUKOLARAS untuk bisa mengunduh Tayub Tuban yang sudah tersedia disana

  1. Tutur Tinular Pl.6
  2. Cucur Biru Pl.5
  3. Nyai Ronggeng Sl.9
  4. Randu Alas Pl.6
  5. Kok Ngono Pl.6
  6. Tetanen Sl.9

Tayub Tulungagung

Sementara saya mencari referensi lainnya, kami persilahkan anda berkunjung ke Kangmas Saya SUKOLARAS untuk bisa mengunduh Tayub Tulungagung yang sudah tersedia disana

  1. Srihuning Cakra
  2. Jurang Jugrug
  3. Janjine Piye – Semarang Indah
  4. Grompol Angkleng
  5. Kutut Manggung – Kudo Nyongklang

Tayub Lumajang

  1. Tayub Lumajang, Ayak-ayakan kljngkn Bawa Gambuh, minggah Lelagon PKK Pl.9
  2. Tayub Lumajang, Gd. Blandhong kljngkn Cao Glethak Sl.Myr
  3. Tayub Lumajang, Gd. Gedog kljngkn, Godril Lumajang,, dhawah Gending Balun. Pl.9
  4. Tayub Lumajang, JinemanMijil Larasati, minggah Kutut Manggung Adiluhung Kalajengaken Ireng-ireng Sl.Myr
  5. Tayub Lumajang, Ldr Sekar Pocung Sl.9

MP3 Gendhing Dolanan

Gending dolanan identik dengan dunia anak-anak. Artinya terbayang oleh anda gendhing yang tersaji dalam file berikut adalah gending yang berirama rancak, dinamis dan gampang.  Khas anak-anak.

Anda keliru!  Menikmati gending dolanan yang kali ini saya upload, sungguh terasa sangat berbeda. Jika selama ini Gending Dolanan di kemas dalam bentuk lancaran dengan tempo yang sederhana dan relatif rancak, kali ini digarap “nyemek” dan terasa lebih pas untuk mat-matan.

Saya bukan ahli gendhing, maka saya tak hendak mengulas gendhing-gendhing tersebut.   Yang saya rasakan ketika mencoba lagu tersebut setelah selesai convert adalah lagu ini terasa “nyamleng” di telinga.

Saya ingin berbagi degan anda, mangga silahkan!!

  1. Bibis Pl.6
  2. Cempa Sl.9
  3. Dempo Pl.Br
  4. Jago Kate Pl.Br
  5. Jagoan Sl.9
  6. Jamuran Sl.9
  7. Jaratu Sl. My
  8. Kupu Kuwi Pl.6
  9. Lindri Sl.9
  10. Tetanya Pl.Br