Arsip Blog

Ari Gunawan dan Tony Hartono

Selepas Sholat Jumat di Kartosuro, saya sempatkan mampir untuk berburu kaset  bekas di tempat yang sudah saya kenal sejak 3 bulan terakhir, Pasar Klitikan Notoharjo.  Saya merasa perlu untuk langsung ketempat ini mengingat besok pagi sudah masuk ramadhan.  Entah kenapa sejak dulu saya terbiasa tidak keluar rumah pada hari pertama puasa.

Begitu berhadapan dengan tumpukan kaset bekas, saya langsung hanyut dengan macam-macam judul yang ada disitu, sampai saya tidak menyadari bahwa selain saya masih ada seorang lagi yang dengan “khusyu’” membolak balik kaset sembari mencocokkan isi dengan sampulnya sambil sesekali memukul-mukulkan kaset ke telapak tangan untuk memastikan pakah masih Bbisa berputar.

Tak berapa lama, kamipun hanyut dalam pembicaraan seputar kaset jadul, wayang, ketoprak, keroncong dan sesekali masalah bebek.  Ya, bebek.  Lelaki ini adalah Ari Gunawan pemilik http://www.bandarbebek.com/home.htm yang juga berpengalaman di bidang broadcasting, disamping kesukaannya ngopeni kaset bekas.  Pembicaraan makin meruncing manakala saya mengetahui bahwa ia adalah kemenakan langsung Si Walang Kekek, Ibu Hj. Waldjinah.

Belum lagi usai kami berbincang datang lagi seorang lelaki yang belakangan kami kenal sebagai Mas Tony Hartono, seorang prakstisi radio siaran yang ada di Surakarta.  Kedatangannya tak jauh berbeda dengan tujuan kami , hanya dia lebih spesifik untuk mencari albumnya Shakatak yang ternyata telah lengkap dikoleksi Ari Gunawan.

Pembicaraan mulai merungerucut dari masalah, bebek, radio, pemancar, web, seni, budaya (bahkan politik) ke Kaset Ketoprak.  Upaya saya untuk menggiring pembicaraan ke masalah kekurangan materi ketoprak di blog ini berhasil.  Ada secercah harapan bahwa kerinduan saya akan Ketoprak mendapat respon dari dua orang lelaki hebat yang saya kenal hari ini.

Ketika matahari tergelincir, kami berdiri untuk berpisah dengan satu komitmen untuk menggali kembali hasil karya seni anak bangsa yang nyaris tak terdengar gaungnya.  Semoga!!!

PERMOHONAN MAAF PERLU SAYA SAMPAIKAN KEPADA  ANDA BERDUA, BARANGKALI SECARA TAK SENGAJA TELAH BERBUAT SALAH PADA PERTEMUAN PERTAMA.

KEPADA SEMUANYA:

SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA. SEMOGA ALLAH SWT MEMBERIKAN KEKUATAN KEPADA KITA SEMUA.

Ki Narto Sabdo, Pendhawa Ngenger

Logo HUT RI ke 64WAYANG KULIT MP3
Lakon : Pendhawa Ngenger
Dalang : Ki Narto Sabdo
Format : MP3, 122 kbps 44100 (16 file tamat)
Sumbangan : Bp. Widjanarko Jogja

Abilawa

SINOPSIS PANDHAWA NGENGER

Oleh : Widjanarko

Widjanarko KokoDalam pisowanan agung di Negara Hasitina , yang dihadiri oleh para petinggi kerajaan tersebut diantaranya Resi Bisma, Pendita Durna, patih Sengkuni, adipati Karno dan lain2 memikirkan masa depan kerajaan Hastina dalam menghadapi musuh bebuyutannya yaitu Pandawa. Duryudono sang raja menganggap bahwa Pendita Durna tdk adil dalam memberikan ilmu kadigdayan bagi sanak saudaranya, pendita Durna dianggap oleh Duryudono pilih kasih dalam memberikan ilmunya.Tapi dengan ikut bicaranya adipati Karno timbulah semangat angkara murka sang Duryudana untuk berbuat licik kepada saudara saudaranya sendiri yaitu Pandawa. Tetapi Adipati Karno tidak sependapat dengan rencana licik yang akan dibuat oleh Duryudono yang dianggap jauh dari peri kemanusiaan, sampai sampai Adipati Karno walk out dari pasewakan agung.

matswapatiDidorong oleh sang maha patih Sengkuni sang maha julik maka Prabu Duryudana mengadakan perjamuan dengan mengundang anggota keluarga Pendawa yang masih menjalani hukuman atas kekalahannya bermain dadu, dengan jamuan makanan bekas dan minuman memabukkan. Karena pengaruh minuman terjadilah perang antara kedua belah pihak, sebelum terjadi korban datanglah Destarata melerai peperangan tersebut. Oleh Destarata Pandawa diminta untuk menyingkir dari Astina agar peperangan tidak berlanjut, akan tetapi pihak Kurawa walaupun sudah dicegah oleh adipati Karno tetap saja mengejar Pandawa untuk dihabisi.

Pada adegan goro goro Harjuna yang diikuti oleh para punokawan, dikisahkan Harjuna kedatangan dewa/ betara Indra atas prakarsa betara Indra Harjuna diajak ke kahayangan. Di Kayangan Harjuna dipertemukan oleh beberapa betari salah satunya adalah betari Uruwasi, melihat ketampanan Harjuna, betara Uruwasi fall in love kepada raden Harjun. Tetapi kepada betari Uruwasi, raden Harjuno yang terkenal play boy tidak tergoyahkan oleh rayuan betari Uruwasi, karena betari Uruwasi merasa terhina maka marahlah betari Uruwasi dengan mengucapkan sumpah serapah agar kelaki lakian Harjuno tidak berfungsi ( tentunya untuk sementara waktu).

Betara IndraAtas petunjuk betara Indra, Harjuna dan saudara2nya diminta untuk suwito (ngenger) ke Kerajaan Wirata dengan menyamar sebagai orang sudra (rakyat jelata). Dengan berganti nama, Puntadewa memakai nama Kanta, Werkudoro sebagai Balawa, Harjuna sebagai Wrihatmolo, Nakula dan Sadewa sebagai Tripala dan Grantika, sedangkan Drupadi beralih nama menjadi Salindri atau Endang Malini.

Sebelum berangkat menuju kerajaan Wirata mereka berganti busana layaknya rakyat jelata dan yang menarik adalah busana yang dipakai raden Harjuna, dalam cerita ini ia memakai busana layaknya seorang wanita.

Di kerajaan Wirata sang patih Kencoko dan para hulu balang, antara lain Prahupo Kenco dan Rojo molo berkeluh kesah tentang kerajaan Wirata yang dipimpin oleh Prabu Matsyapati. Sang patih merasa kebesaran nama kerajaan Wirata hanya karena kehebatannya. Maka mereka merencanakan kudeta terhadap prabu Matsyapati. Ketika mereka merencanakan kudeta datanglah keluarga pendawa yang sudah berganti busana dan nama layaknya rakyat jelata. Atas perintah sang patih. keluarga pendawa tidak diperkenankan ngenger ke raja Matsyapati tetapi diminta ngenger ke Kepatihan saja. Dikisahkan patih Kencoko akan berbuat tidak senonoh terhadap Salindri atau Drupadi. Melihat kejadian ini Balawa ( Werkudara ) mendidih darahnya dan dibunuhlah Kencoko.

Terbunuhnya patih Kencoko tidak menjadikan marahnya prabu Matsyapati, tetapi malah diterimanya keluarga pendawa sebagai abdi di kerajaan Wirata tersebut.

Adapun file Pandhawa Ngenger dengan dalang Ki Nartosabdo, dapat anda nikmati disini:

  1. Ki Nartosabdo, Pandhawa Ngenger 01
  2. Ki Nartosabdo, Pandhawa Ngenger 02
  3. Ki Nartosabdo, Pandhawa Ngenger 03
  4. Ki Nartosabdo, Pandhawa Ngenger 04
  5. Ki Nartosabdo, Pandhawa Ngenger 05
  6. Ki Nartosabdo, Pandhawa Ngenger 06
  7. Ki Nartosabdo, Pandhawa Ngenger 07
  8. Ki Nartosabdo, Pandhawa Ngenger 08
  9. Ki Nartosabdo, Pandhawa Ngenger 09
  10. Ki Nartosabdo, Pandhawa Ngenger 10
  11. Ki Nartosabdo, Pandhawa Ngenger 11
  12. Ki Nartosabdo, Pandhawa Ngenger 12
  13. Ki Nartosabdo, Pandhawa Ngenger 13
  14. Ki Nartosabdo, Pandhawa Ngenger 14
  15. Ki Nartosabdo, Pandhawa Ngenger 15
  16. Ki Nartosabdo, Pandhawa Ngenger 16 (tamat)

Catatan:

  1. Cerita dan file ini sebenarnya sudah bisa dinikmasti di Wayang Prabu.com akan tetapi karena berat menerima amanah dari Bp. Wijanarko untuk mengupload file ini, maka tanpa bermaksud mrang tatal mbabak hanganyari, saya upload lagi untuk anda dengan harapan semakin banyak sutresna wayang kulit bisa menikmati karya hebat dari seniman yang tak ada duanya, Ki Nartosabdo.
  2. Lakon ini semula terdiri dari 5 file dalam format ZIP dengan basar file masing-masing 90 MB, maka tanpa mengurangi rasa hormat dan penghargaan kepada Bp. Widjanarko, fili zip tersebut saya udhari dan saya upload lagi menjadi 16 file dengan besar rata-rata 24 MB dengan harapan mempermudah mereka yang koneksi dan bandwidh internetnya kecil.
  3. Terima kasih dan penghargaan kami sampaikan kepada Bp. Widjanarko dan Mas Edy L atas sgala dedikasinya dalam nguri-uri karya besar ki Narto Sabdo.

(Terima kasih anda telah mampir di blog ini. Jika sudah berhasil download file kami, mohon tinggalkan komentar untuk perbaikan selanjutnya)