Arsip Kategori: WAYANG KULIT

Edy Listanto & Imam B, (Tribute to Ki Nartosabdho)

Matahari belum sepenggalah, ketika pesan pendek itu saya terima.  Nomor itu juga yang telah masuk beberapa jam sebelumnya yang mengabarkan akan kehadirannnya di gubug saya dalam rangkaian tugasnya mengikuti Raker di Jogyakarta.  Dalam entry name saya, si pengirim pesan pendek itu tercatat sebagai Imam B, lelaki Garut yang mengenalkan saya pada jenis rekaman kaset Ki Nartosabdho versi Singobarong.  Ini adalah rekaman Ki Nartosabdho yang diambil secara langsung dari panggung pertunjukan, bukan di studio.  Apa bedanya?

Karena kesengsemnya pada Ki Nartosabdho sementara referensi tentang sang maestro itu sangat minim ditambah teknologi ketika itu tidak memungkinkan untuk mendokumentasikan pentas Ki Nartosabdho, maka rekaman “live” sungguh menjadi angan-angan “pendengar” yang ingin “menonton”  Ki Nartosabdho.  Adalah PT Singobarong yang melihat peluang itu dengan membuat rekaman pertunjukan langsung Ki Nartosabdho.  Sekarang, disaat orang tak lagi telaten dengan kaset pita, jadilah Nartosabdho versi Singobarong menjadi sedemikian sulit didapatkan.

Berbicara mengenai Ki Nartosabdho, selain Mas Imam B, rasanya tak bisa saya melupakan nama Edy Listanto, pakar teknologi pertanian IPB yang ditengah tugas akhirnya meraih doktor masih saja menyempatkan diri berkutat dengan gulungan pita kaset magnetik dalam upayanya “menyelamatkan” warisan Ki Nartosabdho yang masih berserakan.  Kegandrungannya pada Ki Nartosabdho bukan saja diwujudkan pada upayanya mendigitalisasi kaset-kaset Mbah Narto saja, tetapi juga membangun blog tentang dalang kondang ini di Edy Listanto’s Blog.  Lebih dari itu, dia juga merasa sangat nyaman berbagi bandwidh melalui radio online yang secara rutin menyiarkan wayang kulit dengan Ki Nartosabdho sebagai dalangnya.

Dia adalah pemrakarsa (jika tak boleh disebut perintis) digitalisasi Lakon Wayang Ki Nartosabdho.  Tak kurang dari 50 lakon telah ia upload online storage untuk kemudian di link ke berbagai blog.  Bagi sementara orang, apa yang saya tulis mengenai Mas Edy Listanto ini terasa berlebihan, tapi tidak bagi saya yang dalam dua tahun terakhir menghabiskan waktu minimal 3 jam sehari untuk berselancar di blog dengan konten Sastra Jawa.  Sehingga, saya mengatahui update file wayang yang bisa di download di berbagai blog yang sering menjadi “jujugan” pecinta Wayang Kulit MP3.  Sekarang -tanpa bermaksud jumawa- sebagian besar radio FM (Radio Publik Lokal RSPD) yang menyiarkan lakon wayang kulit KI Nartosabdho adalah hasil download dari file yang diconvert dan diupload Edy Listanto.  Saya bisa memastikan itu, karena “cacat yang dibawa oleh file Mas Edy” tak bisa dihilangkan oleh operator radio FM / SW.

Konkritnya, maksud hati ingin menyumbang file Ki Nartosabdho, saya pernah merekam siaran di sebuah radio swasta di Surakarta.  Belum lagi selesai talu, saya terganggu oleh suara yang saya kenal yaitu distorsi suara sinyal handphone dalam rekaman itu.  Saya ingat mas Edy pernah “kecelakaan” ketika merekam Pendhawa Boyong.  Ketika saya membuka file itu dan memutar bareng dengan siaran radio, yakinlah saya bahwa yang diputar itu adalah hasil download Edy Listanto’s Blog.  Setelah itu, berturut-turut siaran wayang kulit yang saya dengarkan tak pernah bergeser dari 50an lakon yang dimiliki Edy Listanto.

Kembali ke Mas Imam yang bermaksud mampir ke gubug saya beberapa waktu yang lalu.  Saat menyampaikan pesan pendek itu, Mas Imam sudah berada di Surakarta, itu artinya 30 menit lagi dia akan sampai ke gubug saya.  Gupuh saya pulang untuk menyambut kahadirannnya, tetapi setelah berputih mata baru 5 jam kemudian dia sampai dirumah saya.  Banyak yang kami perbincangkan waktu itu, tetapi semuanya tak jauh bergeser dari materi utama yang memang sudah lekat di hati kami.  Kami tak membicarakan berita aktual yang saat ini tengah gencar di siarkan media masa.  Kami hanya berbincang masalah wayang, wayang dan wayang.  Hanya itu seakan tak ada habisnya.  Selepas sholat ashar, saya mengantarnya kejalan tempat Avanza hitamnya diparkir.

Membicarakan dua lelaki ini (Mas Edy dan Mas Imam) rasanya timbul banyak harapan bahwa Lakon Wayang Ki Nartosabdho akan segera lunas terdigitalisasi.  Komitmen mereka untuk sekuat tenaga mengumpulkan lakon-lakon wayang yang bersumber dari pita digital patut diacungi jempol.  Mas Edy Listanto telah berhasil membuka akses ke Jakarta, Semarang dan Yogyakarta, sementara Mas Imam telah membuka gembok di Lokananta Surakarta, dan stasiun radio di seantero Jawa Timur.  Entah berapa judul yang berhasil masuk entry listnya.  Masalahnya adalah : Jer Basuki Mawa Bea.

Saya yang sering bermain dengan acara convert kaset magnetik ke digital bisa merasakan kesulitan itu.  Jika kaset bekas, sebagian besar lakon pasti tidak lengkap.  Belum lagi masalah teknis lain yang melekat pada permasalahan barang bekas (mbundhet, nglokor, macet, jamuren dan sebagainya).  Alhasil,  perhitungan matematika tak akan pernah bisa gatuk jika dihitung satu kaset membutuhkan waktu 1 jam.  Katakanlah, setelah dikurangi ganngguan khas kaset bekas, 2 jam untuk 1 kaset.  Itu artinya, 1 lakon (8 kaset) dibutuhkan waktu 16 jam.  Wwuiiih…..!!!!

Jika kebetulan menemukan kaset “baru” (maksudnya kaset itu belum pernah diputar, karena sebaru apapun kaset wayang kulit, pasti produk yang seudah cukup berumur) harganya mencapai Rp. 20.000,- per kaset.  Artinya, untuk 1 lakon harganya Rp. 160.000,-.  Dalam katalog yang dikeluarkan Lokananta yang saya lihat di sebuah toko kaset di Surakarta, perusahaan ini telah merekam 142 judul Lakon Wayang Kulit Ki Narto Sabdo.  Untuk Fajar Record merekam 97 lakon sedang Singobarong tidak diketahui.  Katakanlah Lokananta dan Fajar merekam Lakon yang sama, sementara saat ini sudah 60 lakon yang dimilki Mas Edy dan Mas Imam, berarti masih 80 lakon lagi yang belum terdeteksi.  Jika 1 lakon harganya 160.000,- maka harus ada Rp. 12.800.000.  Sedang waktu convert jika dihitung adalah 80 lakon X 8 kaset X 1 jam = 640 jam.  Toblasss………..!!!!!.

Bandingkan dengan format digital.  Jika file itu sudah dalam bentuk digital 1 kaset yang berdurasi 1 jam, dengan format MP3 4400khz 128 kbps, rata-rata berukuran 40 MB. Maka 640 kaset yang berdurasi 640 jam akan berbobot 25600 kb atau 2,56 GB.  Dengan komputer standard didukung oleh akses internet yang relatif stabil, tak butuh waktu semalam untuk ngunduh file sebesar itu.

Seperti juga saya, tentu saja Mas Edy dan Mas Imam tak akan mau terjebak dalam hitung-hitungan konyol semacam itu.  Yang  dilakukan hanyalah semaksimal mungkin ndudah warisan mbah Narto yang peta serta kuncinya sudah berada di tangan.  Tinggal keberanian untuk segera memulai ekspedisi “memburu harta karun”. Mereka perlu sponsor untuk ekspedisi itu!!!

Komitmen

Boleh jadi Mas Edy memiliki weton Rebo Pahing :) yang konon memiliki watak panasbarang, laku srengenge!.  Berkemauan keras, lugas (cenderung galak), ingin semua pekerjaan cepat selesai, berani ambil resiko dan ora wegahan! Terbukti (meminjam istilah dhalang) laki-laki ini seakan tak mau “kelangan ngeng” segera mengambil langkah.

Jiwa akdemisinya berjalan seiring dengan naluri agrarisnya yang kental.  Segera dia berkoordinasi dengan beberapa rekan (dalam hal ini Mas Prabu, Mas Imam, Mas Widjanarko, Mas Handoko dan entah berapa orang lagi).  Dirasa dia sudah cukup persiapan segera mengambil tindakan dengan target Rp.1.000.000,- untuk langkah awal dan hebatnya 75% sudah didepan mata dalam hitungan hari.

Hal ini terwujud selain kerja keras mas Edy dan Mas Imam, juga rasa peduli rekan-rekan lain yang (mungkin membayangkan itung-itungan antara mengrekam dengan mendownload  :) merasa terenyuh dengan tekad dan komitmen kedua lelaki ini.  Meski tak saling mengenal orang-orang yang di kontak Mas Edy via facebook dan add comment di blog telah menyatakan kesanggupannya.

Jujur saja, terus terang, ora tedheng aling-aling, aling-aling tedheng……… Postingan ini dibuat dengan harapan semakin memperluas jangkauan komitmen untuk siapapun yang simpati dengan langkah yang diambil Mas Edy dan Mas Imam.  Jika Mas Edy (mungkin karena Rabu Pahingnya itu) menentukan “ancer-ancer nominal”  kepada rekan-rekan yang dikontaknya, maka saya merasa tidak perlu menentukan.  Jika anda peduli, berapapun jumlahnya akan sangat bermanfaat untuk rekan-rekan yang secara sukarela berkeringat menyisakan waktu, tenaga, bandwidh, setrum PLN, kipas angin (saya yakin sumuk banget) dan lan-lain sehingga pada akhirnya kita akan temukan Lakon Wayang Nartosabdho yang bisa diunduh oleh siapapun, secara gratis dalam jumlah yang relatif lengkap

BERAPAPUN JUMLAHNYA AKAN DIMANFAATKAN SECARA OPTIMAL. DAN INSYA ALLAH TIDAK AKAN DISALAH GUNAKA.

SILAHKAN KIRIM KE BRI Cabang Garut, Jawa Barat NOMOR REKENING 0025-01-037750-50-5 An . Imam Bashori.

Mohon maaf, dan terima kasih!

Nah, berikut ini aalah Wayang Kulit dengan format MP3 oleh Ki Narto Sabdo yang bisa anda download dan nikmati

  1. Gatutkaca Sungging
  2. Suteja Takon Bapa
  3. Alap-alap Setyaboma
  4. Kresna Duta versi Singo Barong
  5. Pendhawa Ngenger
  6. Banjaran Arjuna II
  7. Abimanyu Krama
  8. Pendhawa Nugraha
  9. Alap-alap Dewi Sukeksi
  10. Pamuksa (Pandhu Gugur)
  11. Gatutkaca Nagih Janji
  12. Banjaran Drona
  13. Babad Wanamarta
  14. Pandhawa Gubah
  15. Gatutkaca Wisudha
  16. Abimanyu Gugur
  17. Banuwati Janji
  18. Arjuna Wiwaha
  19. Bambang Partadewa
  20. Bima Suci
  21. Pandhawa Boyong
  22. Parikesit Grogol
  23. Semar Kuning
  24. Bale Sigala-gala
  25. Bambang Sakri Krama
  26. Banjaran Arjuna 1
  27. Banjaran Drona
  28. Banuwati Janji
  29. Anoman Obang
  30. Anoman Swarga
  31. Dasamuka Lena
  32. Gatutkaca Nagih Janji
  33. Banjaran Bisma
  34. Bima Kelana Jaya (Banjaran Bima)
  35. Bima Bungkus
  36. Dewa Ruci
  37. Karno Tanding
  38. Lahire Gatutkaca
  39. Pamuksa (Pandhu Gugur)
  40. Pandhawa Gubah
  41. Pandhawa Ngenger
  42. Sawitri
  43. Rama Tambak
  44. Salya & Suyudana Gugur
  45. Sayembara Menthang Langkap
  46. Wiratha Parwa
  47. Semar mBarang Jantur
  48. Samba Juwing
  49. Sudamala
  50. Sumantri Ngenger
  51. Wahyu Sri Makutharama
  52. Narasoma (Banjaran Salya)
  53. Kresna Duta
  54. Banjaran Karna
  55. Gara-gara I
  56. Gara-gara II

Ki Manteb Sudarsono, Bratasena Maguru

Inilah satu lakon yang mengandung nilai filosofis yang sudah membumi di masyarakat jawa, Manunggaling Kawula lan Gusti.  Sebuah konsep tauhid “versi kejawen” yang berupaya membeberkan siapa “sejatine aku” dimata sang Khalik dan sebaliknya keberadaan Tuhan dilihat dari pengertian “aku”.  Apakah aku berada pada “wilayah Gusti” atau “Gusti yang berada dalam “diriku” adalah pertanyaan mendasar yang seringkali menjadi area pertentangan yang tak berujung untuk mengejawantahkan  konsep Manunggaling kawula Gusti.

Dalam tokoh pewayangan, hanya Wrekudara yang berhasil menerima kawruh “sangkan paraning dumadi” esensi dari konsep tauhid dalam filsafat kejawen.  Menurut saya ini adalah laokn carangan yang betul-betul bersumber dari jawa karena Bratasena maguru berupaya mengedepankan nilai esensial dari “ruh” budaya jawa itu.  Tentunya saya tak hendak mengulas lakon ini karena sebagian besar dari anda pasti sudah sangat mengenal jalan ceritanya.  Akan tetapi Bratasena maguru ditangan Manteb Sudarsana terasa lebih “cair” dan gampang dimengerti.

Coba bandingkan dengan Dewa Rucinya Ki Narto Sabdo.  Pesan yang disampaikan terasa lebih ringan kendati kita menyadari bahwa pesan “sangkan paraning dumadi” terasa sangat sulit dicerna (paling tidak oleh saya yang sekian lama hidup dialam logika praktis) yang nyaris lupa bertutur dalam format budaya dan filosofi kejawen.

Tidak banyak yang saya ulas untuk lakon ini.  Silahkan nikmati, ambil isinya dan temukan “sejatine aki ki sapa?”

  1. Ki Manteb Sudarsono, Bratasena Maguru_01A
  2. Ki Manteb Sudarsono, Bratasena Maguru_01B
  3. Ki Manteb Sudarsono, Bratasena Maguru_02A
  4. Ki Manteb Sudarsono, Bratasena Maguru_02B
  5. Ki Manteb Sudarsono, Bratasena Maguru_03A
  6. Ki Manteb Sudarsono, Bratasena Maguru_03B
  7. Ki Manteb Sudarsono, Bratasena Maguru_04A
  8. Ki Manteb Sudarsono, Bratasena Maguru_04B
  9. Ki Manteb Sudarsono, Bratasena Maguru_05A
  10. Ki Manteb Sudarsono, Bratasena Maguru_05B
  11. Ki Manteb Sudarsono, Bratasena Maguru_06A
  12. Ki Manteb Sudarsono, Bratasena Maguru_06B
  13. Ki Manteb Sudarsono, Bratasena Maguru_07A
  14. Ki Manteb Sudarsono, Bratasena Maguru_07B
  15. Ki Manteb Sudarsono, Bratasena Maguru_08A(tamat)

MUNGKIN ANDA ORANGNYA

Ki Manteb Sudarsono. Pandhawa Sanga (Anoman Maneges)

Setelah agak lama vakum (mungkin baru teteki), lelaki ganteng ini tiba-tiba mak bedunduk muncul lagi.  Dia adalah Mas Bambang Supriyadi satu dari banyak rekan yang peduli pada blog sederhana ini dan dengan keterbatasan waktu yang dimiliki, menyempatkan waktu untuk convert kaset dan upload file wayang.  Saya bisa membayangkan betapa dengan kesabaran dan ketulusannya meski dibayangi bandwidh yang terbatas berhasil upload Wayang Kulit Ki Manteb Sudarsono yang kali ini menampilkan Lakon Pendhawa Sanga, salah satu lakon “wingit” yang hanya dalang tertentu berani menggelar.  Beruntung sekali blog ini bisa menampilkkan lakon ini untuk anda.

PANDHAWA SANGA (ANOMAN MANEGES)

Oleh Bambang Supriyadi

Setelah berhasil membentuk “Pandhawa Pitu” Pandhawa bermaksud mempererat dan pemperluas tali Persaudaraan dengan membentuk manunggaling “Pandhawa Sanga” yang terdiri dari Puntadhewa, Bima, Harjuna, Nakula, Sadewa  Baladewa, Kresna, Setyaki dan Hanuman.

Namun keinginan yang mulia itu ternyata menghadapi banyak hambatan dan tantangan. Yang pertama datang dari Prabu Baladewa yang berpendapat bahwa tidak sepatutnya Hanuman yang hanya berupa Kera menjadi anggota “Pandhawa sanga”. Yang berikutnya hambatan datang dari para Kurawa khususnya Pandhita Durna yang menuduh bahwa para pandhawa akan memperbanyak sekutu untuk menghadapi perang Bharata Yudha, dengan suruhan murid barunya Ratu Raksasa yang bernama Prabu Sukmo Lawung bermaksud menggagalkan terbentuknya Pandhawa Sanga……

Di sini Semar dan Hanuman sebagai pamonge pandhawa benar-benar mendapat tantangan untuk mencairkan suasana yang semakin keruh dan rumit.

Simak selengkapnya bersama Ki H. Manteb Sudharsono diiringi oleh sanggar karawitan Bima, pagelaran ini direkam pada saat pentas terbuka (live) namun demikian kualitas suara bagus, dapat kita dengar jelas dan kita nikmati suara Rebab, Siter dll.

  1. Ki Manteb Sudarsono, Pendhawa Sanga_1a
  2. Ki Manteb Sudarsono, Pendhawa Sanga_1b
  3. Ki Manteb Sudarsono, Pendhawa Sanga_2a
  4. Ki Manteb Sudarsono, Pendhawa Sanga_2b
  5. Ki Manteb Sudarsono, Pendhawa Sanga_3a
  6. Ki Manteb Sudarsono, Pendhawa Sanga_3b
  7. Ki Manteb Sudarsono, Pendhawa Sanga_4a
  8. Ki Manteb Sudarsono, Pendhawa Sanga_4b
  9. Ki Manteb Sudarsono, Pendhawa Sanga_5a
  10. Ki Manteb Sudarsono, Pendhawa Sanga_5b
  11. Ki Manteb Sudarsono, Pendhawa Sanga_6a
  12. Ki Manteb Sudarsono, Pendhawa Sanga_6b

Admin: mewakili rekan rekan sutresna budaya wayang kulit, saya menyampaikan usapan terima kasih dan penghargaan uyang setinggi-tingginya kepada Mas Bambang Supriyadi yang telah berkenan melengkapi koleksi Wayang Kulit Ki Manteb Sudarsono.  Ditunggu untuk lakon-lakon selanjutnya…………

Ki H Anom Suroto, Durna Gugur

  • Lakon wayang : Durna Gugur (Seri Baratayudha)
  • Dalang  : Ki H Anom Suroto
  • Sumbangan : Mas Jarot Riyanto
  • File : MP3 /4400 khz/12bkbps/16 file

 

Sekali lagi, bukti kecintaan rekan saya pada blog ini.   Mas Jarot Riyanto, yang disela kesibukannnya sebagai Ahli Ilmu Tanah, masih berkenan menyempatkan diri mengupload lakon Durna Gugur, Satu dari Seri Baratayudha yang dikemas dengan sangat menarik oleh dalang kondang KI H Anom Suroto.

DURNA GUGUR

Oleh : Jarot Riyanto

Durno Gugur adalah masih serial Baratayuda, yang menceritakan perang besar antara Astina dan Pandawa.  Dalam serial kali ini Ki Dalang Ki H.Anom Suroto membawakan cerita yang cukup menarik dimana diceritakan bagaimana perjuangan Pandito Durno sebagai Guru Kurawa Astina sekaligus Pandawa harus menunaikan kewajiban sebagai senopati perang untuk menumpas Pandawa.

Sebagai pembuka cerita dikisahkan tentang kesuksesan Adipati Karno yang telah berhasil membunuh Gatotkaca, sehingga menimbulkan amarah yang besar Werkudoro sebagai ayahnya.  Hal ini mendorong Bomowikoto dan Joyowikoto yang dikenal dengan sebagi senopati kembang sepasang untuk menyanggupi menjadi senopati,yang akhirnya berhadapan dengan senopati dari pandawa yaitu Desto Jumeno dan Woro Srikandi.

Sementara itu Kumboyono atau Pandito Durno yang telah mendapat tambahan ilmu dari gurunya Romo Parasu, dengan cara melaksanakan topo mbisu, dimana dengan cara seperti itu Pandito Durno tidak dapat terlihat oleh siapapun.  Dengan tekat yang bulat akhirnya Pandito Durno menuju peperangan dengan terlebih dahulu menitip pesan supaya anaknya Aswotomo disembunyikan, dengan majunya Pandito Durno ke medan perang dengan menggunakan ajian Lare Manyuro membuat pasukan Pandawa kocar kacir karena tidak dapat melihat musuhnya, sehingga Prabu Kresno berupaya mencari ksatria yang dapat menandingi Pandito Durno.

Bagaimana kelanjutan cerita ini dapatkah senopati Kembang Sepasang yang sakti dapat menandingi Pandawa, dan siapa yang akan menjadi ksatria untuk melawan Durno serta bagaimana kehebatan dari masing pihak dapat anda  ikuti dalam serial yang dibawakan dengan baik oleh Dalang Ki H.Anom Suroto

  1. Ki H Anom Suroto, Durna Gugur 1a
  2. Ki H Anom Suroto, Durna Gugur 1b
  3. Ki H Anom Suroto, Durna Gugur 2a
  4. Ki H Anom Suroto, Durna Gugur 2b
  5. Ki H Anom Suroto, Durna Gugur 3a
  6. Ki H Anom Suroto, Durna Gugur 3b
  7. Ki H Anom Suroto, Durna Gugur 4a
  8. Ki H Anom Suroto, Durna Gugur 4b
  9. Ki H Anom Suroto, Durna Gugur 5a
  10. Ki H Anom Suroto, Durna Gugur 5b
  11. Ki H Anom Suroto, Durna Gugur 6a
  12. Ki H Anom Suroto, Durna Gugur 6b
  13. Ki H Anom Suroto, Durna Gugur 7a
  14. Ki H Anom Suroto, Durna Gugur 7b
  15. Ki H Anom Suroto, Durna Gugur 8a
  16. Ki H Anom Suroto, Durna Gugur 8b

Admin: Untuk Mas Jarot Riyanto

Mewakili para sutresna budaya wayang kulit, saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas semua jerih payah dan dedikasi anda.  Ditunggu untuk lakon-lakon yang lainnya!!!

Ki H Anom Suroto, Wahyu Tohjali

batara-guruBeberapa hari terakhir, perhatian publik tersita pada kasus “rebut benar” antara KPK dengan Polisi dan Kejaksaan.  Masing-masing mengusung bukti dan argumentasi yang kesemuanya tampak benar, tampak realistis dan anehnya tampak masuk akal. Mata saya yang awam, fikiran saya yang bebal serta nalar saya yang pendek benar-benar dibuat bingung yang bermuara pada ketidak mampuan saya untuk menganalisis kebenaran.  Akibatnya, saya mulai ragu dengan sesuatu yang bernama “kebenaran”, kendati saya sangat yakin bahwa kebenaran itu ada, kebenaran itu nyata dan sungguh suatu keniscayaan.  Tetapi sekali lagi, berhadapan dengan para akademisi, politisi dan praktisi yang memiliki kemampuan dan daya linuwih untuk “membuat kebenaran”, menjadikan kebenaran menjadi samar-samar dan sulit saya mengerti maknanya.

DewasraniBy The Way, Jauh sebelum Arjuna dilahirkan, para dewa sudah nggadhang-nggadhang pada saatnya nanti akan mendapatkan Wahyu Tohjali. Secara harfiah Tohjali berasal dari kata “toh” dan “jali”. Toh berarti pertaruhan atau jaminan, sedangkan jali merupakan akar kata dari “jalu” yang artinya anak.  Sehingga Tohjali dapat diartikan sebagai “jaminan untuk anak”.  Wahyu Tohjali adalah wahyu untuk menjamin kehidupan anak yanng diharapkan bisa menjadi generasi yang Qura’ta’ayuun.  Bahkan ketika Bethari Durga menghadap Bethara Guru, untuk meminta Wahyu Tohjali bagi Dewa Srani, anak lelakinya (yang konon merupakan akan hasil affairnya dengan Bethara Guru).  Bahkan demi mendapatkan Wahyu Tohjali, Bethari Durga sempat “ngundhamana” benthara Guru sebagai ayah yang tidak bertanggung jawab.

Batari DurgaKarena bujukan Bethari Durga, Bethara Guru berjanji untuk memberikan Wahyu Tohjali kepada Dewa Srani.  Hal ini tentu saja membuat para dewa, terutama bethara Narada  terhenyak mengingat sejak awal dan sesuai dengan suratan, Wahyu Tohjali diperuntukkan Bagi Arjuna.  Maka dengan kekuasaannya Bethara Guru mengerahkan semua potensi di Kahyangan Jonggring Saloka untuk memuluskan rencana merekayasa agar Wahyu Tohjali jatuh pada Dewa Srani.  Bethara Brama, Bethara Indra dan Bethara Bayu dilibatkan baik secara langsung ataupun tidak langsung dalam konspirasi tingkat tinggi untuk “mengebiri” dan mencari kesalahan Arjuna.  Tak hanya itu, Bethara Kala dan Bethari Durga pun dilibatkan dalam skenario besar dengan pembagian tugas yang terperinci.

Sebuah pertanyaan muncul, siapa yang sebenarnya yang memiliki kewenangan untuk menyerahkan Wahyu Tohjali?  Secara tegas, Bethara Guru mengatakan bahwa purbawasesa tentang Wahyu Tohjali sepenunya berada di tangan Sang Hyang Wenang.  Itu artinya, Bethara Guru merusaha untuk merekayasa agar secara hukum tindakan bathara guru menyerahkan Wahyu Tohjali kepada Dewa Srani dapat dibenarkan.

Langkah awal dan yang tampak didepan mata adalah melenyapkan Arjuna.  Maka Bathara Guru memerintahkan kepada Dewa Srani untuk membunuh Arjuna yang sedang bertapa di Gungung Harjuna.  Bethari Durga jelas tidak bisa menerima saran ini, karena jika bertempur secara terbuka Arjuna terlalu sakti untuk dikalahkan oleh Dewa Srani.  Akan tetapi ternyata Bethara Guru memberikan bantuan kepada Dewa  Srani baik secara fisik, teknis maupun finansial.  Sayangnya langkah ini tidak bisa dilaksanaan dengan mulus, mengingat Arjuna memiliki dukungan publik yang sangat besar dan trak record Arjuna selama ini dipandang sangat baik.  Arjuna telah memiliki banyak jasa dalam mengungkap dan menyelesaikan berbagai masalah di Kahyangan Jonggring Saloka.

Dan sungguh, pada akhirnya Arjunalah yang mendapatkan Wahyu Tohjali.  Dialah ksatria yang mampu menitiskan Raja Besar kelak dikemudian hari.  Akan tetapi pesan moral manakah yang bisa kita ambil dari Lakon Wahyu Tohjali ini?

Dewa –sekalipun memiliki kekuasaan yang sangat besar- pada hakikatnya hanyalah pemegang amanat dari Sang Hyang Wenang.  Jabatan “dewa” yang disandang Bethara Guru dan para mafiosonya adalah amanat yang harus dijalankan dengan penuh rasa tanggung jawab.  Dia hanyalah pelaksana kedaulatan dan kepercayaan dari Sang Hyang Wenang yang merupakan representasi dari kekuasaan hakiki, rakyat!  Membohongi rakyat dan menyalah gunakan kewenangan karena dirinya dewa, pada hakikatnya telah mengkhianati amanat dari Sang Hyang wenang.

KPK, Polisi, DPR, Jaksa dan lain sebagainya pada dasarnya adalah pemegang amanat dari Sang Hyang Wenang.  Entah siapa yang anda representasikan sebagai KPK, Polisi, Kejaksaan dan DPR itu tidak lagi penting.  Yang lebih penting adalah ada Arjuna yang telah menjadi korban konspirasi besar di Jongging Saloka untuk Wahyu Tohjali.  Tetapi bagaimanapun pada akhirnya kebenaran akan bicara meski tak bermulut.  Kebenaran akan melihat meski tak bermata.  Kebenaran akan mendengar meski tak bertelinga.  Karena kebenaran tetaplah kebenaran.  Ia adalah sebuaah keniscayaan.

Lupakan semua, biarkan mereka berebut benar, karena bukan mereka yang bisa mengatur Wahyu Tohjali, tetapi Wahyu Tohjalilah yang akan melekat pada kastria yang benar-benar berwatak bawa leksana. Maka lebih baik dengarkan saja  Lakon Wayang dalam Format MP3 dengan cerita Wahyu Tohjali oleh dalang KI H Anom Suroto.  Siapa tahu Wahyu Tohjali justru akan turun kepada anda, karena dimata Tuhan kita sama-sama memiliki hak untuk itu.

Download Wayang Kulit MP3 Wahyu Tohjali

  1. Wahyu Tohjali_01
  2. Wahyu Tohjali_02
  3. Wahyu Tohjali_03
  4. Wahyu Tohjali_04
  5. Wahyu Tohjali_05
  6. Wahyu Tohjali_06
  7. Wahyu Tohjali_07
  8. Wahyu Tohjali_08
  9. Wahyu Tohjali_09
  10. Wahyu Tohjali_10
  11. Wahyu Tohjali_11
  12. Wahyu Tohjali_12
  13. Wahyu Tohjali_13
  14. Wahyu Tohjali_14
  15. Wahyu Tohjali_15
  16. Wahyu Tohjali_16 (tamat)

Ki Narto Sabdho, Banjaran Arjuna 2

  • Wayang Kulit : Sumbangan Mas Suhandoko (Denpasar)
  • Lakon               : Banjaran Arjuna 2
  • Dalang              : Ki Narto Sabdho
  • File                     : MP3, 32kbps /44100 Khz/ 16 file a 16 mb

Raden ArjunaSuhandoko (Denpasar)Beberapa waktu yang lalu, Mas Suhandoko (Denpasar) menginformasikan pada saya bahwa beliau telah mengirimkan 3 keping CD yang terdiri dari 1 Lakon Wayang, 1 Cerita Lawak Jadul Warkop, dan beberapa judul ludruk  Kartolo CS yang terdorong oleh keinginannnya untuk berbagi, meminta kepada saya untuk memposting  di blog ini dengan harapan bisa dinikmati oleh lebih banyak para sutresna budaya.  Semua materi dalam CD tersebut sungguh sangat menarik sehingga saya sempat kesulitan, mana yang mesti saya posting lebih dahulu.  Dengan berbagai pertimbangan akhirnya saya putuskan untuk terlebih dahulu memposting KI Narto Sabdo dengan Lakon Banjaran Arjuna 2.

Berbeda dengan Lakon Banjaran yang di bawakan oleh Ki Nartosabdo yang biasanya selesai dengan sekali “tancep kayon”, lakon Banjaran Arjuna terdiri atas 2 seri masing-masing Banjaran Arjuna I dan Banjaran Arjuna 2.  Bajaran Arjuna I menceritakan kisah Arjuna sejak lahir sampai menjelang pernikahannnya dengan Dewi Brata Jaya.  Sedang Banjaran Arjuna II dimulai dari Arjuna menikahi  Dewi Brata Jaya sampai dengan Baratayudha.

Dewi Brata JayaMengulas cerita yang dibawakan Dalang Legendaris semacam KI Nartosabdo seakan menggelar sekian banyak kebaikan yang dirangkai secara runtut sejak talu sampai perang brubuh.  Hampir tak bisa deketemukan kelemahannnya.  Oleh karenanya pada postingan kali ini saya tak hendak mengulas materi pewayangan serta aspek-aspek teknis yang lain tetapi lebih menekankan pada cerita.

Cerita ini dimulai dengan kegelisahan Para pandawa ketika menanti kedatangan Dewi Kunti dari Negara Dwarawati dalam rangka melamar Dewi Brata Jaya untuk dinikahkan dengan Raden Arjuna.  Akan tetapi ternyata Dewi Kunthi Datang dengan membawa berita yang tidak menggembirakan.  Hal ini disebabkan persyaratan yang diajukan oleh Prabu Baladewa sungguh diluar dugaan Para Pandhawa.  Dewi Brata Jaya bersedia dipersunting oleh siapapun pria yang mampu menyediakan

  1. Pangarak temanten dari Amarta ke Dwarati harus naik Kereta Kencana yang ditarik kuda raksasa.
  2. Pesta penganten harus dilaksanakan di balai kencana yang “saka sak domas”
  3. Pengarak pengantin harus diiringi Gamelan Lokananta yang berbunyi di angkasa.
  4. Serah terima pengantin harus dilengkapi Kebo Ndanu 140 yang “ pancal panggung”
  5. Abon-abo Suralaya yang berupa kayu klepu dewa ndaru, kembar mayang, gedhang mas pupus cindhe, lombok, terong yang berisi mutiara
  6. Kereta harus dikemudikan oleh kera putih yang bisa menyanyi (ngidung) dan mampu beksa (joget)
  7. Dalam waktu tujuh hari semua persyaratan harus tersedia.  Jika tidak berhasil, maka lamaran De3wi Kunti ditolak.

Semula pendhawa menganggap bahwa persyaratan ini berari penolakan karena hampir semua unsur yang disyaratkan  hampir tak mampu di wujudkan.  Akan tetapi Resi Wiyasa memandang persyaratan itu justru menguntungkan Pendhawa, karena hampir semua syarat tadi dimiliki oleh Pandawa.

Yang menarik dari jawaban atas pertasyaratan tadi, ternyata selesai ditangan Semar dan Anoman, yang merupakan representasi dari Kawula Alit dan Rohaniwan.  Semar drekomendasikan oleh Abiyasa untuk dimintai pertimbangan sebagai simbol wong cilik. Sedangkan Anoman merupakan simbol manusia yang sudah “menep”.  Merekalah yang pada akhirnya mampu mnyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh para ksatria.

Seperti biasa, KI Narto Sabdo menyisipkan pengetahuan tentang sastra dan budaya jawa secara sangat proporsional ditengah dialog para tokoh yang dengan nyaman dapat anda ikuti.

Selengkapnya, kami persilahkan anda untuk menikmati salah satu karya besar dari seniman yang belum ada tandingannnya, Ki Narto Sabdho dalam Lakon Banjaran Arjuna II.  Selamat Menikmati……….

  1. Banjaran Arjuna 2_01
  2. Banjaran Arjuna 2_02
  3. Banjaran Arjuna 2_03
  4. Banjaran Arjuna 2_04
  5. Banjaran Arjuna 2_05
  6. Banjaran Arjuna 2_06
  7. Banjaran Arjuna 2_07
  8. Banjaran Arjuna 2_08
  9. Banjaran Arjuna 2_09
  10. Banjaran Arjuna 2_10
  11. Banjaran Arjuna 2_11
  12. Banjaran Arjuna 2_12
  13. Banjaran Arjuna 2_13
  14. Banjaran Arjuna 2_14
  15. Banjaran Arjuna 2_15
  16. Banjaran Arjuna 2_16 (tamat)

Barangkali diantara anda ada yang kurang familiar dengan 4shared, maka pucuk dicinta  ulam tiba Mas Edy Listanto rekan lain yang “sama buaya”nya dengan Mas Handoko jika sudah ngembug Narto Sabdo yang ditengah kesibukannya juga ngopeni blog edy listanto’s blog) memberikan link yang lain untuk Lakon Banjaran Arjuna 2 di MediaFire. Mangga, silahkan donwload disini

BANJARAN ARJUNA2 (MEDIA FIRE by EDY LISTANTO)

Catatan:

Untuk Mas Suhandoko (Denpasar) dan Mas Edy Listanto

Mewakili rekan-rekan setresna budaya wayang kulit, saya mengucapkan terima kasih atas semua jerih payah dan dedikasinya dalam nguri-uri seni budaya jawa. Ditunggu untuk cerita-cerita selanjutnya.

Ki H. Anom Suroto, Anggada mBalela (live)

Wayang Kulit
Sumbangan : Toni Raharjo
Lakon            : Anggada mBalela
Dalang           : Ki H. Anom Suroto
Format          : MP3, 128/ 44100 / 32 kb / 6 file (tamat)

Raden Anggada

ANGGADA MBALELA

oleh : Toni Rahardjo

toni-raharjoAdalah Anggada, yang secara langsung tidak setuju dengan rencana Prabu Rama mengangkat Dasawilukrama menjadi raja sebagai pengganti Prabu Rama kelak. Pendapat Anggoda di pasewakan agung ini dipandang sebagai bentuk ketidaksetujuan Anggada kepada Prabu Rama dan juga tidak mencerminkan tata krama.

Di Pancawati konon bahwa banyak para punggawa dan warganya itu kera tetapi menjunjung tinggi tatakrama. Dan hal ini mendorong Nerpati Sugriwa memberikan hukuman kepada Anggoda, tetapi bukanya gampang menangkap Anggoda, kera yang masih saudara dengan Hanoman ini bahkan membuat pontang panting semua satriya Pancawati, dan untungnya Hanoman segera melerai dan memberi petuah kepada Anggoda dimana letak kesalahanya.

narpati sugriwaAkhirnya selesailah perang bubah ini dengan maunya Anggoda dimasukan pakunjaran oleh Hanoman.

Dengan di masukanya Aggoda di penjara apakah Dasawilukrama bisa segera memimpin negara Pancawati? dan bagaimana akhirnya nasib negara Pancawati ini ? Mari kita dengarkan dengan seksama cerita ini.

Pegeralan yang di langsungkan 2 tahun lalu di kota Kediri ini di hadiri bintang tamu, Cak Diqin, Wiwid dan Sukesi. Sangat kocak dan lucu sekali, tetapi Ki H Anom suroto yang di bantu Prasetyo Bayu aji tetap memperhatikan sanggit ceritanya, dan tentu suluk Ki Haji Anom Suroto yang sangat memukau ini bisa mengobati rindu kita saat melihat pagelaran wayang langsung.

Silahkan download fiel Anggada mBalela (live) pada link dibawah ini

  1. Anggada mBalela 1
  2. Anggada mBalela 2
  3. Anggada mBalela 3
  4. Anggada mBalela 4
  5. Anggada mBalela 5
  6. Anggada mBalela 6

Catatan:

Untuk Mas Toni Rahardjo

Mewakili rekan-rekan setresna budaya wayang kulit, saya mengucapkan terima kasih atas semua jerih payah dan dedikasinya dalam nguri-uri seni budaya jawa. Ditunggu untuk cerita-cerita selanjutnya.

Ki Narto Sabdo, Abimanyu Krama

raden-angkawijayaKacariyos  Raden Lesmana Mandrakumara Satriya ing Sarojabinangun, Pangeranpati Kraton Astina nembe ketaman kunjana papa dhumateng rajaputri Dwarawati ingkang asesilih Siti Sundari.  Siyang ndalu tansah gandrung kapirangu lan mothah dhateng ingkang rama Prabu Duryudana nyuwun kadhaupaken kaliyan atmaja putri Prabu Sri Bathara Kresna kasebat.

raden-lesmana-mandrakumaraAwrat tinangisan ingkang putra, Sang Prabu Duryudana utusan Patih Sangkuni kinen lumawat dhateng Dwarawati ingkang saperlu ngebun-ebun anjang anjejawah sonten ngaturaken nawala panglamar konjuk Prabu Kresna, ingkang lajeng paring karampungan, bilih panglamaripun Prabu Duryudana katampi inggih dereng, katampik inggih mboten amargi sanadyan purba wonten Prabu Kresna, ananging wasesa wonten ingkang anglampahi, inggih punika Siti Sundari.  Wosipun Sang Putri sagah lelados dhateng sinten kemawon priya ingkang saged minangkani bebanaipun ingkang arupi Patah Sakembaran ingkang sulistya ing warni ingkang mandhap saking aldaka.

Bebeg penggalihipun Prabu Duryudana nalika bab punika kaaturaken dening patih Sengkuni nuju pasewakan ageng Nagari Astina.  Ewasemanten, Pandhita Durna malah manggalih benten.  Bebana ingkang kasuwun dening Siti Sundari dhapur nami limrah.  Amargi putri pinunjul mekaten tertamntu anggadhahi pepinginan ingkang ing tembe tertamtu wonten pigunanipun.  Mila badheya kados pundi Pandhita Durna saha Adipati Karna badhe budidaya amrih kasembadan pangajabipun Raden Lesmana Mandrakumara.

siti_sundari_soloNgantos tancep kayon paripaosipun, Raden Lesmana Mandrakumara mboten kalampahan dhaup kaliyan Siti Sundari amargi kados kita mangertosi, Siti Sundari  wusananipun dhaup kalyan Satriya Plangkawati, atmajanipun Raden Arjuna, inggih punika Raden Abimanyu. Ananging ingkang dados pitakenan punapa werdinipun dene bebana ingkang kakersaaken Siti Sundari awujud Patah Sakembaran ingkang mandhap saking aldaka.  Lajeng sinten putri kembar kalawau lan punapa sambetipun kaliyan Raden Abimanyu lan Pendhawa mliginipun.  Lan ingkang langkung wigatos, ilmu lan kawruh enggal punapa ingkang badhe binabar dening Ki Narto Sabdo ing lampahan punika???

Kados ingkang sampun-sampun, KI Nartosabdo nggancangaken cariyos punika kanthi runtut, meh mboten wonten sisipipun.  Wiwit  talu ngantos tancep kayon prasasat mboten wonten bageyan ingkang mboten penting.  Sedaya adegan katingal  gesang lan kraos bobotipun.

Pagelaran ing pendhapi agung negari Astina upaminipun. Dupi midhanegt pelapuranipun Patih sengkuni, ketingal bebeging panggalih sang prabu lan aturipun Pandhita Durna ngarih-arih sang prabu ketingal gesang lan “masuk akal”.  Ki Narto Sabdo ugi mboten kaseupen  nglebetaken piwucal lan pangertosan enggal babagan sastra lan budaya jawi kalebet ilmu unggah-ungguh ing sela-selaning “dialog”.

Jangkeping lampahan ingkang awujud file MP3 punika saged panjenengan undhuh ing blog Mengenang Ki Nartosabdo.  Ngiras pantes antur uninga dhumateng para sutresna bilih saking eguh pratikel lan budidayanipun kadang kula Mas Prabu, Mas Edy Listanto, Mas Widjanarko lsp sampun kepareng atur pisungsung kanthi mbangun blog mligi kangge “Mengenang KI Narto Sabdo”

Jangkep ngengingi lampahan Abimanyu krama saged panjenengan undhuh ing MENGENANG KI NARTO SABDO.

Mugi ndadosaken uninga.

Anom & Bayu, Asmarabumi (Video)

asmarabumiBeberapa Waktu yang lalu, saya pernah memposting Wayang Kulit dengan lakon Asmarabumi dengan dalang KI H. Anom Suroto dan Pamungkas Bayu aji dalam Versi Audio, maka kali ini kami persembahkan lakon tersebut dalam versi video.

Saya merasa perlu memposting lakon tersebut, lebih karena peran M Pamungkas Prasetya Bayu Aji, yang kala itu berusia 11 tahun.  Jika anda menyaksikan pementasan Dalang M Pamungkas Bayu Aji saat ini, barangkali anda sudah melihat potret dalang idaman yang boleh jadi (jika dibandingkan dengan Anom Suroto), bayu hanya kalah masalah pengalaman dan “rasa”.  Selebihnya, bayu mengungguli bapaknya.

Nah, saya bermaksud membawa anda kembali ke masa kanak-kanak Mas Bayu sehingga anda dapat melihat betapa darah dalangnya memang mengalir sejak dia masih kanak-kanak.

Seperti biasa, sayamengconvert file saya tersebut ke format flv sejumlah 5 folder untuk memperkecil file agar anda lebih mudah mengunduhnya

  1. Anom & Bayu, Asmarabumi 1
  2. Anom & Bayu, Asmarabumi 2
  3. Anom & Bayu, Asmarabumi 3
  4. Anom & Bayu, Asmarabumi 4
  5. Anom & Bayu, Asmarabumi 5


Ki H. Anom Suroto, Gatutkaca Kridha

  • Wayang Kulit (Rekaman Pagelaran Langsung)
  • Lakon            : Gatutkaca Kridha
  • Dalang           : Ki H Anom Surpto
  • Sumbangan : Mas Toni Rahardjo
  • Format        : MP3 4400kh 128kbps 7 file (tamat)

J0177653

GATUTKACA KRIDHA

oleh : Tony Rahardjo

TONI RAHARJOLakon gatot koco krido ini sebenarnya hampir mirip lakon wahyu topeng wojo , yaitu sama – sama menggugat  gatot kaca tatkala dipilih jadi senopati para pandawa dalam perang barata yuda jaya binangun. Yang membedakan adalah dalam lakon wahyu topeng wojo yang tidak terima boma narako suro putra kresno sedangkan dlm lakon ini Antorejo yang sama – sama anak werkudara merasa kecewa karena tidak dilpilih sebagai senopati.

antarejaKesempatan ini tidak disia-siakan sengkuni untuk memancing di air keruh, kesaktian antorejo sengaja digunakan untuk sedikit mengurangi kekuatan pihak pandawa, apakah berhasil usaha sengkuni ini , bagaimana kelanjutanya silahkan di unduh file ini dan di dengarkan langsung,

Pagelaran oleh anom suroto dan bayu aji  ini di iringi kerawitan ABDI dan di rekam bukan di studio melainkan di saat pegalaran sesungguhnya, dan bagi para pecinta anom suroto yang terkenal “ kung “ tetap kulitas suluk diunggulkan semoga bermanfaat

  1. Gatutkaca Kridha 01
  2. Gatutkaca Kridha 02
  3. Gatutkaca Kridha 03
  4. Gatutkaca Kridha 04
  5. Gatutkaca Kridha 05
  6. Gatutkaca Kridha 06
  7. Gatutkaca Kridha 07 (tamat)

Catatan:

Untuk Mas Toni Rahardjo

Mewakili rekan-rekan setresna budaya wayang kulit, saya mengucapkan terima kasih atas semua jerih payah dan dedikasinya dalam nguri-uri seni budaya jawa. Ditunggu untuk cerita-cerita selanjutnya.