Arsip Kategori: WAYANG KULIT

Ki Narto Sabdho – Drupada Duta

Drupada, WayangBarangkali anda sependapat dengan saya, bahwa pra Baratayudha, upaya diplomatis yang dilakukan oleh Pendhawa dengan mediator Prabu Matswapati adalah dengan mengirimkan duta pamungkas yaitu Prabu Kresna.  Tetapi ternyata tidak demikian.  Beberapa waktu berselang, Pendhawa juga pernah mengirimkan duta untuk membahas kemungkinan penyelesaian Negara Hastina melalui dengan Prabu Drupada, Raja Pancala.  Tetapi sebagaimana diketahui, upaya ini sama sekali tak membuahkan hasil.  Konflik inilah yang dibangun oleh Ki Narto Sabdo dalam sebuah pagelaran wayang kulit semalam suntuk secara runtut dengan lakon Drupada Duta.

Cerita ini diawali dengan adegan adegan di Pendhapa Agung Negara Hastina.  Disaat Duryudana tengah mengadakan pertemuan lengkap dengan pembesar negara, hadir  Dewi Kunthi bersama dengan Yama Widura.  Kedatangan Kunthi tidak lain adalah untuk menagih janji Duryudana ketika Pendhawa Kalah bermain dadu.  Setelah tiga belas tahun berada di pembuangan dan setahun bersembunyi, sekarang saatnya Duryudana memenuhi janjinya, untuk memngembalikan Negara Amarta dan semua jajahannya, dan sebagian negara Hastina yang saat ini masih dikuasai Duryudana.

Raden_YamawiduraAkan tetapi kenyataanya, diluar dugaan.  Kedatangan Kunthi tidak membawa hasil dan bahkan membawa dua luka baru.  Yang pertama, Kunthi harus mendengar hinaan Kurawa terhadap Pandhawa.  Pendhawa dikatakan sudah tidak lagi mempunyai jiwa ksatria karena terlalu lama tinggal dihutan, sehingga tidak layak (atau belum layak, menurut istilah Duryudana) untuk menerima kembali Negara Amarta.   Kesakitan kedua, Kunthi harus menerima kenyataan diacuhkan oleh Adipati Karna, anak kandungnya.

Disaat Kunthi pingsan dipangkuan Yamawidura, Prabu Drupada hadir sebagai duta resmi para Pendhawa untuk membahas masalah yang sama dengan yang telah disampaikan oleh Kunthi. Kali inipun justru Duryudana semakin nekad dan mengeluarkan kata-kata yang membuat Drupada Naik pintam.

Menitik latar belakang Drupada yang merupakan menantu Prabu Gandabayu yang tak diragukan lagi kesaktiannya, membuat  Narpati Destrarastra, ayah Duryudana kebat-kebit.  Terbayang apabila Drupada benar-benar marah kepada Duryudana.  Oleh karenanya Destrarastra berniat menemui Prabu Drupada untuk menjinakkan kemarahannya.

Nah,  barangkali disinilah kelincahan akrobat imajinasi Ki Narto Sabdo.  Jika Kresna Duta menitik beratkan pada peran kresna yang telah diberi purbawaseas, Drupada tidak demikian.  Drupada menempatkan diri sebagai duta yang tidak diberikan kewenangan penuh.  Sehingga suasana hati dan gejolak kemarahan ketika dihina di pasewakan agung Astina, sunggguh merupakan penggambaran yang benar-benar hidup.

Tak hanya itu, bagi yang pernah mendengarkan lakon Kresna Gugah, maka Lakon Drupada Duta seakan bisa menjadi hidup, kendati keduanya merupakan lakon carangan.

Sebagai obat kangen setelah cukup lama tidak mengunggah materi baru, maka Drupada Duta yang relatif lengkap kami hadirkan.

  1. Drupada Duta 1
  2. Drupada Duta 2
  3. Drupada Duta 3
  4. Drupada Duta 4
  5. Drupada Duta 5
  6. Drupada Duta 6
  7. Drupada Duta 7
  8. Drupada Duta 8
  9. Drupada Duta 9 (tamat)

Ki H. Anom Soeroto – Jayasupena Lahir

Setelah cukup lama tidak berkesempatan upload file, kali ini sambil menunggu bedug magrib saya membuka salah satu file wayang yang saya miliki dan belum sempat sharing kepada anda.  Harus diakui sekarang untuk mendapatkan file audio wayang dari dalang manapun sudah bukan pekerjaan susah mengingat sudah sangat banyak rekan yang peduli untuk berbagi.

Agak malu juga ketika mendengarkan hasil rekaman saya buat tiga tahun lalu dan sekarang ini hendak saya upload.  Entah apa yang salah sehingga suaranya tidak bagus, temponya terlalu cepat (kata Mas Edy Listanto karena cassete playernya “ecek-ecek”) dan seribu kekurangan lain yang pasti akan anda temukan.  Tetapi saya memaksakan diri untuk tetap upload karena saya belum melihat lakon ini saya temukan di internet.

Prolog dari lakon ini adalah –sekali lagi- tentang kegagalan Raden  Lesmanamadrakumara mempersunting gadis pujaannya.  Kali ini Putra Mahkota Hastinapura ini tergila-gila kepada Putri Prabu Darmajati, Raja Banonsalembag yang bernama Dewi Setyaningsih.  Setelah dikonsultasikan dengan Penasehat Kerajaan Hastinapura Pendhita Durna,  disimpulkan dari berbagai “wisik” yang masuk, memang Dewi Setyaningsih inilah jodoh Raden Lesmanamandrakumara.  Benarkah demikian?

Tidak sesederhana itu.  Justru pada saat ini Dewi Setyaningsih diketahui telah menghilang dari Keraton Banonsalembag.  Segala upaya telah ditempuh untuk menemukan kembali sang puteri tapi tetap tidak ada hasilnya.  Sang Dewi hilang bagai ditelan bumi. Oleh karena itu Prabu Darmajati memerintahkan puteranya yang bernama Raden Kusumadarma untuk mencari kakaknya sampai ketemu  sekaligus membuka sayembara kepada siapapun yang berhasil menemukan Dewi Setyaningsih, akan dinikahkan dengan puterinya tersebut.

Sebenarnya, Dewi Setyaningsih telah diculik oleh Raja Nusa Rukmi yang bernama Prabu Dewa Asmara.  Akan tetapi sudah sekian lama berada di kaputren Nusa Rukmi sang putri tidak mau disentuh oleh Prabu Dewa Asmara.  Meski Patih Kala Durgangsa telah menyarankan untuk lebih baik Sang Prabu mencari perempuan lain, tetapi hati Prabu Dewa Asmara sudah tertambat pada puteri Banonsalembag ini.  Tak ada jalan lain kecuali menunggu sampai pujaan hatinya itu luluh dan menyerah pada kehendak Prabu Dewa Asmara.  Yang terpenting saat ini adalah menjaga agar tak ada musuh yang masuk ke negara Nusa Rukmi dan keberadaan dewi Setyaningsih tidak diketahu.

Cerita lengkapnya, silahkan download disini

Ki H Anom Soeroto – Prabu Sumilih

Cover Prabu SumilihBagi penggemar wayang, tidak sulit untuk menebak siapa sebenarnya Prabu Sumilih.  Ia adalah dasanama (alias) dari Raden Gatutkaca.  Nama itu diperoleh dari para dewa ketika Gatutkaca berhasil meneteramkan Kayangan Jonggingsaloka dari Amukan Putut Supalawa dan Putut Pidaksaka.

KI H Anom Soeroto mengawali kisah ini dari Pendapa Agung Keraton Hastina.  Seperti kebanyakan lakon carangan, adegan “kedhaton” diwarnai dengan kegundahan hati Prabu Duryudana demi mendengar kabar bahwa Prabu Puntadewa telah mengangkat Raden Gatutkaca menjadi Senapati Amarta.  Ini berarti ancaman bagi Hastina.  Bukan saja lantaran kesaktian Satriya Pringgondani yang membuat Duryudana patah arang, tetapi dengan pengangkatan senapati memberi isyarat kesiapan Pendhawa menyongsong Perang Baratayudha.

Gatutkaca CloudKeputus asaan Duryudana terobati ketika tanpa disangka hadir Prabu Nagabagindha, Raja Puserbumi.  Dengan sukarela dia memasang badan membala Duryudana.  Kegembiraan Duryudana bukan tanpa alasan karena dibelakang Prabu Nagabagindha ternyata ada Begawan Dewapratala, seorang resi yang sakti mandraguna yang setiap saat mendampingi Nagabagindha.

Segera setelah mendapatkan persetujuan Duryudana, Prabu Nagabagindha menyerang Amarta.  Terbukti memang, Nagabagindha dan Begawan Dewapratala dengan sangat mudah menaklukkan Amarta.  Disaat genting semacam ini, jutru sang senapati, Raden Gatutkaca tidak beradadi tempat.  Sejak pengangkatannya menjadi senapati, putera Dewi Arimbi ini tiba-tiba lenyap bagai ditelan bumi.  Beruntung dalam peyerbuan Prabu Nagabagindha, Abimanyu berhasil meloloskan diri.  Dihatinya punya satu keyakinan bahwa hanya Raden Gatutkaca yang mampu menandingi kesaktian Nagabagindha.  Maka Abimanyu bertekad untuk mencari Raden Gatutkaca.

Pertanyaan selanjutnya adalah siapa sebenarnya Prabu Nagabagindha dan Begawan Dewapratala?  Bagaimana pula Gatutkaca kemudian mendapatkan Gelar Prabu Sumilih?  Siapakah Putut Supalawa dan Putut Pidaksaka dan apa keterlibatan Anoman dalam cerita ini?

Baiklah, untuk memenuhi permintaan beberpa rekan berikut ini saya unggah Lakon Prabu Sumilih yang dengan sangat teliti di bawakan oleh KIi H Anom Soerto.  Selamat menikmati

  1. Prabu Sumilih 1
  2. Prabu Sumilih 2
  3. Prabu Sumilih 3
  4. Prabu Sumilih 4
  5. Prabu Sumilih 5
  6. Prabu Sumilih 6
  7. Prabu Sumilih 7
  8. Prabu Sumilih 8
  9. Prabu Sumilih 9
  10. Prabu Sumilih 10
  11. Prabu Sumilih 11
  12. Prabu Sumilih 12
  13. Prabu Sumilih 13
  14. Prabu Sumilih 14
  15. Prabu Sumilih 15
  16. Prabu Sumilih 16

KI Narto Sabdho – Banjaran Bisma

Heru AchwanAda seorang rekan bernama Heru Achwan.  Secara pribadi saya belum mengenal beliau tetapi dari komitmennya, saya bisa menduga, beliau termasuk orang mengagumi Ki Narto Sabdho.  Bahkan dia menggagas sebuah pertemuan para penggemar Ki Nartosabdho.  Dia memulainya dari Mas Widjanarko, kemudian gethok tular ke Mas Edy Listanto, yang kemudian mendapat restu dari Mas Pranowo Budi.  Gayung bersambut, ketika gagasan ini dikeploki sama Mas Malix CJDW, Joko Bocah Angon, Sriwahyuni Fajareka dsb.  Saya melihat, Mas Heru ini seperti Bisma, rela berkorban untuk kepentingan orang lain.  Khususnya, yang paling menarik bagi saya adalah komitmen Mas Heru Ichwan yang mempersilahkan villanya di Kali Urang dengan 22 kamar dan bakmi angkringan, untuk menggelar hajatan ini.  Postingaan kali ini, saya persembahkan untuk Mas Heru Achwan.

Bisma, Resi

Terlepas dari permasalahan benar salah, pemicu Perang Bharatayuda adalah nama yang menjadi tokoh sentral dari lakon.    Dinamakan Perang Bharatayudha, karena pelaku  utama perang ini  adalah darah (keturunan) bharata.  Keputusan Dewabrata untuk wadad (tidak menikah seumur hidup) dan  tidak mau memegang tampuk pemerintahan Hastina, pada akhirnya terbukti berbuntut panjang.  Andaikata Putera Sentanu ini mau sedikit “durhaka” dengan tidak bersumpah wadad, boleh jadi dia akan memiliki keturunan yang nantinya akan menjadi penguasa Hastina.  Tapi itulah takdir.  Tak bisa manusia menghindarinya.

sentanu, prabuTentu saja saya tak hendak bercerita tentang Raden Dewabrata (yang kelak bernama Resi Bhisma), karena dengan mendengarkan lakon ini, Ki Nartosabdo akan memberikan penjelasan seribu kali lebih lengkap , lebih akurat dan lebih menghibur daripada (misalnya) seratus lembar sinopsis yang yang saya tulis.   Saya hanya ingin mengungjapkan pendapat pribadi, sembari menunggu file ini saya unggah.

Baiklah, ini pendapat saya.  Kecantikan Dewi Gangga ternyata telah membuat Prabu Santanu hanyut dalam suasana cinta yang menggelora.  Disamping itu, perjanjian untuk tidak menegur, apalagi memarahi sang isteri atas apapun yang diperbuatnya, membuat Raja Hastina ini tak bisa berbuat banyak mseki yang dilakukan isterinya sudah diluar batas nalar manusia.

Betapa tidak.  Sang permaisuri yang cantik jelita ini selalu membuang anaknya ke Sungai Gangga setiap kali habis dilahirkan.  Demikian berulang-ulang sampai delapan kali.  Untuk kali kesembilan, kesabaran Prabu Santanu tak lagi bisa ditahan.  Dia menegur dan memarahi isterinya itu.  Akibatnya, sang isteri kembali ke kahyangan dan Santanu harus sendirian merawat bayi yang ditinggalkan Dewi Gangga.  Setelah kepergian Gangga, Sentanu menikah lagi dengan Dewi Durgandini.  Dari sinilah Ki Nartosabdo mengurai lakon Banjaran (Balada) Bisma.

Yang tadi saya katakan Bisma sebagai pemicu Perang Bharatayudha adalah ketika Sentanu mengemukakan keinginannya untuk menikah dengan Durgandini kepada sang naka, Dewabrata.  Pendapat Dewabrata dipandang Prabu Sentanu sangat penting, karena Durgandini mensyaratkan, anak yang lahir dari rahimnyalah yang kelak menjadi Raja Hastina jika Sentanu ingin mempersuntingnya.   Diluar dugaan, Raden Dewabrata ternyata bersedia untuk tidak menduduki tahta astina, dan mempersilahkan kepada adiknya (maksudDewabratanya Anak Durgandini) untuk menjadi pengganti Sentanu.   Tak cukup dengan itu, Durgandini masih belum percaya pada komitmen Dewabrata.  Dia beralasan, Dewabrata bisa saja menerima keputusan ini, tapi bagaimana dengan anak-anak Dewabrata kelak???  Dewabrata juga tak mau kalah, untuk meyakinkan bahwa anak Durgandini kelak akan tenteram menjadi rajja Hastina, maka dia bersumpah untuk Wadad (tidak menikah seumur Hidup).  Entahlah, ini penghormatan, loyalitas atau tolol…..

Dari perkawinannya dengan Santanu, Durgandini memiliki dua orang putera yaitu Raden Wicitra dan Wicitrawirya.  Sayangnya kedua anak ini meninggal sebelum memiliki keturunan.  Itu Artinya, tahta Astina kosong karena Bisama sudah terlanjur wadad dan tidak bersedia menduduki tahta Astina.  Beruntung Durgandini memiliki sorang anak lagi hasil perkawinannya dengan Palasara, sebelum dia menikah dengan Santanu.  Atas saran Dewabrata pula Durgandini memanggil Abiyasa (Nama Anaknya itu) untuk menduduki Tahta Astina.

Ah….. Sudahlah!!!!! Dengarkan Balada (Banjaran) Bisma alias Dewabrata yang dengan nyaris sempurna dibawakan oleh maestro dalang Ki Nartosabdho.

Sedikit catatan, file No 1, tidak lengkap, padahal disitulah dialog terbangun mengawali rangkaian panjang  ksatria yang mengakhiri hidupnya di Padang Kurukhsentra, setelah empat hari terkapar dengan tubuh penuh tancapan senjata…….

  1. Banjaran Bisma 1
  2. Banjaran Bisma 2
  3. Banjaran Bisma 3
  4. Banjaran Bisma 4
  5. Banjaran Bisma 5
  6. Banjaran Bisma 6
  7. Banjaran Bisma 7
  8. Banjaran Bisma 8 (tamat)

KI H Anom Soeroto – Setyaki Lahir

Setyaki-RadenSekali lagi, pertunjukan wayang bukan semata pertunjukan hitam-putih, pendhawa-kurawa, kebaikan-kejahatan semata. Tetapi lebih pada semangat untuk memberikan “wewarah” atas potret kehidupan manusia pada umumnya.  Demikian juga lakon Setyaki Lahir ini.  Raden Setyaki yang kita kenal mestinya memiliki hak atas tahta Lesanpura dan Swalabumi (dalam lakon Ini swalabumi dan lesanpura adalah dua tempat yang berbeda).  Tetapi kenyataannya, Setyaki lebih memilih menjadi Senapati Negara Dwarawati yang dijalaninya sampai akhir hayat.  Dalam lakon Parikesit lahir, kita ketahui Setyaki tewas masih pada kapasitanya sebagai Senapati. Padahal, dia adalah putra Prabu Setyajid yang pada masa uzurnya bisa mewariskan kerjaan kepadanya.  Tapi itulah wayang.  Ada keteladanan yang bisa kita petik hampir disetiap lakonnya.  Baiklah kita kembali ke Lakon Setyaki Lahir yang kali ini saya posting setelah cukup lama vakum………

Awalnya (menurut Ki Narto Sabdo), Lesanpura adalah sebuah kadipaten dibawah Mandura ketika pemerintahan dibawah Prabu Basudewa.  Tetapi  belakangan setelah lakon Kangsa Adu Jago, Raden Ugrasena diberikan kewenangan untuk bertahta menjadi Raja di Lesanpura dengan Gelar Prabu Setyajit. Dengan kedudukan sebagai raja, artinya Lesanpura sepeninggal Setyajid nantinya tidak kembali ke teritorial Mandura tetapi langsung diserahkan kepada keturunannya.  Dari sinilah cerita ini dimulai.

setyajitPermintaan Dewi Warsini, permaisuri  Prabu Setyajid pada kehamilan kedua ini benar-benar aneh.  Tidak seperti kehamilan pertamanya, yang nantinya melahirkan Dewi Setyaboma.  Memasuki tujuh bulan kehamilan, waktunya Dewi Warsini untuk memenuhi adat siraman di Telaga Madirda.  Dewi Warsini bersedia memenuhi adat siraman dengan syarat dia naik Macan Putih (Sardula Seta).  Jelas ini bukan permintaan yang mudah.  Tak kurang Prabu Setyajid menghadirkan Prabu Baladewa bersama Raden Narayana dan Prabu Puntadewa bersama Raden Bratasena, dengan harapan bisa memecahkan permasalahan ini.  Membiarkan Dewi Warsini melewati 7 bulan kehamilan tanpa siraman di telaga Madirda adalah tindakan tidak bijaksana.  Tetapi mendapatkan macan putih dalam waktu dekat ini, juga tidak gampang.

Atas saran Raden Narayana, disepakati untuk memasang grogol (perangkap) di Hutan Winangsraya.  Karena menurutnya, dihutan inilah diperkirakan banyak diketemukan binatang buruan, termasuk diantaranya Macan Putih.  Hari itu juga dimulailah operasi penangkapan Macan Putih di Hutan Winangsraya yang dipimpin oleh Prabu Baladewa disertai Raden Narayana dan Raden Bratasena.

Jauh diseberang hutan Winagsraya, berdiri sebuah kerajaan besar yang bernama Kerajaan Suwalabumi. dengan raja yang bertahta bernama Prabu Setyasa.  Raja sakti lagi kaya raya dan memiliki armada perang yang hebat.  Sayangnya, sang prabu belum memiliki permaisuri.  Bukan karena kurang kaya, kurang tampan atau kurang sakti.  Keengganan Prabu Setyasa mencari pasangan karena sebenarnya hatinya sudah tertambat pada Dewi Warsini, Istri Prabu Setyajid.

Terdorong oleh rasa cintanya yang menggebu (bahkan cenderung ngawur) Prabu Setyasa berniat menculik Dewi Warsini.  Untuk itulah dia memerintahkan Singamulangjaya, macan putih piaraannya untuk melakukan tugas ini.  Kendati Cuma seekor binatang, Singamulangjaya adalah rajanya macan dan memiliki kesaktian luar biasa. Prabu Setyasa optimis, ditangan Singamulangjaya keinginannya pasti berhasil.  Dipihak lain, Singamulangjaya bersedia melakukan tugas ini kendati pada awalnya mendapt firasat yang kurang baik.

Bagaimana kisah selanjutnya? Firasat apa yang diterima Singamulangjaya? Macan putih inikah yang nantinya masuk dalam perangkap yang dibuat oleh Prabu Baladewa di hutan Minangsraya? Bagaimana pada dewasanya Raden Setyaki bisa “nyatriya” di Swalabumi? Selengkapnya kami persilahkan untuk menikmati lakon yang dibawakan oleh Ki H Anom Suroto…….

  1. Setyaki Lahir _1
  2. Setyaki Lahir _2
  3. Setyaki Lahir _3
  4. Setyaki Lahir _4
  5. Setyaki Lahir _5
  6. Setyaki Lahir _6

KI NARTO SABDHO – BANJARAN KARNA

Wedhatama menjelaskan, ada tiga manusia besar dalam pewayangan yang patut menjadi contoh, yaitu Patih Suwanda, Raden Kumbakarna dan Adipati Karna.  Nama terakhir ini adalah yang paling ironis kendati memiliki nama besar, sakti, terkenal dan ahli di bidangnya tetapi dia tidak pernah merasakan arti cinta dan penghormatan yang sesungguhnya .

Betapa tidak ironis? Dia adalah Putra Bethara Surya dengan Dewi Kunthi  tetapi harus menerima kenyataan hidup ditengah-tengah manusia busuk dan bodoh, yaitu  Kurawa.  Dia ditempatkan sebagai tokoh yang menjadi “agul-agul” dan tokoh penting dalam Perang Baratayudha terpaksa harus rela dikerubuti oleh manusia-manusia berjiwa kerdil, yang hanya bisa menyanjung selagi masih bersinar.  Namun ketika gugur di Kuruksetra tak ada seekor kurawapun, yang menangisi.  Kebesaran jiwa Adipati Karna juga tergambar ketika dia rela didamprat habis-habisan oleh Mertuanya, Prabu Salya ditengah pasewakan agung, dipenghujung Perang Baratayudha , hanya untuk membela kurawa.

Ketika Adipati Karna tengah “kondhang-kondhangnya”, semua anggota kurawa pasang badan untuknya. Tetapi apa reaksi Kurawa disaat Raja Awangga ini kehilangan Kuntadruwasa dalam lakon Anoman Maneges? Tidak ada.  Bukan karena tidak berani, tetapi lebih karena kurawa tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ya, begitulah ironisnya Nasib Sang Maestro, Adipati Karna, yang ketika mudnya bernama Raden Suryatmaja.

Tetapi bagaimanakah sebenarnya perjalanan hidup salah satu dari tiga “manusia besar” yang dicontohkan oleh GPAA Mangkunegara IV dalam Serat Wedhatama?  Berikut ini saya coba berbagi, sebuah lakon yang dengan manis dan detil dibawakan oleh Ki Narto Sabdho, Banjaran Karna.  Teriring permohonan maaf karena file yang saya unggah tidak disertai kualitas suara yang memadai, karena saya harus mengkompres sedemikian rupa sehingga mampu diuanggah oleh bandwidth internet saya yang sangat terbatas.  (Jika ingin kualitas yang lebih baik, membeli kaset kemudian mengconvert sendiri adalah solusi yang bijaksana :) )

Selamat Menikmati

  1. Banjaran Karna 1
  2. Banjaran Karna 2
  3. Banjaran Karna 3
  4. Banjaran Karna 4
  5. Banjaran Karna 5
  6. Banjaran Karna 6
  7. Banjaran Karna 7
  8. Banjaran Karna 8

Ki H Anom Soeroto – Wahyu Tejamaya

Sebuah konspirasi telah dibangun atas nama rakyat, bangsa dan negara.  Perampokan terang terangan yang dilakukan oleh –tidak tanggung-tanggung – para dewa demi memuluskan usaha turunnnya Wahyu Tejamaya kepada Kurawa, yang dari hitungan nishab saja sudah tidak masuk.  Memberikan Wahyu Tejamaya kepada Prabu Duryudana dan kroni-kroninya adalah sebuah langkah  secara kasat mata saja sudah melampaui kodrat dan kebiasaan.   Tetapi atas nama rakyat dan “katanya” menghindarikan Astina dari bencana yang berdampak sistemik, maka langkah ini terpaksa dilakukan.

Bethara Guru yang mengetahui kebijakan tersebut, sangat memahami.  Bukan saja sangat memahami tetapi sangat mendukung dan membenarkan keputusan yang diambil untuk menyerahkan Wahyu Tejamaya kepada Astina.  Kebijakan ini mendapat dukungan kuat dari Bethara Kala yang secara teknis akan memberikan bantuan terhadap semua persyaratan turunnya Wahyu Tejamaya.  Tetapi tidak demikian dengan Wakil Bethara Guru, yaitu Dewa Kahyangan Suduk Pangudaludal, Betahra Narada.  Dia tegas-tegas menolak kebijakan menyerahkan Wahyu Tejamaya dengan alasan bencana Astina tersebut berdampak sistemik, karena kenyataan Astina tidak sendirian menghadapi krisis itu.  Artinya, menurut Narada, biarkan Wahyu Tejamaya secara alamiah jatuh kepada siapa.  Tetapi apalah kekuatan seorang Narada karena dia hanyalah Wakil.  Walk Out lebih baik baginya.  Tetapi sebuah kalimat sempat dia ucapkan sebelum dia meninggalkan paertemua tersebut: Becik ketitik, ala ketara.  Sapa kang Ndisiki cidra, wahyune Bakal Sirna.

Tersebutlah, Negara Astina sedang dalam kondisi pageblug mayangkara.  Sebuah keadaan yang tak tergambarkan.  Kehidupan rakyat sangat sulit, harga sembako melambung, pengangguran meningkat, kejahatan merajalela, simpul-simpul sosial mulai pudar, kebersamaan mulai luntur ditambah bencana alam terjadi disana sini, belum lagi embargo dari negara lain masih diberlalakukan.  Pendeknya, Astina berada di ujung Tanduk.

Disaat sulit tersebut, digelar rapat darurat di Negara Astina yang dihadiri oleh Prabu Duryudana, Penasehat Kerajaan (Pandhita Durna), Sengkuni (tokoh ini harus ada biar cerita jadi hidup), Kartamarma sebagai Panglima sekaligus juru Panitipriksa (semacam pengawas atau KPK) dan beberapa tokoh lainnya.  Dalam rapat tersebut diputuskan bahwa pageblug negara Astina hanya akan sirna apabila Astina berhasil mendapatkan Wahyu Tejamaya (representasi wahyu ketenteraman).

Pandhita Durna yang mendapatkan legitimasi dan kewenangan khusus serta mengetahui informasi akan turunnya Wahyu Tejamaya, segera merapal aji pameling untuk menghadirkan para dewa dengan satu tujuan, meminta Wahyu Tejamaya untuk memulihkan pageblug di Negara Astina.  Samadi Durna terkabul.  Tiga Dewa datang dan memberi  restu pada pertemuan tersebut, yaitu Batara Guru, Bathara Narada dan Bathara Kala.

Bethara Guru sebagai fihak yang berwenang menyerahkan Wahyu Tejamaya bersedia memberikan Wahyu Tejamaya kepada Astina (baca: Duryudana) dengan syarat kurawa bisa membunuh Semar dan Pendhawa.  Syarat yang tidak mudah ini tentu saja tidak begitu saja diterima oleh Durna.  Akan tetapi Bethara Kala meyakinkan bahwa dia akan bertanggung jawab penuh membunuh Semar dan Pandhawa dengan catatan jika mati nanti mayat Kurawa menjadi makanan bethara Kala dan ruh / jiwa para Kurawa menjadi pengikutnya.  Syarat ini diterima begitu saja tanpa reserve oleh Duryudana.

Bagaimana dengan Narada?  Melihat gelagat yang tidak sehat ini Narada berusaha mengingatkan Bethara Guru dan Bethara Kala, tetapi tidak ada tanggapan.  Mereka tetap pada keputusan  menyerahkan Wahyu Tejamaya kepada Kurawa dengan pertimbangan untuk mengentaskan Astina dari krisis yang boleh jadi akan berdampak sistemik.  Sadar berada dalam keputusan sulit, Narada mengundurkan diri dari pertemuan ini.  Didepan mata, Wahyu Tejamaya menjadi milik kurawa, hanya masalah waktu.  Bukan itu saja, Bethara Guru juga menjanjikan kedudukan kepada Pandhita Durna menjadi  Wakil Dewa  untuk menggantikan Narada, nanti setelah proses penyerahan Wahyu Tejamaya ini selesai.

Anda tentu menduga saya sedang ngudarasa tentang kelanjutan Kasus Bank Century yang beberapa pekan terakhir menggeliat lagi.  Anda salah.  Saya sedang mencaritakan Jejer Kedhaton pada  Lakon Wahyu Tejamaya yang dibawakan oleh Ki H Anom Soeroto yang filenya bisa anda download di link dibawah ini.   Selamat menikmati

  1. Wahyu Tejamaya_01
  2. Wahyu Tejamaya_02
  3. Wahyu Tejamaya_03
  4. Wahyu Tejamaya_04
  5. Wahyu Tejamaya_05
  6. Wahyu Tejamaya_06
  7. Wahyu Tejamaya_07
  8. Wahyu Tejamaya_08
  9. Wahyu Tejamaya_09
  10. Wahyu Tejamaya_10
  11. Wahyu Tejamaya_11
  12. Wahyu Tejamaya_12
  13. Wahyu Tejamaya_13

Ki Manteb Soedarsono – Arjuna Wiwaha

Tersebutlah, di kaki Gunung Indrakila, tepatnya di dalam Gua Mintaraga, Arjuna melaksanakan tapabrata dan begelar Begawan Mintaraga.  Ini adalah tahun ketujuh sejak peristiwa Bale Sigala-gala.  Tujuan Arjuna bertapa di Gunung Indrakila semata-mata untuk mencari ketenangan diri, disamping bentuk upaya lahir batin demi kejayaan Pandhawa.

Dari sinilah sebenarnya takdir digariskan yang nantinya akan terbukti pada Perang Baratayudha.  Barangkali dari banyak kali Pendhawa berjasa pada Kahyangan Suralaya, inilah tonggak terpenting yang nantinya akan memberi warna pada kehidupan anak-anak mendiang Prabu Pandhudewanata.

Cerita ini dimulai dari Kerajaan Himamimantaka, dimana sang Raja Raksasa bernama Prabu Newata Kawaca yang tengah jatuh hati kepada putri Bethara Indra bernama Dewi Supraba.  Kecantikan bidadari yang satu ini memang tak terkatakan, sehingga membuat Prabu Newatakawaca mempertaruhkan apapun untuk bisa mempersuntingnya.  Tak tanggung tanggung, dia mengirimkan Patih Mamangdana dan Kala Mamamngmurka untuk menghadap Bethara Guru guna meminta Dewi Supraba sekaligus meminta Tahta Suralaya.

Sudah Pasti Permintaan ini tak dikabulkan oleh para dewa.  Singkat cerita Prabu Newatakawaca berniat menggempur Suralaya.  Keberania Newatakawaca ini bukan tanpa alasan.  Dia memiliki kesaktian yang bernama Aji Gineng yang ditempatkan di tenggorokannya sehingga hampir tindak mungkin bisa dikalahkan oleh siapapun.  Suralaya kalang kabut, para dewa tak mampu menandingi kesaktian Raja Raksasa ini.  Reputasi Bethara Guru berada di ujung tanduk.

Disaat genting inilah Narada mendapat perintah untuk mencari bala bantuan dan jago yang mampu mengalahkan Newatakawaca.  Pilihan Narada jatuh pada Arjuna yang ketika itu tengah bertapa di kaki gunung Indrakila.  Arjuna bisa mengalahkan Prabu Newatakawaca berkat bantuan Dewi Supraba.  Atas keberhasilan ini Arjuna dijadikan raja bagi para bidadari dan diperkenannkan mengajukan beberpa permohonan.  Permohonan Arjuna inilah yang nantinya memberi warna pada Perang Baratayudha.  Pertanyaannya adalah, bagaimana Begawan Mintaraga mampu mengalahkan Newatakawaca yang memiliki Aji Gineng? Apa saja permintaan Arjuna kepada para dewa?

Cerita ini sebenarnya merupakan pertujukan live ki Manteb Sudarsono di Ditlantas Polda Metrojaya pada tahun 2008, sehingga bahasa yang disampaikanadalah bahasa visual, bahasa tontonan.  Tetapi ketika teman saya dari Bandung (Mas S) memberikan file ini, tak tahan rasanya saya ingin berbagi maka saya meminta ijinnya untuk mengupload di blog ini.  Beliau tidak keberatan.  Masalahnya adalah total file DAT lakon ini mencapai 4 GB, sehingga hampir tidak mungkin untuk saya upload dengan kepasitas bandsidh yang terbatas.  Oleh karenanya saya hanya mengupload file audio dari pertunjukan tersebut.  Itupun masih terlalu besar sehingga saya perlu memecahnya menjadi beberapa bagian.

Oleh karena itu, apabila kualitas suara jauh dari kriteria cukup, saya bisa memahami.  Maka maaf adalah kata yang tepat untuk saya sampaikan kepada anda.  Tetapi diluar semuanya, rasa puas saya bisa berbagi dengan anda.  Selamat menikmati.

  1. Arjuna Wiwaha1
  2. Arjuna Wiwaha2
  3. Arjuna Wiwaha3
  4. Arjuna Wiwaha4
  5. Arjuna Wiwaha5
  6. Arjuna Wiwaha6
  7. Arjuna Wiwaha7
  8. Arjuna Wiwaha8
  9. Arjuna Wiwaha9
  10. Arjuna Wiwaha10
  11. Arjuna Wiwaha11
  12. Arjuna Wiwaha12
  13. Arjuna Wiwaha13
  14. Arjuna Wiwaha14
  15. Arjuna Wiwaha15
  16. Arjuna Wiwaha16
  17. Arjuna Wiwaha17
  18. Arjuna Wiwaha18

Ki Nartosabdho – Wisanggeni Krama

Bukan kali ini saja Prabu Baladewa mempertaruhkan reputasinya cuma untuk melamarkan putra mahkota Hastina yang idiot itu, Lesmana Mandrakumara. Berkali-kali Raja Mandura ini menjadi duta panglamar untuk kemenakannya dan berkali-kali pula harus malu, karena Lamarannya ditolak karena ulah kemenakannya itu.

Setidaknya, Prabu Baladewa pernah melamarkan Endang Pergiwa putri Arjuna yang ternyata gagal karena Pergiwa lebih memilih Gatutkaca. Kemudian Baladewaperna juga dipermalukan ketika melamar Pergiwati yang kemudian dipersunting Raden Pancawala.

Bukan cuma itu, ketika Lesmanamandrakumara kasmaran dengan kecantikan Putri Dwarawati yaitu Siti Sendari, Baladewa juga terlibat langsung dan harus malu lantaran Abimanyu lebih beruntung dipilih Putri Prabu Kresna ini. Masih dengan Putri Dwarawati, Lesmanamanrakumara juga pernah menangisi uwaknya untuk melamar Dewi Titisari yang akhirnya gagal juga, karena Bambang Irawan jauh lebih menarik daripada pangeranpati Hastinapura yang sombong dan bloon ini. Lebih tragis lagi, ketika untuk melamar Karnawati, putri Adipati Karna pun Lesmana terpaksa gagal oleh nasib baik Bratalaras. Belum lagi Dewi Manuwati yang akhirnya dipersunting Antasena. Juga Endang Lara Temon, isteri Bambang Senet bahka Nalawati anak perempuan Gareng-pun, Lesmanamandrakumara harus gigit jari.

Maka tak heran ketika kali ini Lesmanamandrakumara jatuh hati kepada Putri Negara Tasikmadu, putri Prabu Karsendra yang bernama Dewi Mustikawati Prabu Baladewa merasa enggan untuk menjadi duta penglamar bagi keponakannya, tetapi Duryudana terus berupaya membujuk kakak iparnya. Terlebih setelah mengetahui bahwa calon pengantin putrid mengajukan tiga persyaratan, yaitu Mustikaning Angin, Mustikaning Geni (api), Mustikaning Toya (air). Jelas Bukan kerja gampang bagi Baladewa, kendati Pendhita Durna sudah menyanggupi mewujudkan permintaan itu.

Pertanyaannya, bukan berhasilkan Baladewa melamar Mustikawati untuk Lesmanamandrakumara, tetapi bagaimana Wisanggeni bisa masuk penjadi pesaing Lesmana. Bagaimana pula dia memenuhi permintaan pengantin wanita. Dan yang lebih penting, apa makna dan penjabaran Mustikaning Angin, Mustikaning Geni (api), Mustikaning Toya (air)

Cerita carangan ini memang cukup menarik untuk kita simak. Bukan saja karena dibawakan oleh “maestro dalang” Ki Nartosabdo, tetapi juga karena bukan melibatkan Pendhawa dan Kurawa. Ada Negara lain yang terlibat dalam cerita ini yaitu Negara Tasikmadu dibawah pemerintahan Prabu Karsendra. Dalam cerita ini juga banyak ditemukan ajaran filsafat kejawen yang dengan sederhana dikupas oleh Ki Nartosabdho. Selamat menikmati.
1. Wisanggeni Krama 1
2. Wisanggeni Krama 2
3. Wisanggeni Krama 3
4. Wisanggeni Krama 4
5. Wisanggeni Krama 5
6. Wisanggeni Krama 6
7. Wisanggeni Krama 7
8. Wisanggeni Krama 8
9. Wisanggeni Krama 9
10. Wisanggeni Krama 10

 

 

 

KI H ANOM SOEROTO – Wahyu Senapati

Sebagai lakon carangan, Wahyu Senapati tak jauh berbeda dengan lakon yang lain, katakanlah Wahyu Topeng Waja. Tokoh sentralnya sama, hanya anagonisnya yang berbeda. Jika Wahyu Topeng Waja menempatkan Prabu Bomanarakasura sebagai antagonis melawan Gatutkaca, dalam lakon ini justru Anatareja yang menjadi penghambat Gatutkaca dalam kedudukannya sebagai Senapati pada Perang Baratayuda kelak. Tetapi apa memang demikian? Pada akhirnya, yang menjadi senapati pada perang Baratayuda adalah Destrajumena, adik Srikandhi.

Saya sangat yakin, bahwa ketika lakon ini dibuat pasti sudah timbul kesadaran bahwa nantinya bukan Gatutkaca yang menjadi senapati di Kuruksetra. Perlu dicatat, yang saya maksud senapati disini adalah pengertian senapati agung yang diangkat sebelum perang dimulai. Bukan ketika kresna menunjuk senapati untuk menghadapi musuh-musuh tertentu. Sebutlah, Abimanyu ditujuk oleh Kresna ketika Jayadrata dan Durna menjadi senapati di fihak Kurawa. Demikain juga Gatutkaca yang dipasang khusus untuk menghadapi Adipati Karna. Akhirnya, lakon carangan ini tidak menitikberatkan pada aspek cerita tetapi lebih pada pesan moral yang ingin disampaikan dalang melalui tokoh-tokah dalam cerita ini.

Kembali kepada lakon Wahyu Senapati. Raden Antareja bersama Satriya Ngrancang Kencana, Raden Irawan tengah menerima kedatangan adiknya yaitu Raden Antasena. Pembicaraan mereka menyangkut rencana Prabu Puntadewa yang bermaksud mengangkat Raden Gatutkaca sebagai Senapati. Antareja merasa tidak puas atas keputusan ini mengingat dirinya merasa lebih berhak pada jabatan itu. Bukan saja karena dirinya lebih tua tetapi juga lebih sakti.

Antasena telah berupaya untuk mengingatkan kakaknya, bahwa keputusan Pendhawa mengangkat Gatutkaca sudah melalui pertimbangan yang matang serta tidak ada maksud membeda-bedakan antara tokoh-tokoh muda yang sama-sama memiliki kans pada jabatan itu. Tetapi Amarah, rasa iri dan kedengkian telah menguasai Antareja sehingga sama sekali tidak mendengarkan saran Antasena.

Keadaan menjadi lebih buruk ketika Sengkuni datang sebagai wakil Duryudana, raja Hastinapura. Bujuk rayu dan hasutan Sengkuni semakin memantapkan tekad Antareja untuk sama sekali membuka front dengan pendhawa. Terlebih setelah Sengkuni menjajnjikan Jabatan Senapati Hastina pada Antaraeja, maka bulatlah tekadnya melawan Pendawa, terutama Gatutkaca. Irawan yang ketika itu mengatahui pembicaraan Sengkuni dan Antareja tidak bias berbuat banyak dan hanya berniat memberikan dukungan atas niat kakak sepupunya itu.

Rekan saya yang tidak mau disebut namanya telah memberikan kepada saya tak kurang dari 40 kaset pita untuk saya convert ke digital, memberikan ijin untuk mengupload lakon ini kepada anda sekalian. Selamat menikmati

1. Wahyu Senapati 01
2. Wahyu Senapati 02
3. Wahyu Senapati 03
4. Wahyu Senapati 04
5. Wahyu Senapati 05
6. Wahyu Senapati 06
7. Wahyu Senapati 07
8. Wahyu Senapati 08
9. Wahyu Senapati 09
10. Wahyu Senapati 10
11. Wahyu Senapati 11
12. Wahyu Senapati 12
13. Wahyu Senapati 13
14. Wahyu Senapati 14