Arsip Blog
Ketoprak Mataram, HAMENGKUBUWANA I
Bumi Sukawati yang di berikan oleh Susuhunan Pakubuwana II kepada Pangeran Mangkubumi sebanyak 2000 karya dianggap oleh sebagian para pangeran dan tumengung terlalu luas yang apabila dibiarkan akan menimbulkan rasa iri yang pada gilirannnya bisa menjatuhkan wibawa Susuhunan Pakubuwana II. Hal ini dikemukakan oleh Patih Pringgalaya ketika pasowanan agung Kasunanan Surakarta.
Sayangnya, Pakubuwana II termakan oleh hasutan Patih Pringalaya tersebut dan memutuskan untuk mengurangi Tanah Hak milik Mangkubumi sebanyak 1000 karya dan sekaligus diberikan kepada patih Pringgalaya.
Pada saat yang sama datang Residen Hongdorf atas nama Gubernur Hindia Belanda di Batavia untuk membicarakan balas jasa yang harus diberikan oleh Susuhunan Pakubuwana II kepada Kompeni ketika membantu Geger Pacinan beberapa saat sebelumnya. Adapun syarat yang dimajukan oleh Hongedorf antara lain:
- Pekalongan sampai Jepara harus disewakan kepada Kompeni
- Susuhunan Pakubuwana II mengijinkan Bengawan Solo digunakan oleh Belanda untuk memasukkan kapal dagang mereka.
- Penggantian tahta Kasunanan harus mendapat persetujuan Gubernur Jen
deral Belanda. - Untuk menjaga keselamatan Pakubuwana II, Kumpeni bermaksud membangun beteng pertahanan di sekitar keraton Kasunanan.
Sekali lagi, Pakubuwana II termakan hasutan Patih Pringgalaya dan menandatangani perjanjian yang dibuat oleh Hongedorf tersebut. Kemudian hari ternyata kesalahan ini berdampak pada sejarah panjang Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Tentu saja Mangkubumi menolak keputusan yang dibuat secara sepihak oleh Susuhunan Pakubuwana II dan akan mempertahankan Bumi Sukawati, bukan saja dari Pakubuwana II tetapi juga dari Kumpeni Belanda.
Ketika mangkubumi secara terang-terangan bermaksud meninggalkan keraton, Susuhunan Pakubuwana II justru memberikan restu dan menyerahkan 2 buah tombak untuk dipilih oleh Mangkubumi sebagai senjata dalam melawan Belanda. Mangkubumi memilih tombak ditangan kiri Pakubuwana II yang ternyata itulah Tombak Kyai Plered. Seperti kita ketahui, siapapun yang mampu menerima Kyai Plered, dialah yang mampu menerima “wahyu ratu”
Kisah panjang ini terangkai dengan sangat indah dan runtut oleh Keluarga Ketoprak Mataram Kodam VII Diponegoro pimpinan Bagong Kussudiharjo dengan dukungan pemain yang tak diragukan lagi kemampuan dan penjiwaannnya:
- Sunan Pakubuwana II : Marjiyo
- Patih Pringgalaya: Mujiman AP
- Tumenggung Martakusuma : Darmaji
- Tumenggung Sindunegara : Sukiryanto
- Tumenggung Martalegawa : Ngadena
- Kunthing : Miyanto
- Pangeran Mangkubumi: Widayat
- Mas Ayu Tejawati : A. Poniyah
- Rara Ayu Asmarawati : Marsidah, BSc
- Kyai Dipasanta : IG Wahana
- Tumenggung Jaya Kartika Dhelo : Pujaleksana
- Suwandi Suryanegara : Anjarwani
- Ki Jadrana : Cokrodiharjo
- Mertakusuma : Lamido
- Rangga Wirasentika : Kasimin
- Emban : Siti Hasiyah
- Nyi Paridan Martapura : Sumilah
- Paridan Martapura : Mugiharjo
- Residen Hongedorf: Rukiman Nuryapangarsa
Download MP3 Ketoprak Mataram Sapta Mandala Kodam VII Diponegoro
- Hamengkubuwana I_01_1
- Hamengkubuwana I_01_2
- Hamengkubuwana I_01_3
- Hamengkubuwana I_02_1
- Hamengkubuwana I_02_2
- Hamengkubuwana I_02_3
- Hamengkubuwana I_03_1
- Hamengkubuwana I_03_2
- Hamengkubuwana I_03_3
- Hamengkubuwana I_04_1
- Hamengkubuwana I_04_2
- Hamengkubuwana I_04_3

