Arsip Kategori: KI NARTO SABDHO

Ki Narto Sabdho – Drupada Duta

Drupada, WayangBarangkali anda sependapat dengan saya, bahwa pra Baratayudha, upaya diplomatis yang dilakukan oleh Pendhawa dengan mediator Prabu Matswapati adalah dengan mengirimkan duta pamungkas yaitu Prabu Kresna.  Tetapi ternyata tidak demikian.  Beberapa waktu berselang, Pendhawa juga pernah mengirimkan duta untuk membahas kemungkinan penyelesaian Negara Hastina melalui dengan Prabu Drupada, Raja Pancala.  Tetapi sebagaimana diketahui, upaya ini sama sekali tak membuahkan hasil.  Konflik inilah yang dibangun oleh Ki Narto Sabdo dalam sebuah pagelaran wayang kulit semalam suntuk secara runtut dengan lakon Drupada Duta.

Cerita ini diawali dengan adegan adegan di Pendhapa Agung Negara Hastina.  Disaat Duryudana tengah mengadakan pertemuan lengkap dengan pembesar negara, hadir  Dewi Kunthi bersama dengan Yama Widura.  Kedatangan Kunthi tidak lain adalah untuk menagih janji Duryudana ketika Pendhawa Kalah bermain dadu.  Setelah tiga belas tahun berada di pembuangan dan setahun bersembunyi, sekarang saatnya Duryudana memenuhi janjinya, untuk memngembalikan Negara Amarta dan semua jajahannya, dan sebagian negara Hastina yang saat ini masih dikuasai Duryudana.

Raden_YamawiduraAkan tetapi kenyataanya, diluar dugaan.  Kedatangan Kunthi tidak membawa hasil dan bahkan membawa dua luka baru.  Yang pertama, Kunthi harus mendengar hinaan Kurawa terhadap Pandhawa.  Pendhawa dikatakan sudah tidak lagi mempunyai jiwa ksatria karena terlalu lama tinggal dihutan, sehingga tidak layak (atau belum layak, menurut istilah Duryudana) untuk menerima kembali Negara Amarta.   Kesakitan kedua, Kunthi harus menerima kenyataan diacuhkan oleh Adipati Karna, anak kandungnya.

Disaat Kunthi pingsan dipangkuan Yamawidura, Prabu Drupada hadir sebagai duta resmi para Pendhawa untuk membahas masalah yang sama dengan yang telah disampaikan oleh Kunthi. Kali inipun justru Duryudana semakin nekad dan mengeluarkan kata-kata yang membuat Drupada Naik pintam.

Menitik latar belakang Drupada yang merupakan menantu Prabu Gandabayu yang tak diragukan lagi kesaktiannya, membuat  Narpati Destrarastra, ayah Duryudana kebat-kebit.  Terbayang apabila Drupada benar-benar marah kepada Duryudana.  Oleh karenanya Destrarastra berniat menemui Prabu Drupada untuk menjinakkan kemarahannya.

Nah,  barangkali disinilah kelincahan akrobat imajinasi Ki Narto Sabdo.  Jika Kresna Duta menitik beratkan pada peran kresna yang telah diberi purbawaseas, Drupada tidak demikian.  Drupada menempatkan diri sebagai duta yang tidak diberikan kewenangan penuh.  Sehingga suasana hati dan gejolak kemarahan ketika dihina di pasewakan agung Astina, sunggguh merupakan penggambaran yang benar-benar hidup.

Tak hanya itu, bagi yang pernah mendengarkan lakon Kresna Gugah, maka Lakon Drupada Duta seakan bisa menjadi hidup, kendati keduanya merupakan lakon carangan.

Sebagai obat kangen setelah cukup lama tidak mengunggah materi baru, maka Drupada Duta yang relatif lengkap kami hadirkan.

  1. Drupada Duta 1
  2. Drupada Duta 2
  3. Drupada Duta 3
  4. Drupada Duta 4
  5. Drupada Duta 5
  6. Drupada Duta 6
  7. Drupada Duta 7
  8. Drupada Duta 8
  9. Drupada Duta 9 (tamat)

KI Narto Sabdho – Banjaran Bisma

Heru AchwanAda seorang rekan bernama Heru Achwan.  Secara pribadi saya belum mengenal beliau tetapi dari komitmennya, saya bisa menduga, beliau termasuk orang mengagumi Ki Narto Sabdho.  Bahkan dia menggagas sebuah pertemuan para penggemar Ki Nartosabdho.  Dia memulainya dari Mas Widjanarko, kemudian gethok tular ke Mas Edy Listanto, yang kemudian mendapat restu dari Mas Pranowo Budi.  Gayung bersambut, ketika gagasan ini dikeploki sama Mas Malix CJDW, Joko Bocah Angon, Sriwahyuni Fajareka dsb.  Saya melihat, Mas Heru ini seperti Bisma, rela berkorban untuk kepentingan orang lain.  Khususnya, yang paling menarik bagi saya adalah komitmen Mas Heru Ichwan yang mempersilahkan villanya di Kali Urang dengan 22 kamar dan bakmi angkringan, untuk menggelar hajatan ini.  Postingaan kali ini, saya persembahkan untuk Mas Heru Achwan.

Bisma, Resi

Terlepas dari permasalahan benar salah, pemicu Perang Bharatayuda adalah nama yang menjadi tokoh sentral dari lakon.    Dinamakan Perang Bharatayudha, karena pelaku  utama perang ini  adalah darah (keturunan) bharata.  Keputusan Dewabrata untuk wadad (tidak menikah seumur hidup) dan  tidak mau memegang tampuk pemerintahan Hastina, pada akhirnya terbukti berbuntut panjang.  Andaikata Putera Sentanu ini mau sedikit “durhaka” dengan tidak bersumpah wadad, boleh jadi dia akan memiliki keturunan yang nantinya akan menjadi penguasa Hastina.  Tapi itulah takdir.  Tak bisa manusia menghindarinya.

sentanu, prabuTentu saja saya tak hendak bercerita tentang Raden Dewabrata (yang kelak bernama Resi Bhisma), karena dengan mendengarkan lakon ini, Ki Nartosabdo akan memberikan penjelasan seribu kali lebih lengkap , lebih akurat dan lebih menghibur daripada (misalnya) seratus lembar sinopsis yang yang saya tulis.   Saya hanya ingin mengungjapkan pendapat pribadi, sembari menunggu file ini saya unggah.

Baiklah, ini pendapat saya.  Kecantikan Dewi Gangga ternyata telah membuat Prabu Santanu hanyut dalam suasana cinta yang menggelora.  Disamping itu, perjanjian untuk tidak menegur, apalagi memarahi sang isteri atas apapun yang diperbuatnya, membuat Raja Hastina ini tak bisa berbuat banyak mseki yang dilakukan isterinya sudah diluar batas nalar manusia.

Betapa tidak.  Sang permaisuri yang cantik jelita ini selalu membuang anaknya ke Sungai Gangga setiap kali habis dilahirkan.  Demikian berulang-ulang sampai delapan kali.  Untuk kali kesembilan, kesabaran Prabu Santanu tak lagi bisa ditahan.  Dia menegur dan memarahi isterinya itu.  Akibatnya, sang isteri kembali ke kahyangan dan Santanu harus sendirian merawat bayi yang ditinggalkan Dewi Gangga.  Setelah kepergian Gangga, Sentanu menikah lagi dengan Dewi Durgandini.  Dari sinilah Ki Nartosabdo mengurai lakon Banjaran (Balada) Bisma.

Yang tadi saya katakan Bisma sebagai pemicu Perang Bharatayudha adalah ketika Sentanu mengemukakan keinginannya untuk menikah dengan Durgandini kepada sang naka, Dewabrata.  Pendapat Dewabrata dipandang Prabu Sentanu sangat penting, karena Durgandini mensyaratkan, anak yang lahir dari rahimnyalah yang kelak menjadi Raja Hastina jika Sentanu ingin mempersuntingnya.   Diluar dugaan, Raden Dewabrata ternyata bersedia untuk tidak menduduki tahta astina, dan mempersilahkan kepada adiknya (maksudDewabratanya Anak Durgandini) untuk menjadi pengganti Sentanu.   Tak cukup dengan itu, Durgandini masih belum percaya pada komitmen Dewabrata.  Dia beralasan, Dewabrata bisa saja menerima keputusan ini, tapi bagaimana dengan anak-anak Dewabrata kelak???  Dewabrata juga tak mau kalah, untuk meyakinkan bahwa anak Durgandini kelak akan tenteram menjadi rajja Hastina, maka dia bersumpah untuk Wadad (tidak menikah seumur Hidup).  Entahlah, ini penghormatan, loyalitas atau tolol…..

Dari perkawinannya dengan Santanu, Durgandini memiliki dua orang putera yaitu Raden Wicitra dan Wicitrawirya.  Sayangnya kedua anak ini meninggal sebelum memiliki keturunan.  Itu Artinya, tahta Astina kosong karena Bisama sudah terlanjur wadad dan tidak bersedia menduduki tahta Astina.  Beruntung Durgandini memiliki sorang anak lagi hasil perkawinannya dengan Palasara, sebelum dia menikah dengan Santanu.  Atas saran Dewabrata pula Durgandini memanggil Abiyasa (Nama Anaknya itu) untuk menduduki Tahta Astina.

Ah….. Sudahlah!!!!! Dengarkan Balada (Banjaran) Bisma alias Dewabrata yang dengan nyaris sempurna dibawakan oleh maestro dalang Ki Nartosabdho.

Sedikit catatan, file No 1, tidak lengkap, padahal disitulah dialog terbangun mengawali rangkaian panjang  ksatria yang mengakhiri hidupnya di Padang Kurukhsentra, setelah empat hari terkapar dengan tubuh penuh tancapan senjata…….

  1. Banjaran Bisma 1
  2. Banjaran Bisma 2
  3. Banjaran Bisma 3
  4. Banjaran Bisma 4
  5. Banjaran Bisma 5
  6. Banjaran Bisma 6
  7. Banjaran Bisma 7
  8. Banjaran Bisma 8 (tamat)

KI NARTO SABDHO – BANJARAN KARNA

Wedhatama menjelaskan, ada tiga manusia besar dalam pewayangan yang patut menjadi contoh, yaitu Patih Suwanda, Raden Kumbakarna dan Adipati Karna.  Nama terakhir ini adalah yang paling ironis kendati memiliki nama besar, sakti, terkenal dan ahli di bidangnya tetapi dia tidak pernah merasakan arti cinta dan penghormatan yang sesungguhnya .

Betapa tidak ironis? Dia adalah Putra Bethara Surya dengan Dewi Kunthi  tetapi harus menerima kenyataan hidup ditengah-tengah manusia busuk dan bodoh, yaitu  Kurawa.  Dia ditempatkan sebagai tokoh yang menjadi “agul-agul” dan tokoh penting dalam Perang Baratayudha terpaksa harus rela dikerubuti oleh manusia-manusia berjiwa kerdil, yang hanya bisa menyanjung selagi masih bersinar.  Namun ketika gugur di Kuruksetra tak ada seekor kurawapun, yang menangisi.  Kebesaran jiwa Adipati Karna juga tergambar ketika dia rela didamprat habis-habisan oleh Mertuanya, Prabu Salya ditengah pasewakan agung, dipenghujung Perang Baratayudha , hanya untuk membela kurawa.

Ketika Adipati Karna tengah “kondhang-kondhangnya”, semua anggota kurawa pasang badan untuknya. Tetapi apa reaksi Kurawa disaat Raja Awangga ini kehilangan Kuntadruwasa dalam lakon Anoman Maneges? Tidak ada.  Bukan karena tidak berani, tetapi lebih karena kurawa tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ya, begitulah ironisnya Nasib Sang Maestro, Adipati Karna, yang ketika mudnya bernama Raden Suryatmaja.

Tetapi bagaimanakah sebenarnya perjalanan hidup salah satu dari tiga “manusia besar” yang dicontohkan oleh GPAA Mangkunegara IV dalam Serat Wedhatama?  Berikut ini saya coba berbagi, sebuah lakon yang dengan manis dan detil dibawakan oleh Ki Narto Sabdho, Banjaran Karna.  Teriring permohonan maaf karena file yang saya unggah tidak disertai kualitas suara yang memadai, karena saya harus mengkompres sedemikian rupa sehingga mampu diuanggah oleh bandwidth internet saya yang sangat terbatas.  (Jika ingin kualitas yang lebih baik, membeli kaset kemudian mengconvert sendiri adalah solusi yang bijaksana :) )

Selamat Menikmati

  1. Banjaran Karna 1
  2. Banjaran Karna 2
  3. Banjaran Karna 3
  4. Banjaran Karna 4
  5. Banjaran Karna 5
  6. Banjaran Karna 6
  7. Banjaran Karna 7
  8. Banjaran Karna 8

Ki Nartosabdho – Wisanggeni Krama

Bukan kali ini saja Prabu Baladewa mempertaruhkan reputasinya cuma untuk melamarkan putra mahkota Hastina yang idiot itu, Lesmana Mandrakumara. Berkali-kali Raja Mandura ini menjadi duta panglamar untuk kemenakannya dan berkali-kali pula harus malu, karena Lamarannya ditolak karena ulah kemenakannya itu.

Setidaknya, Prabu Baladewa pernah melamarkan Endang Pergiwa putri Arjuna yang ternyata gagal karena Pergiwa lebih memilih Gatutkaca. Kemudian Baladewaperna juga dipermalukan ketika melamar Pergiwati yang kemudian dipersunting Raden Pancawala.

Bukan cuma itu, ketika Lesmanamandrakumara kasmaran dengan kecantikan Putri Dwarawati yaitu Siti Sendari, Baladewa juga terlibat langsung dan harus malu lantaran Abimanyu lebih beruntung dipilih Putri Prabu Kresna ini. Masih dengan Putri Dwarawati, Lesmanamanrakumara juga pernah menangisi uwaknya untuk melamar Dewi Titisari yang akhirnya gagal juga, karena Bambang Irawan jauh lebih menarik daripada pangeranpati Hastinapura yang sombong dan bloon ini. Lebih tragis lagi, ketika untuk melamar Karnawati, putri Adipati Karna pun Lesmana terpaksa gagal oleh nasib baik Bratalaras. Belum lagi Dewi Manuwati yang akhirnya dipersunting Antasena. Juga Endang Lara Temon, isteri Bambang Senet bahka Nalawati anak perempuan Gareng-pun, Lesmanamandrakumara harus gigit jari.

Maka tak heran ketika kali ini Lesmanamandrakumara jatuh hati kepada Putri Negara Tasikmadu, putri Prabu Karsendra yang bernama Dewi Mustikawati Prabu Baladewa merasa enggan untuk menjadi duta penglamar bagi keponakannya, tetapi Duryudana terus berupaya membujuk kakak iparnya. Terlebih setelah mengetahui bahwa calon pengantin putrid mengajukan tiga persyaratan, yaitu Mustikaning Angin, Mustikaning Geni (api), Mustikaning Toya (air). Jelas Bukan kerja gampang bagi Baladewa, kendati Pendhita Durna sudah menyanggupi mewujudkan permintaan itu.

Pertanyaannya, bukan berhasilkan Baladewa melamar Mustikawati untuk Lesmanamandrakumara, tetapi bagaimana Wisanggeni bisa masuk penjadi pesaing Lesmana. Bagaimana pula dia memenuhi permintaan pengantin wanita. Dan yang lebih penting, apa makna dan penjabaran Mustikaning Angin, Mustikaning Geni (api), Mustikaning Toya (air)

Cerita carangan ini memang cukup menarik untuk kita simak. Bukan saja karena dibawakan oleh “maestro dalang” Ki Nartosabdo, tetapi juga karena bukan melibatkan Pendhawa dan Kurawa. Ada Negara lain yang terlibat dalam cerita ini yaitu Negara Tasikmadu dibawah pemerintahan Prabu Karsendra. Dalam cerita ini juga banyak ditemukan ajaran filsafat kejawen yang dengan sederhana dikupas oleh Ki Nartosabdho. Selamat menikmati.
1. Wisanggeni Krama 1
2. Wisanggeni Krama 2
3. Wisanggeni Krama 3
4. Wisanggeni Krama 4
5. Wisanggeni Krama 5
6. Wisanggeni Krama 6
7. Wisanggeni Krama 7
8. Wisanggeni Krama 8
9. Wisanggeni Krama 9
10. Wisanggeni Krama 10

 

 

 

Ki Nartosabdho : Sawitri – Setyawan

Barangkali tidak terlalu salah pendapat sebagian orang bahwa hidup setahun dengan cinta tulus lebih bermakna dari pada seumur hidup bersama dengan orang yang tidak dicintai.  Tetapi permasalahannya bukanlah pada hakekat cinta tetapi lebih pada bagaimana kita memaknai kebersamaan dengan orang yang kita cintai itu.  Disamping itu, kekuatan cinta ternyata mampu merubah segalanya, bahkan takdir.

 Sawitri – Satyawan adalah metafora dari keindahan cinta yang kadang terasa berlebian.  Jika ada pendapat cinta bukanlah untuk memiliki maka pendapat itu akan patah ditangan Ki Nartosabdho.  Cinta ternyata adalah seberapa besar kemampuan kita membangun rasa saling memiliki.  Sekejap tetapi memiliki akan lebih berarti daripada setahun hanya sekedar mengakui.  Demikianlah cerita ini mengalir lembut dengan sentuhan romantisme yang menggelagak dibumbui   humor yang cerdas dan sehat.  Happy ending yang disajikanpun tidak terkesan berlebihan.  Ki Nartosdabdo benar-benar telah memposisikan diri sebagai seorang maestro drama bukan sekadar tukang bercerita.

Sejatinya cerita ini juga berangkat dari sempalan epos besar Mahabarata akan tetapi para tokoh yang ditampilkan jarang kita kenal dalam pagelaran wayang purwa pada umunya. Tokoh utama dalam lakon ini adalah nenek buyut Prabu Salya, Raja besar Mandaraka yang ketika mudanya dikenal sebagai Raden Narasoma.  Sawitri inilah yang pada generasi berikutnya melahirkan Salya dan Madrim, ibu Nakula dan Sadewa, bungsu Pandhudewanata.

Cerita dimulai dari kegundahan Hati Prabu Haswapati yang melihat putri semata wayangnya belum bersdia menikah meski sudah menjelang dewasa.  Tak ada yang kurang dari puti tuinggal Raja Madras (Mandaraka) ini.  Wajahnya yang cantik, budi pekerti luhur dan kelembutan hatinya seakan mampu menjinakkan singa yang paling galak sekalipun.  Tak heran banyak raja muda dari penjuru dunia mengharapkan Sawitri menjadi pendampingnya.  Akan tetapi sejauh ini tak seorangpun yang  mampu mencairkan hati sang putri.

Atas saran Resi Sabdalaga Sang prabu mengadakan sayembara pilih.  Tak seperti biasanya, sayembara pilih ini dilakukan dalam dua tahapan.  Tahap pertama sang calon harus dipilih lebih dahulu oleh Dewi Sawitri setelah itu, calon yang tidak terpilih mempunyai hak untuk merebut sang putri dengan pertarungan secara ksatria.  Tujuannya jelas, sang prabu menginginkan calon menantu yang bukan saja  menjadi tambatan hati sang putri, tetapi dia juga harus sakti mandraguna sebagai benteng tangguh kerajaan Madras.

Sementara itu, jauh ditengah pertapaan Bambang Setyawan tengah memeras raga dan bertapa demi kesembuhan ayahannya yang tiba-tiba hilang penglihatan(buta).  Segala cara telah ditempuh untuk kesembuhan ayahnya.  Tetapi sejauh ini usahanya sia-sia belaka.  Ayahnya belum juga bisa melihat terangnya dunia. Dalam keputus asaannya Bambang Satyawan bertapa memohon wisik dari yang Maha Kuasa unhtuk membuka jalan baginya bisa berbakti kepada ayahandanya.  Apapun dia pertaruhkan demi kesembuahn sang ayah.

Bethara Narada yang merasa terkesan dengan kesungguhan hati pemuda ini, memberikan jalan bagi permohonan Bambang Satyawan akan tetapi dia harus merelakan umurnya  menjadi tinggal setahun lagi.  Terdorong bhatinya pada sang ayah, Bambang Satyawan menerima persyaratan yang diajukan oleh Betara Narada.

Singkat cerita, Bambang Satyawan mengikuti sayembara pilih yang diuselenggarakan di Negara Madras.  Dewi Sawitri, menjatuhkan pilihan pada pemuda ini dan menyatakan kesanggupannya untuk mendampingi sebagai isteri dengan cinta dan kesetiaan yang tulus.

Bethara Narada memberitahu Prabu Haswapati bahwa calon menantunya ini hanya akan berumur setahun, dan mempersilahkan untuk mempertimbangkan kembali.  Sawitri juga diberitahu tentang hal ini.  Dia diminta untuk menmcabut pilihannya dan memilih peserta lain diluar Bambang Satyawan.  Tetapi Sawitri menolak.  Ketetapan hati dan kekuatan cinta telah membuatnya mantap mencintai dan meemilih Bambang satyawan kendati dia akan menjadi janda setahun lagi.

Bagaimanakah kisah selengkapnya?  Ikuti saja Lakon Sawitri Satyawan yang dengan manis dibawakan oleh sang maestro K Narto Sabdho berikut ini.  Untuk kompasiana, terima kasih illusstrasinya.

  1. Sawitri-Satyawan _01a
  2. Sawitri-Satyawan _01b
  3. Sawitri-Satyawan _02a
  4. Sawitri-Satyawan _02b
  5. Sawitri-Satyawan _03a
  6. Sawitri-Satyawan _03b
  7. Sawitri-Satyawan _04a

MP3 Wayang Kulit KI Narto Sabdho – Ramayana I (Sri Rama Lahir)

Sulit rasanya membuat synopsis lakon wayang yang dibawakan oleh Ki Nartosabdo.  Bukan pada jalan cerita, tetapi lebih pada darimana synopsis ini harus dimulai.  Dari cerita, mudah ditebak.  Kelahiran Sri Rama dalam rangkain epos besar Ramayana bukanlah cerita yang asing bagi anda. Bahkan jalan panjang Sri Rama sejak lahir, menikah dengan Dewi Shinta, dibuang ke hutan, Penculikan Shinta oleh Rahwana sampai Brubuh Alengka adalah cerita yang pasti sudah melekat dihati dan fikiran anda.  Tetapi menggelar cerita (semacam) banjaran sejak sebelum kelahiran Raden Rama sampai pembuangannya ke hutan, bukanlah kerja gampang.  Tapi begitulah Ki Nartosabdho.  Beliau tidak kehabisan cara untuk membuat cerita menjadi sedemikian menarik.  Belum lagi, banyaknya wewarah yang diberikan sang maestro hampir disepanjang cerita, sungguh merupakan karya brilliant yang layak diapresiasi.

Oleh karena itu, sengaja saya hanya akan mengulangi cerita kelahiran Sri Rama tersebut sebatas kemampuan saya.  Permohonan maaf perlu saya sampaikan jika ternyata dengan cerita ini justru akan mengecilkan keindahan cerita ini.

Dimulai dengan pasewakan agung Negara Ayodya. Prabu Sri Dasarata tengah tedhak siniwaka dihadap oleh para  nayakapraja diantaranya Patih Tamenggita dan Resi Wasista.  Nampak sang prabu tengan dirundung badra wirawan. Badra berarti rembulan dan wirawan berarti mendung.  Ibarat rembulan tertutup mendung Prabu Dasarata tengah dilanda kesedihan mendalam.  Kesedihan Sang Prabu ini disebabkan tak lain karena hingga saat ini beliau tak juga dianugerahi keturunan kendati telah mempunyai 3 orang isteri, semantara usia beliau semakin senja.  Siapa nanti yang akan meneruskan sejarah memegang kekuasaan di Ayodya adalah alasan utama kenapa Prabu Dasarata merasa sedih.

Ketika hal ini diungkapkan kepada Patih Tamenggita dan Resi Wasista, kedua nayaka andalan Ayodya ini, menyarankan agar Sang Prabu menenangkan diri, bertapa memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar segera diberikan putera dari ketiga permaisurinya.  Dilain fihak, ada sesuatu yang menarik untuk diceritakan adalah hubungan antara ketiga permaisuri Prabu Dasarata.  Isteri pertama Sang Dasarata adalah Dewi Sukasalya atau Dewi Ragu yang adalah isteri Begawan Rawatmaja yang tewas ditangan Prabu Dasamuka. Isteri kedua adalah Dewi Kekeyi.  Sedangkan Isteri ketiga adalah Dewi Sumitra.  Kendati dari luar nampak harmonis, tetapi pada dasarnya hubungan ketiganya sungguh jauh dari anggapan itu.  Terlebih Dewi Kekeyi yang memang memiliki watak kurang terpuji.

Terkabul permohonan prabu Dasarata. Setelah melakukan semedi Dewi Sukasalya atau Dewi Ragu mengandung.  Pada waktunya sang bayi lahir laki-laki, diberi nama Raden Regawa atau Raden Rama.  Begitu sayangnya Sang Prabu pada putera pertamanya sampai-sampai dia telah dibuatkan taman yang indah untuk menyenangkan calon putera mahkota itu.

Dewi Kekeyi merasa tidak suka atas kelahiran Regawa. Dia yang pada dasarnya memiliki watak iri dan dengki merasa tidak mendapatkan perhatian dari Sang Prabu atas lahirnya bayi yang lahir dari rahim Dewi Ragu. Dia berupaya sekuat tenaga untuk senantiasa untuk mendekati Sri Dasarata dan memohon agar jika pada saatnya dia berhasil mengandung putera Dasarata, nantinya diangkat menjadi Raja Ayodya.  Terbawa rasa cintanya yang begitu besar kepada Dewi Kekeyi,  Dasarata mengabulkan permohonan permaisuri yang iri hati ini.  Keputusan Dasarata inilah yang nantinya akan memicu permasalahn besar di Ayodyapala karena tak lama setelah itu Dewi Kekeyi mengandung.  Pada saatnya dari rahimnya lahir bayi laki-laki yang kemudian diberi nama Raden Barata.

Sungguh kenikmatan luar biasa dirasakan Prabu Dasarata.  Setelah sekian lama belum memiliki keturunan sekarang dua isterinya sudah melahirkan puteranya.  Kebahagiaan Raja Ayodyapala ini seakan sempurna, disaat isteri ketiganya yaitu Dewi Sumitra juga telah melahirkan putera laki-laki yang kemudian diberi nama Raden Lesmana Widagda atau Raden Sumitra Tanaya.  Tak hanya itu, dua tahun kemudia Dewi Sumitra melahirkan lagi seorang bayi laki-laki yang kemudian diberi nama Raden Satrugena.

Singkat cerita, keempat putera Dasarata telah dewasa.  Mereka tumbuh sebagai anak yang cerdas, sakti mandraguna dan berbudi pekerti luhur.  Hal inilah yang semakin membesarkan hati Prabu Dasarata. Sampai pada suatu hari, disaat pasewakan agung Negara Ayodya yang dihadiri oleh para priyagung dan para putera, datang seorang pertapa dari Hutan Dandaka yaitu Begawan Yogiswara dan Begawan Mitra.  Kedatangan mereka terdorong oleh adanya kerusuhan yang terjadi di desa sekitar Hutan Dandaka akibat tingkah para raksasa anak buah Prabu Dasamuka dari Alengka.

Sadar sebagai raja yang harus melindungi negaranya dari ancaman, maka Prabu Dasarata memerintahkan Prabu Rama dan Raden Lesmana untuk menuju ke Hutan Dandaka guna memusnahkan para perusuh yang mengganggu ketenteraman Negara Ayodya tersebut.

Dari sini cerita menjadi semakin menarik.  Karena Dasarata hanya memerintahkan Putera yang lahir Dewi Sukasalya dan Putera Dewi Sumitra.  Dia melarang ketika Barata ingin ikut Raden Rama Ke Hutan Dandaka.  Apakah semua ini ada hubungannya dengan janji Prabu dasarata kepada Dewi Kekeyi ketika itu? Kenapa Raden Lesmana yang harus ikut Raden Rama?  Bukankan Raden Satrugena si bungsu justru memiliki kesaktian luar biasa?  Jawabnya akan anda temukan setelah tuntas anda mendengarkan MP3 Wayang Kulit Ki Narto Sabdo dalam Cerita Ramayana I (Sri Rama Lahir) berikut ini. Selamat Menikmati.

  1. Ramayana I (Sri Rama Lahir)1a
  2. Ramayana I (Sri Rama Lahir)1b
  3. Ramayana I (Sri Rama Lahir)2a
  4. Ramayana I (Sri Rama Lahir)2b
  5. Ramayana I (Sri Rama Lahir)3a
  6. Ramayana I (Sri Rama Lahir)3b
  7. Ramayana I (Sri Rama Lahir)4a
  8. Ramayana I (Sri Rama Lahir)4b

KI Narto Sabdho – Bale Gala-gala

Ini adalah cerita monumental yang merubah perjalanan sejarah Pendhawa. Dari sinilah sumbu pendek perang besar Baratayudha itu disulut. Tak pernah terbayang, bahwa Pendhawa akan terlibat dalam konflik besar yang berdampak bukan saja kepada Para Pandhawa, tetapi pada keturunan Abiyasa secara keseluruhan.

Saya tertarik untuk memposting dan berbagi cerita dengan anda bukan semata karena menghormati Mas Edy Listanto dan Mas Santoso yang telah memberikan file ini kepada saya, akan tetapi juga berharap banyak untuk bersama anda membuka memori perjalanan sejarah darah barata, hingga memicu pertumpahan darah di Kurukhsetra.

Terlepas dari sesuatu yang namanya takdir, lakon buruk Pendhawa yang harus dibuang 13 tahun di hutan ditambah bersembunyi 2 tahun, tak bisa dilepaskan dari keputusanya menerima tantangan bermain dadu yang dilanjutkan bergembira diluar batas di Bale Gala-gala. Sebuah tempat yang oleh Kurawa di setting sedemikian rupa, sehingga mudah terbakar. Tujuannya jelas, yaitu memusnahkan putra-putra Pandu buat selama-lamanya. Bagi Kurawa, Pendawa adalah penghambat bagi upayanya menguasai Negara Asitinpura. Oleh karena itu, Patih Sengkuni (paman kurawa) menggunakan berbagai cara untuk menyingkirkan Pandhawa.

Langkah licik Patih Sengkuni sebagai tokoh intelektual dibalik konflik besar ini bukan tanpa alasan. Dia merasa khawatir Kurawa tidak akan pernah merasakan kenikmatan Negara Astina. Bagaimana tidak? Sejak awal Adipati Destarata tak hendak menyerahkan Negara Astina kepada Kurupati dan adik-adiknya tetapi akan dikembalikan kepada keturunan Pandhudewanata, yaitu Yudistira dan adik-adiknya. Semua punggawa Astina, termasuk Resi Druna menyetujui rencana ini. Kurupati yang masih lugupun tak merasa hal ini sebagai sebaua ancaman. Tapi tidak demikian dengan Dewi Gendari dan Patih Sengkuni. Dari sinilah Ki Nartosabdho secara teliti memulai Lakon “pakem” Bale Gala-gala.

Adipati Destarata mengingatkan lagi, ketika berlangsung Perang Pamuksa, perang besar antara Astina dengan Pringgondani yang menjadi penyebab gugurnya Prabu Pandhudewanata. Disaat terakhir meninggalnya Raja Astinapura itu, dia berpesan kepada Adipati Destarata tentang dua hal yaitu, menitipkan kelima anaknya dan Pusaka Sakti yang dimilikinya, yaitu Minyak Tala untuk diserahkan dikemudian hari kepada Pandhawa dimemudian hari jika sudah dewasa. Destarata menunggu Prabu Pandhu mengamanatkan bagaimana dengan Negara Astina tapi tak kunjung terucap. Akhirnya, Destarata menanyakan bagaimana dengan Negara Astina. Diluar dugaaan, Pandhu menyerahkan sepenuhnya kepada kebijakan Adipati Destarata.

Misalkan Desatarata mau bertindak serakah, bisa saja dia menyerahkan Negara Astina Kepada anak-anaknya, tetapi tidak. Dia harus bertindak bawaleksana, tidak ingkar janji. Dia berniat menyerahkan Astina kepada Pendhawa, karena merekalah yang mempunyai hak Negara beesar ini. Selain itu, kegagalan membagi Minyak Tala pada lakon Pendhawa Dhadu, semakin meneguhkan tekad Destarata untuk secepatnya menyerahkan Negara Gajahoya kepada yang memilki hak, yaitu Pendhawa. Tapi tidak demikian dengan isteri dan adik iparnya, Dewi Gendari dan Patih Sengkuni.

Membicarakan Dewi Gendari, ada sesuatu yang menarik. Bukan dari latar belakang keluarga dan proses menikahnya dengan Destarata, tetapi dari tindakan setelah dia menikah dengan kakak Prabu Pandhudewanata ini. Sejak diperisteri Adipati Destarata, Dewi Gendari menutup matanya dengan kain sehingga benar-benar tidak bisa melihat terangnya cahaya dunia. Hal ini bisa doimaknai sebagai bentuk kesetiaannya kepada sang suami yang tuna netra.

Tetapi, ada juga yang memaknai Dewi Gendari sebagai wanita yang sengaja “membutakan diri” terhadap keadaan. Seharusnya dia mengetahui kepada siapa Negara Astina harus diserahkan. Tetapi Gendari menutup mata terhadap hal itu, dia membuta (tuli) terhadap kebenaran demi kepentingan diri dan keluarganya. Entahlah!!! Yang pasti Ki Nartosabdho menceritakan watak Gendari sebagai orang ketiga yang berada di belakang Destarata sehingga beberapa kali salah dalam mengambil keputusan. Bahkan, sampai keputusannya memanggil Pendhawa untuk dikumpulkan di Bale Gala-gala.

Bale Gala-gala pada awalnya dibrancang oleh Adipati Desatarata untuk menyambut kehadiran Pendhawa dan Dewi Kunthi, guna menerima penyerahan Negara Hastinapura. Akan tetapi ditangan Sengkuni dan Dewi Gendari, ceritanya menjadi lain. Rencana ini justru menjadi awal perjalanan panjang putera-putera Pandhu dalam merebut kembali haknya atas Negara Astina, Inderaprastha dan jajahannya. Bale Gala-gala menjadi sarana bangkitnya Pendhawa menunju kedewasaan dan kesempurnaan. Ki Nartosabdo dengan sangat gamblang mengupasnya.

Diluar aspek cerita, hasil ripping kang Edy benar-benar luar biasa. Bening dan hampir tanpa noise. Salut kang!!! Padahal sepanjang yang beliau ceritakan kepada saya, kang Edy Listanto menggunakan software gratisan :)

Anda ingin membuktikan? Mangga silahkan!


KI Narto Sabdho – Wahyu Makutharama

Selain Wahyu Tohjali, Wahyu Makutharama adalah salah satu lakon wahyu yang cukup popular dan banyak dipentaskan.  Lakon ini diminati banyak orang karena memiliki nilai filosofis yang tinggi, disamping menarik secara historis.  Setahun lalu saya pernah memposting lakon yang sama dengan dalang Ki H Anom Soeroto namun demikian karena menarik, lakon ini saya upload lagi.  Kali ini dibawakan oleh Ki Narto Sabdho.

Ketika Mas Edy memberikan link ini untuk saya unggah, saya sempat ragu.  Pertama, blog ini pernah menampilkan Wahyu Makutharama dengan dalang Ki H Anom Soeroto sekalipun dengan kualitas suara yang pas-pasan karena hanya direkam dari siaran radio.  Kedua, Mas Edy Listanto lewat blognya dan Mas Prabu lewat wayangprabu juga pernah mengupload lakon yang sama.  Tetapi penjelasan dosen kita bahwa lakon ini direkam dari pertunjukan langsung (live) membuat saya bersemangat untuk download dan memposting utnuk bias anda nikmati pula.

Jika rekaman para dalang muda kebanyakan yang sekarang beredar dan diminati banyak berasal dari pertunjukan langsung karena limbukan dan gara-gara mendapat porsi khusus yang relatif panjang lengkap dengan dagelan dan penyanyinya, tidak demikian dengan dengan Pak Narto dan beberapa dalang lain yang sudah almarhum.  Warisan mereka sebagian besar berasal dari rekaman studio.  Maka ketika ada kaset yang merekam pertunjukan langsung (live show)nya, sungguh merupakan hal yang istimewa.  Dan, benar saja.  Ketika saya mulai mendengarkan rekaman ini, nuansa alamiah segara terasa menyengat.

Bagi telinga anak-anak kita, barangkali life show terasa agak “menjengkelkan”.  Betapa tidak? Ketika talu dan jejer suara anak-anak bermain sambil nonton wayang sangat mendominasi.  Tak hanya itu, suara feedback dari sound system jadul yang ngang-nging mengalahkan suara gender dan rebab yang cuma sayup-sayup.   Teriakan khas nakak-anak yang terekam tadi mengingatkan saya ketika nonoton wayang 30 tahun yang lalu. Tapi tenang saja, setelah limbukan sebagian besar dari mereka sudah akan tertidur beralaskan jerami disela-sela gamelan.  Rekaman akan terlihat lebih jernih.  Maka mendengarkan lakon yang kali ini saya unggah jangan hanya dengan telinga saja, pakailah hati :)

Wahyu Makutharama, personifikasi dari kenteraman, sebuah anugerah Tuhan yang merupakan muara dari kehidupan.  Ya, apalagi yang dicari dalam kehidupan ini selain ketenteraman.  Kekayaan, kekuasaan dan kehebatan phisik tak lagi ada artinya apabila ketenteraman tak pernah singgah di hatinya.  Maka ketika ada isyarat dari dewa akan turunnya Wahyu Makutharama, membangkitkan semua orang untuk bisa mendapatkannya.

Prabu Duryudana sungguh merasa bersemangat, ketika mendapatkan “wangsit” lewat mimpinya, bahwa dewa akan menurunkan Wahyu Makutharama.  Wahyu katentreman yang akan menjadikan siapa saja merasa tentram dan lestari memegang kekuasaan apabila mendapatkannya. Tak hanya itu, Duryudana juga mendapatkan isyarat tentang tempat dimana wahyu itu akan diturunkan.  Masalahnya hanyalah waktu.  Oleh karenanya dia bertekad untuk nggayuh Wahyu Makutharama, demi melanggengkan kekuasaan yang saat ini sudah ditangannya.

Upaya ini ditentang oleh Pandhita Durna.  Duryudana adalah raja besar yang memiliki kekuasaan tanpa batas yang memungkinkan untuk melakukan hamper semua hal, termasuk mendapatkan wahyu Makutharama.  Dia mengusulkan agar Adipati Karna mewakili untuk ke Gunung Kutharunggu menantgi turunnya wahyu Makutharama.

Sekali lagi, Ki Nartosabdo memberikan ilustrasi betapa besar loyalitas seorang Adipati Karna.  Sebagai ksatria yang ditubuhnya mengalir darah dewi kunthi, karna faham betul betapa sangat tidak mungkin mendapatkan anugerah tuhan dengan cara mewakilkan kepada orang lain, meski dia seorang raja.  Dalam kapasitasnya sebagai nayaka praja, dia sudah menyampaikan hal ini kepada Duryudana,. Tetapi atas bujukan Sakuni dan Durna, Duryudana tetap pada pendiriannya untuk mewakilkan Adipati Karna melacak dan mendapatkan Wahyu Makutharama.  Sebagai seorang prajurit yang menjunjung tinggi loyalitas kepada pimpinan, Karna tetap berangkat dan melaksanakan tugas dengan sungguh-sungguh kendati dia sangsi akan keberhasilannya.

Kesungguhan Adipati Karna ini tidak hanya semu dan pura-pura belaka.  Dia menunjukkan kesetiaan seorang prajurit kepada rajanya dengan seluruh kemampuan yang dimilikinya.  Tak tanggung-tanggung, dia harus berhadapan dengan Hanoman dan kehilangan pusaka andalannya, Kunta Druwasa / Wijayandanu hanya untuk memenuhi harapan dan menjunjung tinggi titah Duryudana.  Padahal sema tahu, bahwa Kunta Druwasa adalah pusaka sakti yang tidak akan digunakan sebelum pereng Baratayudha.

Disamping, nilai-nilai kesetiaan, kesungguhan, dan komitment dalam lakon Wahyu Makhutharama yang direkam dari pertunjukan langsung disalah seorang “pengrawit” yang kebetulan juga seorang kepala desa, Ki Narto Sabdo tidak pernah lupa memberikan wewarah budi luhur yang selalu aktual sampai kapanpun.  Tidak ketinggalan serba sekilas tentang pengetahuan musik, gendhing dan paramasastra.

Nah, Selamat “menonton’ pertunjukan wayang dengan dalang KI Narto Sabdo dengan cerita Wahyu Makhutharama. Disini.

Ki Narto Sabdho, Gatutkaca Sungging

Setahun  lalu, saya mengupload file ini.  File MP3 yang saya peroleh dari hasil convert pita kaset sama sekali tidak bermutu, sementara  kaset aslinya sudah terlanjur say kembalikan.  Jadilah file Mp3 hanya menjadi beban di hardisk saya yang tak seberapa besar kapasitasnya.

Adalah Dr. Edy Listanto, seorang penggemar Ki Nartosabdho yang dengan telaten membenahi file tersebut hingga bisa “didengarkan”.  Dari file audio yang Cuma “krusak-krusek” sampai menjadi sebuah file yang cukup manis untuk bisa dinikmati.  Untuk hal ini, saya perlu secara khusus mengucapkan terima kasih kepadanya.

Beberapa waktu berselang, kita digelontor file MP3Ki Narto Sabdho dari banyak rekan.  Terlebih setelah Mas Prabu membangun blog Mengenang Ki Nartosabdo, sehingga praktis lakon dari sang maestro makin beragam saja.  Untuk lakon wayang kulit saja tak kurang dari 80 judul.  Belum lagi langgam, klenengan bahkan kethoprak.  Akibatnya, Gatutkaca Sungging yang meskipun kualitas suaranya sudah dipermak oleh Mas Edy, nyaris tak tersentuh.  Dari sinilah, timbul niat saya untuk kembali mengupload ulang Lakon Gatutkaca Sungging.

Cerita ini dimulai dari kegundahan hati Prabu Duryudana karena ulah Raden Gatutkaca yang membangun pesanggrahan di tepi barat Padang Kuruksetra.  Tindakan Raja Muda Pringgondani ini dianggap membahayakan posisi Prabu Duryudana, terlebih menghadapi perang Baratyuda.  Oleh karena itu, Duryudana menghdirkan Prabu Baladewa guna diminta bantuan menyingkirkan Gatutkaca atau setidaknya meneken ruang gerak putra Wrekudara ini.

Alih-alih mendapatkan bantuan dan dukungan dari Raja Mandura yang terkenal lugas Duryudana justru dipersalahkan dan dianggap tidak memiliki hak menghentikan Gatutkaca.  Pesanggrahan yang dibuat oleh gatutkaca tidak berada di wilayah teritorial Hastinapura sehingga Duryudana tak memiliki kewenangan mengehentikan Gatutkaca.  Tentusaja Prabu Duryudana kecewa (kalau tak boleh disebut marah) kepada Prabu Baladewa.  Tapi apa mau dikata, secara wibawa jelas Duryudana berada diu bawah Baladewa.

Pada saat bersamaan, datang seorang pendeta raksasa Begawan Nilayaksa.  Dia memiliki seorang anak yang menjadi raja di Keraton Hawiyat bernama Prabu Pawakadewa.  Hebatnya, Begawan Nilayaksa ternyata memiliki kesaktian dan pengetahuan yang tidak main-main.  Pada pertemuan awal saja, dia bisa mengetahui sejarah hidup semua yanng hadir di pasewakan.  Mulai dari Resi Durna, Prabu Baladewa dan Sangkuni.  Nilayaksa menyatakan kesanggupannya untuk membantu Duryudana.  Bakan saja menyingkirkan Gatutkaca tetapi juga mengawal Hastina menghadapi Baratayuda.  Pernyataan Nilayaksa ini tentu menyinggung banyak fihak .  Bukan hanya Baladewa yang tersinggung, tetapi juga Adipati Karna dan (bahkan) Pendhita Durna.

Ada dua syarat yang diajukan Nilayaksa, yaitu meminta menikahkan puteri Hastinapura yaitu Dewi Lesmanawati dengan putera sang Begawan, yaitu Prabu Dewa Pawaka.  Dan meminta tumbal “wong boga sampir” yaitu Ki Lurah Semar.  Duryudana menyanggupi syarat ini.  Maka segeralah diupayakan untuk menyingkirkan Gatutkaca dari pesanggrahannya di Padang Kurukhsetra.

Seperti biasa, mendengarkan pagelaran Ki Nartosabdo kita bukan saja disuguhi alur cerita yang runtut dan menarik tetapi juga mendapatkan banyak hal baru di dunia pewayangan dan budaya jawa pada umumnya.  Lihatlah pada jejer I.  Dari dialog antara Nilayaksa dengan Duryudana saja kita sudah disuguhi serba singkat sejarah dan perjalanan hidup Pendhita Durna, Baladewa dan Adipatikarna.  Oleh karena itu, membuat sinopsi dari cerita yang akan secara runtut dibawakan oleh Ki Narto Sabdho, sama saja akan melemahkan cerita yang sangat menarik ini. karenanya, langsung saja download file audio Gatutkaca Sungging berikut ini:

  1. Ki Nartosabdho, Gatutkaca Sungging_1a
  2. Ki Nartosabdho, Gatutkaca Sungging_1b
  3. Ki Nartosabdho, Gatutkaca Sungging_2a
  4. Ki Nartosabdho, Gatutkaca Sungging_2b
  5. Ki Nartosabdho, Gatutkaca Sungging_3a
  6. Ki Nartosabdho, Gatutkaca Sungging_3b
  7. Ki Nartosabdho, Gatutkaca Sungging_4a
  8. Ki Nartosabdho, Gatutkaca Sungging_4b
  9. Ki Nartosabdho, Gatutkaca Sungging_5a
  10. Ki Nartosabdho, Gatutkaca Sungging_5b
  11. Ki Nartosabdho, Gatutkaca Sungging_6a
  12. Ki Nartosabdho, Gatutkaca Sungging_6b
  13. Ki Nartosabdho, Gatutkaca Sungging_7a
  14. Ki Nartosabdho, Gatutkaca Sungging_7b
  15. Ki Nartosabdho, Gatutkaca Sungging_8a
  16. Ki Nartosabdho, Gatutkaca Sungging_8b

Ki Narto Sabdo, Alap-alap Setyaboma

  • Cerita   : Alap-alap Setyaboma.
  • Dalang : Ki Nartosabdo

setyaboma_solo

Didalam tradisi jawa (khusunya Surakarta) bulan Ruwah adalah bulan baik untuk menyelenggarakan hajatan.  Maka seperti kebanyakan orang-orang, sayapun jagong pada hari itu.  Tapi karena padatnya undangan saya baru sempat datang sore hari selepas magrib.  Dan setelah mampir-mampir malem minggon, saya sampai dirumah jam 21.00 WIB.

Sesaat setelah istirahat saya putar radio.  Terdengar suara yang sangat saya kenal; Ki Narto Sabdo.  Sebagaimana anda tahu, bahwa radio sekarang jarang sekali yang bisa menangkap gelombang AM sementara siaran mBah Narto tadi dipancarkan melalui Gelombang AM.  Dan lebih buruk lagi, radio ini jika di connect ke komputer mbengung.  Siaran yang tadinya terdengar, langsung hilang.

Pendita DurnaKarena saya tak mau kehilangan moment ini, maka saya harus mencari jalan untuk bisa merekam siaran ini bagaimanapun caranya.  Bisanya, saya akan langsung menghidupkan komputer dan menyalakan Radio FM yang sudah patent connect dengan komputer.  Tapi karena kali ini radio itu tak bisa berperan, maka tak ada jalan lain, saya akan rekam siaran ini langsung dengan compo ini ke pita kaset untuk selanjutnya baru di convert ke digital.  Meski harus dengan 2 langkah, akan tetapi untuk lakon wayang KI Nartosabdo, bagi saya adalah harga yang layak dibayar.  Masalah muncul lagi ketika saya harus menemukan kaset yang cukup berkualitas untuk bisa merekam wayang kulit ini dan itu tidak gampang.  Saya hanya melihat 1 buah kaset yang kebetulan terpasang di compo. Maka tanpa mempertimbangkan apa isi kaset itu, langsung saja saya tekan tombol record.  Sementara kaset yang ternyata George Michael itu berputar saya berfikir untuk menemukan paling tidak  1 kaset lagi untuk nyambung agar saya punya kesempatan untuk merekamnya dalam format digital lewat komputer dan syukurlah saya menemukannnya meski tak terlalu bagus. Akhirnya secara estafet saya rekam kaset wayang kulit yang ternyata Alap-alap Setyoboma.

Semula proses ini berjalan sangat lancar, sampai ketika “kecelakaan”  terjadi. Pada setengah jam terakhir, saya lupa bahwa kaset tadi sudah saya balik.  Artinya, side B yang harusnya menjadi file no 12, tertindih dan hilanglah 30 menit  terakhir cerita ini.  Apakah ini mengurangi nilai dan maknanya?  Bagi saya tidak.  Karena saya sudah mendengarkan lengkap, tapi bagi anda pasti lain ceritanya.

Kendati saya harus menerima kenyataan bahwa hasil rekaman ini jauh dari kriteria cukup, tapi paling tidak (meski tidak lengkap) saya masih bisa mengeloleksi karya seniman besar ini.  Mohon maaf untuk semuanya.

Cerita ini berawal dari keinginan Pendita Durna untuk menikahi Putri Prabu Setyajid, Raja Lesanpura yaitu Dewi Setyoboma.  Patih Sengkuni yang mendapatkn tugas melamar Dewi Setyaboma melapor kepda Prabu Duryudana, bahwa Prabu Setyajid belum bisa menerima tetapi juga tidak menolak lamaran Pendita Durna, akan tetapi meminta waktu 7 hari guna membicarakan dengan Dewi Setyaboma.

Prabu KresnaAlasan Pendhita Durna melamar Setyoboma adalah ingin memperkuat posisi Astina dalam menghadapi Perang Baratayuda, mengingat adik Setyaboma yaitu Raden Setyaki adalah seorang ksatria yang sakti sehingga bisa diharapkan membantu Astina.  Selain itu, keberadaan Prabu Setyajid yang sangat dihormati oleh Pandawa diharapkan bisa menimbulkan rasa sungkan para pPandhawa untuk melawan Kurawa.  Terdorong oleh rasa cinta dan percaya diri yang tinggi, maka Pendita Durna berikut para Kurawa datang ke Lesanpura untuk melangsungkan pernikahan.

Sebagaimana diketahui, bahwa pernikahan Pendita Durna dengan Seyaboma tidak pernah terjadi karena akhirnya Setyaboma menikah dengan Prabu Kresna.  Namun bagaimana jalan ceritanya?

Dengan penguasaan yang nyaris sempurna Ki Narto Sabdo membawakan cerita ini untuk anda nikmati.  Kendati seperti tadi saya katakan bahwa kualitas rekaman ini jauh dari sempurna, tetapi untuk bisa menikmati warisan Ki Nartosabdo, nampaknya semua kekurangan itu akan terabaikan.

Selamat mendengarkan.  File-filenya kami siapkan disini……………….

  1. Alap-alap Setyaboma1
  2. Alap-alap Setyaboma2
  3. Alap-alap Setyaboma3
  4. Alap-alap Setyaboma4
  5. Alap-alap Setyaboma5
  6. Alap-alap Setyaboma6
  7. Alap-alap Setyaboma7
  8. Alap-alap Setyaboma8
  9. Alap-alap Setyaboma9
  10. Alap-alap Setyaboma10
  11. Alap-alap Setyoboma11