Arsip Kategori: MUSIK DAN LAGU

MP3 Gendhing Beksan

Salah satu hiburan alternatif pada acara hajatan di penghunjung tahun 80an adalah beksan.  Beksan (tari-tarian jawa) pada awal kemunculannya selain dipergunakan untuk acara ritual juga berfungsi sebagai bahasa non verbal untuk sebuah pesan (cerita).  Sendratari Ramayana, misalnya.  Selain sebagai pelengkap ritual agama Hindhu juga merupakan hiburan yang berupa cerita yang diambil dari epos besar Ramayana.  Oleh karena itu, keberadaan tarian atau beksan dalam budaya jawa hamper tak bisa dipisahkan.

Keluarga Kerajaan (Surakarta dan Jogjakarta) memiliki tradisi menciptakan Beksan Bedhaya untuk acara-acara tertentu, misalnya wisuda, kelahiran putra raja dan sebagainya.  Bahkan beberapa beksan bedaya bukan hanya dilarang untuk dipentaskan di sembarang waktu tetapi dilarang juga dimainkan / ditarikan oleh sembarang orang, karena sifatnya yang “keramat”.   Sedemikian menyatunya beksan dengan budaya jawa, maka kemampuan seseorang untuk bisa menari jawa seakan meenjadi kebutuhan oleh orang yang menyebut dirinya mencintai budaya jawa.

Menariknya sebuah tarian (beksan) bukan hanya ditentukan oleh kemampuan para penarinya tetapi juga oleh iringan (ilustrasi music) dari tarian tersebut.  Dalam hal ini peran gendhing-gendhing beksan sungguh tak dapat dielakkan dari pagelaran beksan itu sendiri.  Gending beksan bisa mempertajam sebuah suasana yang digambarkan oleh gerakan tariannya.  Tari Gambyong, contohnya.  Suasana rancak dan akrab langsung terarasa begitu music mengalun.  Itulah sebabnya, tari gambyong sering digunakan untuk menyambut tamu dan sebagai pembuka acara.

Tanpa sebab yeng jelas, pegelaran tari kian hari kian ditinggalkan. Beberapa tarian kadangkala memang masih digelar tetapi hanya tarian tertentu dan pada acara tertentu saja.  Tarai gambyong adalah satu diantara yang sedikit itu.

Sudah ada upaya untuk membuka ketertarikan generasi muda oleh para koreografer dan pemerhati kesenian jawa pada umumnya dengan menciptakan tarian-tarian yang berlabel Tari Kreasi Baru.  Akan tetapi langkah itu belum menunjukkan keberhasilan yang berarti  (jika tak boleh disebut gagal).  Kendatipun begitu, kita harus tetap optimis pada upaya pelestarian dan pengembangan tarian jawa.  Lihatlah disanggar-sanggar seni, masih banyak anak-anak kita yang dengan sungguh-sungguh belajar hasil kesenian yang indah itu.  Permasalahannya adalah, keberanian kita untuk menikmati pagelaran beksan. Masih beranikah kita mengambil resiko “nanggap” beksan pada acara yang boleh jadi kita pertaruhkan.  Beranikan kita menggelar beksan Enggar-enggar, Karonsih, Gatutkaca Gandrung dan sebagainya pada acara hajatan pernikahan anak kita?

Baiklah.  Kita mulai saja dengan mendengarkan gendhing-gendhing beksan sebagai pintu masuk kita untuk bisa menikmati tarian jawa.  Tak bosan permintaan maaf perlu saya sampaikan apabila hasil ripping dari kaset digital kurang memenuhi harapan anda.  Hal ini lebih disebabkan karena kaset aslinya yang memang sudah rusak.  Saya akan menambahkan dari sedikit koleksi gendhing beksan seiring saya mendapatkan file-file baru.  Salam Budaya!

  1. Beksan GAMBYONG (Pareanom)
  2. BEKSAN GAMBYONG PKJT
  3. Beksan GAMBIRANOM
  4. Beksan ANILA PRAHASTA
  5. Beksan BEDAYA LA – LA
  6. Beksan BOPNDHAN LANGEN SAYUK
  7. Beksan ENGGAR -ENGGAR
  8. Beksan GOLEK MANIS
  9. Beksan SRIMPI GANDAKUSUMA
  10. Beksan GATUTKACA ANTASENA
  11. Beksan GATUTKACA GANDRUNG
  12. Beksan GOLEK
  13. Beksan  JATHAYU
  14. Beksan  PRAWIRAGUNA
  15. Beksan SRIMPI ANGLIR MENDHUNG
  16. Beksan TANDHINGAN
  17. Beksan TROPONGAN

MP3 Gendhing Jawa – Klenengan Mat-matan

Memahami gendhing-gendhing jawa (saya menuliskannya “gendhing” –dan bukan gending disamping karena kaidah penulisan juga sekadar untuk memasatikan bahwa lidah jwa saya tidak salah melafalkannya) sungguh sangat tidak gampang. Ditelinga saya terasa hampir sama. Bagaimana tidak. Kata atau syair : ya mas, ya mas, gones-gones, eman-eman, witing klapa kalapa kang maksih mudha, hamiwiti, ujung jari balung randhaning kalapa, hamiwiti sindhen sendhoning pradangga, atmaja nata rahwana dan sebagainya, selalu saja muncul dalam setiap lagu.

Belum lagi jika sudah masuk dengan disebut gendhing, ketawang, jineman, ladrang dan lain-lain. Sungguh membuat saya semakin malu dengan diri sendiri yang berulangkali mengaku sangat bangga sebagai orang jawa. Yang merasa diri mencintai kesenian jawa dan yang dengan jumawa sok njawani. Saya bisa pastikan bahwa saya tidak sendirian. Masih banyak rekan-rekan lain yang enggan mengakui betapa tidak jawanya kita.

Kesadaran ini muncul tidak tiba-tiba. Rekan saya Wahyudiono didalam status FB nya beberapa waktu lalu seakan menggugah tidur panjang saya tentang kesenian jawa ketika menulis dengan lugas: “sayup-sayup terdengar randu kentir……….” Status yang terdengar ringan, tetapi “menyakitkan” (meminjam istilah mas Malix CJDW). Mas wahyu seakan menyentil saya untuk mencoba memulai dari awal sebelum masuk ke masalah kejawen secara lebih luas, yaitu lagu!

Sungguh saya tidak mengkhususkan konten dalam blog ini. Tetapi sebagian besar materi blog ini adalah segala seuatu yang ada hubungannya dengan kesenian jawa (bagian kecil dari budaya jawa) yang justru sudah banyak bertebaran di dunia maya. Oleh karenanya, sentilan Mas Wahyu tadi menggugah saya untuk mencoba mengupload file audio “lagu dan musik jawa” yaitu Gendhing Jawa. Sudah barang tentu ini bukan ajang untuk mengapresiasi, tetapi sekadar mengingatkan bahwa jawa mempunyai orkestrasi sendiri yang harus kita nikmati. Saya mengajak anda untuk bersama-sama mendengarkan dengan cara yang paling awam terlebih dahulu. Rasakan betapa nikmatnya.

Anda dengan mudah bisa membedakan suara Whiney Huston, Celine Dion, Iwan Fals, Ruth Sahanaya, Kris Dayanti kendati mereka bernyanyi dibawah orchestra yang berbeda. Tetapi tidak demikian dengan klenengan. Kecuali Nyi Condrolukito, anda akan sulit membedakan suara sinden apabila sudah berbaur orkestrasi gamelan. Suara mereka benar-benar menyatu dengan instrument music tradisional itu. Disinilah uniknya.

Nah, untuk anda yang ingin seperti saya, secara awam mendengarkan klenengan /gendhing-gendhing jawa, silahkan untuk mengunduh pada link berikut:

  1. Bawa Kuswaraga dawah_Gd._Kutut_Manggung_Pl.Br
  2. Bawa Raraturidha dhawah Gd. Gambirsawit Pancarena mawi kebar sekaran Gambyong, Laras Pelog Patet 6
  3. Bawa Retna Asmara dawah gd kembang widara ktmpn Ldr. Cangklek terus dolanan Pendisil Pl.6
  4. Bawa Retna Asmara dhawah Gendhing Randhukentir, minggah Ldr Ayun-ayun Kebar mawi Gogyg Laras Pelog Patet 6
  5. Bawa sekar ageng kumudasmara Rujak Sentul srundeng gosong ktw sinom wenigonjing
  6. Bawa SA Banjaransari dawah Gd Gandrungmanis Dhandhanggula Banjet Kljg Ldr Sarayuda
  7. Gd Mayangsari kljg Ldr Kapireta mandheg Nyekar Maskumambang Kasambet Ktw Pucung Wuyung
  8. Srepeg Mataraman mawi Ura2 Pangkur Rambangan katampen Srpg. Asmaradana kalajengaken Srpg. Durma Rambangan
  9. Srepeg Dhandhanggula Banjet Pelog Barang
  10. Pangkur Pamijen
  11. Ldr._Pangkur_Ngrenas_Pl.6
  12. Ldr Tebu Sak Uyun Slendro Menyura
  13. Ldr Kembang Kates Pelog 6
  14. Ldr Asmaradana Slendro Manyura
  15. Lcr. Baita Kandhas kljngkn Ldr. Gangsaran Pl.Br Panutup
  16. Jineman Uler Kambang – Ldr. Cikar Bobrok Sl.My

Iga Mawarni – Dengarkan, Rasakan dan Nikmati

Adalah Mas Widjanarko Koko, abang saya, yang seperti mimpi mengingatkan pada suara sopran penyanyi jazz yang dulu pernah menjadi idola saya, Iga Mawarni lewat salah satu lagunya Aku Cinta Padamu yang diposting di status FBnya.  Untuk satu hal ini, saya perlu angkat jempol untuk Ms Widj yang ternyata punya memori sangat tajam atas lagu-lagu yang bikin terkenang masa lalu.

Suaranya yang khas mendorong saya untuk kesana kemari mendapatkan lagu-lagu lainnya. Ada sebuah kaset magnetic dirumah yang menampung suara penyanyi berwajah lembut ini. Sayangnya segala upaya yang saya lakukan tak cukup membantu untuk bisa didengarkan lagi.

Beruntung saya bisa mengumpulkan beberpa judul yang kali ini saya poting untuk anda. Tak banyak yang saya bisa ceritakan tentang Iga Mawarni, selain lagu-lagunya yang enak didengar (paling tidak menurut saya).

Berkali kali saya tegaskan, bahwa saya bukanlah pemusik bukan pengamat musik, bukan kolektor musik dan juga bukan pendengar musik yang baik. Telinga saya yang bebal hanya bisa menikmati sesuatu yang cocok buat saya sehingga tidak pada kapasitas saya untuk mengapresiasi lagu-lagu Iga Mawarni.

Untuk melengkapi memori anda tentang Iga Mawarni, dapat anda baca di Wikipedia. Berikut beberapa judul yang sempat saya kumpulkan, untuk (barangkali) anda berminat menikmati Suara Penyanyi yang (dimata saya) cantik, mriyayeni :)

Jika anda terkenang, silahkan download pada link dibawah ini atau  barangkali apakah anda ingin melengkapi?

1. ALBUM TRIAGLE OF LOVE (1998)

2. ALBUM IGA LAGI (1999)

3. ALBUM KASMARAN (1991)

Bram Aceh, MP3 Keroncong

bram aceh

Mas WahyudionoMasih dari Mas Wahyudiono, pilot yang pemakan segala.  Sekali lagi, saya sempat dibuat kagum oleh teman saya yang satu ini.  Sejauh yang saya tahu dia masih “glibat-glibet” diantara wayang kulit, klenengan, ketoprak dan jazz. Tapi diluar itu ternyata dia “buaya” juga.  Apresiasinya pada musik akhirnya menyinggung  keroncong.  Tiba-tiba saja dia mengirimkan sekeranjang file musik keroncong yang lumayan “langka‘ dari buaya kelas kakap Bram Titaley, atau yang lebih kita kenal sebagai Bram Aceh.

Entah dia convert dari kaset pita atau menggunakan “aji pamungkas‘ copy-paste, saya tidak tahu.  Yang jelas ripping audionya lumayan bagus, sehingga aroma keroncongnya benar-benar menyengat.  Dia belum sempat memberikan ijin ketika saya dengan tidak sabar segera memposting dan berbagi kepada anda di blog ini.

Bram adalah penyanyi tiga zaman yang mengesankan. Selama hidupnya dia dikenal penyanyi serba bisa yang mampu menyanyikan segala jenis irama musik dengan baik. Dan musik keroncong telah mempopulerkan nama “Aceh” ini sebagai seorang bintang dalam seni suara. Sejak 1930-an ia telah menjadi penyanyi ternama di Indonesia yang menyandang predikat “Buaya Keroncong”.

“Dia memadukan Hawaiian dengan keroncong. Karena itulah dia bisa eksis. Pada waktu keroncong secara an sich jadi dia ada disitu. Waktu Hawaiian mendorong keroncong dia pun ada di Hawaiian. Dia serba bisa. Lagu-lagu etnis Ambon, Maluku, jago dia. Cuma namanya dia terkenal ‘Buaya Keroncong’. Lagu-lagu pop Ambon dia sangat hebat. Jadi bukan hanya keroncong, Hawaiian, pop Ambon… …..” aku Bob Tutupoli. Kekaguman serupa diakui oleh sang cucu Harvey Malaiholo, “Kakek saya ini seorang legenda karena sampai hayatnya memegang teguh prinsip hidup beliau sebagai penyanyi, meskipun beliau melewati masa-masa sulit.”

Bagi Bram, menyanyi adalah panggilan hidup. Menyanyi menjadi bagian hidup yang paling berarti baginya. Kecintaannya pada menyanyi, terutama lagu-lagu keroncong, tidak pernah memudar. Meski kesulitan hidup kerap menderanya, menyanyi membuat dirinya bersemangat menjalani hidup. Ia adalah simbol ikhtiar kegigihan seorang penyanyi yang setia pada jenis musik pilihannya, yaitu keroncong yang terus terpinggirkan. (selengkapnya di http://www.tamanismailmarzuki.com/tokoh/bramtitaley.html)

  1. Bunga Anggrek
  2. Dibawah Sinar Bulan Purnama
  3. Gema Irama
  4. Hanya Engkau
  5. Mawar Sekuntum
  6. Moresko
  7. Pasar Gambir
  8. Rayuan Kelana
  9. Schoon Ver van You
  10. Salabintana
  11. Tanah Airku
  12. Telaga Biru
  13. Telomoyo
  14. Terkenang-kenang

Casiopea, Download MP3 Casiopea

Seperti anda duga, saya bebal masalah musik, terlebih jazz.  Tetapi setelah Mas Wahyudiono memperkenalkan kepada saya beberapa bulan lalu, saya mulai mengkonsumsi camilan baru itu dalam batas penalaran dan kemampuan saya.  Untuk yang satu ini, sepantasnya saya mengucapkan terima kasih padanya.  Dimulai dengan Dave Grusin lalu Shakatak, Bob Dylan kemudian Lee Ratenour dan yang terakhir ini Michael Buble serta Casiopea.

Ada yang menarik dalam saya menikmati jazz.  Saya tak perlu harus banyak berfikir tentang cakepan, (lirik) pakem dan hal standard lainnya.  Saya hanya perlu mempersiapkan telinga, lalu biarkanlah semua mengalun begitu saja.  Sejauh ini semua berjalan dengan nyaman dan saya bisa menikmati musik itu dengan cara saya.

Dari banyak file (judul / album) yang Mas Wahyu perkenalkan pada saya, Casiopea menjadi salah satu yang ingin saya kabarkan kepada anda.  Saya tak hendak mengulasnya, tetapi lebih sebagai ekspresi kenikmatan semata.  Oleh karenanya, jika  anda tak merasa cukup mendapatkan sesuatu dari cerita saya, anda benar karena saya tak sedang bercerita.

Casiopea adalah grop band yang dibentuk pada tahun 1976 oleh seorang gitaris dari negeri sakura yang cukup handal Issei Noro,. Lalu dalam komposisi persobel, group ini diperkuat oleh Tetsuo Sakurai pada posisi bass dan Keyboardis Hidehiko Koike. Kemudian ada Takashi Sasaki pada drum.  Pada tahun 1997 keyboardis Casiopea digantikan oleh Minoru Mukaiya.

Dalam perjalanannya, group iniipun tak luput dari “ritual” gonta-ganti personil mulai dari Akira Jimbo dan Tetsuo Sakurai yang hengkang untuk membentuk duo-band: Jimsaku, dan kondisi ganti-ganti personel ini berlangsung terus hingga tahun 2006 saat Issei Noro membekukan semua aktifitas band.

Keputusan Issei Norro sang pendiri Casiopea untuk menghentikan semua kegiatan Casiopea pada tahun 2006, sungguh mengecewakan banyak penggemarnya.  Para pemerrhati musik, khususnya Jazz Fussion dirindukan banyak orang hingga saat ini.

Beruntung saya mendapatkan banyak file dari sahabat saya tersebut.  Sembari berkeliling mencari tambahan referensi musik jazz, berikut ini kami persilahkan anda untuk menikmati 17 album Casiopea dari tahun 1980 sampai 2003.  File ini dikemas dalam bentuk rar dengan besar rata-rata 35 MB.  Tiap album berisi 7 s/ 10 lagu.

Nah untuk memberikan gambaran kepada anda tentang file yang akan anda download, berikut ini beberapa catatannya.

  1. 1979 – Casiopea – Superflight
  2. 1980 – Casiopea – Make up City
  3. 1981 – Casiopea – Eyes of the mind
  4. 1981b – Casiopea – Cross Point
  5. 1982 – Casiopea – Mint Jams
  6. 1983 – Casiopea – Photographs
  7. 1984 – Casiopea – Down Upbeat
  8. 1985 – Casiopea – Halle
  9. 1986 – Casiopea – Sun Sun
  10. 1990 – Casiopea – The Party
  11. 1991 – Casiopea – Full Colors
  12. 1993 – Casiopea – Dramatic
  13. 1994 – Casiopea – Answers
  14. 1998 – Casiopea – Be
  15. 1999 – Casiopea – Material
  16. 2000 – Casiopea – Bitter Sweet
  17. 2001 – Casiopea – Main Gate
  18. 2003 – Casiopea – Places

Download MP3 Lagu Anak-anak

Ada yang mengatakan, bahwa generasi yang ada saat ini adalah sebuah generasi yang ditempa dengan lagu yang salah sejak kanak-kanaknya.  Memori kita  di penuhi dengan syair lagu yang tidak mendidik dan kurang konsruktif.

Sejak kanak-kanak kita di ajari untuk naik kereta dengan percuma, tanpa bayar alias gratis.  Jadilah kita generasi yang maunya menikmati fasilitas umum tanpa mengeluarkan biaya seperti  syair lagu Naik Kereta api berikut ini “…. ke bandung, surabaya, bolehlah naik dengan percuma…..”

Lalu ada lagi, “….nenek sudah tua, giginya tinggal dua…..” Konon syair itulah yang mengilhami kita untuk bersikap kurang ajar,  suka mengeksploitasi kekurangan orang lain dan melihat orang dari aspek phisik semata.

Kita menjadi generasi yang suka memaksakan kehendak, mejalankan sesuatu dibawah ancaman dan tidak menghargai kemandirian adalah sejalan dengan syair lagu Nina Bobo.  Si Nina itu harus mau segera tidur kalau tidak mau digit nyamuk. Tidur bukan karena ngantuk atau untuk melepas lelah tetapi karena takut digigit nyamuk: “….. kalau tidak bobo, digigit nyamuk…..”

Orientasi bekerja kita adalah uang, honor dan bayaran.  Tidak lebih! Karena kita memang bercita-cita menjadi tukang perahu karena bayaran satus suwidak ewu:  “….. Besok gede dadi tukang perahu, bayarane satus suwidak ewu….”

Ada lagi.  Konon, sayair lagu Balonku adalah “ Balonku ada lima, rupa-rupa warnanya, merah kuning kelabu, merah muda, dan biru.  Meletus balon hijau…..”  Kita adalah genarasi yang tidak konsisten.  Bagaimana mungkin tiba-tiba muncl balon hijau sementara sebelumnya tak disebutkan warna itu.  Untunglah syair itu, karena kreatifitas guru kemudian berubah :….hijau, kuning kelabu……

Lalu, dengarlah lagu Si Kancil. Memang dia adalah naka nakal, tapi apakah karena kenakalannya itu lantas si kancil harus “lekas dikejar”  dan “jangan diberi ampun???”  Maka tak salah jika sekarang kita cenderung anarkis karena sejak awal kita diajarkan untuk menghajar anak nakal sedemikian rupa tanpa ampun, tanpa belas kasihan.

Itu hanya pendapat sebagian orang yang sempat saya dengarkan untuk menyalahkan keadaan generasi sekarang ini.  Mereka mencari kambing hitam atas carut-marutnya keadaan.  Mereka tak mau dipersalahkan sebagai generasi salah urus maka disalahkannya lagu yang jelas tak ada korelasinya.  Kita menjadi kejam, bodoh, suka mengancam, penakut karena keadaan memaksa kita demikian.  Bukan karena lagu!

Yang pasti saya rasakan dalah bahwa sejak 30 tahun terakhir kita tidak mempunyai tambahan referensi lagu anak-anak.  Lagu-lagu yang bisa kita ajarkan pada anak cucu kita hanya itu-itu saja.  Itupun makin lama makin tipis gaungnya.  Lagu yang diperdengarkan telinga bayi-bayi sekarang, masih sama dengan yang diperdengarkan oleh nenek dan kakek mereka.

Memang ada masanya booming lagu anak-anak, yaitu eranya Chicha, Ira Maya, Adi Bing Slamet, Bobby Sandhora dsb.  Lalu dua dekade kemudian, ada beberapa penyanyi cilik yang sempat membuat riak kecil dalam kolam lagu anak-anak.  Akan tetapi makin kesini semakin tipis juga nampaknya.

Praktis anak-anak kita tidak mendapat tempat di program acara hiburan rumah tangga, TV.  Sejak matahari terbit sampai terbit lagi keesokan harinya, anak-anak kita berhadapan dengan acara tawuran antar warga, debat politisi, lawak yang lebih tepat disebut konyol daripada lucu, sulapan dalam berbagai bentuk, pembunuhan, perkosaan, penggusuran,  berita celebritis yang di kemas dengan cara sangat kreatif (bahkan mengoprek isi tas bintang filem bisa dikemas dalam 30 menit running play) dan masih banyak lagi.

Ada memang beberapa segment ditujukan untk anak-anak.  Tetapi secara pribadi saya tak melihat substansinya.  Idola Cilik? Bagaimana mungkin bocah yang belum tumbuh bulu ketiak  menyanyikan lagu Kamu Ketahuan, Matanya Lelaki harus dijadikan idola???

Kemudian si bolang yang konon dikemas untuk anak, sejauh ini lebih pada mendidik anak kita menjadi “nggragas”.  Belum satu episodepun yang saya tonton dari si bolang yang tidak menceritakan tentang bagaimana membakar kodok, memakan  singkong setengah matang dan adegan lain yang menunjukkan bahwa kita miskin kreativitas.

Jika sudah begitu, maka kendati Cuma si Kancil, Nina Bobo, Pok Ame-ame, Saya Seorang Kapitan jauh lebih bisa kita jejalkan ketelinga anak cucu kita daripada membiarkannya menonton Sinchan, bocah jepang yang mbelingnya minta ampun itu.

Nah, bagi yang ingin bernostalgia dengan lagu anak-anak yang dengan sinis sijadikan kambing hitam bobroknya generasi ini, kami persilahkan untuk downoad di link berikut:

  1. Aku Anak Sehat
  2. Anak-anak Indonesia
  3. Anak Ayam
  4. Balonku Ada Lima
  5. Bangun Tidur
  6. Bintang Kecil
  7. Burung Kakatua
  8. Burung Kutilang
  9. Disini Senang, Disana Senang
  10. Du Di Dam
  11. Dua Mata Saya
  12. Empat Sehat Lima Sempurna
  13. Gilang Sipaku Gilang
  14. Hujan
  15. Kasih Ibu
  16. Kelinciku
  17. Kereta Apiku
  18. Lihat Kebunku
  19. Mari Pulang
  20. Naik Delman
  21. Naik Ke Puncak Gunung
  22. Nama-nama Hari
  23. Nina Bobo
  24. Pelangi-pelangi
  25. Pok Ame-ame
  26. Potong bebek Angsa
  27. Satu ditambah Satu
  28. Selamat Ulang Tahun
  29. Semut-semut Kecil
  30. Si Kancil
  31. Siapa Dapat Berbaris
  32. Topi Saya Bundar
  33. Tralala Trilili
  34. Tukang Bakso
  35. Yuk Makan Bersama
  36. Chicha & Adi BS – Mau Kemana
  37. Chicha – Helly
  38. Joan Tanamal  – Mandi Pagi

(Masih) tentang Tayub, MP3 Gendhing Tayub

Secara terminologis, Tayub adalah akronim dari kata Ta – Yub (ditata supaya guyub), ditata agar kompak.  Jadi substansi dari tayub adalah upaya untuk membuat guyub, kompak. Nilai filosofis yang terkandung dalam tayub -saya bisa memastikan- positif. Jika kemudian tayub dikonotasikan sebagai sebuah tarian erotis yang mengumbar sensualitas, sungguh sebuah kekeliruan.

Karena tayub adalah sebuah perpaduan antara musik, lagu, tari dan falsafah, maka berbicara tayub –tentunya dalam pengertian awam saya- tak hanya dilihat secara hitam putih saja tetapi harus secara komprehensif  dar beberapa aspek

Pertama, lagu dan cakepan. Tayub berakar dari karawitan dan gendhing-gendhing jawa.  Apapun pengembangan yang dilakukan oleh seniman tayub dari berbagai daerah, akar “cakepan” gendhing jawa selalu ada di dalamnya.  Sayangnya, belum banyak referensi yang mengupas tentang cakepan (syair) gendhing jawa

Kata-kata :

Ya mas…., ya mas…

Kawis pita, jawata kentir ing toya

gones, gones

Jarwa nendra, narendra yaksa ngalengka

Witing klapa, salugune

Mumpung mudha, ngudi sarananing praja dst….

Selalu menghiasi setiap gending tayub versi apapun.  Orang jawa yang terbiasa menyamarkan pesan, tidaklah mungkin menempatkan cakepan itu dalam gendhing tayub jika memang tak ada pesan tersirat.

Kedua, Gendhing-gending tayub relatif lebih rancak, enerjik dan penuh semangat.  Hal ini menggambarkan bahwa Tayub memang ditujukan untuk membangkitkan semangat, bukan untuk mat-matan semata.

Ketiga, Tarian tayub bukan semata tarian ngibing yang hanya perlu cocok dengan irama lagu saja.  Ia dibatasi dengan aturan karografi jawa yang sudah pakem.  Kapan harus tandak, sampur dan sebagainya sudah memiliki tempat.

Keempat, keberadaan ledhek yang selama ini menjadi sasaran hujatan terhadap tayub, ternyata jauh dari kesan yang selama ini melekat.  Ledhek yang diakronimkan sebagai : ala-ala gelem medhek (biar jelek asal mau mendekat) lebih karena tuntutan profesionalitas semata.  Dia mendekat (kepada tamu) adalah karena memang itu tugasnya.  Tayub tidak menyediakan panggung sebagaimana konser dangdut.  Dia dirancang untuk bisa guyub antara pemain dan penonton,  Jadi ledheklah yang harus mendekat ke penonton, bukan sebaliknya.  Bahkan di beberapa tempat (Di Sragen) apabila ada tamu yang mendekat ledhek padahal bukan gilirannya mendapatkan (ketiban sampur) dianggap melanggar hak orang lain.  Sangsi sosialnya seberat berselingkuh dengan isteri orang.  Ledhek yang baik bukan dilihat dari kecantikan atau “keberanian”nya.  Untuk yang satu ini sudah ada panitia yang bertugas membagi tugas ledek untuk mendekati para tamu. Sedang untuk pakaian ledhek??? Ahh, sudahlah seberani apa sih ledhek berpakaian??? Pakaiaannya adalah pakaian pakem penari gambyong, tidak lebih.  Saya tak hendak membandingkannnya dengan penyanyi dangdut dan “campusari modern”. (saya perlu menyebutnya demikian karena pada saatnya saya akan mencoba ngudarasa tentang campursari yang menurut saya sudah kehilangan ruh).

Akhirnya saya berkesimpulan, jika di suatau daerah seorang isteri pejabat yang gerah pada tayub sampai-sampai membuat acara untuk “meluruskan” tayub yang kemudian di tampilkan di panggung, dengan pakaian “brukut”  berwarna lurik seperti “among tamu”.  Sungguh merupakan hal yang menggelikan.

Maaf, saya terlalu bersemangat membela tayub kendati saya sadar gaung suara saya tak mungkin terdengar.  Kita terlalu asyik memperdebatkan bayangan.  Seperti hantu, tayub hanya menakutkan bagi orang yang takut.

Nah, berikut ini MP3 Gending Tayub dari beberapa daerah bisa anda nikmati sembari membayangkan Dewi Persik bergoyang, dan anda akan kecewa karena tidak akan pernah pas iramanya.

Saya berusaha umtuk mengumpulkan Gendhing-gendhing Tayub dari berbagai daerah secara bertahap.

Download Gendhing Tayub

Tayub Grengseng (Purwodadi)

  1. Angkleng
  2. Arumanis
  3. Kijing Miring
  4. Ktw Puspawarna
  5. Kupu Kuwi
  6. Si Kucing
  7. Surobayan
  8. Suwe Ora Jamu
  9. Tawangmangu

Tayub Jepon (Blora)

  1. Cao Glethak
  2. Gunungsari
  3. Walu-wolu

Tayub Sragen

  1. Angkleng Sukowati
  2. Bandung
  3. Cebawa
  4. Celeng Mogok
  5. Jaka Nginguk
  6. Jamu Jawa
  7. Jombang
  8. Rewel
  9. Gemblakan
  10. Jamong
  11. Pentil Asem
  12. Randha Kenes
  13. Pentil Asem
  14. Tembung Manis
  15. Rondha Kampung
  16. Jaran Dhawuk
  17. Ktw. Puspawarna (dangdut)
  18. Kutut Manggung (dangdut)
  19. Sekarteja
  20. Semaya
  21. Sinom Parijatha

Tayub Ngawi

Tayub Bojonegoro

Tayub Tuban

Sementara saya mencari referensi lainnya, kami persilahkan anda berkunjung ke Kangmas Saya SUKOLARAS untuk bisa mengunduh Tayub Tuban yang sudah tersedia disana

  1. Tutur Tinular Pl.6
  2. Cucur Biru Pl.5
  3. Nyai Ronggeng Sl.9
  4. Randu Alas Pl.6
  5. Kok Ngono Pl.6
  6. Tetanen Sl.9

Tayub Tulungagung

Sementara saya mencari referensi lainnya, kami persilahkan anda berkunjung ke Kangmas Saya SUKOLARAS untuk bisa mengunduh Tayub Tulungagung yang sudah tersedia disana

  1. Srihuning Cakra
  2. Jurang Jugrug
  3. Janjine Piye – Semarang Indah
  4. Grompol Angkleng
  5. Kutut Manggung – Kudo Nyongklang

Tayub Lumajang

  1. Tayub Lumajang, Ayak-ayakan kljngkn Bawa Gambuh, minggah Lelagon PKK Pl.9
  2. Tayub Lumajang, Gd. Blandhong kljngkn Cao Glethak Sl.Myr
  3. Tayub Lumajang, Gd. Gedog kljngkn, Godril Lumajang,, dhawah Gending Balun. Pl.9
  4. Tayub Lumajang, JinemanMijil Larasati, minggah Kutut Manggung Adiluhung Kalajengaken Ireng-ireng Sl.Myr
  5. Tayub Lumajang, Ldr Sekar Pocung Sl.9

MP3 Gendhing Dolanan

Gending dolanan identik dengan dunia anak-anak. Artinya terbayang oleh anda gendhing yang tersaji dalam file berikut adalah gending yang berirama rancak, dinamis dan gampang.  Khas anak-anak.

Anda keliru!  Menikmati gending dolanan yang kali ini saya upload, sungguh terasa sangat berbeda. Jika selama ini Gending Dolanan di kemas dalam bentuk lancaran dengan tempo yang sederhana dan relatif rancak, kali ini digarap “nyemek” dan terasa lebih pas untuk mat-matan.

Saya bukan ahli gendhing, maka saya tak hendak mengulas gendhing-gendhing tersebut.   Yang saya rasakan ketika mencoba lagu tersebut setelah selesai convert adalah lagu ini terasa “nyamleng” di telinga.

Saya ingin berbagi degan anda, mangga silahkan!!

  1. Bibis Pl.6
  2. Cempa Sl.9
  3. Dempo Pl.Br
  4. Jago Kate Pl.Br
  5. Jagoan Sl.9
  6. Jamuran Sl.9
  7. Jaratu Sl. My
  8. Kupu Kuwi Pl.6
  9. Lindri Sl.9
  10. Tetanya Pl.Br

Gus Dur, Jazz, Wahyudiono dan Keindahan itu

Wahyudiono says:“minggu lalu, beberapa media menyiarkan tahlilan memperingati tujuh hari wafatnya Gus Dur.  Peringatan itu tidak hanya diikuti oleh warga muslim saja, tetapi juga oleh pemeluk agama lain. dari situ saja hati saya sudah tergetar. apalagi ada peserta beragama kong hu cu yang merasa sangat kehilangan, sampai menuliskan beberapa bait puisi, karena begitu merasa kehilangan. sementara itu gambar gambar gus dur yang tertawa lepas menyelingi acara tahlilan itu.  Saya jadi teringat sebuah lagu berjudul i’ll never see you smile again , komposisi bob james & earl klugh, albumnya sendiri berjudul one on one, beberapa pemain pendukung al. harvey mason , ron carter, eric gale, serta consert masternya david nadien , direkam th 1975 di new york.”

Begitulah komentar yang ditulis oleh sahabat saya, Wahyudiono dalam blog ini kemaren sore.   Keheranan saya pada cara telaah Wahyu terhadap musik yang beberapa waktu lalu sempat terbersit, sekarang muncul lagi.  Entah bagaimana cara dia memandang musik sehingga mengkaitkan tahlilan Gus Dur dengan i’ll never see you smile again karya kolaburasi antara Earl Klugh dengan Bob James.

Saya yang sejak lama mengagumi Gus Dur, sejauh yang saya tahu, Gus Dur sangat menyukai musik klasik.  Salah satu favoritnya adalah Symphony no 9 (Loudwig van Beethoven).  Selain itu, di dari beberapa wawancara diketahui bahwa dia (Gus Dur) juga tak pernah jauh dari klenengan dan (tentu saja) sholawat dalam berbagai versi.  Itu artinya, jika ingin melihat Gus Dur dari aspek musik, seharusnya tak jauh dari lingkaran itu.  Tapi kenapa Jazz, kenapa Earl Klugh?  Itulah Wahyudiono.  Lelaki -yang kata mas Widjanarko-: “Guedhi sanget, dimas… :)

Tentu saja saya tak mau dililit rasa penasaran. Maka segera saya membuka gudang filenya di 4shared yang kebetulan saya diberikan kunci duplikatnya.  Dua folder tersedia disana dengan Judul Earl Klugh dan Bob James yang masing masing adalah Cool dan One on One.  Satu judul lagu yang menjadi andalan dalam komentarnya segera saya download.  Meskipun idiot tentang jazz saya segera bisa menikmati keindahan komposisinya yang ditelinga saya terdengar “nglangut”.  Jika itu klenengan terasa seperti Laler Mengeng, gending dukacita itu.   Sekali lagi, saya  mencoba menajamkan telinga untuk mendengar apa kata Klugh dan James, tapi tak berhasil.  Dia tidak berkata-kata, bahkan berbisik atau bergumam.  Ini hanya rangkaian nada.

Begitulah! Jazz, cinta, senyum, keindahan yang bergumul dengan nada yang padat di tengah komposisi menawan oleh orang-orang hebat mengalir sebagai bentuk persembahan kepada sosok sehebat Gus Dur memang harga yang layak untuk dibayarkan.  Perlahan dan pasti, saya bisa memahami alur pikir Mas Wahyu yang menggunakan Earl Klugh dan Bob James untuk mengenang tokoh egaliter semacam Gus dur.  Mahal dan agak sulit, memang.  Tapi itulah harga yang seharusnya dibayar!

Masih tentang Gus Dur yang tak hilang untuk dikenang. Saya kira, Mas Wahyu akan sepakat dengan saya untuk berbagi keindahan yang dipancarkan dari album kolaburasi Earl Klugh dan Bob James.  Komposisi interrasial yang sangat menawan yang sangat cocok dipersembahkan untuk tokoh pluralisme yang demokratis dan egaliter sekelas KH Abdurrahman Wachid.

Nah, kami ingin berbagi kepada anda untuk bersama mengenag Gus Dur dengan cara berbeda.  Silahkan download dan nikmati.

  1. Earl Klugh & Bob James, Cool
  2. Earl Klugh & Bob James, One on One

 

Selain itu beberapa waktu lalu teman saya sempat merekam siaran Metro TV dalam acara Metro File, yang menceritakan perjalanan hidup dan perjuangan Gus Dur.  Saya tidak merasa perlu melakukan editing terhadap file itu.  Sehingga apabila anda download dan memutarnya, masih ada iklan disana.  Tapi apakah itu mengurangi nilai dan maknanya?

Juga saya sisipkan pula MP3 Sholawat Munajad dan Taussiyah oleh Gus Dur untuk kita bersama mengenang kehebatan tokoh Pluralisme ini.

  1. Rekaman Metro TV (Metro File, Gus Dur)
  2. Sholawat Munajat Al-i’tiraf  (Vocal Gus Dur)
  3. Tausiyah KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
  4. Symphony no 9 (Loudwig van Beethoven)

Javanova, Alternatif Untuk Bossanova Cengkok Jawa

Setengah tahun lalu, saat tengah membeli buku di Gramedia, Surakarta saya mendengar lagu yang ditelinga saya cukup merdu dengan irama bossanova. Tapi begitu saya cermati suara sayup-sayup dari speaker toko itu, saya sempat tersenyum. “…….. walang kekek, walange kadung, walang kadung kadung tiba neng lemah………..”

Masya Allah. Setelah setengah jam irama itu saya dengarkan, baru saya sadari bahwa lagu dengan irama bossanova itu melantunkan lagu-lagu jawa yang selama ini saya kenal sebagi Lagu Campursari, Keroncong dan (bahkan) dangdut. Bukan main! Saya memuji keberanian komposernya yang memberikan alternatif bagi para penikmat Jazz dan Bossanova dengan sebuah resiko bahwa kaset itu tak kan laris dipasaran.

Ketika di kasir dan lagu lagu itu masih mengalun, saya tanyakan dimana letak operator lagu / musik yang memutar lagu ini. Kasir menunjuk sebuah tempat di lantai 1 dekat penitipan barang. Maka ketika mengambil jaket, sekaligus saya minta ijin untuk bertemu dengan operator lagu yang (menurut saya) dengan sangat mengesankan memilih lagu untuk menghidupkan suasana. Operator menerima saya di depan pintu dan menunjukkan pada saya sampul CD dengan judul Javanova.  Hanya itu, tak ada informasi lain.

Sayangnya, ketika saya mampir di counter CD pada toko yang sama, ternyata album Javanova seperti yang tengah terdengar tak tersedia. Baru beberapa hari kemudian, teman saya meminjamkan kepada saya 2 keping CD tanpa sampul. Segera saya gunakan aji pamungkas copy paste. Jadilah saya memiliki 20 judul yang saya putar disaat saya membutuhkan alternatif lagu, sampai sekarang.

Beberapa hari lalu, saya berniat mempersembahkan lagu-lagu itu kepada teman saya yang buaya Jazz asal Bondowoso, Wahyudiono, Wahyu sebagai bentuk permohonan maaf karena saya terpaksa ingkar janji kepadanya. Karena bandwith yang terbatas dan akses internet yang lelet, 30 lagu yang ada baru bisa saya upload 2 judul.

Nah, saat saya mau menmbahkan lagu dalam postingan saya, terlihat bahwa lagu itu telah didownload lebih dari 10 orang. Kesimpulannnya, banyak pula rekan yang tertarik untuk mendengarkan musik alternatif ini. Berangkat dari hal itu, maka pada postingan kali ini, saya sengaja upload semua judul Bossas Jawa yang saya miliki. Harapan saya bukan saja lagu ini bisa dinikmati oleh siapapun, tetapi sekaligus mencari tambahan judul-judul lain yang saya tidak miliki, barangkali ada pembaca yang memiliki dan berkenan berbagi dengan saya.

Sedikit informasi, Lagu ini dikemas dalam Album: James Chu: Javanova dengan dukungan musisi : James Chu (Hawaian Guitar), David Wahani Lumondo (keyboard/bass), Yadi Black (gitar elektrik dan akustik), Didi Permadi S (drum) dan Ujang (saksofon) dengan Penyanyi Wiwit Andraini dan Eka Trisnawati. Tak banyak informasi dan referensi yang saya dapatkan selain bahwa saat ini James Chu berdomisili di Hongkong tetapi masih memegang komitmen untuk terus menggarap Javanova dengan mengangkat lagu-lagu jawa, baik klasik maupun lagu modern.

Javanova, sebuah alternatif Jazz dan Bossanova dengan nafas jawa yang layak dinikmati.!!!

Link Download Bossas Jawa